My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
18. Setangkai bunga Lily


__ADS_3

Fabian masuk ke dalam mobilnya begitu juga dengan Gilbert. Di dalam Fabian nampak sangat marah dan kesal.’’Kamu lihat tadi dengan senangnya pria itu merangkul Miya, menciumnya dan mengenggam tangannya. Itu membuatku merasa muak. Dia berani-beraninya bersikap seperti itu kepada Miyaku,’’kata Fabian dengan penuh kemarahan.


 "Hei! Tenangkan dirimu sedikit!’’


"Bagaimana aku mau tenang, melihat wanita yang aku cintai disentuh oleh pria lain,’’teriak Fabian.


"Aku mengerti dengan kemarahan dan kecemburuanmu itu. Aku juga tidak akan rela jika melihat wanita yang kucintai disentuh oleh pria lain, jadi sekarang tenangkan dirimu."


Napas Fabian terengah-engah menahan emosinya.’’Aku ingin sekali memukulnya. Seandainya tadi kau tidak menahanku, pasti aku sudah memukulnya dan membuatnya babak belur."


Jika aku tidak menahanmu, pasti sudah terjadi keramaian di cafe itu dan kamu akan menjadi bahan gosip dan bisa saja Ryusuke akan menuntutmu atas pemukulan yang terjadi kepadanya. Kamu harus berterima kasih kepadaku untuk hal ini."


Fabian memandang kesal pada Gilbert.


 "Kamu harus ingat sebelum Miya putus dengan Ryusuke, aku yakin mereka sudah sering berciuman."


 Fabian kembali merasa muak membayangkan Miya berciuman dengan Ryusuke. "Sekarang mereka sudah putus dan aku tidak akan membiarkan pria itu menyentuh Miya lebih jauh lagi apa lagi kalau sampai mereka berciuman di bibir. Miya adalah milikku sekarang."


"Aku tahu. Miya adalah milikkmu sekarang. Kau harus menenangkan dirimu sekarang dan kau juga jangan memarahi Miya jika dia pulang nanti. Bicaralah baik-baik padanya, jika kamu tidak ingin Miya pergi dari sisimu."


"Itu tidak akan terjadi."


"Bagus. Sekarang tenangkan dirimu. Kau harus dapat menahan emosimu dan jangan kehilangan kendali atas dirimu. Aku belum pernah melihatmu lepas kendali seperti ini. Biasanya kau selalu dapat mengendalikan dirimu dan juga emosimu. Cinta memang membuat seseorang menjadi gila."


Fabian memutuskan untuk kembali ke mansionnya dan semua urusan pekerjaan hari ini, ia serahkan kepada Gilbert, karena tidak ada hal penting yang ia lakukan lagi di sana. Di kamarnya Fabian menjadi uring-uringan dan menuangkan wiski banyak-banyak kedalam  gelasnya. Ia tidak boleh membiarkan pria itu mendekati Miya lebih dari yang seharusnya. Diteguknya minuman itu sampai habis dan mengisi ulang kembali gelasnya sampai penuh. Hatinya mendengus kesal.


Sore menjelang malam masih belum ada tanda-tanda kepulangan Miya. Fabian merasa gelisah dikamarnya. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil terus melihat jam. Fabian terus membayangkan hal yang buruk di kepalanya. Bayangan Ryusuke mencium dan membelai tubuh  Miya terus berada dibenaknya.


Itu tidak boleh terjadi. Tidak boleh terjadi. Miya pasti akan menjaga diri dari pria itu. Aku percaya padanya.

__ADS_1


Fabian kembali meminum wiskinya untuk kesekian kalinya dan yang ditunggu Fabian akhirnya datang juga. Miya telah kembali dan ia dapat mendengar suara langkah cepatnya di koridor. Fabian langsung keluar kamar dan ia melihat Miya sedang membuka pintu kamarnya. Dengan perasaan marah dan kesal, ia menghampiri Miya dan mencengkeram tangannya.


"Kami dari mana saja? Kamu tahu ini jam berapa? Seharusnya  sudah pulang sejak dari tadi,’’tanya Fabian dengan suara tinggi. Miya langsung ketakutan. Ia tahu saat ini pamannya sedang marah dan dari mulutnya tercium bau alkohol. "Ini baru jam 9 masih sore,’’kata Miya tidak mau kalah.


"Apa kau menghabiskan sisa hari ini bersama dengan pria itu?’’tanya Fabian dengan nada suara cemburu. "Iya aku memang bersama dengannya dan lagi pula itu bukan urusanmu,’’jawab Miya tidak kalah kesalnya.


"Tentu saja itu urusanku juga,’’balas Fabian dengan suara dingin sambil menahan marahnya. Miya dapat melihat sorot kemarahan yang memancar dari mata pamannya. "Tolong lepaskan tanganku!’’


"Ayo ikut aku!’’


Fabian menyeret Miya dengan tergesa-gesa.


"Paman mau membawaku kemana?’’


Fabian membuka pintu kamarnya dan langsung menutupnya. Ini pertama kalinya Miya masuk ke kamar pamannya. Gadis itu sungguh terkesan dengan keadaan kamarnya begitu sangat rapi dan barang-barang yang ada di kamar itu tertata dengan baik.Tidak seperti kebanyakan kamar pria lainnya yang berantakan, lalu Miya membayangkan kamar Ryusuke yang selalu berantakan dan setiap kali ia harus membersihkannya."Kenapa paman membawaku kesini?’’


"Kita tidak bisa bicara di koridor. Para pelayan akan mendengar pembicaraan kita nanti."


"Kamu.....’’


Fabian terlihat sangat kesal dan rasanya ingin mengguncang-guncang bahu Miya .


Miya menatap Pamannya dengan penuh rasa percaya diri. ’’Sekarang apa yang paman inginkan dariku?’’


"Aku tidak ingin kau dekat-dekat dengan pria itu."


"Pria itu punya nama. Namanya Ryusuke."


"Aku tidak peduli siapa pun namanya ,yang hanya aku inginkan kau harus menjauhi dia ."Mata Fabian berkilat penuh marah.

__ADS_1


"Saat ini aku tidak mungkin untuk tidak menjauhinya. Disini dia tidak mempunyai orang yang dikenalnya kecuali aku. Mungkin aku akan menemaninya selama dia ada disini , lagi pula dia bukan penjahat. Dia hanya mantan pacarku."


"Dan dia ingin kembali padamu."


"Aku tahu itu. Dia sudah mengatakannya padaku berulang kali."


"Apakah kau akan kembali kepadanya? Apa kau masih mencintainya?’’tanya Fabian dengan perasaan takut.


"Itu bukan urusanmu, lagi pula Ryusuke adalah pria yang pernah hadir dihatiku. Apa paman cemburu?’’


"Iya aku cemburu. Sangat cemburu. Jangan kembali kepadanya. Aku mohon!’’


"Paman tidak berhak melarangku untuk kembali kepadanya."


"Tentu saja aku berhak, karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau bersamanya lagi. Kau adalah milikku,’’ kata Fabian dengan wajah perasaan sedih yang tercermin jelas diwajahnya.


"Sudah aku katakan kalau aku tidak percaya paman mencintaiku.Ini sungguh tidak masuk akal. Kamu adalah pamanku."


"Kalau aku adalah pamanmu memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh mencintaimu?Lagi pula kamu bukan keponakan kandungku."


"Aku tahu itu, tapi ini akan terasa sangat aneh saja." Lalu Miya menatap curiga Fabian.’’Atau paman hanya menginginkan tubuhku seperti yang telah paman lakukan kepada wanita-wanita lainnya, kepada kekasih-kekasih paman di luar sana dan aku tidak ingin menjadi salah satu dari para wanita itu. Sebaiknya paman mencari wanita lain saja dan aku bukan barang yang seenaknya paman miliki. Paman tidak punya hak mengatur hidupku. Dengan siapa aku akan jatuh cinta, itu urusanku. Hidupku adalah milikku." 


Miya meninggalkan Fabian dan pria itu hanya bisa menatap kepergian Miya dengan wajah kaku dan dingin.


Fabian duduk di tempat tidurnya, kemudian  ia menyadari ada setangkai bunga Lily putih di nakas samping tempat tidurnya dengan sebuah kartu berwarna ungu muda.  Di dalam kartu itu hanya berisikan satu kalimat.


Aku kembali


"Ini..."serunya tak percaya. Ia mengendus bau parfum yang menempel di kartu ucapan. Fabian mengenali baunya. Kartu ucapan itu terjatuh dari tangannya. Bau yang sama dengan parfum istrinya dan bunga lily adalah bunga kesukaannya.

__ADS_1


" Ini tidak mungkin. Clarissa sudah meninggal." [ ]


__ADS_2