My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S3): Undangan pernikahan


__ADS_3

Terdengar suara langkah dan kereta dorong makanab di sepanjang koridor mansion. Seorang pelayan berpakaian seragam abu-abu membawa sepoci teh dan dua cangkir dengan semangkuk kecil gula. Ia meletakannya di atas meja taman yang terbuat dari kayu dan bercat coklat. ‘’Ini tehnya Tuan."


"Terima kasih."


Perlahan-lahan pelayan itu pergi dan orang yang dipanggil Tuan oleh pelayan itu adalah majikannya yang baru saja merayakan hari ulang tahunnya ke-40 tahun yang masih terlihat muda. Pria itu menuangkan tehnya kedalam cangkir, lalu meminumnya secara perlahan sambil melihat seorang wanita yang tengah merawat berbagai macam bunga.


Tatapan pria itu begitu teduh dengan binar-binar cinta yang menar-nari dimatanya, ketika melihat wanita pujaan hatinya yang akan segera dinikahi dua hari lagi menjadi istrinya. Ia sudah tidak sabar lagi untuk segera menjadikannya sebagai istrinya.


Pria itu teringat akan pertemuan pertamanya 6 bulan lalu disebuah rumah sakit. Saat itu ia sedang tugas jaga di ruang gawat darurat dan di sanalah ia bertemu dengannya. Wanita itu telah mencuri hatinya ketika pertama kali melihatnya dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan keadaan yang memprihatinkan. Seluruh tubuhnya basah kuyup, karena tertimbun salju.


Wajahnya pucat dan ada banyak darah di dahinya yang telah mengering. Wanita itu mengalami suatu benturan keras dikepalanya yang menyebabkan dia koma selama 3 bulan. Ia dengan sabar merawatnya sampai tersadar kembali dan saat-saat yang ditunggunya itu datang. Wanita pujaan hatinya telah terbangun dari tidurnya yang panjang , bahkan pria itu menyebutnya sebagai putri tidurku.


"Halo!’’sapanya.


Wanita itu masih berusaha untuk mengetahui dirinya berada.’’Apa ini rumah sakit? Apa yang telah terjadi denganku?’’tanyanya dengan suara parau.


"Ini rumah sakit dan kamu mengalami sebuah kecelakaan , lalu koma selama 3 bulan."


"Aku koma 3 bulan?"


"Benar. Sebaiknya kami jangan banyak bergerak dan bicara dulu. Aku akan memeriksamu, selama tiga bulan ini aku adalah doktermu."


Dokter itu memeriksa keadaanya dan wanita itu terlihat malu-malu, ketika dokter tampan itu memeriksanya.


’’Sepertinya kamu akan baik-baik sekarang. Kamu beruntung ditemukan oleh warga dan cepat membawamu ke sini. Oh ya siapa namamu?’’


Wanita itu terdiam sebentar."Aku tidak tahu."


"Kamu tidak tahu namamu?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau aku memberikan nama Ginger kepadamu?"


"Aku suka nama itu. Baiklah."


"Ginger,"panggilnya.


Ginger tersenyum.


"Bisakah Anda mencari keluargaku. Pasti mereka sangat mencemaskanku."


Ginger mencoba bangun dan turun dari tempat tidur, tapi seketika tubuhnya menjadi limbung.


"Sebaiknya kamu jangan bangun dulu."


Ginger kembali berbaring. "Aku mohon cari keluargaku?"


"Aku akan mencari keluargamu, tapi sepertinya akan sulit sekali, karena aju tidak punya informasi apa-apa tentang kamu dan ksmu juga tidak ingat apa-apa, tapi aku janji akan mencari di mana keluargamu berada." Ginger kembali terlihat sedikit tenang.


"Terima kasih. Tolong cari mereka untukku!’’katanya dengan pandangan memohon.


Carson memandangi Ginger dengan tatapan lembut, lalu meninggalkannya di kamar untuk beristirahat. Di luar kamar, ia mengeluarkan sebuah cincin pernikahan. Carson mendapatkan cincin itu melekat di jari manis Ginger. Di dalam cincin itu tertulis huruf inisial F & M.


Carson sedih kalau wanita pujaan hatinya telah memiliki seorang suami dan harapannya untuk memiliki gadis itu hanya tinggal mimpi. Ia juga berpikir mungkin saja Ginger sudah memiliki anak. Bagaimana pun ia tidak boleh merasa egois untuk menyembunyikan Ginger dari suami dan anaknya, karena ia tidak ingin memisahkan seorang anak dari ibunya.Tapi sisi gelap dirinya mengatakan supaya membawa kabur Ginger dari sini dan tidak perlu mencari suami dan anaknya. Ide jahat itu sudah beberapa kali mengerogoti pikirannya, sampai-sampai ia melepas cincin nikah wanita itu supaya Ginger tidak tahu kalau ia sudah menikah, tapi ia berusaha untuk membuangnya jauh-jauh pikiran jahat itu dan terasa berat. Akhirnya pikiran jahat itu tetap ada


Carson masih ingat ketika 3 bulan lalu, ia mengatakan kalau ia tidak mempunyai keluarga dan Ginger hidup sebatang kara dan Ginger menuduhku berbohong kepadanya.’’Itu tidak mungkin. Pasti Anda salah dokter. Aku tidak mungkin tidak punya keluarga,’’kata Ginger dengan wajah sedih. Ia pun menangis.


"Ginger, jangan menangis !’’


Dokter itu memeluk Ginger berusaha untuk menenangkannya, tapi tangisannya semakin keras. Selama beberapa hari Ginger melamun dan merasa ada sesuatu kehilangan terbesar dalam hidupnya. Ia juga tidak mengerti ada perasaan pilu dan sedih yang selalu menyelinap ke dalam perasaannya. Carson yang melihat semua itu menjadi merasa bersalah, karena sudah berbohong. Ia berusaha untuk menghiburnya. Di satu sisi ia merasa kasian kepada Ginger tentang suaminya yang kemungkinan masih hidup dan anaknya. Disisi lain ia merasa senang, karena Ginger tidak ingat apa-apa dan ada harapan untuk memilikinya.


Selama 2 bulan akhirnya Ginger mau menerima bahwa ia tidak memiliki satu orang pun keluarga lagi. Dua bulan setelah Ginger sadar dari komanya, ia diutus untuk pergi ke Inggris untuk bekerja disalah satu rumah sakit di sana. Ia pun mengajak Ginger untuk pergi bersamanya dan tanpa ia duga Ginger langsung menyetujuinya dan setelah 1 bulan berada di Inggris kini mereka kembali ke New York. Mereka berdua akan segera menikah setelah satu bulan yang lalu ia melamar Ginger di Inggris.


"Ginger, kemarilah! Kita minum teh bersama."


Ginger yang wajahnya telah memerah, karena terpaan sinar matahari berjalan mendekatinya dengan senyumannya yang selalu membuat hati pria itu berdebar-debar.


🧸🧸🧸


Sejak kepergian Miya, Fabian selalu menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia tidak ingin merasa sedih lagi saat kembali mengingat istri yang sangat ia cintai. Gilbert membuka pintu dan ia mengatakan ada seorang wanita yang ingin menemuinya.


"Suruh dia masuk!"


Arya masuk dan membuat Fabian terkejut. Gara-gara wanita itu ia harus kehilangan Miya untuk selamanya.

__ADS_1


"Mau apa kamu ke sini? Apa tidak cukup bagimu untuk selalu mengangguku. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Pergilah!"


Arya nampak sedih melihat penolakan Fabian. Ia juga senang Fabian baik-baik saja dan masih hidup.


"Aku datang ke sini untuk meminta maaf kepadamu. Aku telah berbuat salah kepada kalian. Aku juga ingin mengakui sesuatu kepadamu. Aku tidal hamil. Aku sudah bohong kepadamu."


Fabian menggeram marah. "Karena kebohonganmu, aku kehilangan Miya dan sudah menghancurkan kehidupanku."


Arya menangis. "Aku benar-benar sangat menyesal. Maafkan aku. Aku tidak akan menganggu hidupmu lagi."


Arya pun pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.


🧸🧸🧸


Ginger kembali ke kamarnya setelah minum teh bersama tunangannya. Kamarnya begitu luas ditambah hanya sedikit barang di kamar itu hanya ada lemari dan meja rias. Ginger akan selalu membuka pintu kaca balkon yang mengarah ketaman dan duduk di sana sambil memandangi taman-taman yang indah. Buliran-buliran air mata telah membasahi wajahnya dan menetes-netes. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa perasaannya bisa sesedih ini.


Jauh dilubuk hatibya, ia merindukan seseorang, tapi ia tidak tahu siapa. Ia menangis menumpahkan segala kesedihannya.


Ginger akan menikah dengan seorang pria yang sangat baik , tapi hatinya tidak bisa mencintai pria itu meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk dapat mencintainya, tapi tetap saja ia tidak bisa.


🧸🧸🧸


Arya yang baru saja tiba di rumahnya merasa pusing dan lelah akhirnya ia pingsan. Ayahnya yang kebetulan berada dekat dengannya sangat panik dan cemas melihat putrinya tiba-tiba pingsan. Ia meminta pelayan untuk memindahkannya ke kamar dan ia pun segera menghubungi dokter. Setengah jam kemudian dokter pun datang.


"Akhirnya Anda datang juga dokter Carson. Arya ada di kamarnya."


"Saya akan ke sana."


Dokter itu segera pergi ke kamarnya. Dokter Hazel Carson adalah dokter pribadi Arya sejak 6 bulan yang lalu, karena dokter pribadi sebelumnya mendadak  sakit dan harus dirawat dirumah sakit sampai sekarang.


Arya tersenyum ketika dokteritu datang.’’Aku baik-baik saja, seharusnya Ayah tidak perlu memanggilmu."


Dokter itu tersenyum. "Ayah Anda sangat mencemaskanmu."


Lalu langsung memeriksa tekanan darah Arya.’’Tekanan darahmu rendah. Sebaiknya Anda harus cukup istirahat dan jangan memikirkan apa-apa."


"Rasanya itu tidak mungkin, sekarang ini aku sedang banyak pikiran."


"Sebaiknya pikiran  yang menganggu Anda hilangkan hanya untuk sebentar saja, kalau terus begini Anda bisa mengalami stress berat nona Cooke."


"Tapi aku tidak bisa. Aku sedang mengalami masalah besar yang menyangkut kehidupan masa laluku."


Kening Arya mengerut penasaran apa yang akan diberikan dokter tampan itu kepadanya.


"Ini."


"Bukannya ini adalah undangan pernikahan."


"Benar."


"Siapa yang akan menikah?’’


Dokter itu tersenyum.’’Saya akan menikah besok lusa. Maaf baru memberikannya padamu sekarang seharusnya aku sudah memberikannya sebulan yang lalu. Aku cukup malu mengatakan kalau undangan pernikahanku tidak cukup akhirnya aku memesan lagi undangan itu, karena aku telah salah menghitung tamu yang akan hadir dipernikahanku."


Arya tersenyum.


"Selamat untukmu, dokter Carson."


Dokter itu tersenyum senang dan wajahnya berbinar bahagia.


"Pasti Anda sangat mencintai calon istri Anda."


"Tentu saja."


Arya menaruh undangan berwarna merah itu di meja di samping tempat tidurnya.


"Nona Cooke, aku permisi dulu dan jangan lupa meminum obatmu."


Arya mengangguk pelan, lalu dokter itu menghilang dibalik pintu, lalu pintu terbuka kembali.


"Aku hampir lupa memberitahumu, mantel tertinggal di rumahku."


"Mantem?"


"Iya apa kamu tidak ingat waktu kamu mengunjungiku di rumah sakit satu bulan yang lalu, mantelmu tertinggal dan aku tidak sempat mengembalikannya padamu, karena aku pergi ke Inggris. Sekarang mantelmu ada di rumahku. Aku sudah berpesan kepada pelayanku, jika kamu datang dan mengambilnya, aku sudah menitipkannya kepadamu."

__ADS_1


"Aku ingat sekarang. Aku akan mengambilnya nanti."


Carson kembali menutup pintu. Beberapa menit kemudian Arya kembali mengambil undangan itu dan membukanya.


‘’Dokter Hazel Carson dan Ginger Carter akan menikah,’’katanya dengan suara pelan.


Arya melihat hari pernikahannya yang akan diadakan besok lusa.


Keesokaan paginya Arya terbangun oleh suara dering telepon dengan mata yang masih mengantuk , ia mencari-cari telepon di balik selimutnya dan akhirnya ia berhasil meraih gagang telepon yang tidak jauh berada di meja samping tempat tidurnya. Samar-samar terdengar suara seorang pria ketika ia menjawab telepon itu.


Pada awalnya Arya tidak menyadari siapa yang telah menelponnya, tapi beberapa detik kemudian, ia baru tersadar dan ia segera terbangun.


"Ternyata kamu Rafael. Ada apa?"


"Aku dengar kamu sakit." Suaranya terdengar cemas.


"Aku baik-baik saja sekarang."


"Syukurlah! Kamu harus banyak istirahat."


"Terima kasih sudah mau meneleponku."


"Jaga dirimu baik-baik!"


"Kamu juga."


Arya menutup sambungan teleponnya dan kembali berbaring.


Arya cepat-cepat turun dari tempat tidurnya ketika jam sudah menunjukan angka 9. Ia bergegas merapikan diri, lalu pergi dengan terburu-buru .’’Kamu mau ke mana?’’tanya ayahnua yang terheran-heran melihat putrunya pergi dengan terburu-buru.’’Aku harus pergi."


"Tapi kau masih sakit sebaiknya istirahat saja dulu."


"Aku mau ke rumah dokter Carson untuk untuk mengambil mantelku yang tertinggal. Lagi pula aku sudah sehat."


"Arya."


Arya tetap pergi tanpa mempedulikan teriakan ayahnya yang melarangnya pergi. Ia merasa bosan, jika terus berada di kamar. Di dalam taxi ia menelepon seseorang dan terdengar suara seseorang tidak lama kemudian.’’Dokter Carson, ini aku, Arya. Aku mau pergi ke rumahmu untuk mengambil mantelku."


"Kamu tidak perlu buru-buru mengambilnya. Bukannya kamu sedang tidak enak badan."


"Aku sudah sehat sekarang. Aku merasa bosa berada di rumah terus."


"Baiklah. Kamu bisa bertemu dengan calon istriku di rumah dan kalian bisa bicara."


"Tentu. Terima kasih."


Arya langsung menutup teleponnya.


Taxu yang ditumpangi Arya memasuki halaman rumah dokter Carson. Terlihat seorang pelayan menyambut kedatangannya.’’Selamat siang nona Cooke! Saya diberitahu oleh dokter Carson mengenai kedatangan Anda kemari tadi."


"Kedatanganku kemari untuk mengambil mantelku."


"Ayo silahkan masuk!"


Arya mengikuti pelayan itu masuk ke rumah. Suasana rumah sangat sepi. Pelayan itu pergi mengambil mantel, lalu kembali muncul dengan membawa tas kertas.


"Ini mantelnya."


"Terima kasih. Oh ya kemana calon istri dokter Carson."


"Sayang sekali, saat ini nona Ginger tidak di rumah. Dia baru saja pergi."


"Pergi? Kemana?’’


"Ke butik untuk mencoba gaun pengantinnya. Kalau Anda mau, Anda bisa menunggunya di dalam."


"Baiklah, aku akan menunggunya."


"Mari ikuti saya!’’


Arya dibawa ke sebuah ruangan luas yang terbuka yang langsung menghadap sebuah taman . Dua orang pelayan wanita yang menggunakan seragam abu-abu memberikannya sepoci teh dan juga kue-kue. Ia sangat penasaran seperti apa wanita yang membuat dokter Carson yang tampan tergila-gila dengan calon istrinya.


Satu jam telah berlalu, tapi masih belum ada tanda-tanda Ginger akan pulang. Ponselnya telah berkali-kali berbunyi dan semua panggilan itu berasal dari ayahnya, tapi ia lebih memilih untuk tidak menjawabnya.


Dua jam telah berlalu Arya sudah merasa tidak sabar menunggu kedatangan Ginger. Dia terperanjat ketika ada seseorang memanggilnya, lalu membalikkan badannya.’’Ayah."

__ADS_1


"Rupanya kamu ada di sini."


"Ayah sedang apa di sini?’’ [ ]


__ADS_2