
Miya tiba di rumah sakit. Sebelum masuk ia menarik napas dalam-dalam dan mendapatkan Fabian sedang bercanda dengan Blinda dan Cedric. Mereka semua memandang ke arahnya. Gadis itu merasa gugup, Fabian terus menatapnya.
"Halo!'sapa Miya kikuk.
"Akhirnya kamu datang juga,"kata Blinda."Apa kamu tahu dari tadi Fabian terus menanyakan keadaanmu. Sepertinya Fabian sangat mencemaskanmu." Blinda mengedipkan matanya, lalu melihat Fabian yang tersipu malu. Miya berjalan menyeberangi ruangan menghampiri mereka. Gadis itu masih terlihat kikuk dan nampak malu-malu.
"Senang melihatmu baik-baik saja,"ujar Cedric.
"Aku baik-baik saja."
"Sepertinya kamu tidak perlu mencemaskan Miya lagi, bukankah begitu Fabian?"ujar Blinda dengan senyuman lebarnya. Miya kemudian berdiri di depan Fabian dan tidak berani menatap langsung kepadanya. Sejak ia mengetahui perasaan yang sebenarnya untuk pra itu, Miya merasa malu.
"Paman Fabian, aku ingin bicara denganmu.. Berdua saja."
"Tentu saja,"jawabnya.
Blinda dan Cedric pun mengerti. Mereka segera keluar kamar.
"Semoga cepat sembuh! Sampai jumpa lagi!"ujar Blinda sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, suasana kembali hening. Ia mengeratkan kedua tanganya pada pegangan tasnya di depan tubuhnya. Rambut Fabian melambai-lambai tertiup angin. Miya merasa jantungnya kembali berhenti berdetak. Pamannya begitu tampan dengan pakaian rumah sakit sekali pun. Sorot mata gadis itu melembut.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
''Maaf kalau aku sudah menganggu istirahatmu."
__ADS_1
Miya menelan ludahnya, lalu mengigit bibir bawahnya."Aku...aku datang ke sini ingin minta maaf kepadamu.''
Fabian nampak bingung dan terus menatap Miya dengan tajam.''Apa maksudmu? Kenapa kamu minta maaf padaku?''
Miya tiba-tiba menangis dan membuat Fabian bertambah bingung.''Sudah jangan menangis!''katanya dengan suara lembut. Gadis itu menghapus air matanya dengan lengan bajunya, lalu berjalan menghampirinya.
"Paman Fabian maafkan aku. Aku sudah meragukanmu kalau paman mencintaiku dan tidak mempercayaimu. Kamu adalah pria yang baik,''katanya disela isak tangisnya.
Fabian yang tidak tahan langsung menarik Miya ke dalam pelukannya dalam keadaan berbaring dan mengecup keningnya.''Jangan menangis!''
Miya semakin membenamkan tubuhnya dalam pelukan hangat pamannya . Saat bibir Fabian menyentuh keningnya, gadis itu merasakan getaran nikmat ke seluruh tubuhnya, lalu Miya menangis sejadi-jadinya. Air mata yang sudah ditahannya sekian lama. Fabian menjauhkan dirinya sedikit agar dapat melihat wajah Miya yang masih basah. Di belainya pipi gadis itu dengan punggung tangannya.''Aku senang. Kamu mau mempercayaiku. ''
"Apa paman memaafkanku?''
"Kamu tidak perlu minta maaf kepadaku.''
"Paman Fabian, ada yang ingin aku katakan.'' Fabian melonggarkan pelukannya, lalu mengecup kening Miya.''Apa yang ingin kamu katakan?''
"Aku mencintai paman Fabian,"katanya malu-malu. Miya merasa gugup dan gelisah, karena pamannya terus memandanginya dengan wajah terkejut. Jantung Miya berdebar semakin kencang.
"Katakan sekali lagi!''
"Aku mencintai paman Fabian,''ulang Miya.
Perlahan-lahan bibir Fabian melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman lebar dan kembali memeluk Miya dengan erat.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu Miya.'' Tawa Fabian akhirnya meledak dan memeluk tubuh Miya semakin erat, lalu kembali menatap wajah wanita yang dicintainya. Pandangan matanya terarah pada bibir Miya yang sejak dari tadi ingin di kecupnya. Ingin kembali merasakan manis dan lembutnya bibir itu . Fabian sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Ia menarik tubuh gadis itu lebih dekat lagi, sehingga benar-benar menempel di tubuhnya. Bibirnya menyentuh bibir Miya dengan lembut, melepaskan semua kerinduannya selama ini. Ia sudah tidak peduli lagi dengan segala ancaman bunga Lily. Tangan Miya melingkari leher Fabian. Mereka berdua tidak mempedulikan angin dingin yang berhembus menerpa tubuh mereka .
"Aku mencintaimu....mencintaimu,''bisik Fabian disela-sela ciumannya. Fabian merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak dirasakannya lagi dan dadanya terasa sesak karena bahagia. Wanita yang dicintainya telah membalas perasaannya dan berada kembali dalam pelukannya.
"Sekarang kamu adalah milikku.'' Ia tersenyum menatap Miya, lalu mencium kening, kedua matanya, hidung, dan juga bibirnya. Berulang-ulang Fabian mengecup bibir Miya seakan ia tidak pernah puas untuk menciumi gadis itu.''Miya cintaku,''kata Fabian dengan suara sangat lembut.
''Hari ini adalah hari terindah dalam hidupku. Kamu tahu kenapa?''
Miya mengelengkan kepalanya.''Karena hari ini wanita yang aku cintai juga mencintaiku dan juga kaMu telah menjadi kekasihku. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini.''
Miya tersenyum lembut.''Aku juga paman Fabian.''Miya mengecup bibir pamannya dan tersenyum malu-malu. Rona merah menjalar di wajahnya. Fabian semakin erat melingkari pinggangnya, kemudian ia mengambil tangan Miya dan membawa ke mulutnya dan diciumnya berkali-kali.
"Jangan tinggalkan aku lagi paman Fabian!''
"Tidak Miya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi yang aku inginkan sekarang adalah menjadi suamimu. Aku sudah sangat menginginkanmu.''
"Apa paman baru saja melamarku?''
"Bisa dikatakan begitu.''Miya nampak bahagia.
"Mulai sekarang jangan panggil aku paman lagi. Panggil namaku saja.''
"Tapi...''
"Kamu sudah menjadi kekasihku dan calon istriku berikutnya, jadi tidak pantas kalau kamu masih menyebutku paman.''
__ADS_1
"Aku mengerti. Fabian,''kata Miya malu-malu. Fabian tersenyum, sekali lagi bibir mereka bertautan. Dipeluknya Miya kembali lebih erat menikmati tubuh gadis itu dalam pelukannya. Hati Miya seakan akan meledak karena bahagia.
"I have loved you since the first moment I saw you,''kata Fabian, lalu mengecup bibir Miya dengan sangat lembut. [ ]