
Panas terik kota New York segera menyambut Miya ketika ia keluar dari subway. Peluh-peluh keringat mulai bermunculan di keningnya. Udara yang kotor dengan banyak debu berterbangan membuatnya harus menutup hidung. Gedung-gedung pencakar langit terlihat berkilau tertimpa cahaya matahari dan jalanan sangat ramai di penuh orang-orang yang akan melakukan bermacam-macam aktivitas. Ryusuke berdiri tegap di sampingnya, lalu ia tersenyum ketika mendapati Miya sedang memandanginya.
Dia memang pria yang cukup tampan dengan mata coklatnya yang hangat. Miya tersenyum dalam hati mengingat bahwa ia pernah mencintai pria yang ada di sampingnya ini dan akan selalu mengenang kenangan-kenangan manis yang pernah ia lalui bersama dengannya. Ini akan menjadi kencan pertamanya dan terakhir kalinya dengan Ryusuke sejak kedatangannya di New York.
Seandainya saja Ryusuke tidak pernah berselingkuh darinya mungkin saja sampai sekarang mereka masih menjadi sepasang kekasih. Ryusuke mulai berjalan dan Miya mengikutinya dari belakang . Mereka melewati beberapa ruas jalan mulai dari yang ramai sampai yang sepi. Gadis itu terus mengikutinya tanpa protes sampai akhirnya mereka berada di central park yang memiliki banyak pepohonan. Semilir angin sejuk menerpa wajahnya.
Taman kota terlihat sangat ramai pada saat hari libur. Teriakan dan suara tawa anak-anak kecil memenuhi taman kota. Ryusuke mengajaknya duduk disebuah bangku taman yang cukup panjang yang terbuat dari kayu.‘‘Kau tunggu di sini aku akan segera kembali."
Miya begitu senang memperhatikan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Wajahnya memanas dan bersemu merah melihat sepasang kekasih tengah berciuman dan bermesraan diantara pepohonan yang tidak berada jauh darinya. Ia segera memalingkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia tersentak kaget ada seseorang menyentuh bahunya.
"Ryusuke..."
Ryusuke tersenyum manis sambil menyerahkan hot dog panas kepada Miya.‘‘Makanlah! Hot dog ini rasanya sangat enak."
''Terima kasih." Ryusuke duduk di samping Miya sambil menikmati hot dog yang dibelinya.
"Andai saja kita bisa seperti mereka,’’kata Ryusuke sambil menunjuk kepada sepasang kekasih yan terlihat sangat mesra yang sedang duduk di salah satu bangku taman tidak jauh dari tempat mereka duduk.’’Apakah kita tidak bisa benar-benar kembali seperti dulu lagi?’’
"Tidak,’’jawab Miya dengan mantap dengan mulut penuh makanan.
"Katakan yang sejujurnya kepadaku. Apa benar saat ini kamu tidak sedang menyukai seorang pria?’’tanya Ryusuke untuk kesekian kalinya.
Ryusuke menatap tajam Miya menunggu jawaban darinya.
Miya berhenti mengunyah saat bayangan pamannya kembali hadir di benaknya dengan tersenyum lebar dan ada kilatan nakal di matanya. Ia mengeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat mencoba menghilangkan bayangan pamannya dari benaknya. Kenapa pada saat seperti ini tiba-tiba bayangan pamannya memenuhi benaknya umpatnya kesal dalam hati. Miya mengerucutkan bibirnya.
"Tidak ada seorang pria pun. Aku kan sudah mengatakannya berkali-kali kepadamu. Kenapa kaM tanyakan lagi? Apa kamu tidak percaya apa yang aku katakan?’’
"Iya . Aku memang tidak percaya. Dua tahun kita menjalin hubungan dan rasanya tidak mungkin kalau kamu sudah tidak mencintaiku lagi."
"Tapi itu benar. Aku memang tidak mencintaimu lagi. Aku tidak tahu kenapa , tapi rasa cintaku kepadamu menghilang begitu saja seperti asap tanpa bekas."
Ryusuke menghela napas berat dan ekspresinya terlihat sedih bercampur kecewa.’’Aku mengerti. Sepertinya aku tidak punya harapan lagi untuk bisa bersama denganmu lagi. Cepat habiskan hot dogmu. Aku akan mengantarmu pulang."
__ADS_1
♫♫♫♫
Fabian memarkirkan mobilnya dengan mulus di depan restoran. Ia melihat jam tangannya dengan kesal, karena ia sudah datang terlambat 10 menit dari janji yang ditentukan. Ini semua gara-gara pria yang bernama Ryusuke itu. Fabian mendengus kesal, lalu keluar dari mobilnya. Sebelum masuk restoran, ia merapikan jasnya yang sedikit kusut. Seorang pelayan restoran mengantarkannya kepada Patricia yang sedang duduk menunggunya dengan wajah kesal.
"Aku pergi saja,’’seru Patricia kesal.’’ Aku tidak suka dengan orang yang datang tidak tepat waktu. Aku akan menyuruh ayahku untuk membatalkan kontrak kerja sama dengan Baskerville Industries."
"Sebaiknya Anda menunggu sebentar lagi. Pasti tuan Fabian Baskerville akan datang sebentar lagi,’’kata Rebeca sekretaris ayahnya. Patricia dengan malas akhirnya menuruti perkataan Rebeca.
"Maaf atas keterlambatan saya." Patricia segera menoleh ke arah suara yang terdengar berat dan maskulin. Wanita itu terkejut mendapati Fabian yang terlihat luar biasa tampan dengan balutan stelan jas mahal apa lagi ketika Fabian melemparkan senyumannya kepada Patricia membuat wanita itu sedikit gugup dan salah tingkah.
Fabian memperhatikan Patricia. Secara keseluruhan dia adalah wanita yang sangat cantik dengan rambut pirangnya yang sedikit bergelombang dan tubuhnya sangat ramping. Itu wajar karena dia adalah mantan model terkenal di Jerman. Ia sudah berkali-kali melihatnya di berbagai majalah model. Keputusannya untuk berhenti dari dunia modeling membuatnya sedikit terkejut dan Patricia lebih memilih meneruskan usaha ayahnya dalam bisnis perhotelan. Padahal karirnya dalam dunia modeling sedang menanjak.
"Tidak apa-apa. Lain kali Anda jangan datang terlambat lagi,’’jawab Patricia dengan suara ketus.’’Sebaiknya kita mulai saja untuk tanda tangan kontrak kerja sama kita. Pasti Anda sudah membaca semua isi kontraknya, bukan?’’
"Tentu saya sudah membaca semuanya nona Latimer dan saya setuju dengan isi kontraknya."
Fabian dengan cepat mentanda tangani kontraknya dan kemudian menyerahkannya kepada Patricia, lalu mereka bersalaman.’’Semoga kerja sama kita berjalan lancar,’’kata Fabian.
"Tentu. Anda tidak akan menyesal telah bekerja sama dengan kami." Patricia tersenyum manis. "Apa Anda punya waktu sekarang?’’
"Kalau begitu temani saya jalan-jalan sebentar. Anggap saja ini sebagai ganti keterlambatan Anda tuan Baskerville, bagaimana?’’
Fabian menghela napas panjang.’’Baiklah."
Patricia dengan tubuh gemulainya berjalan ke pintu keluar mendahului Fabian.
Miya yang sedang duduk menikmati udara sejuk di tengah-tengah kota besar merasa terusik dengan kehadiran seseorang yang saat ini ingin dihindarinya. Orang itu sedang berbicara dengan seorang wanita yang penampilannya sangat anggun dan elegan. Siapa lagi kalau Bukan Fabian, pamannya. Mereka berdua terlihat sangat akrab dan keberadaan mereka di central park sedikit menjadi pusat perhatian ketika mereka lewat.
Mereka berdua sungguh pasangan yang sangat serasi. Miya merasa kesal melihat keberadaan pamannya bersama seorang wanita asing yang tidak dikenalnya. Kemarin ia baru saja menyatakan cinta kepadanya dan sekarang ia sudah kencan dengan wanita lain. Dasar pria playboy memang tidak bisa dipercaya dan yang paling menyebalkan pamannya juga memiliki kencan di tempat yang sama dengannya. Miya mendengus kesal. Ada perasaan sedih dan kecewa yang menyelusup ke dalam dirinya.
’’Hei, bukankah itu pamanmu,’’seru Ryusuke.’’Wah, pacar pamanmu sangat cantik ya. Bagaimana kalau kita menyapa mereka."
"Aku tidak mau. Kamu saja yang menyapa mereka."
__ADS_1
"Kamu ini kenapa? Apa kamu tidak senang melihat pamanmu di sini?’’
Ryusuke menarik Miya dan mencengkeram lengannya kuat-kuat. Ia merasa tidak suka apa yang dilakukan Ryusuke saat ini.
"Selamat siang tuan Baskerville!’’sapa Ryusuke. Fabian langsung menoleh dan ekspresi wajahnya terkejut melihat Ryusuke dan Miya, tapi dengan cepat ia dapat menguasai rasa keterkejutannya dan terlihat kembali tenang. Fabian berdiri penuh dengan wibawa dan senyuman samar sesaat muncul di wajahnya. Kedua tangannya di silangkan ke belakang.
"Selamat siang! Aku tidak mengira akan bertemu dengan kalian di sini." Fabian memandang Miya dan tatapannya tidak pernah lepas darinya membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Kedua tangan Fabian mengepal dengan kuat di belakang melihat Ryusuke mengenggam tangan Miya.
"Siapa mereka?’’tanya Patricia tiba-tiba membuat Fabian menoleh ke arah wanita di sampingnya.
"Keponakanku dan mantan pacarnya."
Patricia mengangguk mengerti.‘‘Keponakanmu cantik dan manis."
‘‘Terima kasih Patricia. Dia memang cantik dan manis."Fabian memaksakan untuk menyunggingkan senyuman, lalu perhatiannya kembali ke Miya dan Ryusuke.
"Apa kencanmu dengan Ryusuke menyenangkan?’’tanya Fabian dengan mata yang masih menatapnya tajam.
"Sangat menyenangkan. Kami berdua menikmatinya. Bagaimana dengan paman?’’
"Sama denganmu."
"Oh begitu. Sebaiknya kami pergi. Kami tidak ingin menganggu kencan kalian berdua,’’kata Miya.’’Ayo Ryu, kita pergi!"
‘‘Tapi....‘‘
‘‘Ayo Ryu!‘‘
Miya menarik lengan Ryusuke dan membiarkan Ryusuke merangkulnya. Ia sempat melihat ke belakang . Fabian masih terus memandangnya dengan wajah dingin. Miya langsung memalingkan wajahnya.
♫♫♫♫
Miya berdiri di tepi jalan sendirian sambil mendengarkan musik. Ia sedang menunggu Ryusuke yang sedang pergi ke mini market yang terletak diseberang jalan. Jalanan terlihat sangat sepi dan di saat itulah ia melihat Mary Jane berada diseberang jalanan dengan membawa kantung belanjaan. Pelayannya itu menyadari keberadaan Miya, lalu melambaikan tangannya. Setelah lampu berubah menjadi hijau untuk pejalan kaki, Mary Jane cepat-cepat menyebrang jalan, tapi tiba-tiba kantung kresek yang di bawa Mary Jane sobek dan isinya berhamburan keluar. Miya mencoba untuk membantunya sebelum lampu lalu lintas berubah warna lagi. Ia bersyukur jalanan masih sepi dan jarang di lalui oleh kendaraan.
__ADS_1
Mary Jane telah selesai memunguti belanjaannya dan sudah berada di tepi jalan, sedangkan Miya masih berusaha memunguti beberap jeruk yang masih tercecer. Tanpa disadari ada mobil yang melaju sangat kencang dan membuat Miya terkejut. Badannya tidak bisa bergerak untuk menghindar ketika mobil itu semakin mendekat. Tiba-tiba tubuhnya terdorong dengan sangat keras dan Miya tahu ia telah selamat dari tabrakan mobil. Seseorang telah menyelamatkannya. Pandangannya berubah menjadi gelap sebelum ia melihat wajah penolongnya. [ ]