
Siang harinya di kantor, Jerome terkejut melihat Wylon, ayah Aine . Ia tidak menyangka pria itu dapat menemukannya di sini setelah ia bertahun-tahun bersembunyi darinya.
Wylon masih memandangi Jerome. Ia tidak percaya menantunya masih hidup.
" Jerome."
" Wylon."
" Apa yang terjadi? Kenapa kamu masih hidup?"
" Aku selamat dari kecelakaan itu."
" Apa? Aku tidak percaya ini. Apa kamu tahu, Aine sangat sedih kamu meninggal dalam kecelakaan mobil."
" Maafkan aku."
" Kami sudah membohongi kami,"serunya marah.
" Aku memang sudah membuat kebohongan dan itu kesalahan terbesarku."
" Kenapa kamu membohongi kami?"
" Aku terpaksa melakukannya, karena Aine tidak bisa memberikan aku seorang anak untuk meneruskan keturunan keluargaku, karena Aine memiliki penyakit jantung, jadi aku merencanakan kecelakaan itu dan pura-pura meninggal, lalu pergi meninggalkan Haiti untuk memulai kehidupan baruku di sini."
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jerome.
" Kamu pantas mendapatkannya. Aku pikir selama ini, kamu adalah menantu yang baik. Ternyata tidak hanya karena demi ambisimu mempunyao seorang anak, kamu tega membohongi dan menyakiti perasaan Aine."
" Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu sekarang tidak ada gunanya. Aine sudah meninggal. Apa kamu tahu sejak kamu pergi meninggalkan, Aine larut dalam kesedihan, bahkan ia tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi. Akhirnya aku memutuskan mengirimnya ke sekolah akting di Los Angeles, karena aku tahu Aine sangat menyukai seni peran dan aku bersyukur keputuskanku tidak salah, Aine sangat menyukai sekolah seni perannya dan selamat saat dia bisa melupakanmu.
Hasil kerja keras Aine membuahkan hasil. Dia menjadi seorang aktris yang cukup terkenal. Aku bangga akan hal itu, tapi ia belum bisa melupakanmu. Aku kadang selalu melihatnya menitikkan air mata saat melihat fotomu."
Ekspresi wajah Wylon berubah menjadi semakin muram. " Meskipun Aine selalu berusaha untuk tersenyum, tapi aku tahu kesedihan hatinya. Sampai akhirnya ia meninggal di apartemennya, karena serangan jantung."
" Sebelum Aine meninggal, ia datang ke sini. Ia tahu aku masih hidup, karena fotoku sudah tersebar di majalah bisnis dan koran, lalu ia datang menemuiku dan Aine sangat marah kepadaku. Akhirnya ia memintaku untuk kembali kepadanya, tapi aku tidak bisa kembali, karena aku sudah menikah lagi."
" Jadi sekarang kamu sudah menikah lagi?"
" Iya dan aku juga sudah memiliki anak."
" Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, yaitu anak. Apa memiliki anak begitu penting untukmu? Sehingga kamu nekat merekayasa kecelakaan mobil dan kamu dianggap telah meninggal?"
" Sangat penting. Seperti yang Anda tahu, akulah satu-satunya keturunan dari keluarga Hunt yang tersisa, jadi aku harus mempunyai anak untuk meneruskan keluargaku."
" Kenapa kamu tidak meminta pisah pada Aine secara baik-baik bukan membohonginya?"
" Aine menolak berpisah denganku. Aku pernah mengatakannya hal ini kepadanya, tapi ia menolaknya."
Wylon memejamkan matanya menahan rasa kesalnya kepada Jerome. " Kamu sungguh pria yang sangat egois hanya memikirkan kepentinganmu sendiri dan tidak memikirkan perasaan Aine."
" Aku benar-benar menyesal."
" Ini perjumpaan terakhir kita. Selamat tinggal!"
Wylon pergi meninggalkan kantor Jerome bersama pelayannya, karena tidak ingin berlama-lama di sini dan hilang kendali untuk mengontrol emosinya yang sudah ada di ujung ubun-ubunnya.
🧸🧸🧸
Pagi harinya seperti biasa Erika pergi ke sekolah, dia berencana untuk mengajukan cuti bekerja beberapa hari untuk menjaga anaknya, karena pengasuhnya tidak bisa menjaganya, karena sedang sakit. Erika sudah berada di depan sekolahnya. Sudah banyak mobil-mobil memasuki halaman sekolah.’’Selamat pagi Bu guru Roberts,"sapa seoarang anak perempuan.
"Valentina,’’serunya.
"Tadi aku lihat Bu guru Roberts terlihat sedang melamun. Apa sedang ada masalah?’’
"Ah tidak ada. Sebaiknya  kita masuk."
Valentina mengangguk. Suara bel sekolah telah dibunyikan.’’ Sampai jumpa lagi, Bu guru!"
Valentina masuk ke kelasnya.
Pada jam istirahat sekolah  Erika memberikan pengumuman pada klub dramanya kalau dia akan cuti dan membuat muridnya bersedih, karena selama beberapa hari tidak ada guru yang mengajari mereka berakting.
"Selama aku pergi kalian teruslah berlatih, aku ingin kalian tampil sebaik mungkin saat festival di sekolah nanti. Apa kalian mengerti?’’
"Kami mengerti,’’jawab mereka bersamaan.
"Sekarang bubarlah." Murid-murid mulai memisahkan diri .
’’Bu guru, " panggil Valentina.
"Ada apa?’’
"Bu guru akan pergi kemana? Apa perginya lama?’’
"Bu guru tidak akan pergi ke mana-mana dan akan segera ke sekolah lagi."
" Aki pasti akan merindukan Bu guru."
"Aku juga."
Erika tersenyum sambil membelai rambut Valentina.
"Sudah saatnya aku pergi. Sampai jumpa, Valentina!’’
"Sampai jumpa Bu guru!’’
🧸🧸🧸
Dua hari kemudian
__ADS_1
Valentina sedang berdiri di depan gerbang sekolahnya menunggu ibunya datang menjemputnya. Gadis kecil itu memasang wajah cemberut, karena ibunya telat datang menjemputnya.
" Ibumu belum datang juga?"tanya Ibu guru.
Valentina menggelengkan kepalanya.
" Kita tunggu ibumu sebentar lagi mungkin di jalanan macet."
Valentina menganggukan kepalanya.
" Ibu guru ke dalam dulu mau mengambil tas."
Valentina yang sudah lelah dan bosan menunggu akhirnya keluar gerbang sekolah berjalan mondar mandir di pinggir jalan. Sesekali kaki kecilnya menendang-nendang batu kerikil.
" Huh. Ibu kemana sih? Datangnya lama sekali,"gumamnya.
Dari arah belakang ada mobil sedan berwarna silver yang melaju dengan kecepatan tinggi dan menyerempet Valentina sampai gadis itu terjatuh dan tak sadarkan diri. Darah merah segar mengalir dengan deras dari kepalanya. Ibu gurunya berteriak histeris dan orang-orang mulai bermunculan untuk menolong.
Tidak lama datang mobil ambulan. Tubuh kecil itu tidak berdaya saat petugas medis membawanya masuk ke mobil." Bertahanlah, sayang, " kata Ibu gurunya. Mobil ambulan itu pergi meninggalkan sekolah Valentina. Suara sirine yang meraung-raung membelah jalanan yang padat.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam terpakir di depan sekolah. Seorang wanita yang terlihat sangat anggun keluar dari mobil untuk menjemput putrinya. Ia datang terlambat, karena jalanan macet. Sekolah sudah sepi dan tidak ada seorang murid pun.
Wanita itu cemas tidak menemukan putrinya di mana pun sampai seorang petugas kebersihan sekolah datang menghampirinya. " Ada yang bisa saya bantu?"
" Aku mencari putriku."
" Siapa nama putri Ibu?"
" Valentina."
" Seharusnya aku datang setengah jam yang lalu, karena ada macet, jadi aku datang terlambat menjemputnya."
Petugas kebersihan itu nampak cemas dan sedih. " Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?"
" Begini tadi ada seorang anak perempuan terserempet mobil dan tidak sadarkan diri."
" Apa?"
Wajah wanita itu nampak pucat seketika. " Sekarang di mana anak itu?"
" Sudah dibawa ke rumah sakit."
Ponsel wanita itu berbunyi, lalu ia menjawabnya. " Iya."
" Saya Liza, ibu guru Valentina. Saya ingin memberitahu bahwa putri ibu mengalami kecelakaan sekarang ada di rumah sakit Morningside."
"Ba-baik. Saya aja akan segera ke sana."
Wanita itu menutup teleponnya dan berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemas menuju mobilnya. Di dalam mobil, ia segera memberitahu suaminya.
" Jalan!"perintahnya pada Lincoln.
🧸🧸🧸
Wanita itu berjalan terburu-buru ke ruang gawat darurat mencari anaknya dengan perasaan gelisah dan panik. Ia kemudian bertemu dengan guru perempuan Valentina yang sedang menunggu di luar ruangan.
" Nyonya Hunt."
" Di mana Valentina?"
" Dokter masih memeriksanya."
" Sebenarnya apa yamg terjadi?"
Liza, wakil kelas Valentina menceritakan kejadian tadi siang saat ada sebuah mobil yang menyerempetnya dan membuat Valentina terluka. Emily terlihat semakin cemas dan bersalah, karena ia datang terlambat untuk menjemput Valentina. Ia tidak ingin terjadi apa-apa kepada putrinya itu, meskipun Valentina bukan anak kandungnya, tapi sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
Pintu ruangan terbuka, Emily dan Liza berdiri menghampiri dokter. " Bagaimana dengan keadaan putriku?"
" Putri Ibu dalam keadaan kritis dan banyak kehilangan darah dan harus segera mendapatkan donor darah, karena persediaan darah yang cocok dengan darah putri Anda sudah habis."
Emily semakin cemas dan tidak ingin kehilangan Valentina. Ia menghambur masuk melihat keadaan putrinya yang terbaring lemah dan masih belum sadar.
" Sayang bangun. Ini Ibu. "
Emily tidak bisa menahan untuk tidak menangis. Perasaan bersalahnya kembali bercokol di dalam hatinya.
" Valentina, anak yang kuat. Dia pasti bisa melewati masa kritisnya."
Seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan pria itu terlihat cemas dan panik melihat putrinya. " Apa yang terjadi dengan putriku?"
" Tenangkan dirimu. Sekarang Valentina dalam keadaan kritis dan kehilangan banyak darah. Kata dokter Valentina harus segera mendapatkan donor darah."
Jerome mendekati dokter. " Aku bersedia mendonorkan darahku."
" Baiklah. Darah putri Anda bergolongan O."
" O?"
" Iya. Apa ada masalah?"
" Golongan darahku A dan istriku B, tapi kenapa golongan darah putriku 0?"
Dokter dan perawat saling pandang dengan wajah bingung. " Tapi golongan darah putri kalian 0. Sebaiknya kalian segera mencari donor. Permisi!"
Pria itu langsung mendekati istrinya untuk meminta penjelasaan. Dokter dan perawat keluar dar ruangan.
" Emily, sebebarnya ada apa ini? Apa Valentina bukan anakku?"
Emily diam dan hanya menangis. Apa yang ia takutkan selama ini akan segera terjadi. Selama ini, ia berusaha untuk nenutupi identitas Valentina yang sebenarnya kepada suaminya.
" Jawab aku," katanya marah.
__ADS_1
" Maafkanku. " Emily memandang takut suaminya yang sudah menasang wajah marah kepadanya. " Se-sebenarnya Valentina bukan anak kita."
"Apa maksudmu?"
" Anak kita sudah meninggal saat dilahirkan."
" Apaa?"teriaknya marah.
" Maafkan aku. Aku terpaksa mencari bayi lain untuk menggantikan anak kita, karena aku tahu, jika kamu tahu bahwa anak kita yang sebenarnya, kamu akan marah padaku dan akan menceraikanku. Aku takut dengan itu."
" Kamu sudah membohongiku selama ini dan ini tidak bisa dimaafkan,"kata Jerome.
" Aku mohom maafkan aku. Aku tahu, aku salah, karena sudah membohongimu selama ini. Aku melakukan ini untuk menyelamatkan pernikahan kita."
" Emily, kamu sudah membuatku benar-benar muak dengan kebohonganmu itu. Aku akan segera mengurus perceraian kita."
Emily menggeleng-gelengkan kepalanya dan wajahnya telah basah oleh air mata. " Kumohon jangan lakukan itu. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku mencintaimu."
" Keputusanku tidak akan berubah."
" Bagaimana dengan Valentina?"
Jerome menatap putrinya yang sekarang bukan putrinya lagi. Rasa sayangnya telah sirna begitu saja sejak ia mengetahui Valentina bukan anaknya.
" Dia bukan anakku dan aku tidak peduli lagi kepadanya. Kalau kamu mau kamu bisa mengurusnya sendiri."
" Apa kamu sudah tidak sayang lagi kepadanya?"
" Tidak."
" Aku tidak percaya ini. Bagaimana mungkin rasa sayangmu kepadanya tidak bersisa sedikit pun. Dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa."
" Aku tidak tahu asal usul anak itu."
" Aku juga tidak tahu, tapi Valentina adalah anak yang baik."
" Jika kita sudah berpisah, kamu boleh mengurusnya, karena aku tidak ingin memiliki anak yang bukan anakku. Setelah anak itu sembuh, kalian harus keluar dari rumahku."
Jerome hendak pergi, tiba-tiba saja Emily jatuh pingsan. Dokter yang memeriksany mengatakan Emily hamil dan membuat mereka terkejut.
" Apa istriku hamil?"
" Benar. Selamat ya, Tuan dan Nyonya Hunt."
Emiliy dan Jerome meninggalkan ruangan. Mereka duduk di luar masih mencerna perkataan dokter tadi. Ia tidak percaya bahwa ia akan hamil lagi.
" Kamu tidak bisa meninggalkanku sekarang, karena aku sekarang sedang hamil."
" Baiklah. Karena kamu hamil, aku tidak jadi bercerai denganmu."
Seketika wajahnya berseri bahagia. " Benarkah? Terima kasih , sayang."
" Tapi ada syaratnya."
Wajah bahagianya langsung menghilang. "Syarat apa?"
" Kita harus menyerahkan Valentina ke orang lain supaya anak itu mendapatkan keluarga yang mau merawatnya."
"Apa? Maksudmu kita membuang Valentina begitu saja. "
"Aku tidak menginginkannya sebagai anakku, karena dia bukan anakku."
Emily terdiam. Ia sudah menyayangi Valentina, tapi ia juga tidak mau kehilangan suaminya dan tidak ingin anak yang sedang dikandungnya kehilangan ayahnya.
" Apa kamu tidak memikirkan perasaan anak itu, jika kita tidak menginginkannya. Pasti Valentina akan sedih."
" Kita serahkan Valentina ke panti asuhan."
" Apa?"
" Ini keputusan yang terbaik. Valentina akan dirawat dengan baik di sana sampai menunggu orangtua yang ingin mengadopsinya."
" Tapi...."
" Jika kamu menolaknya, kita pisah."
Emily tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perkataan suaminya, karena ia belum siap bercerai dan hidup sendirian bersana anak-anaknya nanti. Dengan berat hati, Emily menerima keputusan suaminya, meskipun ia sedih harus berpisah dengan Valentina untuk selamanya. Ia menghapus air matanya yang kembali menetes.
Liza keluar dari ruang perawatan di mana Valentina berada. Ia melihat orangtua Valentina dengan tersenyum, meskipun ia sekarang sudah tahu permasalahan diantara mereka, tapi ia berusaha untuk tidak ikut campur.
" Valentina sudah mendapatkan donor darah."
" Benarkah?"tanya Emily.
" Benar. Semoga setelah ini Valentina akan segera melewati masa kritisnya."
" Siapa yang sudah mendonorkan darahnya."
" Saya. Kebetulan golangan darah saya sama dengan Valentina."
" Terima kasih."
Emily masuk ke kamar dan melihat keadaan Valentina. Ia berharap Valentina segera sembuh, meskipun pada akhirnya, ia tidak akan pernah bersamanya lagi, sedangkan suaminya tidak ingin melihat Valentina sedikit pun dan itu membuat Emily sedih.
Ia mengecup kening Valentina dengan semua kasih sayang yang ia berikan untuknya. " Kamu harus segera sembuh,"gumamnya.
Emily tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Jerome sedang menunggunya di luar. Ia sangat kecewa sekali dengan sikap suaminya yang berubah drastis kepada Valentina setelah ia tahu gadis itu bukan anaknya.
" Ayo kita pulang!"kata Jerome.
Emily mengangguk dan pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. [ ]
__ADS_1