
Charlotte keluar dari taxi dan sekarang ia sedang berdiri di sebuah mansion besar. Ia menekan bel dan suara seorang pria menjawabnya.
" Ada yang saya bisa bantu?"
" Aku Charlotte Coldwell ingin bertemu dengan Fabian."
" Maaf Tuan Fabian sedang tidak ada."
" Kalau begitu aku ingin bertemu dengan istrinya."
Pintu gerbang kemudian terbuka. Charlotte masuk demgan jalan kaki sambil mendorong kopernya. Ia melihat ke sekeliling halaman depan Castalia mansion dan tidak ada yang berubah pikirnya.
Setelah tiba di depan pintu mansion, Edgar, kepala pelayan membuka pintu. Edgar terkejut dengan kedatangan Charlotte.
" Halo Edgar! Sudah lama tidak bertemu."
" Nyonya Charlotte," serunya tidak percaya.
" Sekarang kamu sudah jadi kepala pelayan."
" Benar."
Edgar masih menatap tidak percaya pada wanita dihadapannya, meskipun tidak muda lagi, tapi kecantikan Charlotte masih ada. 30 tahun yang lalu, ia dilamar oleh seorang pangeran dari Luxemburg dan terakhir mendengar kabar tentangnya, bahwa Charlotte sedang sakit keras dan tidak waras, karena kehilangan anak dan suaminya.
" Apa sepupuku, Fabian belum kembali?"
" Belum."
" Ah. Tentu saja. Ini masih sore pasti dia masih ada di kantornya."
" Kalau nyonya Miya ada."
" Tolong antarkan aku kepadanya. Aku belum berkenalan dengannya dan bertemu dengannya."
" Mari ikuti saya!"
Edgar membawa Charlotte ke rumah kaca yang berada di halaman belakang mansion. Miya sedang merawat bunga-bunga yang ada di sana. Ia melihat Edgar membawa seorang wanita.
" Nyonya Miya, ini Charlotte Coldwell, sepupu Tuan Fabian."
"Halo Miya! Senang bisa berjumpa denganmu. Ternyata istri Fabian sangat cantik juga."
Wajah Miya merona.
"Terima kasih."
Mereka kemudian duduk di kursi yang ada di rumah kaca.
" Aku baru tahu kalau kamu adalah sepupu Fabian."
"Aku sepupu jauhnya. Selama ini aku tinggal di Luxemburg bersama suamiku."
"Sepertinya aku pernah mendengar kalau Fabian mempunyai sepupu yang menikah dengan pangeran Luxemburg."
" Itu aku."
" Jadi itu kamu."
"Iya."
" Kenapa bisa ada di sini?"
" Ceritanya sangat panjang. Kalau boleh aky ingin tinggal di sini untuk sementara waktu."
" Tentu saja."
"Terima kasih."
Miya kemudian memanggil pelayan untuk mengantarkan Charlotte ke kamarnya. Ia pun mencari Edgar untuk menanyakan kedatangan Charlotte. Miya menemukan Edgar di dapur.
"Nyonya Miya, ada yang saya bisa bantu?"
"Ini mengenai Charlotte. Apa kamu tahu sesuatu tentangnya?"
" Aku tidak banyak tahu, tapi terakhir kali saya dengar tentang nyonya Charlotte kalau dia sedang sakit dan depresi, karena kehilangan suami dan anaknya."
Miya terkejut." Aku tidak tahu itu."
" Kejadiannya sudah sangat lama."
" Kasihan Charlotte."
"Dulu nyonya Charlotte sering datang kemari dan sudah dianggap kakak oleh Fabian."
" Terima kasih. Aku akan menghubungi Fabian untuk cepat pulang."
Miya pergi dari dapur menuju kamarnya. Ia segera menelpon Fabian. Pada deringan pertama, Fabian menjawabnya.
" Halo, sayang! Kamu meneleponku, karena rindu aku ya."
Miya bisa membayangkan senyuman percaya diri suaminya saat ini.
" Aku meneleponmu bukan karena merindukanmu."
Fabian mendesah kecewa. " Padahal aku sangat merindukanmu. Ada apa meneleponku."
" Kakak sepupumu, Charlotte baru saja datang."
Fabian langsung berdiri tegak. "Cha-Charlotte, katamu,"serunya terkejut.
" Iya."
"Itu tidak mungkin."
" Kamu harus segera pulang. Dia menunggumu."
" Baiklah. Sebentar lagi aku pulang."
" Aku mencintaimu,"kata Miya.
" Aku juga mencintaimu."
Miya memutuskan sambungan teleponnya, lalu keluar kamar. Fabian yang masih berada di kantornya masih belum hilang rasa terkejutnya.
Ia tidak menyangka akan bisa bertemu dengan Charlotte lagi. Ia teringat sehari sebelum Charlotte pergi ke Luxemburg bersama suaminya. Saat itu usia Fabian berumur 12 tahun.
" Kak Chatlotte, jangan pergi!"rengek Fabian.
" Maafkan aku, Fabian. Aku harus ikut suamiku ke Luxemburg."
Charlotte menghapus air mata Fabian, lalu memeluknya dengan erat.
" Tapi kakak sudah janji kepadaku tidak akan pernah meninggalkanku."
Charlotte memandang sendu Fabian." Maafkan aku sudah melanggar janji."
" Aku pasti akan kesepian kalau Kak Charlotte tidak ada."
" Kamu tidak akan kesepian, karena ada Adelina, adikmu."
" Adelina masih kecil belum bisa aku ajak bermain."
Charlotte mengelus kepala Fabian dengan sayang. Sebenarnya ia sangat berat meninggalkan Fabian yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
" Kamu bisa mengunjungiku di Luxemburg."
Fabian terdiam, menatap Charlotte dengan mata sayu.
" Baiklah nanti aku akan mengunjungimu di sana."
"Aku akan menunggu kedatanganmu di sana."
Charlotte membuka tas tangannya dan mengambil sesuatu, lalu memberikannya kepada Fabian.
" Apa ini?"
Fabian memeriksa kotak hadiah berukuran kecil.
__ADS_1
" Itu hadiah ulang tahunmu."
"Ulang tahunku masih lama."
"Aku tahu, jadi aku memberikannya lebih awal, karean aku sudah tidak ada lagi di sini pada hari ulang tahunmu."
Fabian terlihat kecewa.
"Terima kasih."
" Kamu boleh membukanya pada saat ulang tahunmu."
Fabian mengangguk.
"Sudah waktunya aku pergi."
Fabian memeluk Charlotte untuk terakhir kalinya.
"Sampai jumpa lagi!"kata Fabian.
"Sampai jumpa!"
Fabian menatap kepergian Charlotte dengan tatapan sedih. Pada hari ulang tahunnya, ia membuka hadiah dari Charlotte. Sebuah pena.
Fabian membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan kotak yang berisi pena. Ia belum pernah memakai pena itu sekali pun. Satu-satunya barang peninggalan dari kakak sepupunya yang ia sayangi.
Saat Fabian tahu, Charlotte sakit keras dan depresi, ia sangat sedih dan langsung pergi ke sana, tapi kedatangan Fabian dan keluarganya ditolak oleh pihak istana. Charlotte tidak boleh dikunjungi oleh siapa pun. Fabian dan keluarganya harus menelan kekecewaannya.
Orangtua Charlotte telah meninggal sejak berusia 20 tahun, karena sakit dan terbakar. Pada akhirnya orangtua Fabianlah yang merawatnya sama lima tahun, karena ia menikah dan harus ikut ke negara suaminya. Kedatangan Charlotte yang tiba-tiba dan tidak terduga membuatnya merasa terkejut sekaligus senang.
Fabian cepat-cepat membereskan barangnya untuk segera pulang membuat Gilbert, sekretarisnya heran.
" Aku pulang lebih awal. Chatlotte ada di rumah."
"Benarkah?"
"Miya tadi memberitahuku. Urusan kantor aku serahkan kepadamu."
"Baiklah."
💔💔💔
Sesampainya di mansion, Fabian langsung mencari istrinya dan ia menemukan Miya sedang bicara dengan Charlotte di tepi kolam renang.
"Charlotte," panggil Fabian.
Charlotte langsung berdiri dan berjalan menghampiri Fabian. Mereka berpelukan melepas rindu.
"Fabian, lihatlah dirimu! Kamu sudah banyak berubah."
" Kamu juga."
" Kamu kenapa tidak memberitahuku kalau akan datang."
"Maaf. Aku sebenarnya ada urusan mendadak datang ke sini, jadi sekalian datang menemuimu."
Fabian duduk di samping istrinya.
" Aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Aku juga Fabian."
" Apa telah terjadi sesuatu?"
" Memang telah terjadi sesuatu."
" Ceritakan kepada kami," kata Miya.
Charlotte akhirbya bercerita apa yang terjadi selama ini kepadanya. Setelah mendengar ceritanya, Fabian sangat marah.
" Sungguh keterlaluan mereka berdua."
"Syukurlah aku bisa melarikan diri dari mereka."
" Aku tidak percaya kamu mengalami semua itu," kata Miya.
" Semuanya pasti akan baik-baik saja "kata Miya
" Jadi izinkan aku tinggal di sini untuk sementara."
"Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu inginkan. Ini rumahmu juga,"kata Fabian.
"Terima kasih."
" Lalu sekarang anakmu ada di mana?"tanya Fabian.
" AKu tidak tahu di mana dia. Aku kehilangan jejak. Panti asuhan di mana aku meninggalkan Jodan telah tutup."
" Anakmu pasti baik-baik saja," kata Fabian.
Mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga menunggu makan malam. Fabixb kemudian mengenalkan anak-anaknya kepada Charlotte.
"Ini Jonathan."
"Halo Jonathan!"
"Senang berjumpa dengan Anda, bibi Charlotte."
"Anak yang tampan. Jonathan mirip dengannmu waktu seumuran denganmu."
" Tentu saja. Aku kan ayahnyahnya dan ini Clarie."
"Halo Clarie!"
" Halo bibi Charlotte!"
" Clarie anak yang manis dan cantik seperti ibunya."
" Clarie lebih mirip Miya dari pada aku. Sebenarnya aku memiliki seorang anak perempuan lagi namanya Raina, tapi sidah tidak tinggal di sini lagi. Raina sekarang tinggal dengan suaminya."
"Raina adalah anak adopsi kami, tapi kami sangat menyayanginya seperti anak kami sendiri," kata Miya.
" Sayang sekali aku belum bisa bertemu dengannya."
" Aku bisa menyuruhnya datang ke sini besok."
" Sekarang Miya sedang hamil," kata Fabian.
" Benarkah?"
Miya mengangguk.
"Selamat untuk kalian berdua."
"Terima kasih."
" Clarie, Jonathan, apa kalian senang akan punya adik?"tanya Charlotte.
" Kami sangat senang," jawab mereka bersamaan.
" Kalian kompak sekali."
Edgar kemudian memberitahu makan malam telah siap. Setelah makan malam, mereka pergi ke kamar masing-masing.
" Apa kamu akan membantu Charlotte menemukan anaknya?"tanya Miya.
" Tentu saja. Aku akan menyewa seorang detektif."
"Aku harap Jodan bisa segera ditemukan."
"Semoga saja."
Fabian memeluk Miya di tempat tidur sambil mengingat kembali pertemuan pertama kali dengan istrinya di Los Angeles. Fabian tersenyum mengetahui telah jatuh cinta kepada Miya pada saat itu juga dan pada pertemuan keduanya ia semakin menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada Miya dan selalu bersikap sangat posesif dan protektif.
Fabian tidak bisa melepaskan pandangan matanya kepada Miya dan dalam hatinya ia sudah mengklaim Miya sebagai miliknya. Fabian tidak menganggap dirinya romantis. Ia hanya seseorang yang mempunyai pikiran logis yang telah belajar untuk mencapai kesuksesan, jika bekerja sangat keras. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan telah mengirimkan Miya untuknya pada saat ia sedang membutuhkan cinta dan kasih sayang dari seorang wanita setelah pengkhianatan istrinya terdahulu sehingga hidupnya lebih berwarna lagi.
Miya akan selalu ada untuknya dan mencintainya apa pun yang terjadi. " Terima kasih, my Miya,"gumamnya.
__ADS_1
Miya menggeliat dalam pelukan Fabian. Ia tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap tidur. Bibir mungil istrinya selaku membuatnya tergoda untuk dikecup.
💔💔💔
Keesokan harinya Raina dan Leonard datang setelah Miya meneleponya.
" Aku senang kalian datang."
" Di mana bibi Charlotte?"
"Aku di sini,"kata Charlotte saat memasuki ruang keluarga di lantai satu.
"Raina, Leonard, kenalkan ini Charlotte."
" Senang bisa bertemu denganmu, Raina."
"Aku juga bibi Charlotte."
"Kamu anak yang sangat cantik dan manis."
Raina tersipu malu dan wajahnya memanas.
"Dan senang bertemu denganmu, Leonard. Kamu pria yang sangat tampan. Kalian berdua pasangan yang sangat serasi."
" Terima kasih, bibi Charlotte. Senang bisa bertemu dengan Anda."
" Oh ya selamat untuk pernikahan kalian."
"Terima kasih,"jawab Raina.
" Ayah pernah bercerita sedikit tentang bibi Charlotte,"kata Raina.
"Kalau Bibi adalah orang yang sangat baik dan kakak yang baik untuk Ayah."
" Aku dan Ayahmu sudah seperti kakak adik. Aku sangat senang bisa datang lagi ke sini setelah sekian tahun lamanya."
"Apa Bibi akan tinggal lama di sini?"tanya Leonard.
" Entahlah. Bisa lama bisa sebentar tergantung anakku ditemukan."
" Semoga anak Bibi segera ditemukan," kata Raina.
" Kenapa Bibi Charlotte bisa kehilangan anak?"tanya Leonard.
" Aku memberikannya ke panti asuhan untuk dirawat, karena kalau tetap bersamaku nyawa anaku dalam bahaya."
Charlotte sekali lagi bercerita secara singkat tentang kehidupannya kepada Raina dan Leonard.
" Semoga semuanya akan berahir dengsn baik dan Bibi bisa bertemu dengan anak bibi."
Charlotte menatap Leonard sesaat. "Jika anakku masih hidup pasti dia sudah sebesar kamu."
" Boleh aku tahu siapa nama anak Bibi?"tanya Leonard.
" Jodan."
Raina dan Leonard terkejut. Tubuh dan wajah mereka menjadi kaku.
"Jo-jodan,"ulang Leonard.
"Apa kamu mengenalnya?"
"Ti-tidak."
" Maaf. Permisi. Aku perlu bicara sebentar dengan Raina."
Jodan menarik tangan Raina dan membawanya ke ruangan lain.
" Ada apa?"tanya Raina.
" Apa mungkin Bibi Charlotte adalah ibu kandungku?"
" Sepertinya tidak mungkin."
" Tapi nama anaknya sama dengan namaku di masa lalu."
" Nama Jodan di dunia ini banyak dan mumgkin saja itu Jodan yang lain."
" Kamu benar."
" Tapi ada kemungkinan juga bahwa kamu anak Bibi Charlotte."
Leonard nampak berpikir. "Jika aku adalah anak ia cari, bagaimana?"
" Itu suatu kebetulan yang sangar luar biasa. Sebaiknya kita kembali."
Mereka berdua kembali ke ruang keluarga. "Maaf tadi ada hal penting yang harus kami bicarakan," kata Leonard.
"Aku mengerti."
Leonard melihat jam tangannya. " Aku harus kembali bekerja. Raina bisa tinggal di sini lebih lama lagi."
"Tentu. Sampai jumpa lagi anak muda, "kata Charlotte.
💔💔💔
Michael dan Lewis sedang memperhatikan Castalia mansion dari kejauhan.
" Apa kamu tahu siapa yang tinggal di sini?"
"Fabian Baskerville, sepupu Charlotte."
Pintu gerbang mansion terbuka. Mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh Leonard keliar dari gerbang.
" Sampai kapan kita akan terus membuntuti Charlotte seperti ini?"tanya Lewis kesal.
" Sampai Jodan ditemukan."
" Tapi entah sampaikan Jodan akan ditemukan."
"Aku tidak memintamu untuk menemaniku. Kalau kamu mau pulang, pulanglah! Aku tidak akan melarangmu," kata Michael.
" Aku tidak akan pulang."
" Kalau begitu bersabarlah sedikit lagi."
💔💔💔
Di suatu tempat seorang pria tua sedang membaca buku dan majalah di sebuah bangku taman. Ia merapatkan mantelnya, karena cuacanya mulai dingin.
"Kakek, makan siang sudah siap,"kata seorang wanita muda.
" Baik. Sebentar lagi kakek akan masuk."
Pria tua itu menyimpan kapaknya setelah selesai memotong kayu terakhirnya, lalu masuk ke dalam rumah kecil berlantai dua.
" Kakek Hans, apa kakek hari ini akan mengunjungi makam Zelda? Aku akan menyiapkan bunganya."
" Iya."
" Aku akan menemani kakek ke sana."
" Terima kasih."
" Kakek Hans, apa sebaiknya kakek bicara kepada orang-orang yang sebenarnya tentang Zelda."
"Tidak sekarang, Hannah. Akan tiba waktunya semuanya akan terungkap."
"Terserah kakek saja."
Hannah kembali memakan makan siangnya, lalu memandang kakeknya.
" Apa kakek masih belum bisa melupakan kejadian 35 tahun yang lalu?"
" Kakek masih belum melupakannya. Itu kenangan terburukku."
" Aku mengerti." [ ]
__ADS_1