
Mary Jane tengah sibuk membereskan bekas makan malam Miya. Sesekali pelayan itu melemparkan senyum kepadanya. Miya ingat setelah Isabella pergi pelayannya itu menghambur masuk dengan wajah cemas menanyakan keadaannya. Ada rasa bersalah di wajah Mary Jane ketika itu. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri seandainya waktu itu ia lebih memperhatikan kantung belanjaannya pasti Miya akan baik-baik saja. Hampir membutuhkan setengah jam untuk menyakinkannya kalau itu bukan salahnya dan akhirnya pelayannya itu mengerti.
Peralatan makan yang kotor sudah di tatanya dengan rapi dalam satu meja dorong.‘‘Saya permisi dulu, kalau nona Miya membutuhkan saya, Anda dapat memanggilku."
Miya mengangguk mengerti. Tepat Mary Jane akan keluar, sesosok pria tinggi telah berada di ambang pintu menatap tajam ke arahnya. Ada perasaan cemas dan rasa lega di sorot matanya.
‘‘Selamat malam tuan Fabian!‘‘
‘‘Selamat malam Mary Jane!‘‘
‘‘Permisi!‘‘
Fabian bersandar di pintu, lengan kemejanya tergulung sampai siku dan kedua tangannya di silangkan di depan dada. Tatapan mata birunya menyapu wajah Miya, lalu ia berjalan mendekatinya dan duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur. Kedua kakinya di silangkan ke depan. Miya terlihat begitu rapuh dan lemah. Ia ingin sekali membawanya dalam pangkuannya dan mendekapnya. Sekali lagi Fabian memperhatikan gadis itu lebih seksama lagi, lalu menyeringai kepada Miya.
Miya dengan enggan berusaha menyunggingkan senyuman untuk Fabian mengingat pria itu sudah menyelamatkan nyawanya dan sekarang ia berhutang budi kepadanya. Itu membuatnya sedikit sebal. Miya kemudian memberanikan diri sekali lagi untuk menatapnya. Pamannya seperti biasanya selalu terlihat tampan di mana pun dan kapan pun . Selama ia tinggal di sini, Miya belum pernah melihat penampilan pamannya tanpa cela. Bahunya lebar dibalik kemeja mahalnya dan celana jeans yang dipakainya terlihat sangat pas memperlihatkan paha yang kuat dan kokoh.Tatapannya beralih ke atas. Bibir pamannya tegas dan sensual. Wajah Miya merona merah.
Fabian hanya tersenyum melihat sikap Miya yang memperhatikan dirinya secara terang-terangan seperti itu. Ia memberikan kesempatan kepadanya untuk memperhatikan seluruh tubuhnya.Sudut mulutnya terangkat menyunggingkan sebuah senyuman. Miya menggeser posisi duduknya supaya lebih terasa nyaman lagi, tapi ia malah kesulitan untuk membetulkan posisi bantalnya. Fabian berdiri berusaha untuk membantunya.‘‘Biar aku bantu."
‘‘Tidak perlu,‘‘jawab Miya sinis, tapi Fabian tidak mempedulikannya. Ia duduk di pinggir tempat tidur, lalu membetulkan posisi bantal Miya supaya gadis itu dapat bersandar dengan nyaman.
"Terima kasih."
"Aku senang kamu baik-baik saja sekarang. Lain kali kamu harus berhati-hati." Miya mengangguk pelan. Suara Fabian yang tegas dan hangat mengirimkan gelenyar asing ke dalam tubuhnya, lalu Miya memaksakan diri memandang mata biru pamannya yang menghanyutkan.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku tadi."
‘‘ Aku tidak ingin kejadian tadi kembali terulang kembali. Sepertinya kamu sangat senang membuatku khawatir."
‘‘Bu..bukan begitu. Aku tidak bermaksud membuat paman khawatir padaku. Aku pasti akan membalas kebaikan paman tadi, karena sudah menolongku."
‘‘Kamu tidak perlu membalas apa pun kepadaku."
‘‘Tidak. Aku akan membalasnya. Aku sudah berhutang budi kepada paman. Apa pun akan kulakukan untuk membalas hutang budiku pada paman."
‘‘Apa pun akan kamu lakukan?‘‘tanya Fabian sekali lagi dengan tatapan menyelidik. Miya mengangguk dengan cepat.‘‘Kalau begitu aku ingin kamu menjadi kekasihku."Mata Miya langsung melotot.
__ADS_1
‘‘Aku tidak mau."Miya langsung memalingkan wajahnya.
‘‘Bukannya tadi bilang kamu mau melakukan apa saja, sekarang aku memintamu menjadi kekasihku."
‘‘Aku tahu. Kecuali yang satu itu. Aku tidak bisa."
‘‘Tidak ada ruginya menjadi kekasihku. Hampir semua wanita yang aku kenal mereka ingin menjadi kekasihku."
‘‘Karena aku bukan mereka."
‘‘Kalau begitu kamu bukan wanita."
Miya memandang Fabian tidak percaya.‘‘Enak saja. Tentu saja aku wanita,‘‘ucapnya dengan nada suara marah.Fabian tergelak. Miya masih membuang wajahnya dan masih tidak mau menatapnya. Fabian menyentuh dagunya dan memaksanya untuk menatapnya. Mata biru Fabian tengah menatapnya dengan intens. Tatapannya begitu lembut dan teduh sehingga Miya tidak mampu memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa berkedip, bahkan tidak bisa bernapas, ketika Fabian semakin mendekat.Tanpa disadari oleh Miya salah satu tangan Fabian sudah melingkar di pinggangnya, membawanya lebih dekat ketubuhnya dan menyentuhkan bibirnya ke telinga Miya . Napas hangat Fabian di lehernya dan juga ditelinganya mampu mengirimkan getaran menyenangkan ke punggung gadis itu dan panas tubuhnya terasa membakar Miya.
‘‘Kaulah satu-satunya yang aku inginkan. Bukan yang lain,‘‘kata Fabian dengan suara parau.‘‘Aku tidak peduli, jika kamu masih mencintai mantan pacarmu. Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku."
Fabian ingin Miya mencintainya sedalam perasaannya kepada gadis itu. Ia akan melakukan apa pun agar Miya mau mencintainya meskipun itu membutuhkan waktu yang lama.Fabian tahu kalau dirinya akan merasa sengsara tanpa kehadiran gadis itu di sisinya.
Fabian menundukan wajahnya dan mengecup ringan bibir Miya berkali-kali membuat gadis itu terpana. Ketika Miya menatap ke mata biru Fabian, gadis itu dapat melihat kehangatan dan kelembutan yang terpancar dari matanya.
‘‘Aku ingin sekali mempercayainya, tapi apa aku bisa?‘‘
‘‘Lalu bagaimana dengan wanita yang bersamamu kemarin apa dia salah satu kekasihmu?‘‘
‘‘Apa kau cemburu?‘‘
Ada kilatan jahil di mata Fabian.
‘‘Tidak."
Fabian tersenyum menyeringai.
‘‘Aku dan Patricia tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya rekan kerja."
‘‘Oh jadi namanya Patricia, tapi sepertinya dia menyukaimu."
__ADS_1
‘‘Setiap wanita pasti menyukaiku,‘‘ujar Fabian dengan nada suara sombong.
‘‘Percaya diri sekali. Buktinya aku tidak tertarik kepada paman."
‘‘Nanti juga kamu akan tertarik dan aku jamin kamu tidak akan bisa lepas dariku." Fabian kembali memandang Miya dengan serius.‘‘ Aku ingin kamu menjauhi Ryusuke mulai sekarang. Aku tidak ingin melihatmu dekat-dekat lagi dengannya kalau perlu suruh dia pulang ke Jepang dan aku bersedia membayar tiket pesawat kelas VIP untuknya."
‘‘Aku tidak bisa melakukan itu."
‘‘Apa kamu masih mencintainya?‘‘
Semua kelembutan dimata Fabian telah sirna.
Miya terdiam.
‘‘Jawab aku."
‘‘Itu bukan urusanmu."
‘‘Tentu saja itu jadi urusanku juga." Miya masih tetap tidak mengatakan apa pun.‘‘Baiklah. Aku akan menganggap diammu sebagai jawaban kalau kamu sudah tidak mencintainya lagi.Aku sungguh mencintaimu dan ingin membuatmu bahagia." Fabian memeluknya dengan segala perasaan cinta yang dimilikinya untuk gadis itu.
‘‘Sudah malam sudah waktunya untuk beristirahat!‘‘
Fabian melepaskan pelukannya dari Miya dengan enggan.
‘‘ Mulai sekarang kamu adalah kekasihku." Fabian tersenyum penuh kemenangan.
‘‘Jangan seenaknya memutuskan. Aku belum menyetujuinya."Miya memprotes.
‘‘Aku sudah menganggapmu setuju dan keputusanku tidak boleh dibantah atau di protes."Wajah Miya kembali terlihat cemberut.‘‘ Ah satu lagi. Sebaiknya kamu segera mengancingkan bajumu. Bramu yang bergambar Hello Kitty terlihat sangat jelas dan aku sudah puas memandanginya sejak tadi."
Miya langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya dan wajahnya langsung memerah. Perasaan malu memenuhi dirinya dan Fabian tertawa sangat keras. Tanpa di duga sebuah bantal melayang ke arah Fabian dan sempat mengenai wajahnya.
‘‘Dasar paman pria mesum. Cepat pergi dari kamarku!‘‘teriaknya.
‘‘Baiklah Miya sayang, aku akan pergi." Fabian tersenyum sangat lebar sebelum meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
‘‘Aaarrrrggghhhh....paman yang benar-benar sangat menyebalkan." Miya kembali berbaring dan ia menyentuh bibirnya dan masih merasakan kehangatan bibir pamannya yang masih tertinggal di sana. Diam-diam ia menyukainya. Ia merasa jadi pengkhianat atas dirinya sendiri. Miya tidak ingin terjerat oleh pesona pamannya, tapi ia juga sangat menyukai setiap sentuhannya. Miya menghembuskan napas panjang.‘‘Sekarang apa yang harus kulakukan?‘‘
Fabian memasuki kamarnya dengan perasaan senang. Ia sudah berhasil membuat Miya jadi kekasihnya meskipun itu keputusan sebelah pihak, tapi itu tidak masalah baginya yang penting sekarang gadis itu sudah menjadi kekasihnya. Ia sudah satu langkah di depan dan tugasnya sekarang adalah membuatnya jatuh cinta kepadanya. Fabian memejamkan matanya yang sudah terasa sangat lelah. Ia berharap malam ini akan memimpikan Miya. [ ]