My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S3): Valentina


__ADS_3

6 tahun kemudian


Suara kicauan burung terdengar di pagi hari yang cerah di bulan April. Matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur secara perlahan-lahan, kemudian menerangi pemandangan di sekelilingnya. Terdengar suara langkah kaki  cepat di lorong rumah. Seorang pelayan wanita masuk ke sebuah kamar dan tersenyum manis, menyimpan baki makanan di meja yang letaknya tidak jauh dari jendela dan membuka tirai jendela. Sinar matahari langsung menerobos masuk. Pelayan yang sering di panggil Mikan itu membuka selimut dan di sana masih terbaring tubuh mungil seorang anak perempuan yang masih tertidur nyenyak.


" Nona, ayo bangun. Ini sudah pagi nanti terlambat untuk masuk sekolah."


Pelayan itu menguncang-guncang tubuh anak itu dengan lembut. Gadis kecil itu membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang cantik dan imut terlihat jelas ketika sinar matahari menerangi wajahnya.


"Selamat pagi, Nona Valentina!"


"Biarkan aku tidur sebentar lagi. Hoam...nyam...nyam."


"Tidak bisa. Sebentar lagi sekolah akan segera dimulai. Apa nanti mau di marahi lagi oleh Ibu dan Ayah? Bukannya sudah berjanji pada mereka untuk tidak malas bangun dan tidak malas pergi ke sekolah."


"Aku tidak mau dimarahi lagi oleh Ibu dan Ayah Aku akan menepati janjiku untuk menjadi anak baik."


"Kalau begitu sekarang bangunlah. Aku sudah membawakan makan pagi untukmu."


Dengan mata masih mengantuk dan perasaan enggan meninggalkan tempat tidurnya yang nyaman, Valentina bangun dan segera pergi ke kamar mandi. Mikan membantunya berpakaian dan menemaninya makan pagi. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah setelah liburan musim dingin. Tahun ini Valentina duduk di kelas 1.


Sopir pribadinya telah menunggunya di depan rumah.


"Selamat pagi, Nona Valentina!"


Sopir itu tersenyum ramah dan membukakan pintu mobil. Valentina menguap, rasa kantuknya belum juga menghilang.


" Lincoln, pastikan dia diantar sampai sekolahnya dan tolong jaga dia. Ini hari pertama sekolahnya,’’kata Mikan.


"Aku akan menjaganya dengan baik."


Lincoln selain sebagai sopir pribadi Valentina juga sebagai bodyguardnya. Ia ahli ilmu beladiri yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi, karena sudah pernah menjuarai berbagai pertandingan ditingkat nasional maupun internasional untuk menjaga Valentina, anak mereka satu-satunya yang pernah hampir di culik sewaktu ia berumur 3 tahun. Lincoln membetulkan topinya sebelum menjalankan mobilnya.


Mikan masuk kembali ke dalam rumah dan suara dering telepon menggema diseluruh ruangan rumah yang besar.


"Kediaman keluarga Hunt. Ada yang bisa saya bantu?’’Sapa Mikan ramah.


"Mikan, ini aku."


"Ah nyonya Emily. Bagaimana kabar Anda?’’


"Aku baik. Bagaimana dengan Valentina hari ini?’’


"Nyonya tidak perlu khawatir dia baik-baik saja. Walaupun tadi dia terlihat murung dan tidak bersemangat pergi ke sekolah."


"Kalau begitu jaga dia untukku. Sekarang ini kami sedang dalam perjalanan pulang. tApa kamu sudah mempersiapkan apa yang aku perintahkan?’’


"Semuanya sudah siap. Pasti Nona Valentina akan senang dengan kejutan yang Anda buat."


"Semoga saja. Kami akan tiba disana menjelang sore."


"Baik nyonya Emily."


🧸🧸🧸


Lincoln sesekali melihat Valentina dari kaca spion dan terlihat murung. " Seharusnya Nona senang pergi ke sekolah baru dan mendapatkan teman-teman baru."


"Aku rindu Ibu dan Ayah."


Lincoln menghela nafas. Sekarang dia mengerti kenapa Valentina terlihat sedih. Sudah satu minggu Valentina terpisah dari orangtuanya ditinggal pergi ke Jepang, karena ayahnya ada pekerjaan di sana.


Di depan pintu gerbang sekolah yang menjulang tinggi banyak antrian mobil yang masuk. Valentina sedang tertidur padahal jarak antara sekolah dan rumahnya tidak begitu jauh.


Lincoln tersenyum.’’Nona, kita sudah sampai di sekolah, ayo bangun!’’


Valentina masih saja tertidur, ketika mobil sudah sampai di depan sekolah. Lincolb memberhentikan mobilnya dan membuka pintu penumpang, kemudian membangunkannya.


" Nona Valentina, bangun!"


Lincoln menguncang tubuhnya dengan lembut, kemudian Valentina perlahan-lahan membuka dan mengucek-ngucek matanya, lalu menguap sambil merentangkan kedua tangannya. Matanya terlihat memerah dan matanya masih sayu.


"Sudah sampai ya?’’tanyanya sambil melihat ke sekeliling.


Lincoln membantunya turun dari mobil dan memakaikan tas ranselnya. ’’Aku pergi dulu."


Valentina langsung pergi menuju sekolahnya.


" Nona, belajarlah yang rajin, jangan nakal ya!"


Valentina menganggukkan kepalanya, lalu kembali berjalan. Di dalam sekolah yang begitu besar ia kebingungan mencari kelasnya. Tiba-tiba...


Bruuukkk.


Banyak buku yang berjatuhan ke lantai dan Valentina jatuh terduduk. ’’Aduuuuhhh,’’ katanya sambil mengelus-elus bokongnya.


Wanita yang bertabrakan dengannya pun terkejut .’’Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?’’tanyanya cemas. Valentina menatap wanita itu sambil tersenyum.


"Aku tidak apa-apa hanya saja bokongku sakit."


"Syukurlah!’’kata wanita itu dan menghembuskan nafas lega, lalu wanita itu membantunya berdiri dan merapikan seragam sekolahnya. Kemudian cepat-cepat membereskan buku-bukunya yang berserakan.


"Maaf ya. Ini salahku membaca sambil berjalan."


"Iya." Valentina menganggukkan kepalanya.


Tidak lama kemudian terdengar suara bel masuk.


"Sebaiknya kamu cepat masuk kelas."


Valentina hanya diam dan membuat wanita itu bingung."Kenapa diam saja?’’

__ADS_1


"Itu...itu...aku tidak tahu di mana kelasku berada. "


Wanita itu tersenyum.’’Kamu pasti murid baru, bukan?’’


"Iya,"kata Valentina sambil menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Aku akan mengantarmu sampai kelas. Kamu duduk di kelas mana?’’


Kelas 1 B."


"Apa Anda guru di sini?’’


"Iya. Aku guru di sini. Aku mengajar seni peran di sekolah ini."


Mereka berdua pun sudah berada di depan kelas. ’’Ini kelasmu."


"Terima kasih sudah mau mengantarku."


"Semoga harimu menyenangkan. Oh ya siapa namamu?’’


" Valentina Hunt."


" Hunt?"


"Apa ada yang salah dengan namaku?’’


"Tidak apa-apa."


" Sekarang sebaiknya kamu masuk kelas."


Valentina membuka pintu kelas dan sebelum masuk dia kembali menoleh  ke belakang dan melihat wanita yang masih berada di belakangnya.


"Bu guru , boleh aku tahu siapa nama Anda?’’


"Tentu saja. Namaku Erika Duncan Roberts."


"Nama yang bagus. Senang bisa berkenalan dengan Anda, Bu guru Roberts."


"Aku juga."


"Cepatlah masuk !’’


Valentina masuk ke kelasnya dan  Erika kembali ke ruang guru. Erika duduk termenung di ruang guru. Pikirannya melayang pada anak yang tadi dijumpainya.


’’Namanya Valentina Hunt. Apa dia berasal dari keluarga Hunt yang aku kenal. Tapi keluarga Hunt di New York banyak, jika anak itu berasal dari keluarga Hunt yang aku kenal berarti oh tidak. Anak itu akan terkena kutukan keluarganya,"gumamnya.


Erika merasa sedih anak yang bernama Valentina itu akan terkena kutukan keluarganya. Seharusnya Fernando tidak mengutuk keluarga mereka yang tidak bersalah.


Erika pun segera menuju ruang klub seni peran. Ia mengajar seni peran tidak hanya untuk anak SD, tapi juga SMP, dan SMU, karena sekolah itu mencangkup semua tingkatan pendidikan. Ia dan muridnya-muridnya akan mengadakan pentas drama untuk festival di sekolahnya dan dihadapannya sekarang sudah ada 4 naskah cerita dan masih belum masih diputuskan naskah cerita yang di ambil. Naskah cerita Hellen Keller, Young girls, wuthering heights, dan Gina dan lima pot biru.


"Hah." Erika mendesah.


Erika mengalami kesulitan mengajarkan murid-muridnya memerankan semua peran yang ada di naskah itu. Ia harus sedikit lebih keras mengajar murid-muridnya. Tiga tahun yang lalu, Erika memutuskan untuk menjadi guru seni peran. Dulu ia pernah sekolah seni peran dan sering melakukan beberapa pertunjukkan drama. Pekerjaan ini ditawarkan kepada Erika oleh temannya.


Erika sangat menikmati peran barunya sebagai guru, dia ingin sekali membagi ilmunya dengan orang-orang, tapi tidak semudah yang dibayangkan Erika untuk mengajarkan seni peran pada anak-anak sekolah. Ia beruntung memiliki murid-murid yang sangat menyukai akting, terbukti dari tahun ketahun murid yang berkabung  di klubnya semakin bertambah dan dia sangat mensyukuri hal itu.


"Aku harus memilih salah satu di antara keempat naskah ini."


Erika mensejajarkan keempat naskah itu di depannya dan keputusannya dia memilih Gina dan lima pot biru, karena dia menganggap murid-muridnya akan mudah mementaskan drama ini.


Terdengar suara langkah-langkah menuju ke ruang klub. Pintu terbuka dan kepala sekolah muncul dari balik.


‘’Bu guru Roberts."


Erika terkejut dengan kedatangan kepala sekolah ke ruang clubnya. " Selamat pagi, Tuan Brennan."


" Pagi!"


" Apa kamu sudah memutuskan drama apa yang akan dipentaskan oleh anak-anak SD di festival sekolah nanti."


"Kita akan mementaskan Gina dan lima pot biru," kata Erika dengan penuh percaya diri.


"Baiklah, jadi sekarang kita tinggal memutuskan siapa saja yang akan ikut bermain dalam pementasan drama ini."


"Benar. Sekarang saya akan memilih siapa saja yang pantas untuk memerankan peran mereka masing-masing."


" Bagus. Kalau begitu saya permisi dulu."


Erika kembali bernapas lega ketika kepala sekolah telah pergi, lalu ia menyusun nama-nama sampai jam istirahat siang. Murid-murid sudah mulai keluar kelas. Erika menuju ke kantin untuk makan siang dan dia melihat Valentina sedang makan siang di meja paling sudut ruangan.


‘’Halo ! Boleh aku temani makan siang?’’


"Tentu saja."


Selama beberapa saat Erika memperhatikan wajah Valentina dan ia merasakan anak perempuan yang ada dihadapannya memang sangat mirip dengan orang yang dia kenal. Valentina sangat mirip dengan Fabian terutama warna mata birunya.


" Valentina , boleh aku tahu siapa nama ibumu dan ayahmu?’’


"Kenapa Bu guru menanyakan itu?’’


"Bu guru hanya ingin tahu saja, kalau kamu tidak mau memberitahu, Bu guru tidak akan memakasamu untuk mengatakannya."


"Aku akan memberitahukanya pada Anda."


Mata Erika berbinar.’’Oh ya."


Valentina menganggukkan kepalanya.


"Nama ibuku, Emily Hunt dan ayahku bernama Jerome Hunt.

__ADS_1


Deg!


Wajah Erika menegang, karena apa yang dipikirkannya tidak salah.’’Jadi Ayahmu bernama Jerome Hunt?"


"Benar, apa ada yang salah dengan nama Ayahku?’’


"Tentu saja tidak ada yang salah."


Erika tersenyum dan mengacak-acak rambut bocah itu. ’’Cepat habiskan makanmu!’’


Valentina menganggukan kepalanya. Setelah makanan habis, Erika kembali ke ruang guru dan di sana terlihat masih sepi hanya ada dua orang guru saja yang sedang mengetik. Ia duduk di mejanya.


Sunggu malang nasib anak itu yang akan terkena kutukan keluarganya pikir Erika.


🧸🧸🧸


Sebuah sedan hitam mewah terparkir dengan mulus di depan pintu rumah yang bergaya Eropa dan para pelayan menyambut kedatangannya. Seorang wanita cantik dan anggun keluar dari mobil.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya!’’kata para pelayan bersamaan.


Emily dan Jerome berjalan memasuki rumah diikuti oleh para pelayan. Seorang pelayan laki-laki yang bernama Mason membawakan tas koper ke kamar mereka.


Letakan saja koper itu di sana,"kata Emily.


Pelayan itu meletakan koper di dekat lemari di depan lemari pakaian.


"Mason, apa persiapannya sudah selesai," kata Jerome.


"Semuanya sudah selesai. Kita hanya menunggu kedatangan Nona Valentina saja."


"Bagus. Sekarang kamu pergilah. Kami mau istirahat dulu."


"Baik."


Emily membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Rasa pusing kembali menyerangnya, lalu dia mencoba memejamkan matanya dan akhirnya terlelap tidur begitu juga dengan Jerome.


Bel tanda berakhirnya sekolah telah dibunyikan. Semua murid SD berlarian keluar. Valentina berjalan dengan santai menuju pintu keluar dan dia menunggu mobil jemputan menjemputnya. Beberapa mobil mewah melewati dirinya yang akan menjemput dan dari kejauhan Erika melihat Valentina. Ia berlari mendekatinya.’’Belum ada yang menjemputmu?’’


"Belum ada, mungkin sebentar lagi."


"Aku akan menemanimu di sini sampai jemputanmu datang."


"Terserah Bu guru saja."


" Valentina, selamat ulang tahun!’’


Valentina terkejut.’’Dari mana Bu guru tahu kalau hari ini aku berulang tahun?"


" Aku melihatnya di daftar riwayat hidupmu,’’kata Erika.


Tidak lama kemudian sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti di depan Valentina dan Lincoln keluar.’’Maafkan saya datang terlambat."


"Tidak apa-apa. Oh ya kenalkan ini Bu guru Roberts,’’kata Valentina pada sopirnya.


" Lincoln." Sambil menjulurkan tangannya.


Lincoln membukakan pintu mobil, tapi Valentina tidak masuk dan membuatnya merasa heran.


"Bu guru , aku mengundangmu makan kue di rumahku."


Eh....’’


"Karena hari ini ulang tahunku, aku ingin mengundangmu makan kue di rumahku, bagaimana?’’


"Apa itu tidak apa-apa?’’


"Tentu saja. Aku senang Bu guru bisa datang ke rumahku di hari ulang tahunku."


Sebenarnya Erika tidak mau datang ke rumah Valentina, karena di sana ada Jerome, mantan kekasihnya dulu, tapi ia juga merasa penasaran dengan keadaan Jerome sekarang.


Erika tersenyum. ’’Hmm. Baiklah."


"Horeee,’’seru Valentina kegirangan.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan pulang ke rumah, Valentina terlihat senang. Lincoln juga terlihat senang melihat Nona mudanya merasa senang. Dia memperhatikan keduanya dari kaca spion mobilnya. Erika dan Valentina asyik bernyanyi walaupun nadanya kacau, tapi mereka berdua terlihat sangat senang.


Mobil telah memasuki gerbang rumah yang menjulang tinggi. Erika sangat mengagumi rumah Hunt yang sangat mewah. Kedatangan mereka di sambut oleh beberapa pelayan.


"Selamat datang , Nona Valentina!’’kata Mikan, lalu pelayan itu melihat ke arah Erika.’’Siapa dia?’’


"Mikan, ini Bu guru Roberts."


" Selamat datang!"


"Bu guru, ini Mikan. Dia adalah salah satu pelayan di rumah ini."


"Senang bisa bertemu dengan Anda,’’kata Mikan. Mereka kemudian masuk dan Mikan membawa mereka ke halaman belakang rumah.


Suara terompet dan juga semburan kertas mengarah ke Valentina .’’Selamat ulang tahun, Nona Valentina!’’kata para pelayan bersamaan. Emily dan Jerome kemudian muncul.


"Ibuuuuu...Ayaaaah.’’


Valentina langsung berlari dan memeluk Ibu dan Ayahnya. Mereka mencium pipinya secara bergantian dengan gemas dan sayang.


" Selamat ulang tahun!"kata Jerome dan Emily.


" Terima kasih. Ibu dan Ayah kapan datang?’’


"Tadi siang." Emily berjongkok. ‘’Sayang, ini hadiah dari Ibu dan Ayah."

__ADS_1


"Terima kasih."


Erika tidak pernah melepaskan pandangan pada Jerome sejak dari tadi. Ia tidak percaya bisa bertemu kembali dengannya. Rasa cintanya pada pria itu sudah tidak ada lagi musnah oleh api yang membakar ibu dan adiknya. Jerome terkejut melihat Erika. Seakan ia tidak mempercayai penglihatannya. [ ]


__ADS_2