
Fabian berjalan dengan tergesa-gesa ke istal kuda. Ia berharap pagi hari ini akan cerah dan udara akan terasa hangat. Angin menerpa rambutnya yang kini terlihat acak-acakan sampai menjuntai ke dahinya. Ia menunggangi kudanya yang sudah disiapkan oleh penjaga istal bernama simon. Fabian kemudian memacu kudanya menuju bukit hijau untuk kembali memeriksa lahan-lahannya dan juga perkebunan.
Setelah sarapan pagi Miya duduk di jendela kamarnya menikmati sejuknya angin pagi. Ia dikejutkan oleh suara ketukan dipintu kamarnya. " Masuk!"
''Nona Miya kudanya telah siap,''ujar Mary Jane. Miya mengangguk kepada pelayannya. Ia bertemu dengan Adelina di halaman yang akan berkuda juga dan akhirnya mereka pergi bersama-sama.
Mata aquamarine Miya takjub melihat pemandangan di sekelilingnya. Rasa kagum terlihat jelas diwajahnya. Ini pertama kalinya Miya melihat pemandangan alam yang begitu indah tidak tercemar oleh polusi. Kicauan suara burung terdengar sangat indah. Semilir angin membawa aroma harumnya bunga yang mengelilingi bukit-bukit hijau di sekelilingnya. Dikejauhan berderet beberapa rumah dan juga menara gereja yang menjulang tinggi. Miya sangat menyukai suasana pedesaan Inggris."Kamu benar. Tempat ini sangat indah.''
"Sudah saya katakan pasti nona akan langsung menyukai tempat ini.''Miya menatap Mary Jane dengan tersenyum senang.
"Kalau kamu menyukai tempat ini. Kamu bisa tinggal disini selamanya,''ujar Adelina yang sekarang sudah berada di belakang Miya dan Mary Jane.
__ADS_1
"Seandainya aku bisa,''jawab Miya.
"Tentu saja bisa. Ini kan rumahmu juga.'' Sebuah senyuman muncul di wajah bibinya.''Sebaiknya kita pergi kesana.''Adelina menunjuk sebuah tempat ."Di sana adalah tempat kesukaan Fabian kalau sedang menyendiri.''
Tempat yang ditunjukkan bibinya memang tempat yang indah. Ada sebuah gazebo putih yang dikelilingi oleh bunga bluebells dan tidak jauh dari sana ada aliran sungai dengan airnya yang jernih yang dikelilingi oleh bunga lily of the valley. Sesampainya di sana Miya turun dari kudanya, lalu duduk di hamparan rumput yang hijau. Mary Jane membuka keranjang piknik yang berisi sandwich dan buah-buahan.Miya memakan sandwich dengan lahapnya, ketika Fabian datang ikut bergabung . Mata Fabian menghangat dan penuh kerinduan, ketika menatap Miya, tapi ia cepat-cepat menutupinya. Ia tidak ingin Miya tahu kalau ia sangat merindukannya. Adelina melihat kecanggungan di antara mereka dan ia pun mengerti.
"Miya, kita menangkap ikan di sungai itu.'' Adelina menarik Miya hingga berdiri. Air sungai itu sangat dingin, ketika Miya memasukkan kedua kakinya dan ia dapat melihat banyak ikan di dalamnya. Miya mencoba untuk menangkapnya, tapi selalu tidak berhasil begitu juga dengan Adelina dan dalam sekejap pakaian mereka sudah basah kuyup. Suara tawa Miya dan Adelina terdengar sangat keras. Hati Fabian ikut menghangat mendengar suara tawa kekasih hatinya. Rasanya sudah lama sekali ia merindukan suara tawanya. Fabian tersenyum. Gadis itu begitu manis dan menggairahkan disaat bersamaan. Miya menurut Fabian bagaikan musim semi yang selalu menebarkan keceriaan.
"Baiklah,''jawab Miya.
Miya dan Adelina segera masuk ke dalam semak-semak untuk berganti pakaian kering yang sudah disiapkan Mary Jane sebelumnya. Setelah semuanya dibereskan, Miya menaiki kudanya. Ketika ia menendang perut kuda dengan kakinya supaya bergerak, kuda itu merasa kesakitan dan hilang kendali, lalu kuda itu berlari dengan kencang. Miya melingkarkan tangannya di leher kuda itu dengan ketakutan. Fabian segera menyusul Miya di belakangnya dengan cemas dan panik.
__ADS_1
"Miya, bertahanlah!''teriaknya."Aku akan segera datang.''Fabian semakin membuat kudanya melaju sangat cepat. Ia harus segera menolong Miya saat itu juga kalau tidak mungkin gadis itu akan terjatuh dari kuda.
Miya merasa dirinya sudah tidak dapat bertahan lagi dengan kudanya yang semakin melaju dengan cepat dan tidak terkendali. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan kudanya. Miya melihat pamannya berada di belakangnya berusaha untuk mengejarnya. Rambutnya terlihat semakin berantakan oleh tiupan angin, tapi dengan rambut seperti itu pamannya masih terlihat tampan dan terkesan liar. Tatapan mata Miya kembali ke arah depan, ia tidak tahu apa yang sedang menantinya di depan. Apa ia akan jatuh ke jurang atau masuk kedalam lubang. Hanya dengan memikirkan hal itu saja sudah membuat dirinya ketakutan dan yang dapat ia lakukan sekarang hanya berdoa dan perpegangan erat pada leher kuda.
''Aku akan menangkapmu,''teriak Fabian. Tidak lama kemudian Miya merasakan lengan yang kokoh melingkari pinggangnya dengan protektif .Cepat-cepat Fabian menarik Miya lebih dekat dengan dirinya dan memeluknya erat-erat.Ia berusaha mengangkat Miya dari kuda yang di tunggangi gadis itu, tapi kudanya berlari sangat cepat sehingga Fabian kesulitan membawa Miya dari kudanya dan ia berusaha untuk mensejajarkan kecepatan kudanya agar Miya tidak terlepas dari pelukannya.Di depan ada pohon besar yang menghadang membuat keduanya menjadi panik.
"Kamu sudah siap?''
Miya mengangguk, lalu memejamkan matanya dan dengan gerakan cepat Fabian telah menarik gadis itu dari kudanya . Fabian ikut terjatuh dari kudanya dan mereka berguling-guling di tanah. Kedua lengan Fabian masih memeluk tubuh Miya. Akhirnya mereka berhenti setelah terdengar suara benturan keras. Miya merasakan sakit disekujur tubuhnya. Ia melihat pamannya tak sadarkan diri. Kepalanya terantuk batang pohon yang tumbang.
"Pamaaan,"teriak Miya panik dan ketakutan. [ ]
__ADS_1