
Isabella dan Fabian saling menatap satu sama lain dan keduanya nampak terkejut. "Apa yang kamu lakukan disini?’’tanya Fabian.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kamu lakukan disini?’’balas Isabella kembali bertanya.
"Tentu saja menjenguk Miya."
"Kau kenal dengannya?’’
Isabella masih memasang ekspresi terkejut dan tidak percaya.
"Dia adalah keponakanku,’’jawab Fabian sambil menatap Miya dengan lembut.’’Lalu kau?’’
"Aku temannya Miya. Aku datang kesini bersama dengan Sebastian. Ini kebetulan sekali. Kamu adalah pamannya Miya,’’serunya senang.
"Iya . Ini memang kebetulan. Aku tidak pernah tahu kamu adalah temannya." Isabella tersenyum, lalu mendekati Fabian. Tanpa di duga gadis itu langsung memeluknya dan Fabian terkejut dengan reaksinya."Bella, kumohon jangan seperti ini." Fabian berusaha melepaskan pelukan gadis itu.
"Ini sungguh luar biasa. Kau dan Miya adalah satu keluarga. Aku belum bisa mempercayainya."Isabella nampak sangat senang dan tatapannya terus melekat pada pria di hadapannya. Suara berdeham membuat keduanya menoleh. Sejenak mereka berdua melupakan keberadaan Sebastian di sana. Isabella langsung melepaskan pelukannya dan wajahnya merona malu.
"Maaf. Kalau aku sudah menganggu kesenangan kalian. Aku harus pergi sekarang. Aku lupa ada janji dengan salah seorang temanku yang baru kembali dari Inggris. Apa kau mau ikut pulang bersamaku atau tinggal disini lebih lama lagi?’’ tanya Sebastian.
Isabella terlihat ragu.Ia sebenarnya sudah ada janji juga dengan adiknya dan tidak mungkin untuk membatalkannya lagi. Kalau sampai ia membatalkannya adiknya pasti akan marah besar. ’’Sebaiknya aku pulang saja. Nanti aku akan datang lagi besok." Gadis itu menghadap ke Fabian. "Boleh kan aku datang lagi besok?’’
"Tentu saja. Tidak ada yang melarangmu untuk datang lagi kesini,’’jawab Fabian. Isabella tersenyum lebar.’’Sampai Jumpa!’’ Sebelum pergi ia menyunggingkan senyuman hangat untuk Fabian dan mengecup pipinya.
__ADS_1
Setelah mereka berdua pergi Fabian duduk di kursi di samping tempat tidur menatap diam Miya yang sedang tidur nyenyak. Gadis itu memang godaan terbesarnya yang sulit diabaikan. Garis bibirnya melengkung menyunggingkan sebuah senyuman bahagia. Fabian menelan ludahnya . Saat ini yang ingin dia lakukan adalah memeluk dan menciumnya. Pandangan matanya mengarah ke bibir Miya. Ia belum bisa melupakan rasa bibirnya yang manis sekaligus memabukkan, lalu tiba-tiba bayangan tubuh polos Miya yang menempel di bawah tubuhnya membuat Fabian mengerang frustasi.
Suara pintu terbuka mengejutkannya dan di balik pintu muncul seorang wanita berambut berwarna madu dengan kulitnya yang seputih susu dan wajahnya cantik sekaligus memikat yang menyimpan suatu keanggunan dalam dirinya. Fabian tersenyum senang ketika bertemu pandang dengan wanita itu. Wanita itu adalah Sabrina Caryn ibunya Miya sekaligus kakak sepupunya. ‘’Sabrina,’’seru Fabian. Fabian langsung memeluknya. Wanita itu tidak berubah tetap seperti dulu. Cantik dan sangat anggun. Warna matanya sama dengan Miya, lalu di belakangnya muncul seorang pria sambil menggendong seorang anak kecil. Pria itu adalah ayahnya Miya, Kouki dan anak kecil itu adalah adik laki-lakinya Miya yang bernama Hiroshi.
Mereka terlihat sangat cemas, ketika melihat Miya yang sedang tertidur. Sabrina mencium kening putrinya sambil menitikkan air mata, lalu Fabian menceritakan semua yang terjadi pada mereka. "Maafkan aku. Ini semua, karena kelalaianku . Aku sudah berjanji kepada kalian untuk menjaganya,’’kata Fabian dengan suara penuh penyesalan.
Kouki meletakkan tangannya dipundak Fabian, lalu berkata,’’ Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Kamu sudah baik menjaga Miya selama tinggal di sini."
‘’Ini untuk paman Fabian,’’kata Hiroshi memberikan permen lolipop kepadanya. "Sekarang paman jangan bersedih lagi." Fabian tersenyum.’’Terima kasih Hiro." Hiroshi tersenyum lebar.
♪♪♪♪
Miya sangat senang ketika ia berada kembali di mansion pamannya. Setelah selama satu minggu di rawat di rumah sakit. Ayah dan ibunya juga selalu setia menemaninya selama ia sakit meskipun Miya tahu ayah dan ibunya sibuk . Miya sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat sayang kepadanya. Ditambah lagi perhatian pamannya yang sangat posesif yang kadang membuatnya merasa terganggu. Fabian memperlakukan dirinya seperti barang yang akan pecah.
Hari ini Miya melihat keakraban pamannya dengan Isabella sedang berbicara di halaman belakang rumah melalui jendela kamarnya. Keduanya terlihat sangat senang dan yang membuat Miya terkejut, Isabella tiba-tiba menciumnya. Hal itu membuat Miya shock dan ada perasaan tidak suka yang menyelinap ke dalam dirinya. Ia langsung menjauh dari jendela tidak ingin melihat kemesraan mereka lebih jauh lagi. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan sebentar lagi mungkin akan ada pesta pernikahan.
Isabella adalah wanita yang sangat cantik dan baik. Miya sudah bisa memastikan kalau pamannya sudah mulai menyukai temannya itu. Paman Fabian sudah lama hidup menyendiri sudah saatnya ia untuk menikah kembali dan Miya pikir Isabella adalah wanita yang cocok untuk pamannya. Baru saja ia akan menaiki tempat tidur, Isabella memasuki kamarnya dengan wajah gembira, lalu ia duduk di tepi tempat tidur. "Aku rasa Fabian sudah bisa menerimaku di dekatnya. Ini suatu awal yang bagus, bukan?’’
"Kalau begitu aku ucapkan selamat dan semoga saja paman Fabian tidak membuatmu kesal setengah mati,’’ucap Miya dengan cuek.’’Karena dia selalu bersikap menyebalkan terhadapku."
"Tidak. Fabian tidak pernah membuatku merasa kesal dan bersikap menyebalkan kepadaku. Dia sangat baik , perhatian dan bersikap sopan kepadaku. Kalau aku menikah dengannya. Kita akan menjadi satu keluarga.Pasti itu akan sangat menyenangkan."
"Itu pasti akan menyenangkan dan kau akan menjadi bibiku. Bibi paling muda yang pernah aku miliki."Miya tersenyum geli ketika memikirkan Isabella akan menjadi bibinya suatu hati nanti.
__ADS_1
Isabella tertawa terkekeh.’’ Benar juga dan kau adalah calon keponakanku." Tiba-tiba raut wajah Isabella berubah menjadi muram. "Ini mimpi yang indah kalau menjadi kenyataan, tapi apakah aku akan berhasil membuat Fabian mencintaiku."
Miya mengenggam tangan Isabella dengan lembut.’’Bukannya paman Fabian sungguh sangat menyukaimu. Aku lihat beberapa terakhir ini kalian begitu sangat akrab."
"Itu benar. Kami akhir-akhir ini menjadi semakin akrab, tapi aku belum bisa menempati posisi istimewa di hatinya, karena aku tahu Fabian sedang mencintai seseorang dan aku tidak tahu siapa wanita yang dicintai Fabian saat ini."
Miya mengernyitkan dahi tidak mengerti." Bukannya wanita yang dicintai oleh paman Fabian adalah kamu."
"Bukan aku. Tapi wanita lain. Fabian tidak pernah mengatakan siapa wanita itu." Miya terdiam, lalu ia teringat dengan wanita yang bernama Helena. Apa wanita yang disukai pamannya adalah Helena?Tapi akhir-akhir ini pamannya tidak pernah menyebut nama wanita itu lagi.
"Aku akan mencari tahu tentang wanita yang dicintai oleh paman Fabian."
Mata Isabella berkilat senang. "Sungguh?’’ Miya mengangguk. Isabella langsung memeluk Miya. "Terima kasih. Kamu memang temanku yang paling baik." Kedua sudut mulut Miya terangkat untuk menyunggingkan senyuman tertahan. "Sudah saatnya aku pergi. Hari sudah beranjak sore pasti ayah dan ibuku mengomel lagi soal kunjunganku yang terlalu sering kesini. Menurut mereka aku terlalu agresif mengejar Fabian dan itu tidak baik menurut mereka . Mereka takut kalau Fabian akan merasa takut dengan keagresifanku. Itu adalah alasan terkonyol yang pernah aku dengar .Itu salah mereka menjodohkanku dengan Fabian kalau tidak mungkin aku tidak seagresif ini untuk mendekatinya."
Miya hanya menahan tawanya dan Isabella mengecup keningnya. "Sampai jumpa lagi!’’
Setelah Isabella pergi , Miya bermaksud untuk tidur sebentar sebelum makan malam, tapi ketenangannya terganggu dengan kedatangan Fabian ke kamarnya. Pria itu duduk di pinggir tempat tidurnya sambil tersenyum dan ada kilatan jahil di matanya."Aku ingin memastikan kamu berada di kamarmu,’’kata Fabian dengan suara lembut dan menenangkan.
"Seperti paman lihat aku ada di kamarku dan aku merasa bosan terus-terusan berada disini,’’balas Miya ketus.
"Ini demi kebaikanmu."Fabian lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Miya. Jarak bibir mereka hanya tinggal beberapa senti lagi. Miya berusaha meredakan debaran jantungnya dan tatapan pria itu mengirimkan sensasi getaran asing pada dirinya yang baru pertama kali ia rasakan sekarang. Miya memejamkan matanya ketika Fabian hendak menciumnya, tapi yang dilakukan Fabian hanya mengecup keningnya. "Sekarang istirahatlah!’’
Miya tidak bisa berkata apa-apa lagi dan membenamkan dirinya di bawah selimut. Ia tidak boleh terus-terusan membiarkan pamannya terus menggodanya lagi seperti yang ia lakukan kepada banyak wanita lainnya. Ia tidak boleh terjerat pesona pamannya dan jatuh cinta kepadanya, karena sekarang pamannya telah memiliki Isabella [ ].
__ADS_1