
Arya masih saja tetap berjalan sambil memanggil-manggil nama Fabian. Dalam gerakan cepat Rafael berhasil menangkap Arya.’’Lepaskan aku! Lepaskaaaannn!"
"Aku tidak akan melepaskanmu. Sebaiknya kita pulang saja."
"Tidak mau. Aku harus menemui Fabian."
"Arya, lupakan saja Fabian Dia sama sekali tidak mencintaimu."
Arya memberontak dalam pelukan Rafael.
"Arya Cooke lihatlah aku!’’teriaknya.
Rafael menahan dagu Arya dan memutar wajahnya untuk menatap dirinya.’’Buka mata dan hatimu. Fa-bi-an tidak men-cin-***-mu. Biarkan dia hidup bahagia dengan istri dan anaknya. Jangan pernah menganggu mereka lagi."
"Aku tidak akan pernah membiarkan mereka hidup bahagia sementara aku hidup dalam kesedihan."
PLAK!!
Rafael menampar Arya dengan keras.’’Ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menamparmu."
Arya hanya menatap Rafael dengan penuh kemarahan.
"Ada yang harus kamu tahu. Kalau bukan karena Miya kamu tidak akan berada di sini lagi."
"Apa maksudmu?’’
"Kamu sudah berhutang nyawa pada Miya?’’
"Apaa?"
"Saat kamu pingsan di jalan Miya sudah menolongmu. Saat itu aku melihatmu sedang menyebrang jalan dan kamu pingsan Awalnya aku tidak tahu nama wanita yang sudah menolongmu. Aku baru tahu setelah melihatnya tadi."
"Itu tidak mungkin."
Mata Arya berkaca-kaca.
Tidak jauh dari mereka berada Fabian masih saja mencari keberadaan Miya. Berkali-kali dirinya terjatuh lalu berdiri lagi walaupun tubuhnya sudah mati rasa dan rasa lelah sudah tersirat di wajahnya.
Samar-samar terdengar suara tangisan Miya yang terbawa oleh angin yang berhembus. Fabian segera berjalan ke arah suara tangisan itu.’’Miya, aku datang."
Perlahan-lahan badai salju mulai berhenti dan pemandangan di sekelilingnya mulai terlihat jelas. Sejauh matanya memandang, Fabian belum juga melihat Miya, tapi suara tangisan bayinya terdengar semakin jelas.
"Miya...Miya...kamu dimana?’’
Fabian berlari-lari kecil, dirinya sudah merasa cemas takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa pada Miya.
Dia sudah tidak sanggup jika harus kehilangan orang yang paling berharga dan dicintainya dalam hidupnya. Kedua matanya terbelalak melihat Miya yang terbaring dia atas tumpukan salju tidak jauh darinya. Jantungnya kembali berdetak dua kali lipat lebih kencang.
’’Miyaaaa,’’teriaknya.
Air mata kembali mengalir di wajahnya.’’Miya bangun. Ini aku, Fabian. Sayang bangun. Aku mohon."
Fabian menguncang-guncang tubuh istrinya.’’Bangunlah! Jangan tinggalkan aku. Bukankah kamu sudah pernah berjanji, tidak akan pernah meninggalkanku. Ayo Miya bangunlah!’’
"Fabian."
"Arya, untuk apa kamu ada di sini?’’
"Aku menyusulmu. Maafkan aku . Kejadian ini benar-benar tidak aku harapkan."
"Sebaiknya kita pergi dari sini dan bawa istri Anda pulang,’’saran Rafael.
Masumi mengendong Miya.
"Fabian, maafkan aku. Aku yang salah seharusnya aku tidak pernah datang menemuimu,’’isak Arya penuh penyesalan.’’Aku tidak rela kalau kamu bersamanya dan hidup bahagia, tapi sekarang aku benar-benar menyesalinya. Rafael sudah menyadarkanku kalau kamu hanya mencintai Miya. Aku telah membuat kehidupan rumah tanggamu jadi berantakan. Maafkan aku, Fabian."
Fabian hanya diam dan berjalan sambil mengendong Miya.’’Ayo Arya kita pulang!’’ujar Rafael.
Sepanjang perjalanan menuju rumah tidak ada satu pun yang bicara. Arya dan Rafael sudah berjalan agak jauh di depan Fabian. Tanpa mereka duga tiba-tiba saja terjadi longsor salju. Mereka berempat berusaha menghindarinya, tapi takdir berkata lain meskipun Arya dan Kenji berada didekat longsoran salju, tapi mereka berdua dapat menghindarinya dan selamat. Sementara itu Miya dan Fabian terbawa oleh longsoran salju.
"Fabiaaan...Miyaaaa, "teriak Arya. "Tidaaaak."
Arya jatuh terduduk sambil memeluk erat tubuhnya. Longsor salju baru saja berhenti dan telah mengubur Fabian dan Miya di dalamnya.
"Arya, sebaiknya kita pergi dari sini dan mencari bantuan."
Arya dengan terpaksa meninggalkan tempat kejadian. Angin kembali bertiup dengan kencang dan akhirnya mereka tiba di Castalia mansion, sedangkan Rafael pergi lagi untuk mencari bantuan.‘’ Apa yang terjadi? Ibu dan Ayahku,"kata Raina.
"Mereka berdua terkena longsor salju."
"Apaaaa....’’
Raina jatuh terduduk. Rasa cemas mulai memenuhi dirinya.
"Ibu dan Ayah tidak mungkin meninggal,"teriak Clarie.
Raina cepat-cepat memeluk adiknya dan Clarie menangis dalam pelukan Raina. Jonathan yang mengetahui orangtuanya terkena longsoran salju tidak bisa menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia pun menangis.
__ADS_1
"Waktu itu kami berempat sedang dalam perjalan ke sini, tapi tiba-tiba saja terjadi longsor salju dan mereka berdua tersapu oleh longsoran salju."
’’Aku benar-benar sangat menyesal, seharusnya aku tidak pernah datang kemari. Ini semua salahku."
Raina menatap Arya dengan kesal.’’Apa kamu bilang, kamu menyesal?’’
Arya mengangguk lemah.’’Kamu wanita kurang ajar."
Raina mengangkat tangannya dan bermaksud untuk menamparnya, tapi gerakannya terhenti meskipun dia memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah.
"Andai saja kamu tidak lagi menganggu orangtua kami, semua ini tidak akan terjadi."
"Kamu benar dan kamu pantas marah padaku. Sebenarnya aku tidak hamil."
Raina kembali menatap Arya dengan terkejut.’’Jadi kamu tidak hamil?’’tanyanya tidak percaya.
Arya mengangguk. Raina memejamkan matanya. Ada rasa kesal bercampur marah pada Arya, rasanya dia ingin sekali menjambak rambutnya.
"Aku tahu kau sangat marah, pukul saja aku!’’
"Benar aku ingin sekali memukulmu dan menjambak rambutmu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menahanku untuk tidak melakukannya."
Mereka berdua dikejutkan oleh telepon Arya yang berdering.’’Halo Rafael!’’
"Sekarang aku dan beberapa orang sedang menuju tempat kejadian semoga Miya dan Fabian cepat ditemukan dan mereka baik-baik saja."
"Cepat temukan mereka!"
"Kami pasti dapat menemukan mereka."
"Rafael, hati-hati! Dan jangan lupa terus menghubungiku tentang kabar dari mereka berdua."
"Aku mengerti. Arya, tetaplah tinggal di sana, aku akan segera kembali jika urusan di sini sudah selesai."
"Aku menunggumu."
Baru kali ini Raina merasa dirinya tidak berguna. Hatinya begitu sedih dan pilu ketika memikirkan keadaan orangtuanya. Apa lagi setiap kali Raina memandang Clarie dan Jonathan, hatinya kembali bertambah sedih. Mereka termasuk dirinya akan sangat kasihan jika orang tua mereja meninggal pikir Raina. Ia kemudian membuang pikiran itu jauh-jauh dan menyakinkan dirinya kalau orangtuanya akan baik-baik saja.
4 jam telah beralu masih belum ada kabar. Arya dan Raina sudah terlihat sangat gelisah. Hari sudah semakin sore dan salju kembali turun lagi. Keduanya terlihat berjalan mondar-mandir. Sesekali Arya melihat ke arah luar jendela berharap Rafael muncul dan memberikan kabar baik. Harapannya terkabul, Rafael terlihat dari kejauhan dan dia mulai merasa cemas memikirkan berita apa yang akan disampaikan nanti.
Rafael masuk dan langsung diserbu oleh berbagai pertanyaan dari Arya dan juga Raina.’’Apa orangtuaku sudah ditemukan?’’tanya Raina.
"Apa mereka berdua selamat?’’tanya Arya
"Kalian tenanglah!’’
"Mereka berdua masih belum ditemukan dan sampai sekarang tim penyelamat masih berusaha untuk mencarinya."
Seketika itu mereka semua terlihat sangat lemas dan duduk disofa dengan mata berkaca-kaca. Clarie dan Jonathan semakin menangis dengan kencang.
"Kalian berdoalah semoga mereka cepat ditemukan dan masih dalam keadaan hidup."
Suara Rafael tercekat ketika mengatakan itu.
Hari sudah malam dan para tim penyelamat belum bisa menemukannya . Mereka memutuskan untuk melakukan pencarian besok.
Raina duduk di pinggir jendela sambil melihat langit malam yang begitu kelam yang pernah dilihatnya. Air mata terjatuh tanpa bisa ditahannya. Dirinya sama sekali tidak mau mempercayai kalau suatu hari dia tidak akan pernah bertemu dengan orangtuanya lagi. ’’Ayah. Ibu kembalilah!"
Keesokan harinya tim penyelamat kembali mencari mereka. Kali ini Raina ikut ketempat kejadian. Ia berharap Ibu dan Ayahnya berada diantara tumpukan salju masih dalam keadaan hidup. Raina juga berharap kalau tim penyelamat segera dapat menemukannya. Hatinya harap-harap cemas dan dia kembali dipenuhi oleh pikiran buruk tentang mereka berdua.
Beberapa jam telah berlalu, tapi masih belum ada tanda-tanda tentang keberadaan Miya dan Fabian. Pencarian pun dihentikan, karena hari sudah menjelang malam. Raina merasa tubuhnya membeku, karena seharian dia berada diluar menyaksikan mereka mencari Miya. Saat menjelang tengah malam orangtua Fabian dari Inggris datang.
Hari demi hari telah berlalu Fabian dan Mkya masih belum dapat ditemukan. Akhirnya mereka memutuskan pencarian dan menyatakan mereka berdua telah meninggal. Raina, Clarie, dan Jonatha pun berteriak histeris.’’Tidaaaakkkk....’’
Arya menangis dengan keras. Rasa sesal dirinya semakin membuncah.
"Miya. Fabian. Maafkan aku. Maafkan aku."
Sejak saat itu Arya terus menyalahkan dirinya sendiri dan akhirnya jatuh sakit.
🧸🧸🧸
7 bulan bulan kemudian
Seorang pria berdiri dalam kegelapan di balkon apartemennya sedang melihat langit malam yang bertaburan bintang. Perlahan-lahan air matanya berjatuhan. Rasa sedih yang menyelimuti hatinya tidak kunjung hilang setiap mengingat istri yang sangat dia cintai telah pergi untuk selamanya. Rasa perih yang teramat sangat yang dirasakannya sejak dia bangun dari tidur panjangnya.
’’Maafkan aku sayang. Maafkan."
Pria itu menangis menumpahkan rasa sedihnya yang dia pendam selama ini.’’Tuhan, kenapa Engkau mengambil istriku begitu cepat. Berilah kesempatan padaku untuk memperbaiki semua kesalahanku padanya."
Seseorang menyalakan lampu apartemen dan dia terkejut melihat atasannya menangis dalam kegelapan. Dia sangat mengerti apa yang dirasakan oleh atasannya sekarang ini. Rasa kehilangan yang teramat sangat. " Daniel, apakah itu kau?’’
"Benar Tuan Fabian, ini saya."
Daniel mendekatinya.’’Maaf, sudah menganggu Anda."
"Tidak apa-apa,’’jawabnya. Pandangan matanya mengarah ke keramaian kota di depannya.
__ADS_1
"Saya hanya ingin menyerahkan ini kepada Anda."
"Letakan saja di atas meja, aku akan membacanya nanti."
Daniel meletakan sebuah amplop besar dia atas meja.
"Maaf Tuan Fabian."
"Ada apa lagi?’’
"Mau sampai kapan Anda akan terus bersembunyi seperti ini?’’
"Aku tidak tahu mungkin sampai perasaanku tenang sepenuhnya. Pada waktunya nanti aku akan keluar dari tempat persembunyianku dan menemui anak-anakkku, karena hanya mereka satu-satunya yang aku punya dari Miya."
"Saya mengerti. Permisi!’’
Daniel mematikan kembali lampunya dan meninggalkan Fabian di balkon dalam kegelapan. ‘’Andaikan kamu berada di sini Miya. Aku dan anak-anak sangat membutuhkanmu,’’gumamnya sambil melihat ke atas langit.
Keesokan harinya Fabian memakai kacamata hitam berjalan ke halaman belakang bangunan tua yang masih terlihat keindahannya karena terawat dengan sangat baik. Ditangannya dia membawa setangkai mawar merah untuk di berikan pada wanita yang dicintainya yang pernah menjadi bagian hidupnya.
"Miya, maaf aku baru mengunjungimu sekarang, karena aku butuh banyak keberanian untuk datang ke sini . Ini terlalu sangat menyedihkan untukku, tapi aku akhirnya datang juga kesini, karena aku sudah merindukanmu. Satu hal yang perlu kamu tahu. Aku akan selalu mencintaimu dan cintaku tidak akan pernah layu. Kau juga jangan mencemaskan anak-anak kita. Mereka baik-baik saja meskipun mereka sedih. Pria itu kemudian berdiri dan menatap nisan yang bertuliskan Miya Baskerville.
"Tuan sudah waktunya kita pergi."
"Aku tahu. Biarkan aku berada disini sebentar lagi."
"Saya mengerti."
Pria itu kembali berjongkok dan mengusap-usap batu nisan.’’Sepertinya kamu selalu ada orang yang mengunjungimu ke sini. Aku yakin dia pasti temanmu. Meskipun kamu sudah tidak ada lagi, tapi kamu akan selalu hidup di hati orang-orang yang mencintaimu. Maaf Miya sepertinya aku tidak bisa berada lama-lama disini. Aku harus segera pergi masih ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku akan datang lagi kemari. Sampai jumpa!’’
Pria itu menghapus air matanya .
"Ayo kita pergi dari sini!’’perintahnya pada pria yang berjas coklat.
Mobil yang membawa mereka pun akhirnya pergi. Sebuah mobil yang cukup mewah terpakir di halaman gedung Baskerville Industries. Seorang pria tampan bertubuh tinggi dan memakai kaca mata hitam keluar dari mobil. Seorang penjaga keamanan yang awalnya tidak mengenali pria tersebut akhirnya memekik terkejut.’’Ternyata Anda sudah lama tidak bertemu,’’katanya sambil menunduk hormat.
Disepanjang lorong gedung langkah kaki pria itu begitu cepat sampai suara langkah kakinya terdengar keras . Orang-orang yang berpapasan dengannya sejenak berhenti melangkahkan kakinya untuk memandangi pria itu sebentar. Para pegawai pun berbisik-bisik tapi si pria itu tidak memperdulikannya.
’’Bukankah dia adalah....’’
"Tidak salah salah itu pasti dia. Akhirnya kembali juga setelah sekian lama menghilang."
Semua orang menatapnya dengan rasa penasaran dan menjadi hening setelah kehadirannya muncul di dalam ruangan itu.
🧸🧸🧸
Ponsel Andrew berdering dan panggilan berasal dari Maximilian direktur pengganti Fabian.
"Iya ada apa?"
"Anda harus segera datang ke kantor."
"Apa ada masalah di kantor?"
"Tidak ada hanya saja putra Anda, Fabian tiba-tiba muncul di sini."
"Apaaa? Fabian."
"Benar."
"Aku akan segera ke sana."
Andrew menutup sambungan teleponnya.
"Ada apa kakek?"tanya Jonathan.
"Fabian ada di kantor."
Semua orang yang berada di ruang keluarga terkejut.
"Fabian masih hidup?"tanya Rosalie, ibunya.
"Benar,"jawab Andrew.
"Ayah masih hidup,"kata Clarie. Ia menangis bahagia.
"Aku ingin bertemu dengan Ayah,"kata Raina.
"Aku juga,"kata Jonathan.
"Kita siap-siap menemui Fabian di kantor."
Mereka membubarkan diri dan pergi ke kamar masing-masing.
"Padahal selama ini aku mengira mereka tidak akan selamat dari longsoran salju,"kata Raina."Bahkan kita membuat makam mereka tanpa ada jenazah mereka di dalamnya."
"Nenek juga mengira begitu, tapi syukurlah Fabian baik-baik saja." [ ]
__ADS_1