My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S3): Kembalinya Fabian


__ADS_3

Di saat yang hampir bersamaan, Arya berjalan-jalan disepanjang  jalan kota New York. Hari begitu cerah dan langit terlihat biru cemerlang. Banyak kenangan yang buruk telah terjadi di sini. Kesedihan dan penyesalannya belum benar-benar hilang, tapi dia ingin sekali ke sini untuk menemui seseorang dan meminta maaf kepadanya.


Sebelum pergi menemuinya, dia pergi ke Castalia mansion. Setelah keluar dari taksi, Arya melihat rumah itu masih bersih dan terawat. Dia berjalan-jalan di sekitar rumah itu. Ditempat itulah mereka sudah bertengkar hebat gara-gara masalah cinta yang berujung pada kejadian tragis. Setelah merasa puas melihat-lihat, kemudian dia pergi. Ditengah perjalanan dia membeli satu buket mawar merah.


Taksi yang membawanya berhenti di halaman gereja yang sudah terlihat tua . Dindingnya hampir dipenuhi oleh lumut. Shiori berjalan memasuki halaman gereja tersebut. Di sana terlihat pengurus kebun sedang sibuk menanam beberapa pohon dan juga bunga. Dia berjalan ke halaman belakang ,lalu dia berhenti didepan sebuah batu nisan bertuliskan Fabian Baskerville. Arya meletakan bunga mawar merah.


Arya tersenyum dipaksakan.’’Maaf aku baru datang ke sini, kau tahu aku sangat sibuk. Aku juga ke sini untuk meminta maaf padamu. Meskipun sudah berkali-kali aku meminta maaf itu seperti belum cukup,  mungkin, karena aku sudah sangat bersalah kepadamu. Aku sudah membuatmu sangat sedih."


Butiran air mata perlahan-lahan berjatuhan. "Setelah kecelakaan yang menimpamu seiiring dengan berlalunya waktu, aku mulai mengerti kalau aku tidak benar-benar mencintaimu. Aku hanya terobesi olehmu dan rasa keinginan yang besar untuk memilikimu, karena aku benar-benar sudah menemukan cinta yang sesungguhnya dalam hidupku, yaitu Rafael. Aku sangat mencintainya. Dia selalu ada disisiku dan menghiburku. Lama kelamaan aku jadi jatuh cinta kepadanya.


Dia sudah membukakan hatiku siapa orang yang aku cintai. Aku sangat berterima kasih kepadanya. Tapi sekarang dia sudah pergi meninggalkan aku. Apa kamu sudah bertemu dengannya di alam sana? Aku harap kalian dapat bertemu di sana. Ada satu lagi yang harus aku akui kepadamu. Sebenarnya aku tidak hamil. Aku sudah membohongimu, karena rasa ingin memilikimu yang begitu besar, akhirnya aku memutuskan dan menanggap kalau aku sedang mengandung anakmu supaya kamu menikah denganku dan berpisah dengan Miya.


Dulu aku benar-benar jahat kepada kalian berdua dan aku sungguh menyesal. Andai saja waktu dapat diulang kembali, aku pasti akan segera memperbaiki kesalahanku. Miya istrimu sudah menyelamatkanku. Istrimu sangat baik dan aku sangat berterima kasih kepadanya. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.


Fabian tolong sampaikan rasa terima kasihku kepadanya. Semoga kalian hidup bahagia di alam sana."


Setelah puas mencurahkan isi hatinya, Arya pun pergi. Dia kembali naik taksi yang sejak dari tadi menunggunya.


Semilir angin musim semi berhembus menguarkan aroma wangi bunga-bunga yang bermekaran sepanjang jalan. Arya terlihat sedikit melamun sambil melihat pemandangan kota dari jendela taksi.


"Fabian. Miya. Semoga kalian hidup bahagia."


🧸🧸🧸


"Ayah,"teriak Clarie dan Jonathan bersamaan.


Mereka berlari ke arah Fabian dan memeluknya. Clarie menangis. "Aku merindukan Ayah."


"Ayah juga merindukan kalian."


Fabian mencium anak-anaknya satu persatu. Fabian juga memeluk dan mengecup kening Raina.


"Kakek,"kata Eloisa.


"Kakek juga merindukanmu."


"Kakek jangan pergi lagi."


"Kakek tidak akan pergi lagi."


Fabian juga memeluk Ayah dan ibunya.


"Aku senang kamu selamat,"kata Andrew.


Rosalie, Ibu Fabian memeluk Fabian sangat erat.


"Maaf sudah membuat Ibu cemas."


"Yang penting sekarang kamu selamat.:


Fabian mengangguk. "Aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian lagi."


" Sekarang kamu ceritakan apa yang sudah terjadi kepadamu selama ini,"kata Gilbert.


"Ceritanya panjang."


"Kami akan mendengarkannya."


7 bulan yang lalu


Fabian menitikkan air matanya. Ingatannya melayang pada kejadian 7 bulan lalu. Saat itu ia terbangun disebuah rumah sakit dan di sampingnya ada orang-orang yang tidak ia kenal sama sekali seorang wanita tua dengan wajah keibuan menatapnya lembut.


"Syukurlah kamu sudah sadar,’’kata ibu itu.


Saat itu dirinya sama sekali belum menyadari apa yang telah terjadi kepadanya, tidak lama berselang ia menyadari tentang kejadian ketika salju longsor yang menimpa dirinya juga istrinya dan Fabian mencari-cari Miya.


"Di mana istriku? Di mana dia? Apa dia baik-baik saja?’’tanyanya dengan penuh kecemasan.


"Tenanglah ! Kamu baru saja tersadar dari tidur panjangmu."


"Apa maksud Anda?’’


"Kamu koma selama 5 bulan."


"Aku koma?’’tanyanya tidak percaya.


"Benar."


"Anda siapa?’’


"Saya Annabel Lynn. Suamiku yang menemukan Anda tidak sadar diantara tumpukan salju dan membawamu ke rumah sakit ini."


"Lalu istriku dimana dia?’’


"Waktu suamiku menemukanmu. Istrimu tidak ada. Suamiku hanya menemukanmu saja."


"Itu tidak mungkin. Aku harus mencarinya sekarang,’’katanya dengan suara panik.

__ADS_1


Fabian berusaha untuk turun dari tempat tidurnya, tapi rasa pusing dikepalanya menyerangnya dan tubuhnya hampir limbung.


"Sebaiknya jangan pergi kemana-mana dulu, kamu baru saja tersadar dan saya rasa tubuhmu masih kaku untuk digerakan. Sebentar lagi dokter datang untuk memeriksamu."


"Tapi aku harus mencari istriku. Aku harus menemukan mereka berdua."


"Saya mengerti perasaanmu, tapi dengan keadaanmu sekarang tidak memungkinkan untuk mencari istri Anda."


"Anda tidak mengerti. Sekarang aku harus mencari mereka,’’teriaknya.


"Bagaimana pun juga Anda harus berada di sini. Anda tidak bisa mencari mereka dengan kondisi tubuhmu seperti. Yang perlu Anda lakukan sekarang adalah menyembuhkan diri dulu baru mencari istri Anda."


Tidak lama kemudian dokter dan beberapa perawat datang. Mau tidak mau Fabian menuruti perkataan wanita tua yang berada dihadapannya. Setelah selesai diperiksa Fabian  berusaha untuk tetap berada ditempat tidur meskipun dirinya telah berada ditempat tidur selama 5 bulan."


Sejak saat itu Fabian menjalani berbagai macam terapi agar tubuhnya dapat bergerak normal kembali.  Dirinya sangat berterima kasih kepada Annabel dan juga suaminya yang sudah menolongnya dan merawatnya selama ia sakit. Fabiab pun sudah diizinkan tinggal di rumahnya. Ia mati-matian supaya ia kembali pulih, karena ia sudah tidak sabar ingin segera mencari Miya.


Setelah melakukan rawat jalan selama hampir sebulan, Fabian dinyatakan sembuh dan tidak perlu melakukan rawat jalan lagi. Dirinya merasa sangat senang. Akhirnya ia akan dapat kembali bertemu dengan Miya dan juga anak-anaknya. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan mereka.


Fabian memutuskan kembali ke mansionnya dan ia sangat kecewa ketika rumah itu terlihat sepi dan tidak ada Miya. Fabian metasa ragu untuk masuk. Ia masih merasa sedih telah berpisah dengan istrinya.Akhirnya ia menghubungi Dani setelah sekian lama tidak bertemu dengan orang kepercayaannya itu. Fabian juga masih ingat betapa terkejutnya Daniel ketika melihat dirinya masih hidup.


"Tuan Fabian, saya tidak percaya Anda masih hidup,’’kata Daniel sambil memandangnya terheran-heran dan tidak percaya.


"Aku masih hidup . Aku sendiri pun tidak percaya kalau aku telah selamat dari bencana itu."


Daniel terlihat sangat senang.


"Aku menyuruhmu untuk menemuimu untuk menanyakan di mana Miya sekarang."


Wajah Daniel terlihat menegang dan wajahnya pucat. Fabian merasa ada yang tidak beres. "Daniel, kenapa kamu diam saja? Kamu tahu kan di mana Miya sekarang."


"Nyonya Miya, dia telah....’’


Daniel menelan ludahnya, ia tidak sanggup mengatakan kalau Miya telah meninggal, karena ia tahu kalau Fabian tahu pasti ia akan benar-benar sangat sedih."


"Daniel,"panggilnya


"Nyonya Miya telah meninggal."


Kata-kata Daniel membuat Fabian cukup membuatnya merasa sesak nafas dan jantungnya berhenti berdetak. Kedua kakinya tidak lagi mampu untuk menahan berat tubuhnya, lalu terjatuh dengan deraian air mata di wajahnya.


"Tuan Fabian, Anda tidak apa-apa?’’tanya Daniel cemas sambil membantunya berdiri kembali. Fabian menatap Daniel."


"Kamu pasti bohongkan? Miya tidak mungkin meninggal, dia tidak mungkin meninggal,’’teriaknya histeris.


"Saya tidak bohong. Nyonya Miya memang sudah meninggal."


"Saya akan mengajak Anda pergi di mana nyonya Miya dimakamkan."


Saat itu juga mereka berdua pergi ke makam Miya dengan perasaan sedih. Sesampainya di gereja tua, Fabian membawanya ke makam Miya dan menunjukkannya kepada Fabian.


Fabian hampir tidak mempercayai penglihatannya ketika membaca ukiran nama yang tertera di batu nisan.


"Ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Miyaaaaaa....’’teriaknya sambil memeluk batu nisan istrinya.


Daniel yang melihatnya dapat merasakan kesedihan bosnya. Fabian masih saja terus menangis sambil memeluk erat batu nisan . Hatinya merasakan kesedihan dan kepedihan yang luar biasa telah kehilangan wanita yang ia sangat cintai, belahan jiwanya. ‘’Kenapa kamu meninggalkanku, sayang, aku sangat membutuhkanmu sekarang. Aku ingin melihat wajahmu dan mendengarkan suaramu. Aku rindu segalanya tentang dirimu. Miyaaa."


"Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku tanpa ada kamu di sisiku? Bawalah aku pergi bersamamu. Hidupku tidak berarti tanpa dirimu."


"Tuan Fabian sudahlah, relakan kematian istri Anda dan jangan katakan kalau Anda ingin mati bersama istri Anda. Ingat sekarang Anda masih mempunyai anak yang membutuhkan Anda."


"Raina, Clarie, Jonathan. Apa mereka baik-baik saja?"


"Mereka baik-baik saja. Mereka sangat sedih kehilangan kalian berdua."


"Aku sangat merindukan mereka."


"Kalau begitu temuilah mereka."


"Aku kan bertemu dengan mereka."


Sentuhan tangan Eloisa pada tangan Fabian menyadarkannya dari ingatan masa lalunya.


"Jadi kamu ditolong oleh salah seorang penduduk?"tanya Andrew.


"Iya Ayah mereka sangat baik kepadaku."


"Ibu senang kamu bertemu dengan orang baik."


"Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan mereka."


"Ayah akan ikut pulang bersama kami, kan?tanya Clarie.


Fabian tersenyum. "Ayah akan lulang dalam waktu dekay. Ayah ingin menenangkan pikiran Ayah dulu."


Clarie terlihay sangat kecewa.


"Ayah janji akan segera pulang."

__ADS_1


"Aku akan menunggu Ayah pulang."


Setelah mereka berbicara cukup panjang, akhirmya mereka kembali ke rumah masing-masing dan Fabian kembali ke apartemennya.


Fabian sedang duduk termenung di ruang tengah sambil memandangi langit-langit apartemennya. Sesekali wajah istrinya terbayang di sana tersenyum lembut.


"Miya sayang, aku benar-benar sangat merindukanmu, kenapa kamu meninggalkanku begitu cepat."


🧸🧸🧸


Dikamarnya Arya merenung berkali-kali tentang Fabian dan Miya. Ia sering bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apa Fabian dan Miya ? Fabiab sudah meninggal, tapi bagaimana kalau dia memang belum meninggal.


Pikiran dan hatinya resah. Ia merasa senang kalau Fabian dan Miya masih hidup. Dengan begitu ia masih mempunyai kesempatan untuk meminta maaf secara langsung padanya dan mengatakan kalau dirinya dulu tidak pernah mengandung anaknya. Arya berusaha untuk memejamkan matanya ditengah kegalauan perasaannya saat ini.


Arya kembali teringat dengan lamaran Rafael. Ia senang pria itu melamarnya, tapi ia menolak lamaran itu, karena ia merasa tidak pantas untuk pria sebaim Rafael. Arya teringat dengan perbuatan masa lalunya yang sudah membunuh Nancy dan mantan kekasihnya.


"Aku tidak bisa menerima lamaranmu."


Rafael nampak kecewa dan sedih. "Tapi kenapa?"


"Karena aku tidak pantas untukmu. Aku wanita jahat dan aku sangat menyesali perbuatanku di masa lalu."


"Apa maksudmu?"


Arya pun menceritakan dengan jujur bahwa ia seorang pembunuh. Rafael sangat terkejut dengan perkataan Arya.


"Aku memang wanita jahat, jadi sebaiknya kamu cari wanita lain saja. Aku memutuskan untuk menyerahkan diri ke polisi. Aku harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanku."


"Jadi kamu sudah menyesali semua perbuatanmu?"


"Iya."


"Aku akan menunggumu."


"Kamu jangan menunggu, karena aku akan dipenjara dalam waktu yang lama. Aku menyerahkan diri setelah semua urusanku selesai."


Rafael memberikan senyuman untuk Arya.


" Aku senang kamu menyesali semua perbuatanmu dan kamu berhak mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupmu agar menjadi lebih baik lagi, jadi aku akan tetap menunggumu."


Arya tersenyum sedih. "Terima kasih."


Rafael memeluk Arya. Ia sangat senang akan ada seseorang yang mencintainya dengan tulus. Arya menitikkan air matanya.


🧸🧸🧸


Arya memutuskan menemui Raina di kediaman Clemonte. Pelayan mempersilahkannya masuk. Arya duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


Sebuah suara mengejutkannya. Selama pagi"


"Pagi!"


"Ini kejutan kamu datang ke sini."


"Maaf kalau kedatanganku menganggamu."


"Tidak apa-apa. Jadi ada apa kamu ingin menemuiku?"


Raut wajah Arya terlihat serius dan seperti ada yang menganggu pikirannya.


Raina menuangkan teh panas dan memberikannya pada Arya."


"Begini Raina, apa selama ini kamu tidak berpikir kalau kemungkinan besar Ayahmu masih hidup."


Raina sedikit terkejut dengan perkataan Arya dan sepertinya Arya belum tahu Ayahnya masih hidup.’’Kenapa kamu bisa berpikir kalau Ayahku masih hidup?’’


"Itu hanya pemikiranku saja."


Raina memandangnya.


‘’Bagaimana menurutmu? Seperti yang kita ketahui kalau mayat Fabian dan Miya tidak pernah ditemukan bukan? Jadi ada kemungkinan kalau Fabian masih hidup dan mungkin saja Miya juga masih hidup."


"Itu entalah. Aku tidak pernah berpikir sampai kesana, jika memang benar Fabian dan Miya masih hidup itu sungguh luar biasa."


"Ayahku masih hidup. Kami baru saja bertemu dengannya kemarin."


" Benarkah?"seru Arya terkejut.


Raina akhirnya menceritakan pertemuannya dengam Ayahnya.


"Aku sangat senang Fabian selamat. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf kepadanya."


"Kamu bisa menemuinya di kantor besok."


"Terima kasih."


Arya kemudian berpamitan pulang dan keesokan harinya, ia pergi menemui Fabian di kantornya. Kedatangan Arya emang sangat tidak disukai Gilbert. Awalnya ia sangat terkejut, tapi pada akhirnya Gilbert mengizinkannya masuk. [ ]

__ADS_1


__ADS_2