My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S3): Kemarahan Arya


__ADS_3

Fabian dan Miya sudah berada di panti asuhan untuk menemui Nyonya Harper untuk meminta penjelasan tentang kaburnya Valentina.


"Saya baru saja akan memberitahu tentang Valentina kepada kalian. Dari mana kalian tahu kalau Valentina kabur."


"Dari Arya,"jawab Fabian.


"Ah tentu saja. Rupanya Arya sudah memberitahu Anda."


"Kenapa Valentina bisa kabur dari sini?"tanya Miya.


"Sebenarnya kami juga tidak tahu, kenapa Valentina tiba-tuba kabur dari panti asuahan ini."


"Apa telah terjadi masalah di sini?"tanya Fabian.


" Sebenarnya tidak terjadi masalah apa pun kepada Valentina. Hanya saja salah satu pelayan kami yang hilang beberapa hari yang lalu ditemukan meninggal."


"Kami turut berduka cita."


"Terima kasih."


"Apa kalian sudah mencari Valentina?"


"Kami sudah mencarinya, tapi tidak ketemu."


Fabian dan Miya menjadi sangat cemas membayangkan seorang anak kecil berjeliaran di jalan tanpa alasan yang jelas.


"Kami akan menghubungi Anda lagi, jika kami sudah menemukan Valentina."


"Baiklah. Kami akan menunggu kabar baik dari Anda."


Fabian dan Miya bermaksud untuk berpamitan, ketika Arya masuk ke ruang kepala panti asuhan.


"Fabian, kamu sudah datang."


" Iya. Sekarang kami sudah mau pulang. Terima kasih sudah memberitahuku tentang hilangnya Valentina."


"Itu aku lakukan, karena aku tahu kalau kamu sangat sayang dan peduli pada Valentina."


"Kalau begitu kami permisi dulu."


"Silahkan!"


Setelah Fabian dan Miya pergi, Nyonya Harper mendekati Arya.


"Sepertinya kamu sangat akrab dengan Tuan Baskerville."


"Benar. Kami berteman. Oh ya apa sudah ada kabar tentang keberadaan Spencer?"


"Masih belum ada kabar."


"Sayang sekali."


Nyonya Harper nampak terpukul dengan kepergian Nancy untuk selamanya saat ia melihat secara langsung jasad Nancy yang berada di lemari pendingin. Saat itu ia tidak bisa menahan rasa sedihnya. Ia tidak mengerti kenapa sampai ada orang yang tega membunuh Nancy. Nyonya Harper sudah memganggapnya sebagai anak perempuannya sendiri dan sekarang Nancy harus kehilangan nyawanya.


Nyonya Harper mengutuk pembunuh Nancy dan pelakunya harus membayar atas perbuatannya yang kejam.


"Apa penyebab kematiannya?"tanya Nyonya Harper kepada polisi.


"Kepalanya dipukul oleh benda tumpul."


Sekali lagi Nyonya Harper melihat Nancy untuk terakhir kalinya sebelum dimasukkan kembali ke lemari pendingin. Jasad Nancy belum bisa dikuburkan sebelum autopsi selesai dilakukan.


"Nyonya Harper,"panggil Arya. Suara Arya yang memanggilnya kembali menyadarkannya.


"Ada apa?"


"Aku hanya ingin memberitahu bahwa bahan makanan di gudang sudah mau habis."


"Sudah mau habis?"


"Benar."


"Bukannya gudang baru di isi dua Minggu yang lalu, seharusnya cukup untuk satu bulan."


"Aku juga tidak tahu mungkim Ellie dan Nancy sudah memakai bahan makanan dengan boros."


"Aku akan memasan bahan makanan lagi."


"Kalau begitu aku permisi dulu."


"Arya, tunggu!"


Arya berhenti berjalan dan membalikkan badannya lagi menghadap Nyonya Harper.


"Apa ada Anda butuh bantuanku lagi?"


"Apa Nyonya Remina sudah datang ke sini untuk memberikan sejumlah uang untuk donasi?"


"Tidak."


"Ya sudah kamu boleh pergi."


Setelah berada di luar ruangan, jantung Arya berdegup dengan sangat kencang. Ia berharap Nyonya Harper tidak mengetahui bahwa Nyonya Remina telah datang dan memberikan cek dengan nominal yang sangat besar.


Arya merasa lega perbuatannya mencuri cek itu tidak akan ketahuan, karena Nyonya Remina memutuskan pindah ke luar negeri dalam waktu yang lama. Senyuman tersungging di wajahnya.


🧸🧸🧸


Keesokan harinya Miya berada sendirian di kamarnya sedang duduk melamun di pinggir jendela. Sorot matanya melihat mobil terpakir di depan mansion, lalu keluar seorang wanita cantik dari mobil tersebut dan Miya mengenali siapa wanita itu. Wanita itu adalah Arya Cooke. Miya terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan bertanya-tanya ada apa wanita itu datang. Miya segera turun ke bawah untuk menemui Arya.


Arya merasa takjub dan terpesona dengan kemewahan Castalia mansion. Ia masih tidak percaya, kalau Fabian benar-benar sangat kaya. Sebentar lagi semua ini akan menjadi miliknya setelah ia menikah dengan Fabian setelah menyingkirkan istrinya untuk selamanya.


Miya menuju ruang tamu di mana Arya telah menunggunya. Arya langsung berdiri begitu mihat Miya datang. Wanita itu memperhatikan kembali penampilan Miya yang sudah membuat Fabian tergila-gila kepadanya.


Arya merasa sangat puas, karena ia lebih cantik, lebih seksi, dan lebih anggun dari Miya. Ia yakin Fabian akan tergoda dengan kecantikannya dan pelan-pelan ia akan berhasil merebut hatinya.


Selamat siang!"sapa Miya.


"Selamat siang! Maaf kalau kedatanganku ke sini membuat Anda terganggu."


"Ada keperluan apa Anda datang ke sini?"tanya Miya.

__ADS_1


"Saya hanya ingin kamu supaya menjauh dari Fabian."


"Apa maksudmu?"


" Aku mencintai Fabian dan aku ingin kamu berpisah dengannya."


Miya memandang Arya dengan wajah terkejut. Wanita itu memiliki keberanian untuk mengatakan itu kepadanya.


" Aku adalah istrinya dan apa hakmu untuk menyuruhku berpisah dengan suamiku? Kamu bukan siapa-siapa Fabian dan aku tidak akan pernah berpisah dengannya."


"Sebentar lagi kalian akan berpisah. Kamu sudah lama memiliki Fabian. Sekarang giliranku untuk menjadi istrinya, jadi aku minta kepadamu secara baik-baik untuk memberikan Fabian kepadaku."


"Fabian bukan barang. Seharusnya aku yang menyuruhmu pergi dari kehidupan suamiku."


Arya memandang galak Miya.


‘’Jika kamu tidak menuruti kataku, kamu akan menyesal.Saya akan membuat orang yang kamu sayangi terluka," ancam Arya.


Miya terkejut dengan ancaman Arya, lalu Arya pergi meninggalkan Miya dengan kesal.


"Apa-apaan wanita itu,"gumamnya.


Miya kemudian menelepon Fabian dan menceritakan maksud kedatangan Arya menemuinya.


"Arya mengatakan itu kepadamu?"


"Iya."


"Aku benar-benar tidak tahu kenapa dia sampai mengatakan itu kepadamu. Aku akan bicara dengannya nanti."


"Baiklah. Kamu harus hati-hati ya "


"Aku akan berhati-hati."


🧸🧸🧸


Fabian berada di kantornya sedang rapat dan selama rapat ia terus melamun memikirkan petkataan Miya tentang Arya. Entah apa yang diinginkan wanita itu darinya. Gilbert berkali-kali menyadarkan Fabian dari lamunannya. Ia memperhatikan akhir-akhir ini bosnya sering melamun dan tidak berkonsentrasi pada pekerjaan.


Akhirnya rapat selesai dan Fabian kembali ke kantornya dan kembali melamun. Ia kemudian berdiri dan keluar dari kantor. Dia pergi ke panti asuhan untuk menemui Arya dan di sana. Sesampainya di sana Fabian segera menemui wanita itu.


Arya sangat senang bisa bertemu debgan Fabian lagi.


" Fabian, aku tidak tahu kamu akan datang menemuiku."


" Aku ingin bicara denganmu."


" Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"


"Istriku sudah menceritakan semuanya tentang kedatanganmu untuk menemuinya."


"Oh jadi karena itu."


" Kenapa kamu menyuruh istriku untuk berpisah denganku?"


" Karena aku mencintaimu."


"Apa?"


"Aku mencintai istriku dan tidak akan pernah berpisah."


"Tapi aku mencintaimu. Aku akan membuat hidupmu lebih bahagia daripada bersama dengan istrimu."


"Kamu salah. Hidupku sangat bahagia, jadi jangan mencoba-coba kamu merusak kehidupan rumah tanggaku."


Arya tersenyum. "Kita lihat saja nanti. Apa kamu mau makan siang denganku?"


"Tidak, terima kasih. Aku masih ada banyak pekerjaan."


Fabian pergi meninggalkan Arya dengan perasaan kesal, lalu ia menelepon Miya untuk makan siang bersama.


"Miya, maukah kamu makan siang bersamaku?’’


Sebenarnya itu hanya alasan Fabian saja, sebenarnya dia sangat merindukan istrinya meskipun baru saja ditinggal sebentar di mansionnya.


Miya sangat senang Fabian mengajaknya makan siang dan untuk sementara Miya melupakan ancaman Arya. Arya yang kebetulan makan siang ditempat yang sama sangat terkejut melihat Miya dan Fabian sedang makan siang bersama. Padahal beberapa menit yang lalu, Fabian menolak makan siang bersamanya, karena masih ada banyak pekerjaan.


Arya menjadi marah dan memandang mereka dengan penuh kemarahan dan juga kebencian. Setelah selesai makan siang, Fabian mengantarkan kembali Miya pulang, lalu langsung kembali ke kantornya. Ketika sampai dikantor Fabian sangat terkejut, karena Shiori sudah berada di sana.


‘’Aku tadi melihatmu pergi makan siang dengan istrimu. Sepertinya kamu masih belum mau berpisah dengannya."


"Kami tidak akan pernah berpisah. Sekarang pergilah, aku mau meneruskan pekerjaanku yang tertunda."


Arya pergi meninggalkan Fabian dengan marah dan kesal. Ia kemudian menelepon seseorang.


Sore hari Miya sedang menyulam. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, kemudian Miya menerima telepon itu dan seseorang mengatakan kalau Clarie mendapat sebuah kecelakaan. Miya sangat panik dan segera pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Miya melihat tangan kiri Clarie di perban dan kepalanya terluka.


"Clarie, apa yang terjadi?’’


Miya menangis dan menatap putrinya dengan sedih.


"Ibu, jangan menangis ! Aku sekarang baik-baik saja. Jadi jangan menangis lagi."


"Tapi katakan apa yang telah terjadi?’’


"Sebenarnya aku juga tidak begitu mengingatnya dengan jelas. Tiba-tiba saja ada orang yang memukulku dari belakang ketika aku akan pulang sekolah dan dalam keadaan setengah sadar ada orang yang menyiramku dengan air panas, setelah itu aku pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi."


Miya kemudian menangis lagi dan Clarie berusaha menenangkan Ibunya. Fabian cepat-cepat datang ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Miya, kalau Clarie masuk rumah sakit dan merasa lega setelah melihat putrinya baik-baik saja."


Miya kemudian bercerita tentang kejadian yang menimpa Clarie.


"Siapa orang jahat yang melakukan itu pada Clarie?"


Fabian terlihat sangat kesal dan marah.


"Aku juga tidak tahu,"kata Miya.


Clarie akhirnya diperbolehkan untuk pulang, karena lukanya tidak parah.


🧸🧸🧸

__ADS_1


Miya mendapat pesan dari Arya, ketika ia baru saja akan tidur. Isi pesan itu berbunyi:


Clarie terluka, karena aku menyuruh seseorang untuk melukainya. Aku tidak main-main dengan ancamanku.


Miya menutup mulutnya, terkejut.


"Ada apa?"


Miya menyerahkan ponselnya kepada Fabian untuk membaca pesam dari Arya.


"Ini?"


"Sepertinya Arya benar-benar serius dengan ancamannya."


Miya kemudian menceritakan tentang ancaman Arya, jika ia tidak mau berpisah dengan Fabian.


"Kenapa kamu tidak menceritakan ini kepadaku?"


"Karena aku pikir, Arya hanya menggertakku saja. Maafkan aku."


Fabian nampak sudah sangat kesal dengan perbuatan Arya. Ia tidak menyangka wanita itu memiliki sifat jahat. Tadinya Fabian mengira Arya adalah wanita baik-baik.


Fabian dibangunkan oleh bunyi telepon dengan keadaan yang masih mengantuk dan menerima telepon itu.


"Pagi Tuan Fabian !’’


Fabian langsung bangun.


"Nyonya Harper."


"Cepatlah Anda pergi kerumah sakit. Arya kemarin malam mencoba bunuh diri."


"Apaa?"


"Kami menemukan Arya di kamar mandi dengan bersimbah darah. Sekarang ia di rawat dirumah sakit. Bisakah Anda datang sekarang? Karena Arya ingin bertemu denganmu setelah sadarkan diri."


Fabian dengan wajah panik dan khawatir langsung berdiri dari tempat tidurnya.


‘’Baik aku akan segera ke sana."


Fabian cepat-cepat mandi dan berganti pakaian.


" Ada apa tanya Miya?"


"Arya mencoba bunuh diri."


"Apa?"


"Aku akan ke sana, karena Arya ingin bertemu denganku. Entah apa lagi yang dia inginkan dariku sekarang."


"Aku ikut."


Arya terbaring lemah dan wajahnya pucat, karena kehilangan banyak darah. Fabian menatap Arya. Ia sama sekali tidak menyangka Arya akan melakukan tindakan bodoh ini."


"Kenapa kamu melakukan ini?’’


"Karena saya mencintaimu dan aku tidak ingin hidup kalau kamu tidak ada di sisiku. Aku mohon menikahlah denganku dan tinggalkan istrimu."


Arya tidak peduli dengan kehadiran Miya. Ia memandang Fabian dengan pandangan memelas.


"Aku masih belum memaafkanmu, karena kamu sudah menyuruh seseorang untuk melukai putriku."


"Aku lakukan itu supaya istrimu meninggalkanmu."


"Aku tidak menyangka kamu akan sejahat ini pada keluargaku, jika kamu mencoba menyakiti keluargaku, aku akan melaporkanmu kepada polisi."


"Kamu tidak bisa melakukan itu."


"Aku bisa."


Fabian dan Miya meninggalkan Arya di kamar. Arya sangat kesal. Rencananya untuk bunuh diri untuk mengambil perhatian dan simpati Fabian gagal.


🧸🧸🧸


Beberapa hari kemudian, Arya sudah sembuh dan sudah diperbolehkan pulang. Di panti asuhan, Arya berada di kamarnya, lalu ia menelepon Fabian untuk memintanya nenjadi kekasihnya, tapi Arya kembali mendengar penolakan Fabian.


Arya mengepalkan satu tangannya menahan amarah.


"Fabian, aku tidak akan pernah menyerahkan dan aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia. TIDAK AKAN PERNAH."


"Arya, aku mohon mengertilah dan jangan memaksakan kehendakmu."


"Tidak...tidak...kamu tidak boleh meninggalkanku. Aku mohon Fsbian, jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu."


"Maaf Aku tidak bisa "


"FABIAN, AKU AKAN MEMBUAT KALIAN HIDUP MENDERITA DAN AKU JUGA AKAN MENGHANCURKAN MIYA."


" Jika kamu sampai menyakiti istriku. Aku tidak akan memaafkanmu."


Arya menutup teleponnya, lalu ia menelepon Miya.


"Aku ingin kamu berpisah dengan Fabian, jika tidak aku akan membuat anakmu itu mendapatkan luka yang lebih parah lagi. APA KAMU MENGERTI’’.


"Jangan pernah menyakiti anakku lagi. Aku mohon jangan sakiti anakku lagi,’’kata Miya sambil menangis.


"Aku tidak akan menyakiti anakmu lagi asal kamu berpisah dengan Fabian. Apa pun akan kulakukan supaya Fabian menjadi milikku."


Arya menutup teleponnya.


Miya menangis dan air matanya terus mengalir. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah Fabian pulang, Miya menceritakan ancaman Arya.


"Wanita itu tidak akan bisa menyakiti kita lagi."


" Apa yang akan kamu lakukan?"


" Aku terpaksa akan melaporkannya ke polisi."


"Aku tidak memgerti. Kenapa banyak sekali wanita jahat yang jatuh cinta kepadamu?"


" Itu karena aku tampan," kata Fabian dengan senyuman jahilnya.

__ADS_1


Miya mencubit pinggangnya, lalu naik ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya. Fabian berbaring di sampingnya masih memasang wajah tersenyum. [ ]


__ADS_2