
Hari Sabtu yang cerah tepat setelah Miya menyelesaikan makan siangnya, ia membaca pesan balasan dari Isabella.
Apa yang kamu katakan? Fabian tidak mungkin akan membuatku gila. Dia pria baik, jadi kamu jangan mengatai yang macam-macam tentangnya.
Setelah membaca itu Miya mendesah. Isabella pasti tidak akan percaya apa yang akan di katakannya. Baru saja ia akan kembali membalas pesan temannya, Isabella datang dengan wajah cerianya. Dia terlihat sangat cantik dan mengenakan pakaian terbaiknya untuk kencan dengan paman Fabian. Dia juga membawakan beberapa catatan kuliahnya untuk dapat disalin oleh Miya.’’Bagaimana keadaanmu?’’
"Sudah lebih baik. Terima kasih.’’
"Bagaimana penampilanku?’’
Isabella memutar-mutarkan tubuhnya di depan Miya.
"Kau terlihat sangat cantik. Semoga kencanmu nanti menyenangkan."
"Tentu akan sangat menyenangkan. Oh ya nanti Sebastian akan datang berkunjung, tapi aku tidak tahu kapan ia akan datang kemari. Baiklah. Aku akan mencari Fabian sekarang. Sampai jumpa lagi!’’katanya sambil mengirimkan ciuman jauh darinya.
Miya menghela napas panjang. Isabella benar-benar jatuh cinta kepada pamannya dan ia teringat dengan Sebastian. Sepertinya Sebastian harus benar-benar melupakan Isabella dan harus puas menjadi sahabatnya saja.
Tidak lama setelah kepergian Fabian dan Isabella, Sebastian datang dengan membawa sebuket bunga dan juga sekaleng biskuit. Miya mengajak Sebastian berkeliling mansion. Kadang-kadang Miya mencuri kesempatan untuk mencuri pandang ke arah Sebastian untuk melihat ekspresi wajahnya, ketika ia menceritakan soal hubungan pamannya dengan Isabella, tapi yang di dapati Miya hanya ekspresi tidak terbaca darinya.
Miya menjadi merasa bersalah, karena ia tidak bisa membantunya mengenai Isabella. Sebastian pria yang sangat baik seandainya saja ia bisa jatuh cinta kepadanya mungkin akan sangat menyenangkan. Sekarang mereka berada di ruang tamu sambil menikmati teh dan beberapa kue kering di hari menjelang sore hari. Perkataan Sebastian yang tidak di duga membuatnya tersedak.
"Apa kau jatuh cinta kepada pamanmu?’’
Miya langsung menyemburkan air teh yang sedang di minumnya dan membuatnya tersedak. Sebastian terlihat merasa bersalah telah mengajukan pertanyaan itu. "Kau tidak apa-apa?’’
"Aku tidak apa-apa. Sungguh."
"Maaf sudah mengajukan pertanyaan itu."
"Tidak perlu minta maaf dan yang perlu kamu tahu aku tidak jatuh cinta kepadanya. Kenapa kau menanyakan itu? Apa aku terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta?’’
Senyuman samar terulas diwajah Sebastian.’’Tidak hanya saja aku berpikir bagaimana kalau kita mencoba menjalin suatu hubungan khusus. Mungkin suatu hari nanti kita bisa saling mencintai."
"Itu akan sangat menyenangkan, tapi aku tidak bisa. Pasti hatimu juga tidak menginginkannya, bukan? Aku tahu, kau masih sangat mencintai Isabella."
"Kamu wanita yang baik. Seandainya saja aku jatuh cinta kepadamu pasti akan sangat menyenangkan. Tapi sayang kita memang tidak berjodoh." Keduanya tersenyum dan tertawa.
"Kamu tahu aku juga sempat berpikiran yang sama denganmu mengenai ini."
Sebastian menyimpan cangkir tehnya, lalu duduk berdekatan dengan Miya. Tiba-tiba Sebastian merangkul Miya." Terima kasih sudah mau menjadi temanku dan mendengar segala keluh kesahku. Kamu memang teman yang sangat baik. Aku beruntung bisa bertemu denganmu."
"Aku juga."
Tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Kilauan matanya penuh kemarahan menyaksikan keakraban mereka. Tanpa di duga Sebastian langsung di pukul dan terjatuh ke lantai. Keduanya terkejut melihat Fabian berada di sana. Matanya menjadi gelap oleh kemarahan. Fabian menarik kemeja Sebastian untuk berdiri lalu di pukulnya lagi sampai jatuh tersungkur ke lantai.
Miya yang melihat itu menjadi marah dan menampar Fabian.’’Paman ini apa-apaan. Kenapa memukul Sebastian?’’
"Sebaiknya suruh dia pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi,’’ucap Fabian dengan nada suara tinggi dan ia terlihat sangat galak membuat Sebastian ketakutan.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pergi saja."
"Tapi Sebatian….’’
"Aku tidak ingin membuat masalah dengan pamanmu. Aku tahu kenapa dia melakukan ini kepadaku."
Miya hanya menatap bingung Sebastian .’’Nanti aku akan menghubungi lagi." Setelah mengatakan itu Sebastian langsung pergi.
Miya langsung menantap Fabian dengan tatapan marah dan jengkel.’’Sikapmu tadi sungguh tidak sopan. Kenapa paman berada di sini? Bukannya sedang kencan dengan Bella."
"Kami membatalkan kencan kami. Orang tua Bella meneleponnya, karena paman dan bibinya datang dan mereka ingin bertemu dengannya."
Sebelum pergi, Miya menginjak kaki Fabian dengan keras sampai pamannya benar-benar meringis kesakitan.
"Miya, kau….’’
Miya tersenyum puas melihat pamannya sangat kesakitan, lalu ia langsung melarikan diri ke kamarnya.
"Ini sudah kedua kalinya kamu menginjak kakiku,’’teriak Fabian. Ia menjatuhkan diri di kursi sambil mengelus kakinya yang kesakitan. "Sial!’’umpatnya marah. "Ternyata dia berbakat juga menginjak kaki orang. Lihat saja kamu akan membayar semua ini."
♫♫♫♫
Sinar matahari sore terasa hangat ketika Miya membuka pintu jendela kamarnya dan hembusan angin sejuk yang membawa aroma bunga berdesir masuk ke kamarnya. Terdorong oleh godaan untuk menikmati pemandangan di halaman belakang mansion di bawah hangatnya sinar matahari sore, Miya bergegas turun. Kehangatan menyelimuti dirinya ketika ia sudah berada di luar. Gadis itu duduk disebuah bangku taman di bawah pohon wisteria yang sedang berbunga.
Miya tidak menyadari ketika seseorang dari belakang mendekatinya. Ia terlihat tidak senang, ketika Fabian telah duduk di sampingnya. Wajahnya cemberut. Kedatangan pamannya telah menganggu kesenangannya. Tadinya ia ingin menyendiri di sini sambil menikmati hangatnya sinar matahari sore, tapi kehadiran Fabian membuatnya merasa terusik. Huuuhhh…dasar paman. Apa tidak bisa membiarkanku sendirian saja? Kenapa tidak kau urusi saja Isabella pasti dia sangat senang, jika paman selalu bersamanya. Miya mendengus kesal dalam hati.
Fabian menoleh dan melihat Miya mengerucutkan bibirnya dengan pipinya yang merona merah membuatnya gemas ingin mencubit kedua pipinya. Kapan pun Miya selalu terlihat manis bahkan ketika marah atau cemberut seperti ini. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?’’
"Sedang melamun."
"Kalau paman sudah tahu kenapa paman bertanya.’’
Fabian mulai terlihat gemas sekaligus jengkel dengan sikap Miya. Sekarang ia benar-benar ingin mencubit hidungnya dan mencium bibirnya untuk membungkam mulutnya.
Fabian merentangkan kedua tangannya di bangku taman.’’Kamu masih marah padaku?’’
"Iya. Aku masih marah,’’jawabnya ketus. Miya menatap pamannya dengan tatapan jengkel yang terlihat jelas di wajahnya.’’ Kenapa paman tidak bersikap sopan kepada tamuku?’’
"Maksudmu Sebastian?’’
"Iya Sebastian. Tadi paman marah-marah tidak jelas kepadanya." Fabian kembali merasakan marah di dadanya, ketika ia kembali diingatkan lagi tentang kejadian di ruang tamu. Siapa coba yang tidak marah ketika melihat orang yang ia cintai berada dalam pelukan orang lain.
"Karena aku tidak suka dia memelukmu, jadinya aku marah."
"Dasar paman aneh. Kenapa paman harus tidak suka ? Dia itu temanku . Aku tidak marah, ketika melihat paman bermesraan dengan Isabella, memeluknya dan berciuman dengannya. Kenapa juga paman harus marah seperti itu? Kasihan Sebastian pasti dia sangat ketakutan kalau bertemu dengan paman lagi. Pokoknya nanti paman harus minta maaf kepadanya,’’kata Miya dengan bersungut-sungut.
"Baiklah aku akan meminta maaf kalau itu membuatmu merasa senang dan puas."
"Itu bagus. Jadi sekarang apa pendapat paman tentang Isabella? Kalian berdua akhir-akhir ini terlihat sangat akrab."
__ADS_1
"Bella gadis yang cantik dan juga menyenangkan. Aku suka kepadanya."
"Bagus. Pasti Bella akan senang mendengarnya." Tanpa di ketahui sebabnya ada perasaan sedih menyelinap dalam dirinya . Perasaan aneh yang mulai merayapi hatinya tentang paman Fabian. Miya sedikit terkejut mendapati pamannya sedang menatapnya lekat-lekat. Ekspresi wajahnya kembali tidak terbaca. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
‘‘Lalu apa kamu masih mencintai mantan kekasihmu yang bernama Ryusuke?‘‘tanyanya tiba-tiba membuat Miya terkejut dengan pertanyaanya yang tidak di duganya.
Miya langsung memalingkan wajahnya.‘‘Itu bukan urusanmu. Dari mana paman tahu tentang Ryusuke?‘‘tanyanya dengan suara bergetar. Miya terlihat gugup.
‘‘Ibumu yang memberitahuku."
‘‘Ibuku? Haduuuhh...kenapa ibuku harus bercerita soal Ryusuke kepadamu? Ini sungguh menyebalkan."
‘‘Jadi kamu tidak ingin mengatakannya kepadaku?‘‘tanya Fabian dengan kilauan mata jahilnya meskipun di hatinya ia merasa cemburu dengan pria yang bernama Ryusuke itu.
‘‘Sudah kukatakan ini bukan urusanmu lagi pula aku tidak ingin mengingatnya lagi."
‘‘Ternyata kamu memang seseorang yang mudah berpindah ke lain hati rupanya,‘‘kata Fabian dengan wajah yang tiba-tiba berubah dingin.
‘‘Apa maksudmu?‘‘
‘‘Kamu sekarang bukannya menyukai Sebastian, jadi itu sebabnya kamu mudah pindah ke lain hati."
Miya langsung menatap pamannya dengan sangat jengkel.‘‘Aku menyukai Sebastian bukan seperti yang paman pikirkan. Dia temanku. Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya. Haduuuhhh...kenapa juga aku harus menjelaskan semuanya kepada paman." Miya menghela napas panjang. Ia harus pergi dari sini kalau tidak ia bisa bertengkar dengan pamannya. Rencana menikmati matahari sore yang hangat menjadi berantakan .‘‘Sebaiknya aku pergi saja."
Miya tersentak. Tangannya sudah digenggam oleh pamannya. Sebuah senyuman jahil merekah di wajah pamannya yang tampan.‘‘Jangan pergi dulu! Aku belum selesai."Miya mengernyitkan dahinya.
‘‘Mau paman apa?‘‘
Miya menatap curiga pamannya.‘‘ Lepaskan!‘‘
Genggaman tangan Fabian begitu erat dan tatapan matanya membuat Miya gemetar,tidak dapat bicara atau pun bergerak. Ia hanya dapat menatap dalam-dalam mata pamannya. Tanpa disadarinya, bibirnya sudah berada dalam *** Fabian dan tubuhnya sudah berada dalam pelukannya. Miya merasakan tubuhnya mengigil luar biasa dan otaknya tidak sanggup untuk berpikir lagi. Tegang , bingung dan kepanikan yang terasa aneh.
Fabian menciumnya dengan rakus. Di lumatnya bibir gadis itu habis-habisan. Bibir Miya masih tidak merespon, kemudian sengaja Fabian bermain-main dimulut gadis itu untuk menggodanya.Dengan lembut bibirnya membujuk dan memaksa bibir Miya untuk membuka. Miya menyerah pada ciuman panasnya dan membiarkan bibir Fabian membuka bibirnya. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan olehnya untuk mencecapnya merasakan manisnya bibir gadis itu. Fabian kemudian menyelipkan tangannya ke bawah kepala Miya untuk menopangnya. Ciuman itu semakin menenggelamkan Miya dalam lautan gairah dan tanpa di sadarinya bibirnya terus mencari kehangatan disana.
Fabian mengakhiri ciuman itu. Setelah nada peringatan bertalu-talu dikepalanya. Ia ingin sekali menjadikan Miya sebagai miliknya saat ini juga, tapi betapa pun besar keinginannya itu, ia tahu tidak boleh melakukannya, karena Miya adalah wanita baik-baik dan dia pantas mendapatkan yang terbaik. Fabian melonggarkan pelukannya sambil menatapnya dengan matanya masih berkilau penuh gairah.
"Miya….aku….’’
Ibu jari Fabian membelai garis bibir Miya dengan lembut. Sekali lagi ia mengecup bibir Miya dengan sangat lembut seolah takut melukai bibirnya yang terlihat rapuh di matanya.
"Aku tidak percaya ini,’’seru seseorang. Miya dan Fabian langsung menoleh ke arah suara yang berasal dari belakang mereka dan keduanya terkejut mendapati seorang wanita berdiri tidak jauh dari mereka dengan ekspresi wajah terkejut dan tidak percaya.
"Isabella,’’seru Miya dan Fabian bersamaan. Isabella berlalu pergi dengan beruraian air mata. Setelah memberikan tatapan tajam pada Fabian , Miya meninggalkan pria itu berusaha untuk menyusul Isabella sedangkan Fabian hanya berdiri terpaku pada Miya dan Isabella yang menghilang dari balik pintu. Gadis itu merasa sangat menyesal kembali terjerat pesona pamannya dan membuat sedih temannya.
♫♫♫♫
Bandara Narita Tokyo
Suara alunan musik my heart belong to you mengalun merdu di sebuah cafe bandara menemani Ryusuke tengah menikmati kopinya sambil memperhatikan orang-orang yang berjalan melewatinya. Ia tersenyum ,beberapa jam lagi ia akan dapat bertemu dengan Miya dan memintanya kembali untuk menjadi kekasihnya. Ryusuke tahu Miya masih mencintainya mengingat usia hubungan mereka yang cukup lama ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih. Pengumuman pesawat menuju New York telah diumumkan, Ryusuke bergegas pergi.
__ADS_1
Aku akan segera datang Miya. Tunggu aku! [ ]