My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S2): Kebenaran yang tidak terduga


__ADS_3

Hannah membawa kakek Hans dengan kursi roda menuju ruang tamu. Kakeknya sudah sangat tua sejak terakhir ia bertemu dengannya 35 tahun yang lalu. Charlotte langsung memeluk kakeknya dengan penuh kerinduan.


"Kakek."


" Kakek senang bisa bertemu denganmu lagi."


" Aku juga."


Hannah kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Zelda bagaimana kabarmu?"


" Jangan panggil nama itu lagi. Sekarang aku bukan Zelda lagi, tapi Charlotte."


"Baiklah kalau itu maumu."


" Kabarku baik sekarang. Bagaimana kabar kakek?"


"Aku juga baik-baik saja. Sejak kapan kamu berada di Amerika?


" Satu bulan yang lalu. Maaf aku baru bisa menemui kakek sekarang."


" Aku dengar kamu sakit keras dan depresi , sehingga kamu harus menjalani perawatan kejiwaan."


" Aku tidak pernah sakit atau pun depresi. Mereka sudah bicara bohong kepada semua orang tentang keadaanku yang sebenarnya."


Charlotte kemudian bercerita kepadanya apa yang terjadi.


" Jadi selama ini kamu dipenjara?"


"Iya. Michael dan Lewis, paman Joseph ingin merebut tahta dari tangan Joseph. Aku yakin merekalah yang sudah membunuh suamiku seolah-olah itu sebush kecelakaan."


"Mereka sungguh keterlaluan."


" Akhirnya aku bisa melarikan diri dari mereka."


" Jadi selama ini kamu tinggal di mana?"


" Aku tinggal bersama Fabian dan anak-anaknya. Mereka selalu menerimaku dengan baik."


"Mereka memang keluarga yang baik. Ibumu beruntung mempunyai saudara sebaik mereka."


"Kakek benar."


" Apa kamu sudah menemukan titik terang tentang keberadaan anakmu?"


" Sayangnya belum. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana."


"Kakek yakin anakmu akan segera ditemukan dan mengembalikan haknya sebagai calon Raja."


" Itu rencanaku."


Kakek Hans menggenggam tangan Charlotte. Mata tuanya menatap cucunya dengan pandangan sedih.


"Kakek senang kamu selamat."


"Iya. Oh ya bagaimana ceritanya Hannah bisa menjadi cucu angkat kakek?"


" Hannah anak yatim piatu. Kakek bertemu dengannya di jalan sedang berjualan bunga. Dia wanita yang baik dan kakek kasihan kepadanya, jadi kakek mengangkat dia sebagai cucuku."


"Sepertinya Hannah sangat menyayangi kakek."


" Hannah menamg tulus menyayangi kakek."


" Aku turut senang mendengarnya. Ada seseorang yang merawat kakek, sehingga kakek tidak sendirian lagi."


"Iya. Kakek ingin bicara sesuatu dengannu tentang saudara kembarmu, Charlotte."


" Tentang apa?"


"Antar kakek ke kamar."


Chatlotte mendorong kursi roda menuju kamar kakeknya.


" Tutup pintunya."


Charlotte menutup pintunya. Kakek Hans menyerahjan sebuah buku bersampul kulit merah kepada Charlotte.


" Apa ini?"tanyanya bingung.


" Bacalah!"


Charlotte duduk di tepi tempar tidur dan mulai membaca. Berkali-kali Kakek Hans melihat ekspresi terkejut dari wajah cucunya.


" Ini tidak mungkin."


"Awalnya kakek juga tidak percaya."


" Ini tidak mungkin kalau Charlotte memiliki niat jahat terhadapku. Kami berdua saling menyayangi. "


"Kakek tahu kamu pasti terkejut dengan kebenaran tentang saudara kembarmu."


"Aku tidak mengerti. Kenapa dia sampai punya pikiran jahat seperti itu?"


" Karena Charlotte takut Joseph lebih memilihmu, karena Joseph jatuh cinta kepada wanita yang sudah menolongnya, yaitu kamu."


" Tapi Charlotte sudah menyelamatkan nyawaku saat kebakaran itu."


"Bacalah halaman terakhir."


Chatlotte cepat-cepat membuka halaman terakhir dan membacanya.


Rencanaku sepertinya berhasil. Villa sudah mulai terbakar. Aku mendengar Fabian berteriak-teriak memanggil kami. Aku sebenarnya sayang dengan Zelda, tapi aku tidak ingin ia merebut Joseph dariku. Kenapa Zelda harus mencintai pria yang sama denganku?


Aku akan mendorong Zelda ke api seolah-olah itu sebuah kecelakaan. Aku sedih harus melakukan ini, karena dia saudara kembarku.


Aku mendengar Zelda mengetuk pintu sambil memanggil namaku berulang kali. Ia membuka pintu kamar dan aku pura-pura tidur.


"Aku tidak percaya ini. Charlotte sudah merencanakan untuk membunuhku."

__ADS_1


Charlotte memeluk tubuhnya dan merasa merinding, lalu Hans memberikan sebuah Flash Disk kepadanya.


" Apa ini?"


" Itu berisi rekaman CCTV dan di dalamnya ada rekaman saat kalian mencoba menyelamatkan diri. Rekaman ini selamat dari kebakaran, karena ruangan monitor berada di ruang bawah tanah dan api tidak sempat membakarnya."


Charlotte mengambilnya dari tangan Kakek Hans, lalu memasukkan ke ponselnya. Ia melihat dirinya dan Charlotte berada di lorong lantai 2 di dekat kamar mereka. Asap yang tebal menghalangi mereka berdua. Charlotte terhenyak. Ia tidak percaya apa yang dilihatnya.


Charlotte mellihat ke atas dan ia tersenyum, lalu ia bermaksud mendorong Zelda agar Zelda terkena balok kayu akan jatuh, tapi Charlottelah yang kena, karena pada saat ia akan menghindar, kakinya tersandung pakaisn tidurnya akhirnya Charlottelah yan tertimpa balok itu.


" Kamu sudah tahu kebenarannya sekarang. Saat itu Charlotte tidak berusaha menyelamatkanmu, tapi hendak membunuhmu, tapi ia sendiri yang terkena balok itu."


" Aku tidak percaya kalau dia akan setega itu kepadaku. Aku sangat menyayanginya, tapi sepertinya dia tidak sayang padaku."


Charlotte menangis.


" Kamu harus memaafkannya."


" Aku memaafkannya. Seharusnya aku tidak menuruti kata-katanya untuk menjadi dirinya. Aku tidak tahu kenapa ia ingin aku menjadi Charlotte menggantikan dirinya."


"Entahlah. Kakek juga tidak tahu."


Charlotte menghapus air matanya.


" Apa aku harus mengaku kepada semua orang kalau aku sebenarnya adalah Zelda?"


" Apa itu ada gunanya sekarang setelag kamu menjadi Charlotte selama 35 tahun?"


"Entahlah. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri."


" Kamu memang sudah menjadi dirimu sendiri hanya namamu saja yg diganti."


" Kakek benar. Apa ada orang lain yang melihat rekaman ini?"


" Tidak ada. Waktu itu polisi sempat memeriksa ruangan bawah tanah, tapi kakek sudah menyelamatkan rekaman itu."


"Sebaiknya aku hapus ini. "


"Itu terserah kamu saja."


" Biarlah orang mengenang Charlotte sebagai pahlawan, karena telah menyelamatkan saudara kembarnya bukan seorang pembunuh."


Hannah mengetuk pintu kamar.


" Masuk!"


" Makan siang telah siap."


" Kami akan segera ke sana," kata Hans.


Hannah kembali menutup pintu. Charlotte menggenggam tangannya lagi.


" Ini akan menjado rahasia kita berdua. Soal rekaman itu."


" Baiklah."


💔💔💔


Raina mencoba membersihkan sarang laba-laba di atas gorden kamarnya. Tanpa sengaja Raina menarik gorden hingga terlepas dan rel gorden ikut terlepas. Ia keluar kamar untuk mencari bantuan, tapi beberapa pelayan laki-laki sedang sibuk dengan pekerjaannya mading-masing. Ia pun mencari Owen, kepala pelayan tapi Owen tidak ditemukan di mana pun.


" Apa kalian melihat Owen?"tanya Raina kepada semua pelayan dapur.


" Kami tidak melihatnya," kata salah seorang pelayan.


" Baik. Terima kasih."


Raina mencarinya ke berbagai ruangan, tapi tidak ada.


" Kemana Owen pergi?"gumam Raina. Ia pun memutuskan mencarinya di kamar.


Raina mengetuk pintu. "Owen ini aku, Raina. Apa kamu ada di dalam?"


Tidak ada jawaban dari Owen. Sekali lagi Raina mengetuk pintu dan memanggil namanya masih tidak ada jawaban. Raina membuka kamarnya dan kosong. Owen tidak ada di kamar.


Raina masuk ke kamar Owen dan mengetuk pintu kamar mandi. Pelayan itu tidak ada di sana. Ia memutuskan mencari ke tempat lainnya. Sebelum keluar kamar, Raina melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


Laci meja tulis terbuka dan Raina bermaksud menutupnya kembali, tapi tangannya terhenti melihat secarik kertas yang keluar dari tumpukan barang. Ia seperti mengenal warna pink kertas itu yang sudah agak menguning. Warnanya sama dengan jurnal ayahnya Leonard. Raina mengambilnya dan ia terkejut melihat tulisan di kertas itu.


Owen Rockfield.


Raina menutup mulutnya. " Ini tidak mungkin."


Raina berlari keluar dan pergi ke kamarnya untuk mencocokan sobekan kertas itu dengan sobekan kertas jurnal Andrew dan hasilnya cocok. Sekali lagi Raina membaca.


Pelakunya adalah Owen Rockfield


Raina cepat-cepat menelepon suaminya yang sedang memeriksa perkebunan.


" Cepatlah pulang! Ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu."


Raina memutuskan sambungan teleponnya dan menunggu suaminya di kamar dengan perasaan gelisah. Tidak lama kemudian Leonard datang.


"Ada apa?"


Raina langsung menyerahkan sobekan kertas itu kepada suaminya.


" Apa ini?"


" Itu sobekan jurnal ayahmu dan nama pelakubya tertulis di sana."


Leonard melihat tulisan itu. " Owen Rockfield."


"Dia yang sudah membunuh Leonard."


" Itu tidak mungkin. Owen adalah salah satu pelayan setia keluarga Clemonte."


" Aku tahu kebenaran yang tak terduga ini membuat kita sangat terkejut."


" Tapi apa motif Owen untuk melakukan kejahatan itu?"

__ADS_1


" Aku tidak tahu sebaiknya kita tanyakan saja kepadanya, tapi aku tidak tahu di mana dia, tadi aku mencarinya, tapi tidak ketemu."


" Tadi aku menyuruh Owen untuk membeli benih tanaman."


" Pantas saja dia tidak ada di sini."


" Dari mana kamu dapatkan ini?"


" Dari kamarnya. Tadi aku mencari Owen ke kamar untuk meminta bantuannya untuk membetulkan gorden yang lepas, lalu tak sengaja aku menemukan ini di laci meja tulisnya yang terbuka."


" Kita tunggu Owen pulang dan dia harus menjelaskan semuanya. Aku tidak percaya ini. Owen adalah pria baik."


" Aku tahu. Pasti kamu sangat kecewa."


Setelah satu jam menunggu Owen pun kembali. Leonard langsung mengajaknya ke ruang kerja.


" Ada apa Tuan?"


" Bisa kamu jelaskan tentang ini," kata Leonard dengan nada tinggi sambil menunjukkan sobekan kertas. Wajah Owen menjadi kaku.


" Dari mana Tuan mendapatkan ini?"


" Itu tidak penting dari mana aku mendapatkannya. Sekarang jelaskan kepadaku kenapa kamu membunuh Leonard?"


" Baiklah. Aku akan menjelaskannya kepada Anda."


" Aku menunggu."


"Apa alasannmu membunuh Leonard?"tanya Raina.


" Untuk balas dendam pada Tuan Andrew."


" Balas dendam apa?"tanya Raina.


" Ini berawal 40 tahun yang lalu. Tuan Andre telah menabrak anak laki-lakiku satu-satunya yang berusia 11 tahun sampai meninggal. Dia tidak mendapatkan hukuman apa pun, karena tidak terbukti bersalah akan kecelakaan itu. Anakkulah yang disalahkan," geram Owen penuh kemarahan.


" Lanjutkan ceritamu," kata Leonard.


" Saat itu saya sangat membencinya dan ingin membalas dendam, tapi saya tidak tahu bagaimana caranya waktu itu. Saya pasrah dan berusahan untuk melupakannya. Setelah bertahun-tahun, saya kembali bertemu dengannya secara tidak sengaja di pusat perbelanjaan bersama dengan istri dan anak laki-lakinya. Mereka begitu bahagia dan rasa aakit hatiku kepadanya mulai muncul lagi.


Saya mencoba melamar pekerjaan untuk menjadi pelayan di keluarga Clemonte dan saya diterima. Kerja saya sebagai pelayan sangat bagus dan akhirnya diangkat jadi kepala pelayan dan aku menjadi orang tersekat dan kepercayaan Tuan Andrew.


Akhirnya kesempatsn untuk balas dendam pun tiba. Tuan Andre dan Nyonya Silvia pergi ke Afrika untuk urusan bisnis. Aku memancing Tuan Leonard ke danau untuk naik perahu yang sudah aku rusak untuk mengambil mainan mobilnya yang ada di danau. Anak itu tanpa curiga naik perahu dan ditengah danah perahu mulai tenggelam."


" Kamu tega sekali menghilangkan nyawa anak yang tidak bersalah."


" Aku ingin membuat Tuan dan Nyonya sedih dan menderita, karena telah kehilangan anak mereka seperti yang aku rasakan, tapi Tuan William mempunyai ide gila mencari anak untuk menggantikan posisi Leonard."


" Pada akhirnya ayahku tahu kalau aku bukan anaknya, karena mendengar pembicaraan ayah dan adiknya."


" Itu sebabnya Tuan Andre menyelidiki kematian Leonard dan mengetahui aku yang membunuhnya. Ia mendatangi saya untuk mengakui semua perbuatan saya dan saya pun mengakuinya di hadapannya. Ia bermaksud untuk membawaku ke kantor polisi, tapi sebelum ia sempat melakukannya ia terkena serangan jantung dan meninggal. Saya melihat jurnal Tuan Andre dan aku merobek kertas yang bertuliskan namaku."


" Aku benar-benar sangat kecewa kepadamu,"sesal Leonard.


" Maafkan aku Tuan Leonard. Aku juga menyesal sudah melakukannya. Sekarang terserah Anda, jika Anda mau melaporkan saya ke polisi."


" Kamu memang harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Kamu adalah pelayan yang baik dan setia, tapi kamu sudah membuat kesalahan besar dalam hidupmu."


" Saya tahu. Sekarang aku sudah siap untuk bertanggung jawab atas perbuatanku."


" Bagus. Apa ada yang ingin kamu katakan lagi?"


Owen terdiam memandang Leonard dan Raina.


" Saya senang bisa bekerja kepada Anda selama ini dan saya juga sayang kepada Anda seperti anakku sendiri."


" Aku tahu kamu sebenarnya baik, tapi kebencian yang sudah membutakan hatimu. Aku pernah ada di posisimu, tapi Raina menyelamatkanku dari kebencianku kepada wanita yang sudah membunuh Oliver."


" Mengenai Tuan Oliver ada satu hal yang perlu Anda ketahui."


" Apa?"


" Tuan Oliver sebenarnya sudah meninggal."


" Aku tahu dia sudah meninggal."


" Maksud saya bukan itu."


Leonard dan Raina memandang Owen dengan tatapan bingung.


" Tuan Oliver sudah meninggal sejak dilahirkan."


" Apaaa?"seru Leonard dan Raina terkejut.


" Itu rahasia terbesar saya dan Tuan Andre. Nyonya Silvia melahirkan dan bayinya meninggal saat dilahirkan. Saya dan Tuan Andre memberikan bayi yang diambil dari panti asuhan supaya Ibu Anda tidak bersedih."


" Ya Tuhan,"seru Leonard.


" Nyonya Silvia tidak tahu apa-apa."


"Awalnya saya tidak setuju, tapi Tuan Andre memaksaku untuk mencari bayi laki-laki secepatnya sebelum Nyonya Silvia dipertemukan dengan bayinya. Tuan Andre selalu memberi alasan kepada Ibu Anda kalau bayinya masih lemah dan dalam perawatan."


" Kasihan Ibu."


" Akhirnya aku mendapatkan bayi itu dan setelah Nyonya Silvia melihatnya, ia sangat senang, meskipun hanya satu bulan bersama dengan bayinya."


"Terima kasih kamu mau mengakui semuanya kepadaku."


Tidak lama kemuduan polisi datang untuk membawa Owen. Seluruh pelayan dan para pekerja perkebunan tidak percaya kalau Owen sudah membunuh seorang anak dan membuat mereka terkejut.


Terdengar bisik-bisik para pelayan. " Owen sangat baik tidak mungkin seorang pembunuh."


" Owen seorang pembunuh, aku tidak percaya."


" Kasihan Owen. Aku harap dia akan baik-baik saja."


" Kalau benar ia sudah membunuh, Owen harus bertanggung jawab."


Itulah bisikan-bisikan yang didengar Raina ketika polisi menangkapnya. [ ]

__ADS_1


__ADS_2