
Miya duduk di meja rias dan menatap dirinya di cermin. Wajahnya masih terlihat pucat dan lelah. Ia melihat jari manisnya yang masih terpasang cincin tunangan dari Fabian .Setiap kali memikirkan pria itu hati Miya terenyuh sakit membuatnya selalu meneteskan air mata. Meskipun sekarang hidupnya sudah tidak berarti lagi tanpa dirinya, tetapi kehidupannya masih terus berlanjut walaupun masih terlihat suram. Miya tetap yakin Fabian akan segera kembali kepadanya.
"Boleh aku masuk?''Miya terkejut melihat ibu Fabian berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan wanita itu berdiri di sana dengan tersenyum lembut kepadanya, Miya tidak tahu, sesaat tadi ia tenggalam dalam pikirannya.
"Tentu saja. Masuklah!''
Seperti biasa wanita itu selalu terlihat sangat anggun saat berjalan meskipun tubuhnya agak terlihat kurus dan matanya agak bengkak, karena terus menangisi Fabian. Pasti hati wanita itu sangat sakit harus kehilangan satu-satunya anak laki-lakinya. Sejak Fabian menghilang orang tuanya kembali tinggal di Castalia mansion dan ayahnya kembali mengambil kekuasaan penuh di perusahaannya. Roslie duduk di pinggir tempat tidur dan menyuruh Miya untuk duduk di sampingnya.
Miya begitu merasa nyaman ketika berada di sampingnya dan sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Tangan wanita itu mengelus kepalanya dengan lembut sambil tersenyum kepadanya.''Kamu wanita yang sangat baik. Pantas saja Fabian begitu mencintaimu. Ia tidak salah memilih seorang wanita. Andai saja ia tidak hilang pasti kalian sudah menjadi suami istri dan mungkin saja kalian sudah memberikanku cucu-cucu yang sangat manis.''Miya hanya tersenyum sedih mendengar perkataan Rosalie.''Fabian akan selalu ada di hatiku. Aku tidak akan pernah bisa melupakannya,''kata Miya.
"Aku tahu. Kamu sangat mencintainya. Terima kasih sudah mau mencintainya.'' Rosalie menaruh tangannya di atas tangan Miya, lalu mengenggam tangan mungil Miya.'' Sekarang istirahatlah ! Pasti kamu lelah setelah seharian bekerja.''Miya mengangguk pelan. Gadis itu melihat kepergian Rosalie dari kamarnya dengan wajah sedih yang masih terlihat jelas. Wanita itu begitu ringkih dan lemah. Kesedihannya telah membuatnya terlihat lebih tua. Pintu kamar tertutup dan kembali menciptakan keheningan di kamarnya. Hanya suara napasnya yang terdengar. Miya kemudian meringkuk di tempat tidurnya. Air matanya kembali menetes.
🎵🎵🎵🎵
Blinda menyandarkan punggungnya disebuah pohon di taman . Ia menatap Fabian yang duduk di bangku taman dengan wajah sedih setelah ia bercerita tentang keadaan yang sebenarnya. Fabian senang ia bertemu dengan sepupunya itu, karena Blinda dapat membantunya bebas dari Jeanette. Blinda merasa malu dan beralah, karena telah menuduhnya sudah mengkhianati Miya.
"Jadi apa yang bisa aku bantu?"tanya Blinda.
"Mintalah bantuan kepada seseorang untuk mengumpulkan bukti kejahatan Jeanette,lalu hubungi polisi untuk menangkapnya."
"Baiklah."
"Terima kasih. Aku mengandalkanmu."
"Tidak masalah."
"Bagaimana keadaan Miya?"
"Selama empat bulan ini Miya selalu menangisimu. Dia masih mencintaimu, kalau kamu ingin tahu"
__ADS_1
Wajah Fabian menjadi semakin muram ."Aku sudah membuatnya banyak menangis."
"Benar sekali. Kamu baru sadar sekarang."
Blinda menatap Fabian. Ia yakin Fabian masih menyimpan sesuatu yang tidak ingin dikatakan kepadanya. Fabian berdiri, menghela napas panjang, lalu berkata,''Sebaiknya aku pulang . Mereka pasti sedang menungguku untuk makan malam.''Dengan langkah yang terasa berat , Fabian meninggalkan taman. Blinda mengerutkan dahi melihat sepupunya terlihat begitu sedih dan terluka dan ia pun dengan terpaksa membiarkan Fabian pergi meskipun masih banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan sepupunya itu.
🎵🎵🎵🎵
Saat sarapan pagi keesokan paginya dengan enggan Fabian masuk ke ruang makan di sana Jeanette sedang menata meja dan Raina sudah duduk manis di sana. Setelah ia bertemu Blinda kemarin, semua kepura-puraan ini akan segera berakhir. Jeanette tersenyum kepadanya dan menyuruhnya untuk segera duduk. Selama makan pagi Fabian diam hanya Raina dan Jeanette yang berbicara. Ia sama sekali tidak ada keinginan untuk berbicara dan selera makannya pun menjadi hilang. Fabian hanya mengaduk-aduk makanannya dan hal itu tidak luput dari perhatian Jeanette. Fabian menemani Raina bermain sebentar di kamarnya sementara Jeanette membereskan sisa sarapan pagi di dapur. Sesaat Fabian menatap wajah manisnya yang masih terlihat polos. Ia akan membawa Raina bersamanya saat ia kembali pulang ke New York, karena ia begitu menyayangi putri kecilnya.
🎵🎵🎵🎵
Dua minggu setelah Fabian bertemu Blinda, ia menemui Jeanette di ruang keluarga setelah mengantarkan Raina sekolah.
"Kita perlu bicara."
"Lepaskan aku! Biarkan aku kembali kepada keluargaku."
"Tidak. Kamu tidak bisa pergi dari sini. Aku dan Raina sangat membutuhkanmu,''kata Jeanette dengan wajah memelas.
"Aku akan membawa Raina bersama denganku, tapi tidak denganmu.''Kamarahan terlihat jelas dari sorot mata Fabian.''Lagi pula kita berdua tidak pernah menikah."
Wajah Jeanette yang telah basah oleh air mata nampak marah.'' Aku tidak rela melihatmu hidup bahagia bersama dengan Miya sementara itu aku hidup dalam kesedihan tanpa cintamu.''
"Kamu sudah gila,''kata Fabian tegas.
"Aku memang sudah gila karena aku sangat mencintaimu. Aku akan melakukan cara apa pun untuk bisa memilikimu.'' Jeanette mengenggam tangan Fabian dengan sangat erat, tapi Fabian langsung menepisnya.
"Rasa cintamu padaku sudah membuatku menderita dan membuat orang-orang yang aku sayangi menderita juga. Cintamu untukku tidak membuatku bahagia.''
__ADS_1
"Tapi selama empat bulan ini kamu hidup bahagia bersamaku dan Raina.''
"Itu karena aku berpura-pura bahagia demi Raina, karena kamu adalah ibu dari anakku, tapi maaf seberapa pun aku berusaha aku tidak bisa mencintaimu.''
Jeanette hanya menangis.''Aku akan kembali ke New York bersama dengan Raina, karena aku tidak bisa meninggalkan Raina denganmu disini.''
"Aku tidak akan mengizinkanmu kembali pada Miya. Tidak akan. Apa lagi membawa Raina bersamamu. Jika kamu pergi, aku akan membunuh Miya dan keluargamu,''teriaknya. Fabian menatap tajam Jeanette yang masih dengan penuh amarah.
"Jika kamu mengizinkan aku dan Raina kembali ke New York, aku akan memaafkanmu."
"Tidak akan pernah."
Tepat saat itu Cedric dan Blinda datang bersama dengan beberapa polisi. Jeanette terkejut dengan kedatangan mereka.
"Apa-apaan ini?"
"Jeanette Walcott, Anda ditangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan kepada Fabian Baskerville,"kata salah seorang polisi.
"Tidak...tidak kalian tidak bisa menangkapku."
Jeanette berusaha kabur, tapi para polisi itu berhasil menangkapnya.
"Fabian, kamu tidak bisa melakukan ini kepadaku,"teriak Jeanette.
"Maafkan aku. Aku terpaksa."
"Kalian akan membayar semua ini,"teriaknya lagi sebelum polisi membawanya.
Setelah Jeanette pergi bersama polisi, Fabian dapat bernapas lega. Akhirnya setelah empat bulan, ia bisa terbebas darinya. Fabian berterima kasih kepada Cedric dan Blinda yang sudah membantunya.[ ]
__ADS_1