My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S2): Kisah Erika


__ADS_3

Satu bulan setelah kematian Clarissa, Gilbert menunggu gelisah di bandara, karena dia sebentar lagi akan dapat bertemu dengan Erika. Sesekali dia menengok ke arah pintu kedatangan. Tidak lama kemudian Gilbert melihat Erika. Dia tertegun melihat kecantikannya. Erika memberikan senyuman manis untuk Gilbert.


‘’Halo Gilbert!’’


"Erika, akhirnya kita dapat bertemu lagi di sini."


Gilbert langsung memeluknya dengan senang.


"Oh ya, bagaimana perjalanamu?’’


"Sangat melelahkan. Aku ingin cepat-cepat  ke hotel dan berisitirahat. Badanku pegal. Di pesawat aku tidak cukup tidur."


"Sekarang kita pergi ke rumahmu supaya kamu cepat istirahat."


Erika hanya tersenyum dan Gilbert membantunya membawa barang-barangnya. Selama dalam perjalanan Erika terus melihat ke luar jendela mobil melihat kota New York yang sibuk seperti biasanya.


"Kota ini tidak banyak berubah. Aku merindukan kota ini. Banyak kenangan indah yang aku punya di sini. Aku rindu dengan teman-temanku."


Gilbert melihat Erika yang masih memandang keluar jendela mobil. Apakah Erika sudah memiliki pacar ya pikir Gilbert. Wajahnya tampannya menjadi muram setiap kali Gilbert memikirkan itu.


" Gil, tolong antarkan aku ke supermarket. Aku mau membeli minuman. Aku haus."


"Baiklah."


Gilbery memarkirkan mobilnya di supermarket terdekat.


"Kamu tunggu saja disini. Aku akan segera kembali."


Erika masuk ke supermarket dan langsung menuju ke counter minuman. Dengan gerak cepat ia mengambil dua botol kecil air mineral, lalu membayarnya di kasir. Ia keluar dari supermarket dan dia menjatuhkan kantong belanjaannya, karena matanya melihat sesosok orang yang dikenalnya yang sedang masuk ke sebuah mobil.


" Jerome,"gumamnya.


Jerome adalah mantan kekasih Erika. Gilbert menunggu gelisah di dalam  mobil dan memutuskan untuk menyusulnya ke supermarket, ketika Gilbert keluar dari mobilnya, Erika sedang berjalan menuju mobilnya.


"Kenapa kamu lama sekali?’’


" Tadi aku bertemu dengan seorang teman yang sudah tidak aku jumpai, tapi sayangnya orangnya sudah keburu pergi."


" Mungkin nanti kamu akan bertemu dengan temanmu itu."


"Iya kamu benar. Ayo kita pergi!’’


Erika terus berdiam diri mengingat pertemuannya dengan Jerome. Selama ini Erika sudah berusaha melupakan cinta dan kebenciannya pada Jerome sejak pria itu mengkhianatinya, tapi ketika dia kembali melihatnya lagi perasaan benci itu kembali hadir. Padahal dia sudah sangat yakin sudah berhasil melupakan dan membuang kebencian dari hatinya, tapi sekarang kenyataan berbicara lain. Gilbert memarkirkan mobilnya di depan rumah.


"Terima kasih sudah mau menjemputku."


"Aku senang bisa membantumu. Sekarang istirahatlah!’’


"Baik. Senang bisa bertemu lagi. Nanti aku akan meneleponmu."


Setelah Gilbert memasukan barang Erika ke dalam rumah,lalu ia meninggalkan rumah.


Keesokan paginya Fabian memasuki kantor dengan wajah gembira dan dilihatnya Gilbert sedang membereskan beberapa berkas yang menumpuk di mejanya.


"Pagi Gilbert!’’


"Pagi Fabian!"


‘’Aaaawwww.’’


Fabian meringis kesakitan sambil memegang kakinya.


"Ada apa?"


"Kakiku tersandung kursi."


" Kamu harus hati-hati."


Fabian mengangguk.


" Bagaimana kabar Miya dan anak-anakmu?"


" Mereka baik-baik saja."


"Senang mendengarnya."


" Ternyata Miya adalah orang yang sudah menolongkku, ketika aku hampir tenggelam."


" Benarkah?"


"Iya."


" Itu tandanya kalian sudah jodoh."


Gilbert tersenyum.


Fabian kembali teringat ketika Miya menjelaskan tentang jam sakunya dan juga kancing seragam sekolah miliknya setelah pulang dari rumah sakit. Ia senang, jika gadis kecil itu adalah Miya. Fabian tidak mengira, kalau mereka sudah dipertemukan sewaktu Miya masih kecil. Senyuman menghiasai wajah Fabian.


💔💔💔


Keesokan paginya Erika sedang olah raga di halaman rumah. Ponselnya kemudian berdering.


‘’Erika, ini aku, Gilbert."


Wajah Erika terlihat gembira menerima telepon dari Gilbert.


‘’Aku mau mengajakmu makan siang hari ini. Apa kamu bisa?’’


‘’Tentu...tentu saja aku bisa. Aku akan datang,’’kata Erika bersemangat.

__ADS_1


‘’Baiklah. Aku akan segera menjemputmu. Sampai jumpa!’’


‘’Sampai jumpa!’’


Wajah Erika berseri-seri lalu menciumi layar ponselnya. Cepat-cepat ia pergi ke kamarnya dan memilih-milih pakaian untuk dikenakannya saat makan siang bersama Gilbert nanti. Erika ingin terlihat cantik saat bertemu dengan pria pujaan hatinya. Waktu makan siang pun tiba dan Erika pergi ke restoran itu lebih awal, sedangkan Gilbert masih berada dalam perjalanan menuju ke sana.


Gilbert menunggu Erika di depan rumahnya dengan membawa satu buket mawar putih dan duduk di kursi sambil memikirkan wanita itu dan yang bisa ia lakukan sekarang hanya menjadi sahabatnya dan berharap suatu saat nanti Erika akan mencintainya.


Gilbert melihat Emika yang baru saja membukakan pintu dan ia segera menghampiri Gilbert dengan senyum manisnya dengan wajah yang terlihat sangat senang.


‘’Gil, sudah lama menungguku?’’


"Tidak. Aku baru saja tiba. Ini bunga untukmu."


‘’Terima kasih. Ayo masuk’’.


Gilbert duduk di ruang tamu sementara itu Erija pergi ke dapur dan membawa minuman untuk Gilbert. Ia meminum kopi yang disediakan Erika


‘’Hmmm...kopi buatanmu sangat enak,’’puji Gilbert


Erika tersipu malu.


‘’Terima kasih."


" Sebaiknya kita segera pergi."


" Baiklah."


Setengah jam kemudian mereka tiba direstoran dan makan siang bersama.


"Makanan di sini sangat enak."


" Aku senang kamu menyukainya "


" Terima kasih sudah mengajakku makan siang."


" Ada yang aku ingin katakan kepadamu."


"Apa?"


" Maukah kamu jadi kekasihku?"


Erika terkejut dan tidak menyangkanya pria setampan Gilbert mau menjadi kekasihnya. Ia nampak malu-malu dan tidak berani menatap wajah Gilbert. Erika menjadi sangat gugup.


" Sebelum aku menjawab. Aku ingin memberitahumu sesuatu tentang masa laluku."


" Baiklah. Aku akan mendengarkannya."


💔💔💔


Beberapa tahun yang lalu


Erika duduk di depan tungku api sedang memasak sup ayam. Hari ini ayahnya berulang tahun. Ia ingin memasak makanan yang spesial untuknya. Api berkeretak lirih di tungku. Suasana di dapur hening yang terdengar hanya suara air mendidih. Ibunya sedang sibuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di salah satu keluarga kaya di desanya. Biasanya ibunya pulang jam 5 sore, sedangkan ayahnya bekerja sebagai buruh tani. Kakaknya bekerja sebagai pelayan disalah satu kedai makanan dan adik perempuannya masih berumur 5 tahun. Sekarang adiknya sedang tidur nyenyak setelah seharian bermain.


Erika duduk melamun sambil menunggu sup ayamnya matang. Wajahnya merona merah setiap kali memikirkan pemuda yang disukainya. Kadang Erika merasa tidak percaya diri menyukai pemuda itu, karena dia berasal dari keluarga terkaya di desa ini. Hubungannya dengannya mungkin tidak akan disetujui oleh keluarganya, tapi Erika sangat yakin pemuda itu sangat mencintainya. Namanya Jerome Hunt. Mereka menjalin hubungan secara diam-diam dan sering melakukan pertemuan rahasia.


Sup ayamnya sudah matang  dan tetap disimpannya dalam panci diatas tungku api yang sudah  padam. Erika kemudian pergi ke hutan untuk mengambil kayu bakar, karena persediaan kayu bakar di rumahnya sudah habis. Dalam perjalanan ke hutan, Erika sengaja melewati rumah Jerome dan berharap dia dapat melihatnya walaupun hanya sebentar.


Hatinya sedih, karena dia tidak melihatnya di rumah. Rumahnya tampak begitu sepi. Tiba-tiba terjadi keributan di desa. Para petugas keamanan berlari-lari berusaha menangkap seorang pria yang di duga sudah membunuh dengan menggunakan ilmu sihir hitam dari seorang paranormal. Erika merasa kasihan pada pria itu, karena kalau tertangkap dia akan dihukum menurut adat desa.


Erika telah sampai di hutan. Sinar matahari tersaring oleh celah-celah dedaunan dan menebarkan titik-titik terang di tanah. Dia menengadahkan wajahnya ke dalam sorot sinar matahari dan ranting-ranting berkeretak keras terinjak oleh kakinya. Erika memulai mencari kayu-kayu dan ranting-ranting pohon yang berserakan di tanah. Dalam waktu singkat keranjangnya sudah dipenuhi oleh kayu bakar. Hari sudah mulai sore, Erika berjalan dengan terburu-buru supaya lebih cepat sampai di rumah sebelum hari mulai gelap. Tiba-tiba mulutnya ditutup oleh seseorang.


‘’Halo Erika!’’


"Ternyata kamu Jerome,’’kata Erika sambil memukul-mukul dada pemuda tampan itu.


Jerome langsung memeluk Erika dengan sangat erat dan mereka berciuman di hutan yang hanya sedikit disoroti oleh sinar matahari sore, kemudian terdengar suara orang berteriak.


‘’Tangkap orang itu. Tangkap."


‘’Aku kasihan padanya dikejar terus-menerus oleh mereka."


‘’Orang itu harus ditangkap, karena telah membunuh orang."


‘’Apa dia harus dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup? Apa tidak ada hukuman yang lain selain dibakar? Aku tahu orang itu pasti ketakutan, makanya dia melarikan diri’’.


‘’Kenapa kamu malah membela dia?’’


‘’Bukannya membela, tapi aku merasa kasihan saja, kalau hidupnya akan berakhir dengan cara dibakar."


Jerome menatap Erika lekat-lekat.


‘’Erika , aku mencintaimu,’’ bisiknya mesra.


Erika tersipu malu dan merasa beruntung bisa di cintai oleh Jerome Hunt.


‘’Aku juga mencintaimu."


Jerome kembali mendekapnya dengan erat dan mencium kening kekasihnya.


‘’Ah, aku harus segera pulang. Orangtuaku sebentar lagi akan pulang. Hari ini adalah hari ulang tahun ayahku."


‘’Kalau begitu selamat ulang tahun untuk ayahmu."


‘’Terima kasih."


‘’Apa orang tuamu tahu tentang hubungan kita?’’


‘’Tidak tahu. Mereka hanya tahu kalau aku sedang menyukai seseorang. Kalau mereka tahu aku mencintaimu pasti tidak akan setuju dan aku takut jika mereka mengatakan padaku aku harus menjauhimu."

__ADS_1


‘’Orang tuaku juga tidak tahu. Pasti mereka akan sangat marah kalau kamu adalah kekasihku. Seandainya saja aku tidak dilahirkan di dalam keluarga kaya, pasti kita tidak akan sembunyi-sembunyi seperti ini."


‘’Ya mungkin kamu benar."


‘’Aku sudah lelah terus-terusan menyimpan hubungan kita ini. Aku akan mencoba bicara pada orang tuaku tentang hubungan kita besok."


‘’Apa? Apa kamu serius?’’


‘’Tentu saja. Aku ingin kita bersama."


‘’Terima kasih sudah mau mencintaiku. Aku sangat beruntung."


Mereka berdua kembali berpelukan dengan erat, lalu mereka berjalan sambil bergandengan tangan sampi batas hutan.


‘’Kita berpisah di sini. Sampai jumpa lagi m, Jerome."


‘’Sampai jumpa!’’


Hari sudah mulai gelap. Erika sedikit berlari menuju rumahnya. Ibunya sudah pulang dan sedang menyiapkan makan malam untuk kami.


‘’Erika, kamu dari mana tadi?’’


‘’Aku mengambil kayu bakar di hutan."


‘’Lain kali bisakah kamu mengambil kayu bakar di siang hari saja. Itu akan lebih aman."


‘’Baik, Bu."


Pintu dapur terbuka dan dari pintu itu muncul ayah dan kakak lelakinya dengan wajah lelah.


‘’Ayah, aku sudah menyiapkan makanan spesial untuk ayah. Aku membuatkan ayah sup ayam buatanku dan selamat ulang tahun."


‘’Benarkah? Terima kasih. Ayah akan memakannya nanti. ’’Ayahnya menatap lembut pada Erika.


Makan malam pun berlangsung dengan ceria terdengar tawa dan canda dari keluarga itu. Sementara itu di rumah Jerome, mereka makan malam dengan wajah muram. Tidak terdengar suara pun ketika makan malam berlangsung.


‘’Ayah, aku ingin bicara setelah makan malam nanti,’’kata Jerone memecahkan keheningan.


‘’ Ayah juga ingin berbicara denganmu ada hal penting yang ingin ayah bicarakan."


‘’Baik."


Kemudian mereka berdua melanjutkan makan lagi. Ayah Jerome bekerja sebagai kepala desa dan keluarganya sangat kaya dan makmur dan memiliki lahan pertanian dan perkebunan. Mereka sangat dihormati oleh seluruh warga desa. Setelah selesai makan Jerome dan ayahnya pergi ke ruang tamu. Ia tampak gugup, karena dia akan membicarakan tentang kekasihnya kepada ayahnya.


‘’Baik. Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan denganku?’’


‘’Sebaiknya ayah dulu yang bicara."


‘’Baik. Ayah sudah menjodohkanmu dengan salah satu putri teman Ayah, Aine Kerr dan kamu harus menikah dengannya."


‘’Apaaa? Aku tidak mau. Aku tidak kenal dengannya."


" Jerome,’’teriak ayahnya dan menatapnya galak.


‘’Tapi aku....’’


‘’Sudah ayah tidak ingin mendengar penjelasanmu lagi. Gadis itu cocok denganmu. Keluarga berasal dari keluarga terhormat dan juga kaya. Kalian berdua akan tetap menikah dan apa yang ingin kamu bicarakan dengan ayah?’’


‘’Sudah tidak ada lagi yang ingin aku bicarakan dengan ayah."


Rasa kesal dan marah terhadap ayahnya sudah membuatnya marah, karena dia sama sekali tidak dapat menentang keinginan ayahnya. Ayahnya adalah orang yang sangat ambisius dan tidak pernah puas dengan harta yang dimilikinya sekarang. Dia ingin memiliki harta yang lebih besar dan menjadi orang yang terkaya. Jerome pergi ke kamarnya dan membanting pintunya dengan keras.


💔💔💔


Erika berada di kamarnya sedang berdiri di depan cermin. Ia memandangi dirinya dan memutar-mutar tubuhnya. Ia tidak mengira Jerome akan menyukainya dan menjadi kekasihnya mengalahkan semua gadis cantik di desa ini. Ia berpikir apa yang menarik dari dirinya. Erika berasal dari keluarga sederhana dan bukan dari keluarga kaya dan juga tidak cantik. Wajahnya kembali memanas mengingat kejadian di hutan ketika Jerome menciumnya.


Erika meletakan jarinya di bibirnya yang merah dan mungil. Ia masih merasakan ciumannya. Ia merasa takut seandainya keluarganya tidak menyetujui hubungannya dengan Jerome. Wajahnya kembali muram .


‘’Siapa pria yang sudah berhasil merebut hatimu?’’kata ibunya tiba-tiba.


‘’Ah..ternyata ibu. Ibu mengagetkanku saja."


Ibunya menatapnya lurus-lurus dan Erika tersipu malu lalu menundukan kepalanya.


‘’Kapan kamu akan memperkenalkan pria itu pada ibu?’’


‘’Aku akan memperkenalkannya pada ibu dan ayah, tapi tidak sekarang. Aku janji, aku akan memperkenalkannya pada kalian."


‘’Apa dia orangnya baik?’’


‘’Dia baik dan juga tampan."


‘’Kalalu kamu menikah nanti pasti rumah ini akan sepi dan kami akan kesepian divsini,’’kata ibunya sambil mengelus-elus rambutnya yang panjang hitam mengkilat.


Erika memeluk ibunya.


‘’Aku menikah masih lama, lagi pula kalau aku menikah nanti, aku akan sering-sering datang ke sini, karena aku juga tidak ingin jauh-jauh dari kalian. Aku sangat menyayangi kalian."


Ibunya tersenyum lembut dan matanya terasa sejuk.


‘’Sekarang tidurlah. Ini sudah larut malam."


Erika kemudian berbaring dan bayangan Jerome tidak bisa hilang dari kepalanya daan untuk kesekian kalinya wajahnya merona merah.


"Jerome, aku begitu mencintaimu."


Erika tertidur dengan wajah tersenyum, tapi kebahagiaannya tidak akan berlangsung lama, karena sebentar lagi dia dan keluarganya akan mengalami hal buruk yang tidak akan pernah Erika duga sama sekali.


Sinar matahari pagi menerobos masuk jendela. Erika terbangun dan meluruskan badanya lalu menguap. Hatinya diselimuti oleh kebahagiaan. Dia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya dan ada pria yang mencintainya. Erika terlihat begitu bersemangat dengan wajah yang segar dan berseri-seri. Di luar udara masih terasa dingin dan kabut tebal masih menyelimuti desa. Erika pergi ke dapur untuk menyiapkan makan pagi dan ibunya sudah berada di sana terlebih dahulu sedang memasak. [ ]

__ADS_1


__ADS_2