My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
8. Makan malam


__ADS_3

Miya melangkahkan kakinya keluar dari mobil ketika sudah sampai di depan sebuah universitas. Desiran lembut angin sejuk menyapu wajahnya. Dengan penuh percaya diri ia memasuki universitas itu dan Miya selalu memasang senyum, ketika berpapasan dengan orang-orang.


Meskipun sedikit kesulitan menemukan ruang kelasnya, tapi setelah bertanya kesana kemari akhirnya Miya menemukan sebuah ruangan kelas yang cukup besar dan baru ada beberapa mahasiswa yang berada di dalamnya. Miya kemudian mencari-cari tempat duduk yang paling strategis tidak terlalu di depan dan juga tidak terlalu  di belakang. Ia melihat tempat duduk yang di inginkannya dan disebelahnya sudah terisi oleh seorang gadis pirang yang cantik. Miya duduk di sebelahnya dan tersenyum kepada gadis itu.


‘’Halo! Namaku Miya Nakagawa!’’


Miya mengulurkan tangan kepada gadis mungil pirang disebelahnya dan gadis itu terheran-heran, lalu ragu-ragu ia menyambut uluran tangan Miya .


’’Namaku Isabella O’Brian, tapi teman-temanku memanggilku Bella,’’kata gadis itu ramah.


‘’Senang mengenalmu Bella. Panggil saja aku Miya."


‘’Kau orang Jepang? Tapi kalau dilihat dari wajahmu tidak mirip dengan orang Jepang."


‘’Aku memang orang Jepang. Ibuku orang Inggris dan sebenarnya ayahku juga ada keturunan Inggris sedikit."


‘’Oh pantas. Kita teman,’’kata gadis itu.


Miya tersenyum senang.’’Kita teman." Kedua gadis itu tertawa terkekeh. Miya memandangi teman barunya yang ramah dan juga menyenangkan. Gadis itu pikir ia akan merasa cocok berteman dengannya. Miya melihat jam tangannya, masih ada waktu 10 menit lagi sebelum pelajarannya di mulai.


Miya duduk bersandar dan menyilangkan kedua lengannya di dada sambil melihat ruangan terisi penuh oleh para mahasiswa. Sebuah seringai nakal  menggoda pamannya muncul dibenaknya. Rasa kesal akan pamannya kembali muncul.’’Apa sih maunya dia? Memaksa orang untuk makan malam berdua dengannya,’’rutuk Miya kesal. ‘’Kau kenapa Miya?’’tanya Isabella.


‘’Ah tidak. Aku sedang kesal dengan seseorang saja. Tapi tidak masalah sekarang. Aku bisa mengatasinya." Isabella mengangguk mengerti dan memberikan senyuman manis kepadanya.  Ia merasa senang bisa mendapatkan teman sebaik Isabella dan Miya yakin Isabella akan menjadi teman yang baik untuknya.Pada saat jam istirahat siang pun mereka berdua makan siang bersama .


♪♪♪♪


Sore hari menjelang malam, Miya telah kembali ke mansion pamannya. Ia langsung melompat ke tempat tidur. Hari ini ia begitu lelah. Rasanya ia ingin tidur kalau tidak  mengingat janji dengan pamannya untuk makan malam berdua.


Miya memejamkan matanya dan melihat pamannya berada di sana dengan senyuman nakal menggodanya lagi, lalu mengingat-ingat kembali ciuman pria itu untuk kesekian kalinya. Entah keberapa kalinya Miya terus mengingat ciuman itu. Ciuman yang tidak ingin diingatnya lagi, tapi hal itu terus membayangi dirinya.


Sentuhan bibirnya begitu kuat, tegas dan posesif. Miya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pamannya itu. Kenapa paman Fabian menciumnya? Apa dia hanya ingin menggodanya saja dan mempermainkan perasaannya? Suara ketukan di pintu mengejutkan Miya.’’Masuk!’’


Mary Jane masuk dengan senyuman ramah dan menenangkan.’’Sudah waktunya Anda bersiap-siap untuk acara makan malam dengan tuan Fabian."


‘’Oh tentu saja. Aku tidak lupa itu." Miya segera mencari pakaian bagus dan pantas dilemarinya untuk dikenakannya, tapi Mary Jane sudah mempersiapkan sebuah gaun malam panjang indah berwarna biru tosca.


’’Anda harus mengenakan gaun ini."


‘’Dari mana kau mendapatkannya? Ini indah sekali,’’katanya sambil mengelus kelembutan kain gaun itu.


‘’Gaun itu dibelikan oleh tuan Fabian dan juga sepatu ini." Miya melihat sepatu itu yang memiliki warna senada dengan gaunnya. ‘’Ah dan juga ini." Mary Jane memberikan sebuah kotak perhiasan kepada Miya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian yang indah. ‘’Apa semua ini untukku?’’Tanyanya dengan nada yang tidak percaya.


‘’Sepertinya begitu. Tuan Fabian memberikan semua ini untuk Anda pakai."


‘’Aneh sekali. Kenapa paman memberikan semua ini untukku?’’


‘’Mungkin tuan Fabian ingin Anda terlihat cantik saat makan malam bersamanya. Sebaiknya Anda memakainya kalau tidak tuan pasti akan marah."


‘’Aku tahu itu. Aku akan memakai semuanya."


♪♪♪♪


Seorang pelayan restoran menyambut kedatangan seorang pria yang baru saja turun dari mobilnya. ‘’Selamat datang !’’sapa pelayan itu.


‘’Tempat Anda telah disiapkan. Silahkan ikut saya!’’ Pelayan itu mengantarkannya ke sebuah ruangan tunggu VIP.’’Silahkan!’’


‘’Terima kasih’’.


Fabian kemudian duduk disofa kulit berwarna coklat muda dan di atas meja telah disiapkan sepoci kopi dengan berbagai macam camilan. Aroma therapy lavender segera tercium ketika ia masuk. Di ruangan itu hanya ada dua orang pria yang sedang sibuk bicara dan tidak menyadari kehadirannya. Pria itu melihat jam tangannya masih ada 15 menit lagi sebelum Miya datang  dan lebih memilih menghabiskan sisa waktu menunggunya dengan membaca sebuah majalah bisnis yang ia bawa.


Di dalam majalah  itu Fabian menemukan sebuah artikel menarik mengenai  Kenndrick Industries yang merupakan saingan  Baskerville Industries sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu dan mereka selalu bersaing dalam segala bidang bisnis dan berlomba-lomba untuk menjadi perusahaan terkuat di Inggris dan Amerika. Persaingan mereka bukan rahasia umum lagi.


Saat ini Kenndrick Industries masih menduduki peringkat kedua dan tentu saja peringkat pertama masih di duduki oleh  Baskerville Industries yang sudah bertahan selama kurang lebih lima tahun yang lalu. Sejak  Fabian menjadi CEO , perusahannya  selalu megalami peningkatan  dan saham perusahaannya selalu meningkat dan menggeser kedudukan perusahaan saingannya ke peringkat dua. Dalam artikel itu terang-terangan pimpinan Kenndrick Industries akan kembali mencoba menggeser kedudukan Baskerville Industries. Wajah Fabian mengeras . ‘’Coba saja kalau kau bisa,’’gumamnya.


 ‘’Selamat malam paman Fabian!’’


Suara lembut itu segera menyadarkan Fabian dari kemarahannya. Ia mengalihkan perhatiannya dari artikel itu ke arah suara yang memanggilnya. Fabian  begitu terpesona dengan penampilan Miya yang sangat cantik dan ia merasa puas dengan gaun yang dibelikan untuknya. Gaun itu benar-benar sangat cocok dipakai olehnya, juga kalung berliannya. Fabian tersenyum lembut, lalu berdiri kemudian meraih tangan gadis itu  untuk diciumnya.

__ADS_1


‘’Kau sungguh sangat cantik." Ia menatap kedalam mata hijau kebiruan Miya yang bening. Miya membalas senyuman pamannya dan membuat Fabian di penuhi kembali keinginan untuk memeluk dan menciumi gadis itu, tapi ia tidak bisa melakukan itu sekarang, karena ada orang yang dapat melihatnya. Fabian menggeram dalam hati. Jatuh cinta kepada seorang gadis saat ini bukanlah prioritas utamanya sekarang, tapi dengan kehadiran Miya hal itu menjadi tidak berlaku lagi dan ternyata ia sangat mencintai Miya lebih dari yang dikiranya.


Ia ingin menghabiskan waktu bersamanya dan berpikir untuk menikahinya, tapi dirinya meragukan hal itu. Akankah Miya mau mencintainya dan menikah dengannya? Kapan pun ia sudah siap jika harus menanggalkan label pria playboy sekarang juga, jika gadis itu mau mencintainya dan menikah dengannya pikir Fabian dengan hati tertikam damba.


Dulu Fabian tidak pernah berpikir untuk kembali menikah dan membina kehidupan rumah tangga lagi, tapi sekarang ia menginginkannya lagi. Miya adalah wanita yang selama ini diinginkannya dan ia mencintainya dengan tulus. ‘’Paman kenapa?’’ Suara lembut Miya kembali menyadarkan lamunannya.


’’Tidak ada apa-apa. Ayo sebaiknya kita pergi ke meja makan kita."


 Miya mengagumi restoran yang dipilihkan pamannya untuk makan malam bersamanya. Suasana restoran itu sangat romantis dan terlihat ada beberapa pasangan yang sedang menikmati makan malam. Gadis itu merasa aneh kenapa pamannya membawanya ke restoran seromantis ini? Dan yang jelas restoran ini tidak diperuntukkan untuk makan malam keluarga seperti halnya dirinya dengan pamannya.


Fabian menarik kursi untuk Miya setelah mereka tiba di meja makan. Lilin dengan cahaya lembut telah berada di atas meja. Ini akan menjadi candlelight dinners romantis yang pernah ia lakukan. Tapi untuk apa pamannya melakukan makan malam yang romantis ini? Miya melihat pamannya yang telah duduk di depannya dan selalu tersenyum kepadanya.


Napas Miya tercekat, ketika melihat pamannya yang begitu luar biasa tampan dengan rambut yang disisir lebih rapih dan pakaian yang tidak tercela. Meskipun sebal, Miya mengakui malam ini pamannya  terlalu tampan untuk dilukiskan dengan kata-kata. Sejak kedatangannya kemari , Miya menyadari beberapa pasang mata sedang memperhatikan dirinya dengan pamannya. Miya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang-orang itu kepadanya.


 ‘’Bagaimana dengan kuliahmu?’’


‘’Semuanya berjalan lancar dan aku juga sudah mendapatkan  teman baik."


‘’Itu bagus."


‘’Kapan-kapan aku akan memperkenalkannya pada paman."


Pelayan datang dengan membawa makanan yang telah dipesan oleh Fabian sebelumnya. ‘’Terima kasih,'’kata Fabian, lalu pelayan itu pergi. ‘’Apa kamu suka dengan makanannya? Kalau tidak kamu boleh memesannya lagi."


‘’Tidak perlu aku menyukai semua makanan itu." Fabian tersenyum hangat.


Setelah selesai makan terdengar suara musik mengalun indah dan beberapa pasangan mulai berdansa di bawah cahaya bulan. ‘’Kau mau berdansa denganku?’’tanya Fabian sambil mengulurkan tangannya pada Miya.


 ‘’Baiklah. Tidak ada salahnya sesekali berdansa dengan paman." Begitu Miya menyambut uluran tangannya, Fabian langsung mendekapnya dengan erat. Miya dapat merasakan kekuatan tubuh pamannya ditubuhnya sendiri sedangkan lengan pamannya memeluknya dengan erat dan Miya kembali mencium aroma tubuh pamannya yang ia sukai.


Pancaran hangat matanya terpancar dimatanya dan kehangatan tubuh pamannya mulai meresap ke dalam tubuhnya sendiri. Tangan Fabian meraih pinggang Miya dan mengelus-elusnya. Sentuhan tangannya menimbulkan desiran yang menyenangkan diseluruh tubuh Miya. Sekarang jantungnya berdentam-dentam tidak karuan dan kakinya terasa lemas. Miya berusaha untuk melepaskan diri , tapi Fabian memeluknya semakin erat dan memperangkap tubuh Miya di bawah lengannya yang kuat.


‘’Kau sangat cantik sekali my Miya. Wanita tercantik yang pernah aku temui dan aku benar-benar sangat menyukaimu,’’katanya dengan suara serak dan parau ketika bibir pamannya hampir menyentuh bibir Miya dan membuat jantung gadis itu berdebar-debar semakin kencang.


Miya tidak tahu apa ia harus senang mendengarnya atau tidak. Ia juga tidak tahu apa pamannya mengatakan sebenarnya atau hanya berusaha untuk menggodanya. ‘’Kumohon?’’pinta Miya dengan suara memelas.


‘’Jangan memelukku terlalu erat seperti ini. Apa kata orang-orang nanti disini."


‘’Memangnya kenapa dengan orang-orang disini? Tidak perlu kamu pedulikan."


‘’Tapi aku mempedulikannya. Mereka akan menyangka kalau kita berdua adalah sepasang kekasih."


‘’Jadi itu yang kamu khawatirkan?’’ Ada nada kecewa dalam suara Fabian.


‘’Iya."


‘’ Tidak perlu kau pedulikan mereka. Biarkan saja,’’bisiknya dengan suara parau. Selama beberapa saat Fabian menikmati dansanya bersama Miya. Setelah musik berhenti mengalun, Fabian menggandeng tanganya kembali ke meja mereka. Sebotol champagne telah tersedia di meja. Fabian telah meletakkan segelas champagne di hadapan Miya dan memintanya untuk bersulang. Miya pun menurutinya. Suasana romantis membuat mereka menjadi akrab. Sejenak Miya melupakan kekesalannya pada pamannya Fabian.


‘’Sebaiknya kita pulang sekarang. Aku tidak ingin kau bangun kesiangan besok."Fabian meraih tangan Miya dan mengenggamnya dengan erat. Mereka berjalan menuju tempat parkir.  Fabian menatap Miya dengan lekat. ‘’Aku benar-benar menikmati malam ini dan dansanya juga sangat menyenangkan meskipun kamu tidak mahir berdansa tapi aku menikmatinya. Terima kasih sudah mau menemaniku makan malam, Miya."


‘’Aku juga menikmati makan malamnya dan dansanya juga, tapi aku tidak suka cara paman memelukku tadi. Aku bukan kekasih paman, jadi lain kali kalau mau dansa denganku lagi paman jangan....’’.


Kata-kata Miya terhenti ketika dirasakannya bibir Fabian menyentuh bibirnya .Bibir pria itu terasa lembut halus dan sejuk dibawah udara malam yang dingin. Miya tersentak kaget. Terlebih lagi ketika Fabian memeluknya dengan erat. Bibir Fabian yang terbuka berusaha membelai, merayu dan mendesak agar mulut gadis itu terbuka untuknya.


Di luar kemauannya, Miya membuka mulutnya membiarkan lidah Fabian menyeruak masuk menjelajahi setiap lekuk di dalam mulut gadis itu dan mengirimkan getaran sensasi primitif disekujur tubuh Miya. Lengan kokoh Fabian semakin erat menjepit punggung bawahnya.


Ketika Fabian menghentikan ciumannya, Miya sendiri merasa heran apa yang sudah dia lakukan tadi. Mata biru kehijauannya terlihat sayu dan menampakan sorot kebingungan. Fabian memang  sangat mahir berciuman, itu yang dirasakan Miya saat itu. Fabian telah bercinta dengan mulutnya membuat Miya sekali lagi terkena jerat pesona pamannya. Oh nooooo.....teriak Miya dalam hati.


 ‘’Wah...wah...tidak kusangka kita akan bertemu disini ."


Fabian dan Miya terkejut ketika ada orang yang menyapa mereka dalam keadaan yang kurang tepat .


‘’James, kau....’’


Wajah Fabian berubah jadi keras dan menakutkan . Sorot matanya menjadi gelap.  Miya tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka, tapi yang jelas pamannya memasang sikap bermusuhan dengan pria dihadapannya. Pria itu tinggi tegap dan berwajah angkuh.


 ‘’Terkejut melihatku disini. Siapa wanita yang disampingmu? Apa dia salah satu kekasih barumu,’’katanya dengan nada sinis.  James berusaha menyentuh Miya.

__ADS_1


‘’JANGAN SENTUH DIA!’’teriak Fabian sambil melindungi Miya di belakang tubuhnya.


James tertawa terkekeh.’’Baiklah . Aku tidak akan menyentuhnya. Aku tahu kau tidak suka berbagi dengan orang lain. Asal kau tahu saja, aku masih belum bisa memaafkanmu atas perbuatanmu empat tahun yang lalu. Fabian, kamu memang seorang pembunuh."Lalu tatapannya tertuju ke arah Miya.’’Sebaiknya kau jauhi orang ini  karena dia adalah seorang pembunuh. Pria ini sudah membunuh istrinya sendiri." Pria itu kemudian pergi tanpa menengok lagi ke belakang. Keduanya berdiri tidak bergerak . Setelah Fabian menguasai emosinya, ia menyuruh Miya untuk masuk kedalam mobilnya. Gadis itu memperhatikan pamannya yang telah duduk dikursi pengemudi dengan ekspresi tidak terbaca. Pembunuh. Paman Fabian telah membunuh istrinya. Apa maksudnya?’’batin Miya.


♪♪♪♪


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ketika Fabian dan Miya tiba di Castalia mansion. Sejak perjalanan pulang dari restoran keduanya tidak saling bicara sibuk dengan pikirannya masing-masing. Edgar menyambut kedatangan keduanya. ‘’Selamat malam tuan , nona!’’


‘’Malam Edgar!’’kata Fabian.


‘’Malam !’’kata Miya.


‘’Bagiamana makan malamnya?’’


‘’Sungguh menyenangkan. Terima kasih sudah mau menanyakannya,’’jawab Fabian .


Fabian berjalan cepat menuju lantai atas dan Miya mengikutinya dari belakang. Sebenarnya ia ingin menanyakan apa maksud dari perkataan pria asing yang ditemuinya di tempat parkir, tapi saat ini Miya tidak punya keberanian untuk menanyakannya dan ia yakin pamannya juga sedang tidak ingin membicarakannya. Miya memandangi punggung pamannya yang berjalan cepat di depannya. ‘’Sebenarnya hal menyedihkan apa yang kau simpan di masa lalu?’’tanya Miya dalam hati.


Miya mendesah pasrah. Biarlah pamannya sendiri yang mengatakannya suatu hari nanti, lagi pula saat ini ia sedang tidak ingin melibatkan lebih jauh lagi dalam kehidupan pribadi pamannya.  Miya telah tiba di pintu kamarnya.’’Paman Fabian, selamat malam!’’ Pamannya hanya mengangguk, lalu kembali berjalan menuju kamarnya di ujung lorong.


♪♪♪♪


Suara telepon berdering ketika Fabian memasuki kamarnya. Suara lembut terdengar dari sebrang telepon.’’Aku baik-baik saja bu. Maaf sudah lama tidak memberi kabar. Akhir-akhir ini aku banyak pekerjaan."


‘’Bagaimana dengan Miya?’’


‘’Dia juga baik-baik saja. Dia merasa senang tinggal di sini."


‘’Baiklah. Jaga Miya baik-baik! Dan kau jangan berbuat yang macam-macam terhadapanya. Apa kau mengerti?’’


Fabian tertawa.’’Memangnya aku akan melakukan apa padanya? Ibu jangan khawatir aku tidak akan  melakukan apa pun kepadanya." Terdengar desahan lega ibunya disebrang telepon membuat Fabian tersenyum.


‘’Ibu percaya padamu. Apa kau sudah memikirkannya tentang wanita yang akan menjadi calon istrimu. Kau sudah menerima fotonya kan?’’


Fabian melihat ke arah meja dan di sana tergeletak sebuah amplop coklat yang sama sekali belum dibukanya.’’Aku sudah melihatnya,’’jawabnya bohong.


‘’Dia wanita yang sangat cantik, bukan? Dan juga sangat menyenangkan . Ayah dan ibu sudah mengenal orang tuanya sejak lama. Kami bersahabat dan kami mengharapkan kalian menikah."


‘’Menikah? Aku sekarang ini tidak ingin membicarakan pernikahan. Lagi pula aku tidak ingin di jodohkan."


‘’Ayolah! Lihatlah kamu sudah tidak muda lagi sampai kapan kamu akan terus hidup melajang. Jangan terus memikirkan istrimu yang sudah meninggal. Kau harus secepatnya menikah dan memberikan kami cucu-cucu yang cantik dan tampan. Kami sudah memilihkan wanita yang sangat cocok untukmu. Ibu yakin kalau kalian bertemu pasti kamu akan sangat menyukainya."


‘’Ibu, aku mohon jangan sekarang. Mengertilah!’’


‘’Atau kau sudah mempunyai pilihanmu sendiri. Siapa dia?’’


Seketika itu pikirannya melayang kepada Miya. Seorang gadis yang sudah menarik perhatiannya sejak awal. ’’Kalau sudah ada, aku akan segera membawanya menemui kalian." Fabian pun langsung menutup teleponnya merasa jengkel.


Ia segera membuka amplop coklat yang sudah berada di sana selama beberapa hari tidak tersentuh. Di dalamnya terdapat sebuah foto seorang wanita berambut pirang  dan di balik foto itu ada namanya. Isabella O’Brian. Fabian langsung melemparkan  amplop yang berisi foto itu ke meja.


Fabian melangkah ke pintu balkon dan mendorongnya hingga terbuka. Udara malam terasa dingin dan lembap ketika Fabian berada di balkon kamarnya. Rambutnya yang basah tertiup oleh angin.


 Ia memandang kelamnya malam tidak ada satu pun bintang yang ada hanya kegelapan malam. Hatinya merasakan kesedihan, ketika mengingat masa lalunya yang begitu menyedihkan yang berawal dari seorang wanita.


Pada saat ia sudah mencapai kesuksesan dalam kariernya , Fabian bertemu dengan Clarissa dan menikahi wanita itu. Clarissa satu-satunya wanita yang membuat hatinya tersentuh, karena dia selalu memberikan perhatian  dan menghiburnya disaat ia sedang sedih dan sedang dalam masalah. Tanpa pikir panjang lagi, ia menyetujui untuk menikahinya meskipun perkenalannya dengan Clarissa hanya berjarak satu bulan.


Pada awalnya Fabian mengharapkan suatu pernikahan yang bahagia dan memiliki keluarga yang bahagia. Tapi semua impiannya itu hancur seketika.Ternyata Clarissa tidak seperti wanita yang ia bayangkan. Ia memiliki hati iblis.


Sejak saat itu Fabian tidak lagi percaya akan cinta dan hanya menganggap wanita sebagai pemuas hasrat seorang pria dan sejak saat itulah petualangannya dengan berbagai macam wanita dimulai. Sorot matanya menjadi kelam sekelam langit malam dan ada kesedihan mendalam di sana, ketika ia mengingat kejadian empat tahun lalu antara dirinya dan Clarissa.


Tapi kali ini berbeda,  kedatangan Miya ke mansionnya membuat ia merasakan kembali cinta dalam hidupnya. Fabian tidak merencanakan untuk jatuh cinta dalam waktu dekat ini, oleh karena itu jatuh cinta adalah masalahnya yang berada dalam daftar teratasnya sekarang dan ia tidak dapat mengelak dari kenyataan itu.


Awalnya Fabian merasa takut untuk mencintai seorang wanita, takut kembali tersakiti, tapi ia sudah tidak dapat membohongi perasaannya lagi. Miya sudah mencuri hatinya sejak awal dan karena gadis itulah dunianya sekarang menjadi berantakan. Pikirannya tidak pernah lepas dari gadis itu.


Fabian sangat menginginkan Miya bahkan  terlalu menginginkannya. Bahkan sekarang Fabian sudah merindukannya padahal baru beberapa menit yang ia bersamanya. Fabian keluar dari kamarnya. Dalam satu menit ia sudah berada di depan kamar Miya, dibukanya pintu itu. Pria itu merasa senang karena pintunya tidak terkunci.


Dalam temaramnya lampu kamar , Miya sudah terlelap tidur dan Fabian menatapnya mesra. Ia sangat cantik dalam tidurnya bisik hatinya. Ia tidak tahan untuk tidak menyentuh gadis itu.  Akhirnya Fabian naik ke tempat tidur,pertama ia membelai wajah Miya sepelan mungkin agar tidak membangunkannya, lalu membungkuk menelusuri wajah gadis itu dengan bibirnya menikmati aroma feminimnya, kemudian berbisik di telinganya.’’Aku mencintaimu Miya, sangat mencintaimu,’’bisiknya. Dikecup keningnya dengan penuh perasaan. Fabian pun akhirnya terlelap tidur di samping Miya [ ].

__ADS_1


__ADS_2