
Fabian berjalan menuju ke rumahnya dengan lesu dan berjalan dengan gontai. Tatapannya kosong, berkali-kali ia berjalan menabrak orang. Perasaannya gelisah dan takut kalau Miya akan mengetahui perbuatannya dengan Arya yang dilakukannya secara tidak disengaja dan tidak direncanakan, bahkan ia tidak ingat apa yang sudah ia lakukan bersama Arya. Fabian tidak yakin Arya hamil karena dirinya.
Fabian pun duduk disebuah bangku di dekat taman kota. Pikirannya kembali melayang saat-saat ia bertemu dengan Arya satu bulan yang lalu di panti asuhan. Fabian yakin Arya sudah melakukan sesuatu kepadanya.
"Fabian, aku mohon terima undangan makan malam denganku. Anggap saja ini sebagai tanda perpisahan kita mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu kembali."
Fabian menghembuskan nafas panjang .’’Baiklah, aku akan datang."
"Benarkah? Kalau begitu aku tunggu jam 8 malam di panti asuhan."
Tanpa curiga sedikit pun Fabian datang tepat waktu. Dia berpikir kalau Arya sudah berubah dan menyesali perbuatannya dulu. Makan malam dengan Arya pun ia rahasiakan dari Miya, meskipun ia harus berbohong pada istrinya. Arya tersenyum ketika melihat kedatangan Fabian. Makan malam berlangsung dengan lancar, Fabian pun terlihat sangat menikmati makan malamnya dengan Arya. Ketika waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, Fabian bermaksud untuk kembali ke rumah, karena mencemaskan Miya.
"Fabiab, tinggalah lebih lama lagi denganku di sini."
"Maafkan aku. Miya sekarang sedang menungguku di rumah."
"Bisakah kamu melupakan Miya sebentar saja, malam ini aku ingin menghabiskan malam denganmu, karena mungkin ini adalah malam terakhir kita bisa bersama-sama seperti ini."
"Tapi....’’
"Aku mohon Fabian,’’rajuk Arya.
"Baiklah."
"Terima kasih. Bagaimana kalau kita pergi ke bar?"
"Terserah kamu saja."
" Fabian, maafkan aku, karena dulu aku sudah membuatmu marah dan kecewa kepadaku, karena aku sudah berusaha untuk menganggu pernikahan kalian."
Arya terlihat kecewa. Mereka berdua pun masuk ke sebuah bar. Fabian yang sedang duduk dibangku merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Dia tengah menyesali perbuatan yang telah dilakukannya terhadap Arya.
’’Seharusnya aku tidak menerima undangan makan malam Arya waktu itu. Kamu bodoh Fabian...bodoh...bodoh....’’
Fabian terus saja memarahi dirinya sendiri. Dirinya sama sekali tidak menyangka kalau malam itu akan menjadi malam terburuk baginya sekaligus menjadi malam pengkhianatan dirinya terhadap Miya.
"Miya, maafkan aku...maaf...’’
Sebulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Setelah perasaannya tenang, Fabian kembali berjalan pulang. Dikejauhan mulai terlihat mansionnya yang begitu menenangkan hati. Di sanalah orang yang dicintainya dengan segenap hati dan jiwanya sedang menunggunya pulang. Terangnya sinar lampu itu memancarkan kehangatan di hatinya.
"Aku pulang."
Miya menyambut kedatangannya dengan wajah tersenyum dan penuh cinta.’’Selamat datang sayang!’’jawabnya sambil mengecup bibir suaminya.
"Bagaimana pertemuan dengan klienmu?’’
"Semuanya baik."
"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi."
"Aku akan mandi sekarang."
Wajah Miya merona merah tatkala saat ia menyadari kalau Fabian sekarang ini hanya memakai celana dalam saja. Meskipun Miya sudah berkali-kali melihatnya tanpa memakai pakaian sehelai pun tapi setiap kali kembali melihatnya wajahnya memanas dan malu. Fabian yang menyadari itu berusaha untuk menggodanya.’’Mau mandi bersamaku?’’bisiknya ditelinga Miya. Wajahnya seketika memerah seperti tomat.
"Ti..tidak, a...aku sudah mandi,’’jawabnya gugup sambil mengambil pakaian Fabian yang kotor.’’Kamu saja yang mandi."
Fabian menahan tangan Mkya ketika istrinya akan pergi.’’Tapi aku membutuhkanmu untuk menggosok punggungku,’’katanya dengan mengedipkan sebelah matanya.’’Ayo...’’ajaknya. Miya mendesah pasrah tidak bisa menolak keinginan suaminya.
Di dalam kamar mandi Miya dengan santai menggosok punggung suaminya. Buih-buih sabun mulai memenuhi kamar mandi. ’’Fabian,’’panggil Miya.
"Hmmm....’’
Miya hanya terdiam. ’’Ada apa? Apa ada yang ingin kamu tanyakan padaku?’’
"Ah tidak ada,’’jawabnya.
Miya kembali menggosok punggung suaminya dan keheningan menyelimuti mereka berdua.
Miya berhenti menggosok punggung suaminya dan bermaksud untuk keluar .’’Aku akan menyiapkan makan malam untukmu dulu."
Miya membuka pintu. "Tunggu !’’
"Ada apa lagi ? Apa kamu masih membutuhkanku, Fabian?’’
Fabian sebentar menatap istrinya yang berdiri diambang pintu.’’Sayang, apa pun yang terjadi kamu harus percaya padaku, jangan pernah percaya pada perkataan orang lain tentang diriku, karena aku hanya mencintaimu. Kamu mengerti?’’
Meskipun Miya tidak tahu apa maksud dari perkataan suaminya akhirnya mengangguk pelan. ’’Aku mengerti." Fabian tersenyum lembut.
🧸🧸🧸
Erika masuk hotel dengan terburu-buru dan dia menemukan Gilbert di lobi hotel sambil membaca koran. ’’Sudah menunggu lama?’’tanya Erika. Gilbert tersenyum, lalu melipat korannya.
"Tidak. Kamu dari mana saja?’’
"Tadi aku jalan-jalan sebentar, karena merasa bosan sendirian."
"Ayo kita makan malam bersama."
Arya menerima uluran tangan Gilbert dan mereka menuju restoran hotel.
Sejak Erika mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga rumah dua minggu yang lalu, Gilbert selalu menemaninya dan menghiburnya sejak saat itu hubungan keduanya menjadi sangat dekat.
"Terima kasih, Gilbert. Kamu sudah menjadi suami yang baik."
"Melihatmu senang, aku juga ikut senang."
Sementara itu di Castalia mansion. Miya berdiri sambil mencaci maki di telepon Fabian. ’’Dari siapa?’’tanya Fabian.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja teleponnya dimatikan."
Fabian mengambil teleponnya dari tangan Miya dan dilayarnya hanya tertulis nomor yang tidak dikenal.’’Mungkin salah sambung,’’jawabnya santai.
Tidak lama kemudian teleponnya berdering lagi, Fabian pun segera menerimanya.’’Halo! Selamat malam!’’
__ADS_1
Wajah Fabian langsung berubah pucat dan segera keluar kamarnya. Miya memandangnya dengan wajah heran.
"Kamu mau apa lagi? Dan jangan ganggu aku lagi,’’katanya kesal setengah berbisik.
"Pasti kamu tahu apa yang aku inginkan Fabian."
"Kalau keinginanmu supaya aku menikah denganmu. Lupakan saja! Aku tidak akan pernah melakukannya."
"Baiklah. Kamu akan menyesalinya. Mungkin aku harus berbicara dengan istrimu mengenai hal ini."
Fabian mengepalkan tangan dan gerahamnya menegang.’’Jangan coba-coba lakukan itu kalau kamu sampai menyakiti Miya dan membuatnya sedih , aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kamu mengerti’’teriaknya.
Dengan kesal Fabian mematikan teleponnya.’’Sialan!’’
Fabian meninjukan tangannya ke tembok, lalu dia menghempaskan dirinya di sofa.’’Apa yang harus kulakukan sekarang?’’tanyanya dalam hati.
Ingatan Fabian kembali melayang saat dia terbangun di pagi hari di kamar Arya dan menemukan wanita ituberada di sampingnya. Tubuhnya merinding saat kembali mengingatnya. Kenangan yang tidak ingin dingatnya kembali dan berusaha membuangnya jauh-jauh. Pintu kamar terbuka dan membuatnya melompat berdiri karena terkejut.’’Ternyata kamu sayang."
"Apa kedatanganku membuatmu terkejut?’’
Fabian mengangguk pelan.
’’Maaf."
"Tidak perlu meminta maaf."
Miya melihat kegelisahan di mata suaminya.’’Apa kamu ada masalah ?’’
"Tidak ada."
"Kamu yakin?’’tanyanya tidak percaya.
"Aku yakin. Aku baik-baik saja."
Fabian kembali duduk disofa diikuti Miya yang duduk di sampingnyaya, kemudian ia meraih tangan Fabian dan meremasnya lembut.
"Kalau ada masalah , kamu bisa ceritakan padaku."
Fabian menyentuh tangan istrinya dengan lembut.’’Aku tahu, terima kasih."
Kemudian dirangkul bahu istrinya dan menariknya ke dalam pelukankannya, kemudian mengecup kening istrinya dengan segenap cintanya.’’Apa pun yang terjadi dengan diriku, kamu harus tetap percaya padaku . Hanya kamu wanita yang aku cintai."
Selama beberapa menit mereka terus berpelukan dan tidak ada niat sedikit pun dari Fabian untuk segera melepaskan pelukannya.
"Siapa yang meneleponmu tadi?’’
"Itu salah satu klienku,’’jawabnya berbohong.’’Kamu pasti sudah lelah, sebaiknya kita tidur , ini sudah larut malam."
Fabian kemudian membaringkan Miya dan menyelimutinya, ia pun kemudian berbaring di sampingnya dan dipeluknya tubuh istrinya. "Fabian, aku mencintaimu."
"Aku juga sayang. Sekarang tidurlah."
Sebelum tidur Fabian mengecup kening dan bibir istrinya dalam hitungan detik Miya sudah terlelap tidur dalam pelukan suaminya.
Miya langsung berbalik.’’Siapa?’’
"Nanti siang juga kau akan tahu." Fabian tersenyum penuh rahasia.
"Ayolah katakan siapa?’’
"Ini akan menjadi kejutan untukmu, jadi aku tidak bisa mengatakannya padamu."
Miya cemberut dan memalingkan wajahnya. ‘’Ini bekal makan siangmu,’’katanya kesal.
Fabian hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Aku pergi dulu sayang. Sampai jumpa nanti sore!’’
Miya masih terlihat cemberut ke arah Fabian yang telah menghilang di balik pintu.
🧸🧸🧸
Fabian yang sedang berkonsentrasi bekerja diruangannya, dikejutkan oleh suara ponselnya yang ternyata salah satu kliennya untuk meninjau pembangunan hotel di luar kota.
Miya bersenandung riang di ruang keluarga sibuk merajut. Ia pun dikejutkan oleh suara bel pintu. Salah satu pelayan membukakan pintu dan Miya terkejut melihat siapa yang datang.
"Halo Ibu! Sudah lama kita tidak bertemu."
"Raina,"teriak Miya kegirangan dan langsung memeluknya.
"Aku senang Ibu baik-baik saja."
Miya tersenyum.’’ Ayo masuk, Raina!’’
"Aku senang bisa bertemu dengan Ibu lagi."
" Aku juga Nenek," kata Eloisa
"Kenapa kamu datang tidak memberitahuku?’’
"Memangnya Ayah tidak mengatakan apa pun padamu kalau aku akan datang?’’
Miya mengeleng pelan.’’Sama sekali tidak."
Kemudian Miya teringat dengan perkataan suaminya tadi pagi,’’Jadi ini yang dimaksud olehnya,’’bisik hatinya.
"Berapa lama kamu akan tinggal di sini Raina?’’
"Seminggu. Leonard pergi keluar kota lagi untuk urusan bisnisnya."
"Terima kasih mau menemani Ibu di sini. Jonathan dan Clarie baru akan di rumah sore hari."
" Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja."
"Oh ya kamu sudah makan siang?’’
"Belum."
"Kita makan siang bersama-sama."
Mereka kemudian bersama-sama menuju ruang makan.
Ketika hari menjelang malam Fabian pulang disambut oleh senyuman istri tercintanya.
"Raina sudah datang."
"Bagus. Aku sengaja menyuruhnya datang untuk menemanimu di sini sementara aku pergi bekerja. Aku mencemaskanmu meninggalkanmu sendirian di rumah."
"Bukannya aku selalu sendirian saat kamu pegi kerja dan anak-anak pergi ke sekolah. Terima kasih sudah menyuruhnya datang ke sini. Aku jadi tidak kesepian lagi ketika berada di rumah, meskipun aku bisa saja meminta Raina menemaniku kapan saja di sini."
"Aku senang kalau kamu senang, sayang."
"Air untukmu mandi sudah aku siapkan."
"Terima kasih. Miya, setelah aku selesai mandi dan makan malam ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Sepertinya serius sekali."
"Ini memang serius."
Makan malam bersama pun terlihat lebih ramai dengan adanya Raina dan Eloisa diantara mereka dan setelah makan malam selesai Fabian bermain sebentar dengan Eloisa, lalu menarik Miya ke kamarnya.’’Sayang sebelumnya aku ingin minta maaf padamu, karena sepertinya aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk kencan denganmu diakhir Minggu."
"Kenapa?"
Fabian membawa Miya untuk duduk dan tangannya yang bebas mengenggam kedua tangan istrinya.
"Besok lusa aku akan pergi ke California selama beberapa hari untuk urusan pekerjaan."
"Aku mengerti. Kita bisa kencan lain kali."
"Terima kasih."
Fabian menarik Miya dalam pelukannya dan mengecup ujung kepalanya berkali-kali. Miya hanya menegelamkan dirinya dalam pelukan suaminya.
🧸🧸🧸
Hari kepergian Fabian tiba. Miya terlihat begitu sedih ketika mengantar suaminya pergi. Sebelum pergi Miya merasa enggan berpisah dari pelukan suaminya. ’’Kamu harus jaga diri baik-baik dan jaga kesehatanmu."
Miya mengangguk. ’’Kamu juga."
Sebelum Fabian masuk ke dalam mobil jemputan sekali lagi dikecup bibir istrinya. Miya tetap berada didepan rumah sampai mobil yang membawa suaminya menghilang dari hadapannya. ’’Jangan sedih! Beberapa hari lagi juga Ayah akan segera pulang!’’
"Selama ini aku belum pernah ditinggal Fabian begitu lama. Untung kamu datang ke sini untuk menemaniku kalau tidak pasti aku akan sangat kesepian."
Raina merangkul tubuh Miya.
Selama dua hari kedepan kehidupan Miya begitu tenang sampai suatu ketika dia dikejutkan oleh kedatangan Arya di rumahnya.’’Halo Miya!’’
Miya berdiri mematung di depan pintu.’’Siapa yang datang, Bu?’’tanya Raina.
"Boleh aku masuk."
Miya mempersilahkannya masuk dan membawanya ke ruang tamu. Pelayan membawakan minuman untuk mereka dan segera pergi. Rasa penasarannya membuat Raina mendengarkan pembicaraan Miya dengan Arya di balik dinding.
"Pasti kamu bingung mengapa aku datang ke sini."
Miya menanggukan kepalnya. Arya tersenyum penuh arti.
’’Sudah dua bulan terakhir ini aku dan Fabian saling berhubungan."
Miya terlihat tekejut.’’Apa dia tidak pernah menceritakannya padamu?"
"Tidak."
"Mungkin Fabian tidak ingin kau mengetahuinya."
Miya tidak bisa berkata apa-apa, karena selama ini Fabian tidak pernah lagi menyinggung sedikit pun tentang Arya.
"Sebenarnya aku ke sini untuk bertemu denganmu dan Fabian, tapi sayang Fabian sedang tidak berada di sini."
Raina bersiap-siap akan menghajar Arya kalau dia berani macam-macam pada Miya. Ibunya telah menceritakan semuanya tentang Arya kepadanya.
"Apa yang kamu inginkan dariku?’’
"Bercerai dengan Fabian."
Miya tersentak kaget mendengar permintaan Arya.’’Aku tidak bisa melakukannya dan kenapa kamu terua memintaku untuk melakukannya?’’
Arya mengeluarkan sebuah amplop dari tas kecilnya dan menyerahkannya pada Miya.
Miya segera membacanya. ’’Kamu hamil?’’
"Benar. Dan tebak siapa ayah dari calon bayiku?’’
Miya mengelenggkan kepalanya. ’’Tidak tahu."
"Fabian Baskerville."
"Tidak pasti kamu bohong,’’teriaknya.
Air mata mulai keluar dari kedua pelupuk matanya. ’’Kamu bohongkan,’’isaknya.
"Tidak, aku tidak bohong dan Fabian pun telah mengakuinya."
"Ini tidak benar. Pasti ini ada suatu kesalahan."
__ADS_1
Raina yang sejak dari tadi bersembunyi akhirnya keluar dan menatap Arya dengan penuh kemarahan. [ ]