
Fabian kemudian menceritakan pertemuannya dengan Clarissa dan Gilbert sangat terkejut. Gilbert duduk di sofa mencoba mencerna semua informasi tentang Clarissa dan rencana gilanya selama ini.
" Aku tidak percaya Clarissa memalsukan kematiannya dan menikahi selingkuhannya. Clarissa dan selingkuhannya itu benar-benar gila. Selama ini aku pikir Clarissa adalah wanita baik-baik, bahkan dia sekarang memaksamu untuk kembali kepadanya."
" Aku juga berpikir seperti itu mungkin selama ini ia sudah menyembunyikan sifat aslinya."
" Apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?"
" Aku belum tahu dan aku sangat mencemaskan Miya dan anak-anakku. Aku akan pergi ke Los Angeles dan aku harus meninggalkan mereka. Aku takut Clarissa akan menyakiti mereka, ketika aku tidak ada."
" Aku akan sering-sering datang ke rumahmu untuk melihat istrimu dan anak-anakmu."
" Terima kasih."
Gilbert kemudian keluar ruangan. Fabian duduk di kursinya dengan pikiran resahnya.
💔💔💔
Keesokan paginya Fabian bersiap-siap pergi ke Los Angeles dan ia masoh berat hati meninggalkan istri dan anaknya.
" Berjanjilah kepadaku, kamu akan menjaga diri baik-baik dan juga Clarie."
"Aku janji. Kami akan baik-baik saja."
Fabian menarik Miya dalam dekapannya dan memeluknya dalam waktu yang lama.
" Fabian, nanti kamu terlambat."
" Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi."
Miya pun membiarkannya. Suara Clarie dari pintu mengejutkan mereka.
" Pagi Ayah, Ibu!"
Fabian mengendong Clarie dan mengecup pipinya.
" Pagi sayang!"
" Ayah mau pergi kemana?"
" Ke Los Angeles selama beberapa hari. Kamu jangan nakal ya."
Clarie mengangguk. Fabian nenurunkan Clarie dan mereka mengantarkan Fabian sampai pintu depan.
" Aku pergi dulu."
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Fabian tiba di hotel yang berada di Los Angeles dan langsung masuk ke kamarnya. Kamarnya ada di lantai 5 dan nomor kamarnya 506. Fabian beristirahat sejenak sebelum berjalan-jalan di luar
Fabian sedang menikmati makan siangnya di restoran hotel dan setelah setelah selesai makan ia memutuskan jalan-jalan sebentar sebelum menuju lokasi pembangunan hotel. Ia kembali mengingat masa-masa liburan bersama teman-teman sekelasnya dulu di sini.
Seorang diri Fabian menyusuri setiap sudut jalan. Ia dapat menikmati harinya yang biasanya selalu terkurung di kantor dengan pekerjaannya yang menumpuk. Fabian yang hari itu memakai pakaian santai terlihat sangat tampan. Banyak wanita muda yang meliriknya dan menjadi pusat perhatian di sepanjang jalan, bahkan ada seseorang yang menawari Fabian untuk menjadi seorang model. Ia kemudian menuju lokasi pembangunan hotel dan ia menyukai lokasinya yang sangat strategis.
Malam hampir tiba, Fabian kembali ke hotel dan masuk ke kamar langsung menuju balkon kamar untuk melihat pemandangan kota Los Angeles di malam hari, lalu kembali masuk ke dalam kamar dan cepat-cepat berganti pakaian untuk menghadiri acara perusahaannya.
Fabian sudah berada di ruang pesta. Tamu undangan sudah berdatangan. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu dan Fabian menoleh ke belakang.
"Halo Fabian, sudah lama kita tidak bertemu?’’
" Donald Kelly,"kata Masumi terkejut.
"Benar. Itu aku."
Fabian sangat senang bertemu kembali dengan Donald, salah satu teman sekelasnya dulu.
‘’Aku sangat senang bertemu denganmu lagi."
Mereka berdua berpelukan, lalu duduk disalah satu kursi yang ada di ruangan itu.
" Tadi aku hampir tidak mengenalimu. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Kamu bagaimana?"
" Aku juga baik."
‘’Aku senang bisa bertemu denganmu lagi di sini,"kata Fabian.
‘’Aku juga dan aku tidak menyangka kamu akan menjadi seorang direktur yang sukses dan terkenal.
‘’Terima kasih."
" Donald, aku sangat berhutang budi dan sangat berterima kasih, karena telah menyelamatkanku 25 tahun lalu. Saat itu aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadaku."
"Oh kejadian itu. Sepertinya kejadian itu baru terjadi kemarin saja padahal sudah 25 tahun berlalu. Kamu tidak perlu merasa berhutang budi dan berterima kasih padaku, seharusnya kamu berterima kasih pada gadis kecil yang menyelamatkanmu."
‘’Hah? Gadis kecil?’’
‘’ Fabian, kamu tidak ingat dengan gadis kecil yang sudah menyelamatkanmu."
‘’Aku tidak ingat. Yang aku ingat waktu itu aku tenggelam dan ada seseorang masuk kedalam danau, lalu aku hilang kesadaran."
‘’Coba kamu ingat-ingat lagi. Waktu itu aku memang menolongmu, tapi orang yang pertama kali menolongmu bukan aku. Gadis kecil itu yang pertama kali menolongmu. Dia menceburkan diri ke danau dan menolongmu. Aku lihat waktu itu dia berusaha untuk membawamu ketepian dengan tubuhnya yang kecil dan dia berhasil melakukannya, lalu aku menolongmu dengan memberikan nafas buatan. Tanpa gadis itu mungkin kami tidak tahu kalau sudah ada orang yang tenggelam di danau. Gadis kecil itu sungguh berani dan aku rasa dia pandai berenang. Kalau yang aku lihat gadis kecil itu sekitar berumur 6 tahun dia memakai pakaian berwarna kuning dan juga pita kuning di rambutnya."
‘’Apa Anda tahu siapa namanya?’’
"Sayangnya tidak. Waktu itu kami tidak sempat menanyakan namanya setelah kami memberi dia pakaian kering untukknya dan dia tiba-tiba menghilang."
‘’Ternyata seperti itu."
‘’Fabian, aku permisi dulu mau menyapa teman-temanku dulu."
‘’Silakan."
Fabian duduk termenung memikirkan perkataan Donald.
‘’Siapa sebenarnya gadis kecil itu?’’
Fabian berdiri dan mengambil beberapa potong kue. Suasana pesta saat itu sangat ramai sekali dan Fabian sangat menikmatinya. Ia sudah mulai merasakan dirinya sedikit mabuk dan juga lelah.
" Donald, aku mau kembali ke kamarku. Sepertinya aku sudah lelah dan mengantuk. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu."
‘’Baiklah."
Donald memeluk Fabian, lalu meninggalkan pesta dan menuju kamarnya yang berada di lantai 5. Fabian langsung pergi menuju balkon untuk menghirup udara segar di malam hari. Rasa pusing yang dirasakannya tadi sudah sedikit berkurang. Matanya menatap langit dan terbayang wajah Miya. Hatinya sangat merindukan wajah dan suaranya. Padahal baru sehari tidak bertemu dengannya. Saat ini Fabian rela melakukan apa saja asal dapat bertemu dengan Miya walaupun hanya sebentar saja.
Suara ketukan pintu mengejutkannya. Fabian merasa heran siapa orang yang datang menemuinya hampir larut malam. Ia membuka pintu dan terkejut melihat nenek itu.
__ADS_1
" Nenek."
" Malam Fabian!"
" Ada apa nenek malam-malam datang ke sini?"
Fabian juga melihat kucing berbulu hitam dalam gendongan nenek itu.
" Aku butuh bantuanmu," katanya tanpa basa-basi lagi.
" Bantuan apa?"
" Menemukan saudara laki-lakiku."
" Aku bukan detektif."
" Aku tahu, tapi kamu bisa menyewa detektif untukku."
" Sebelum aku membantumu. Siapa nenek yang sebenarnya?"
" Aku seorang peramal."
" Peramal?"
" Iya. Adik laki-lakiku bernama Christopher Kerr, seorang pengrajin boneka dan juga seorang dukun."
"Maksud nenek, pemilik mansion putih yang terbakar itu milik adikmu?"
" Iya. Aku tidak tinggal di sana. Adikku menghilang sejak kebakaran itu. Ada salah seorang warga sebelum kebakaran ada seorang gadis muda yang datang mengunjunginya pada malam hari, lalu aku menemukan gelang di depan mansion itu. Gelang itu milik teman wanitamu yang bernama Clarissa."
" Aku tidak pernah tahu kalau dulu Clarissa pernah pergi ke sana."
Fabian kemudian tersentak, ketika ia teringat dengan pertemuannya dengan Clarissa beberapa hari yang lalu. Ia menyebut nama Christopher untuk membuatkan boneka. Clarissa tahu di mana pria itu berada.
" Clarissa tahu di mana Christopher berada."
" Mantan istrimu masih hidup?"
" Iya."
" Kita harus bertanya kepadanya, meskipun kita tidak yakin dia mau memberitahu kita. Aku tidak mengerti kenapa adik nenek harus bersembunyi selama ini?"
" Aku juga tidak tahu."
" Atau jangan-jangan Clarissa menculik adikmu?"
Nenek itu seakan menyadari sesuatu. " Pasti wanita itu yang menculiknya," katanya dengan sangat yakin. " Dulu Clarissa hampir membuatmu minum ramuan cinta, tapi aku berhasil menggagalkannya dengan menyuruh kucingku ini. Ingat tidak?"
Fabian memperhatikan kucing hitam itu dan kucing itu memang pernah ia lihat sebelumnya. Fabian kembali teringat saat diundang makan siang oleh Clarissa dan Ä·etika ia hendak akan minum tangannya dicakar.
" Aku ingat. Aku tidak percaya saat itu Clarissa mencampur minumanku dengan ramuan cinta. Aku juga tidak percaya dengan ada ramuan cinta."
" Adikku yang seorang paranormal bisa membuatnya pasti kamu tidak percaya dengsn adanya hal-hal mistis."
"Aku memang tidak percaya."
" Tapi sayangnya aku tidak bisa melindungimu setiap saat ketika mantan istrimu itu terus-terusan memberikan ramuan cinta itu kepadamu."
" Maksud nenek selama Clarissa menikah ia memasukan ramuan cinta ke dalam minumanku."
Fabian terkejut, karena rasa cintanya kepada Clarissa bukan murni dari hatinya, tapi dari ramuan cinta. Pantas saja ketika Clarissa meninggal perlahan-lahan rasa cintanya kepada Clarissa mulai menguap meskipun harus membutuhkan bertahun-tahun supaya efek ramuan itu lenyap secara keseluruhan.
" Kenapa nenek tahu semuanya?"
" Aku peramal dan aku bisa melihat masa depan, tapi masa depan yang aku lihat belum tentu benar 100%."
" Sejujurnya aku tidak percaya dengan semua ini. Ramuan cinta, peramal yang bisa mihat masa depan, dan paranormal."
" Aku mengerti kalau kamu tidak percaya."
" Kenapa nenek tidak mengatakan apa pun waktu kita bertemu kembali untuk pertama kalinya?"
" Karena nenek masih berusaha mencarinya sendiri."
" Aku akan menanyakan tentang Christopher kalau aku bertemu dengannya lagi."
" Terima kasih. Maaf sudah menganggumu malam-malam. Aku pergi dulu."
Nenek menuju pintu dan keluar tanpa mengatakan apa pun lagi.
💔💔💔
Ting....tong....ting...tong...
‘’Ah ternyata Nenek sudah pulang. Ayo masuk!’’
Mereka duduk di kursi sofa beludru berwarna merah tua di depan perapian yang sedang menyala. Rumah nenek adalah rumah kayu di dekat danau yang halaman rumahnya banyak bunga Lavender. Rumahnya berlantai dan tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman untuk ditinggali. Nenek melepaskan jubah coklat tua lusuhnya dan menyimpannya di lengan kursi sofa. Erika , cucu Nenek pergi ke dapur membuat minuman untuk Nenek, lalu ia membawa teh lemon hangat dan pie lemon yang baru dipanggangnya. Aromanya menyeruak ke seluruh ruangan.
" Apa Nenek sudah bertemu dengan Fabian?"
" Aku sudah bertemu dengannya."
" Lalu?"
" Fabian tahu di mana Christopher."
" Dari mana Fabian tahu?"tanya Erika terkejut
" Dia tahu dari mantan istrinya, karena Clarissa sudah berkali-kali memakai jasanya."
" Itu artinya adik Nenek baik-baik saja."
" Iya semoga saja dia baik-baik saja Menurutku aneh kenapa Christopher harus bersembunyi."
" Entahlah. Mungkin ada alasan kuat."
‘’Meeeoooonggg...meeeooonggg."
"Halo Garfield!’’
Kucing hitam itu menyurukkan tubuhnya pada kaki Nenek, lalu Nenek mengangkat kucing itu dan mendudukannya di pangkuan sambil dielus-elus.
" Jika Fabian tidak menyelamatkan Nenek Garfield 25 tahun yang lalu mungkin Garfield tidak akan pernah lahir," kata Erika.
‘’Iya. Waktu itu Garfield hampir tenggelam di danau dan Fabian menyelamatkannya. Waktu itu aku sedang mencarinya dan aku melihat Fabian sedang berusaha menyelamatkannya dan dia berhasil, akhirnya dia tenggelam. Sewaktu aku akan menyelamatkannya datang seorang gadis kecil yang langsung menyelamatkannya dan dia selamat. Sejak saat itu aku selalu mengawasi Fabian dan keluarganya melalui mata Garfield."
__ADS_1
" Dan mengenai gadis itu yang menyelamatkannya sepertinya gadis itu adalah wanita yang ditakdirkan untuknya."
" Mereka sudah menikah."
" Benarkah. Itu bagus."
Mereka berdua saling menatap dan tersenyum.
💔💔💔
25 tahun yang lalu
Fabian tampak sibuk menyambut tamu-tamunya dan tidak lama kemudian Gilbert datang dan mereka berpelukan lalu bersalaman.
"Kamu semakin tampan saja,’’sambil menepuk bahu Masumi.
‘’Kamu juga."
" Selamat atas pernikahanmu."
" Terima kasih."
Clarissa datang bersama dengan ayah angkatnya. Ia tersenyum melihat Fabian dan segera mendekatinya.
" Hai Gilbert! Aku senang kamu datang."
" Selamat ya Clarissa kamu akhirnya menikah dengan pria yang kamu cintai."
" Terima kasih, Gilbert!
" Fabian, sebaiknya kamu menyapa tamu yang baru datang," kata ayah angkat Clarissa.
" Aku permisi dulu."
Fabian kembali menyambut para tamunya
"Aku akan mengambil makanan dulu,"kata Gilbert.
Ayah angkat Clarissa berjalan terpincang-pincang dengan menggunakan tongkatnya dan menyapa beberapa tamu lainnya.
"Fabian, kamu sudah berhasil mendapatkan adik angkatku. Aku harap kamu bisa membahagiakannya," kata James Kenndrick
" Tentu saja."
Fabian melihat orangtua dan adik perempuannya sedang makan di satu meja yang sama.
James mengambil dua minuman di atas meja dan memberikan yang satunya kepada Fabian.
‘’Ayo kita bersulang."
Tiinngg!
Fabian perlahan-lahan meminumnya, sedangkan James meneguknya dengan sekali teguk.
‘’Wine ini sangat enak. Pasti harganya sangat mahal."
Pandangan mata Fabian mengarah ke tamu yang baru saja datang. Sepupunya Sabrina dan suaminya yang orang Jepang baru saja tiba. Fabian menghampirinya.
" Selamat datang Sabrina dan Kouki! Aku senang kalian bisa datang."
" Mana mungkin kami tidak datang di hari pernikahanmu."
" Silahkan menikmati pestanya."
Sabrina dan Kouki duduk di kursi yang masih kosong.
" Di mana Miya?"
" Aku kira masih ada di toilet bersama Kyoko."
Fabian mendengar Gilbert memanggilnya dan langsung menuju meja makan di mana Gilbert. sedang makan Jin duduk dihadapan Masumi dan melihat tingkah temannya yang sedang kesal. Clarissa kemudian duduk di samping Fabian dengan wajah tersenyum manis.
"Apa yang kamu lakukan?’’
‘’Aku akan menyuapimu makan?’’
‘’Eh...itu tidak perlu."
Fabian mencoba merebut piringnya dari tangan Clarissa.
‘’Sebaiknya aku meninggalkan kalian berdua. Pasti kamu malu disuapi oleh istrimu, karena ada aku disini."
‘’Bukan begitu Gilbert."
Gilbert tanpa mendengarkan perkataan Fabian langsung menjauh dan mengajak seorang tamu wanita untuk menemaninya makan. Clarissa terus saja memaksa untuk menyuapi Fabian dan akhirnya Fabian menyerah dan membiarkan Clarissa menyuapinya.
Sementara itu di toilet, Kyoko, pengasuh Miya sedang menunggunya di depan toilet.
" Miya, apa kamu sudah selesai?"
" Belum. Perutku masih mulas."
" Lain kali jangan makan yang pedas lagi."
Tidak lama kemudian Miya kecil yang sekarang berumur 9 tahun keluar dari toilet.
" Ayah dan Ibu sudah menunggu di pesta."
" Kita ke taman saja. Aku tidak ingin ke sana."
" Tapi..."
" Sebentar saja."
" Baiklah."
Maya dan Kyoko duduk di bangku taman. Suasana di taman itu sangat hening. Miya mengeluarkan jam saku dari tas kecilnya dan membuka jam saku itu. Alunan musik keliar dari jam itu.
Setelah selesai disuapi Clarissa, Fabian pergi ke toilet untuk merapikan diri. Dalam perjalanannya ke sana Fabian mendengar suara musik mengalun yang sangat dikenalnya sepanjang lorong gedung. Suara musik yang berasal dari jam sakunya yang hilang dengan wajah panik Fabian mencari tahu asal suara musik itu. Ia berlari-lari mengikuti suara musik itu.Tiba-tiba musik itu sudah tidak terdengar lagi dan Fabian tidak menemukan siapa pun.
‘’Apa ada yang menemukan jam sakuku? Kalau iya siapa?’’kata Fabian dalam hati.
Fabian memejamkan matanya dan mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal, lalu mengambil nafas panjang kemudian kembali menghadiri pesta. Miya dan Kyoko berjalan- jalan di sekitar taman.
Sabrina dan Kouki memutuskan untuk pulang dan berpamitan kepada Fabian, lalu mencari Miya di taman yang sedang tertidur di kursi taman. Kouki mengendongnya dan menidurkannya di dalam mobil. [ ]
__ADS_1