
"Fabian, bagaimana kalau kita naik perahu?’’tanya Clarissa.
"Maaf Clarissa. Aku sedang tidak ingin berperahu. Kalau kamu mau kamu bisa mengajak Gilbert."
Fabian melihat Gilbert yang sedang mendekat kemari.
"Hei Gil, Clarissa ingin naik perahu. Bisakah kamu menemaninya?’’
"Tentu saja. Ayo Clarissa,’’kata Gilbert sambil menarik lengannya.
Fabian mengedipkan sebelah matanya pada Gilbert. Setelah Gilbert dan Clarissa hilang dari hadapannya, Fabian berjalan-jalan di sekitar danau sendirian dan bunga-bunga wisteria berguguran. Di bawah pohon wisteria terlihat anak perempun yang sedang menangis. Wajahnya di berada diantara kedua kakinya. Fabian mendekatinya.
"Kamu tidak apa-apa?’’
Anak perempuan itu mengangkat wajahnya dan menatap Fabian dengan wajah bersimbah air mata.
"Kakak kancing seragam sekolah."
"Eehh...’’
"Kakak tidak ingat aku. Kakak memberikan aku kancing seragam sekolah."
"Ah..rupanya kamu. Maaf aku tidak mengenalmu karena waktu itu kamu memakai topi. Lalu kenapa kamu menangis sendirian di sini? Mana ibumu? Dan kenapa kamu bisa ada di Jepang?"
"Aku terjatuh dan kakiku berdarah. Aku dan keluargaku tinggal di Tokyo. Aku dan orangtuaku sedang liburan di sini."
Ana perempuan itu memperlihatkan kakinya yang berdarah pada Fabian.
"Lukanya tidak terlalu parah, tapi kamu harus segera diobati supaya tidak terkena infeksi."
Fabian mengeluarkan sapu tangannya untuk menutupi luka anak kecil itu dan mencari tempat duduk yang kosong. Ia melihat sebuah bangku kosong yang tidak jauh dari mereka berada.
"Anak manis, kamu duduk di sini dulu jangan pergi kemana-mana. Aku akan membeli obat untuk mengobati lukamu.:
"Mmmm...baik."
Fabian segera lari menuju apotik terdekat dan tidak lama membawa beberapa obat. Ia duduk di samping anak kecil itu dan mulai membersihkan lukanya.
"AAWWWW."
"Sakit ya?"
Gadis kecil itu menganggukan kepalanya dan Fabian tersenyum lembut kepadanya.
"Tahan sedikit . Sebentar lagi selesai."
Gadis kecil itu meringis kesakitan sementara Fabian tetap fokus mengobati lukanya.
"Sudah selesai. Sekarang kamu sudah tidak apa-apa,’’kata Fabian sambil mengusap-usap kepalanya.
"Terima kasih."
"Apa yang kamu lakukan di sini?’’
"Aku sedang jalan-jalan."
"Lalu ibumu?’’
"Ibu ada di hotel sedang tidur, karena kelelahan dalam perjalanan kesini, jadi aku jalan-jalan sendirian di sini, sedangkan Ayahku sedang mengunjungi temannya. Tempat aku menginap tidak jauh dari sini."
Fabian melihat ada sebuah toko es krim di seberang jalan.
"Kamu mau makan es krim bersama denganku di sana?’’
"Kakak mau membelikan aku es krim?’’
"Tentu saja."
Fabian dan gadis kecil pergi membeli es krim dan gadis kecil itu terlihat sangat senang. Ia berpikir kalau gadis kecil ini sangat menggemaskan dan dihatinya muncul keinginan untuk memiliki seorang adik perempuan, tapi hal itu tidak mungkin dapat terwujud.
Setelah selesai makan es krim Fabian dan gadis itu berjalan-jalan kembali disekitar danau dan mereka melihat sebuah rumah kayu berlantai dua yang sangat indah dan juga nyaman. Halaman rumah itu dikelilingi oleh bunga lavender dan mereka berdua dapat mencium aroma harum dari bunga itu.
Di depan rumah itu ada sebuah ayunan dan gadis kecil itu duduk di ayunan. Fabian mendorong ayunan itu. Gadis kecil itu tertawa sangat keras dan Fabian juga kelihatan sangat senang.
💔💔💔
"Kalian kelihatan sangat gembira sekali,’’kata seorang pria setengah baya.
Fabian dan gadis kecil itu terkejut. Fabian menghentikan ayunannya.
"Maaf. Seharusnya aku minta izin terlebih dahulu untuk menggunakan ayunan ini,’’kata Fabian.
"Tidak perlu minta izin kalian boleh menggunakannya. Ayunan itu dipakai oleh siapa saja yang mau."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Adikmu sangat lucu dan cantik."
"Dia bukan adikku."
"Eh , bukan adik? Lalu?’’
"Kami hanya teman saja."
"Oh begitu. Aku pengurus rumah ini."
"Taman yang sangat bagus. Bunga lavendernya banyak sekali."
"Benar. Pemilik rumah ini sangat menyukai bunga lavender."
"Pemandangan danau dari di sini juga sangat bagus."
"Apa kamu salah satu wisatawan di sini?’’
"Iya. Aku dan teman-teman sekelasku sedang liburan di sini."
"Aaaahhh....’’kata gadis kecil itu dan langsung turun dari ayunan.
"Ada apa?’’ kata Fabian heran.
"Aku harus segera kembali ke hotel pasti ibu khawatir menungguku pulang. Kakak terima kasih sudah mau menolongku dan menemaniku jalan-jalan. Aku tidak akan pernah melupakannya."
Gadis kecil itu langsung berlari tanpa sempat Fabian berkata apa-apa.
"Gadis kecil yang lincah bukan?’’
"Iya."
" Maaf. Aku juga harus segera pergi pasti teman-temanku sedang mencariku."
" Baiklah."
Matahari sudah mulai terbenam dan suasana di danau sudah tampak sepi dan juga agak gelap. Setelah berpamitan langsung menemui teman-temannya yang masih asyik bermain disekitar danau.
" Fabian kamu dari mana saja,’’kata Clarissa.
"Aku jalan-jalan disekitar danau ini dan bertemu dengan gadis kecil yang sangat menyenangkan dan menghabiskan waktu bersama dengannya."
"Gadis kecil,’’tanya Gilbert curiga.
"Iya. Gadis kecil,’’kata Fabian.
Fabian kembali masuk kamar dan berbaring di tempat tidur, lalu dari dalam saku celananya mengeluarkan sebuah jam saku berwarna keemasan. Ia membukanya dan terdengar suara musik mengalun dari jam itu.
"Musik yang indah."
"Hanya mendengar musik ini pikiranku jadi tenang."
"Jam itu sangat bagus. Dari mana kamu dapatkan?’’
"Ini hadiah ulang tahun dari ibuku."
"Sebaiknya kita tidur. Ini sudah larut malam,"kata Gilbert.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.30. Fabian dan Gilbert dikagetkan dengan suara sirene yang meraung-raung dan suara jeritan di atas bukit.
" Fabian, apa yang terjadi?’’
"Aku tidak tahu."
Tidak lama mereka berdua mendengar suara orang yang berlari-lari disepanjang lorong hotel. Fabian dan Gilbert keluar kamar. Di luar hotel sudah banyak orang yang berkumpul dan mereka menunjuk-nunjuk ke arah bukit.
"Fabian, lihat! Mansion itu terbakar."
Api itu menjilati seluruh mansion dan asap tebal hitam telah membumbung di atas langit. Langit malam berubah jadi terang benderang. Suara api terus bergemuruh memecah keheningan langit malam. Api itu menelan seluruh mansion. Meskipun mansion itu berada di atas bukit, tapi mereka masih mendengar suara jeritan yang melengking nyaring diantara gemuruh suara api. Jeritan orang-orang yang terperangkap dalam mansion itu.
Fabian menatap mansion yang terbakar itu tanpa berkedip. Gilbert merangkul lengan Fabian dengan keras.
"Fabian, kamu mendengar suara jeritan itu kan?’’
"Iya. Aku mendengarnya."
"Aku kasihan dengan orang-orang yang terperangkap dalam mansion yang sudah dikelilingi oleh api. Ini seperti mimpi buruk saja. Menurutmu apa yang sebenarnya terjadi di sana?’’
"Aku tidak tahu."
"Anak-anak sebaiknya kalian pergi ke kamar masing-masing. Ini sudah larut malam,’’kata Tuan Johnson kepada murid-muridnya yang sedang menonton kebakaran hebat yang terjadi di mansion."
Dengan perasaan enggan murid-murid mulai masuk ke hotel dan pergi ke kamar masing-masing.
"Aku tidak mengira mansion itu akan terbakar malam ini."
__ADS_1
"Aku juga tadi siang mendengar dari penduduk sini kalau mansion itu dicurigai sebagai tempat melakukan praktek sihir."
"Benarkah? Apa kamu mempercayai dengan cerita penduduk?’’
"Entahlah."
"Sebaiknya kita tidur karena besok pagi kita harus bangun."
💔💔💔
Keesokan paginya semua orang membicarakan tentang kejadian semalam. Kebakaran mansion menjadi berita utama di Los Angeles. Fabian melihat mansion yang kini telah berubah menjadi puing-puing bangunan yang sudah menghitam dan sudah tidak beraturan lagi. Mansion itu telah kehilangan keindahan dan kemegahannya.
Sepanjang jalan orang-orang terus membicarakan tentang kebakaran itu. Menurut orang-orang yang menjadi penyebab kebakaran adalah lilin yang terjatuh.Tapi hati Fabian mengatakan kalau kebakaran itu bukan hanya disebabkan oleh lilin yang terjatuh saja, tapi masih ada penyebab lainnya yang tidak diketahui. Ia memutuskan pergi ke mansion itu sendirian.
Mansion sudah berubah menjadi sangat jelek pilar-pilar kokohnya telah hancur dan sebagian mansion itu sudah tidak mempunyai atap. Fabian terus menatap mansion itu. Kemarin bangunan yang ada di hadapannya masih berdiri dengan kokoh, tapi sekarang sudah hancur. Menurut berita orang yang hangus terbakar di mansion ini ada 5 orang. Tiba-tiba Fabian merinding dan memeluk tubuhnya. Kini mansion ini menyimpan banyak rahasia dan misteri yang tidak terungkap. Kalau dilihat mansion ini memang agak menyeramkan. Angin kencang bertiup. Susana disekitar mansion sangat sepi yang terdengar hanya suara burung gagak . Tiba-tiba bahu Fabian dipegang oleh seseorang.Tubuhnya gemetaran dan perlahan-lahan dia membalikan badan.
‘’Aaaaarrrrggghhh....’’
Fabian terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah.
"Si...si...siapa Anda?’’
"Hi.....hi....hi...hi....Jangan takut anak muda. Aku tidak akan menyakitimu,’’kata nenek tua yang wajahnya agak menyeramkan.
Nenek tua itu memilik hidung yang agak panjang dan dia memakai jubah hitam berkerudung menutupi kepalanya.
"Apa mau Anda?’’
Nenek tua mendekati Fabian dan ia mundur beberapa langkah. Nenek itu tersenyum padanya.
"Ulurkan tanganmu!’’
"Anda mau apa dengan tanganku?’’
"Pokoknya uluran tanganmu. Tenang saja aku tidak akan menyakitimu."
Fabian menatap nenek itu dan perlahan-lahan dia mengulurkan tangannya. Nenek itu langsung memegang tangan Fabian dan ia dapat merasakan tangan nenek itu dingin. Nenek itu terus menatap Fabian dan pandangannya membuatnya takut. Nenek itu mulai melihat-lihat tangan Fabian.
"Beberapa tahun dari sekarang kamu akan dipertemukan dengan jodohmu, yaitu belahan jiwamu, tapi sayang hubungan kalian akan di kelilingi banyak masalah, tapi kalian berdua saling mencintai dan kalian tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena kamu sangat mencintai wanita itu. Kamu juga harus berhati-hati dengan seorang wanita yang akan membuat hidupmu dan hidup wanita yang kamu cintai menderita. Wanita itu sangat jahat. Jadi berhati-hatilah!’’
Nenek itu melepaskan tangan Fabian.
"Pasti kita akan bertemu lagi. Nanti aku yang akan mendatangimu. Sampai jumpa lagi!"
Fabian merasa ketakutan apa lagi terdengar suara burung gagak di sekitar mansion. Ia mengambil langkah seribu. Pertemuannya dengan nenek tua aneh itu tidak pernah disangka olehnya tanpa tidak terasa dia sudah berada di dekat danau.
Fabian kembali berjalan-jalan di tepi danau sambil menikmati bunga Sakura yang bermekaran dan duduk di salah satu bangku yang kosong dan berusaha untuk melupakan kejadian tadi, kemudian matanya melihat ke arah rumah kayu yang berada tidak jauh dari tempat Fabian duduk. Hatinya tergerak untuk pergi ke sana lagi.
Suasana di rumah itu tampak sepi seperti ketika pertama kali datang, kemudian Fabian duduk di ayunan dan kembali teringat dengan gadis kecil yang dijumpainya.
"Apa dia masih ada di sini atau sudah kembali ke Tokyo? Aku merindukan gadis kecil itu."
Fabian kembali mengeluarkan jam sakunya dan mendengarkan musik yang mengalun dari jam itu. Ia menatap danau dan melihat ada seekor anak kucing yang hampir tenggelam di danau. Tanpa pikir panjang Fabian langsung menceburkan diri ke danau. Kucing itu bisa diselamatkan dan ia memegang kucing dengan satu tangan dan berusaha untuk menepi, tapi kedua kakinya tiba-tiba kram. Fabian dan kucing itu hampir tenggelam dan kucing itu sudah mencakar tangan Fabian, karena ketakutan.
Fabian berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tepi pantai, tapi apa daya dia sama sekali tidak bisa bergerak sesekali kepalanya tenggelam dan kembali kepermukaan lalu tenggelam lagi. Ia merasakan tubuhnya sudah sangat lelah ditambah air danau yang sangat dingin. Tubuh Fabian menggigil dan kini dia tidak lagi merasakan tubuhnya. Kucing itu terus mengeong dan Fabian akhirnya melemparkan kucing itu dengan tenaga yang tersisa sampai ke tepi danau, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh akhirnya kucing itu berhasil berada di daratan dengan selamat,karena dirinya sudah merasa sangat lelah akhirnya Fabian tenggelam. Nafasnya terasa sangat sesak.
"Apa aku akan mati ditempat ini?’’
Fabian mulai menutup matanya dan dia sudah kehabisan nafas.Dia samar-samar melihat sinar matahari dari bawah danau dan kesadarannya hampir menghilang. Tiba-tiba ada orang menceburkan diri ke danau dan orang itu mengulurkan tangannya padaku.
Suara jam alarm mengejutkannya.
Hah...hah...hah....hah....hah.....
Fabian mematikan alarm jam dan di tubuhnya berlumuran keringat.
"Ternyata hanya mimpi. Bukan, itu bukan hanya mimpi biasa itu adalah ingatanku di masa lalu bersama-sama dengan teman sekelasku ketika berlibur pada musim semi. Kejadian itu sudah lama dan aku hampir melupakannya."
Fabian melihat Miya, istrinya masih terlelap tidur. Ia tersenyum dan jari-jarinya membelai lembut kening Miya. Apa yang dikatakan nenek tua itu benar. Ternyata nenek itu tidak muncul lagi dihadapannya mungkin nenek itu sudah meninggal," pikir Fabian.
💔💔💔
Sebuah mobil terparkir tidak jauh dari Castalia mansion. Seorang wanita sedang memperhatikan mansion itu.
"Fabian, aku sangat merindukanmu,"gumam wanita itu. " Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu lagi."
Wanita itu menjalankan kembali mobilnya dan menjauh dari Castalia mansion. Suara ponsel wanita itu berdering. Ia menekan tombol menjawab.
" Ada apa?"
" Christopher melarikan diri."
" Apaa? Aku akan segera ke sana."
Wanita itu memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
" Pria tua, kamu menyusahkanku saja," serunya marah. [ ]