
Fabian dan Miya memutuskan kembali ke kastil, lalu perhatian mereka teralihkan pada pintu gerbang menunuju kastil Baskerville. Pintu itu terbuka dan muncullah sebuah mobil limousine memasuki halaman kastil. Miya begitu antusias melihat siapa yang datang mungkin salah satu anggota keluarga ibunya lagi. Limousine itu sudah terparkir dengan mulus di depan pintu masuk kastil beberapa pelayan sudah berada di sana berbaris dengan rapi menyambut kedatangan seseorang yang sepertinya sangat penting.
Seorang pria keluar dari limousine dan Miya sedikit terkesima oleh ketampanan pria itu. Seorang kepala pelayan menyapanya dan menyebut namanya sebagai tuan Waldgrave.''Apa orang itu paman Joshua?''gumamnya.
Fabian segera menghampirinya dan berbicara dengannya. "Senang bertemu denganmu lagi Joshua.'' Wajah Fabian terlihat sangat senang dan memeluknya. Miya memperhatikan dari kejauhan. Dia memang pria tampan dengan kulit kecoklatan dan memiliki mata turqoise yang sangat tajam. Kalau diperhatikan secara seksama lagi Fabian dan Joshua memiliki kemiripan fisik seperti rambut coklat dengan sulur-sulur keemasan,tulang pipi tinggi, rahang yang kokoh dan tubuh yang atletis. Mereka berdua terlihat seperti kakak adik. Miya mengikuti mereka dari belakang. Joshua menatap tajam ke arah Miya dengan penuh penilaian membuat gadis itu merasa gugup.
"Joshua kenalkan ini Miya keponakan kita,''ujar Fabian. Joshua dengan mata turqoisenya masih menatapnya tajam dan sebuah senyuman tersungging di wajahnya.
"Halo!''sapa Joshua dengan suara berat dan parau. Miya menyambut uluran tangan Joshua yang terasa dingin dan tatapan tajam matanya yang menusuk masih terarah kepadanya. Di sudut bibirnya mengembang sebuah senyuman mengejek masih sambil terus memperhatikan Miya dari atas sampai bawah dan gadis itu merasa seolah-olah Joshua telah menelanjangi dirinya dengan tatapan matanya. Ia merasa risih dan gugup di perhatikan olehnya seperti itu. Ia ingin sekali rasanya berlari ke dalam kamarnya saat ini juga. Panggilan untuk makan siang dari seorang pelayan menyelamatkannya dan Miya dapat bernapas lega telah terbebas dari perhatian tajam Joshua.
Saat makan siang telah selesai, Fabian berdiri. Ia merasa senang sebagian keluarganya telah hadir dan ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi untuk mengumumkan soal hubungannya dengan Miya. ''Ada yang ingin aku katakan kepada kalian.''Semua orang yang ada di sana memperhatikan Fabian dengan serius."Miya sudah resmi menjadi kekasihku dan aku akan segera menikahinya.''Mereka semua terkejut dan menatap Fabian dengan tatapan tidak percaya, lalu tatapan mereka beralih pada Miya. Mulut Blinda terbuka seakan-akan rahangnya akan jatuh begitu juga dengan lainnya sedangkan Joshua dan Adelina hanya tersenyum.
Sementara itu Adelina yang sejak tadi memperhatikan keduanya tersenyum lebar, lalu berkata,''Selamat untuk kalian berdua!''ucapnya.''Kapan kalian akan menikah?''
"Masih belum tahu. Mungkin setelah Miya lulus kuliah. Kami akan bertunangan dulu.''Fabian kembali menatap kekasihnya dengan senyuman lembut .Wajah Miya merona merah sejak dari tadi dan tidak tahu harus berkata apa.
"Selamat nak!''ucap Rosalie .
"Terima kasih, bu.'' Fabian memeluk ibunya.
"Ayah terkejut wanita yang kamu cintai adalah Miya. Ini diluar dugaanku, tapi ayah setuju kamu menikah dengannya.''Fabian tersenyum senang kemudian memeluk ayahnya. ''Ayah harap nanti kalian akan hidup bahagia.''
__ADS_1
"Tentu saja,''jawab Fabian dengan yakin.
Satu persatu anggota keluarga Baskerville yang hadir disana menyelamati Fabian dan Miya. Gadis begitu senang, mereka menyetujui hubungannya dengan pamannya.''Selamat ya, Miya,''kata Blinda.''Aku masih belum percaya kamu dan Fabian saling mencintai dan akan segera menikah.''
"Terima kasih, Blinda.'' Di belakang Blinda ada Cedric yang langsung memeluk Miya dengan erat membuat Fabian memasang ekspresi wajah tidak suka.''Fabian ternyata sudah bergerak cepat untuk mendapatkanmu. Aku terlambat satu langkah darinya, tapi aku senang Fabian yang pada akhirnya mendapatkanmu.'' Cedric menghampiri Fabian dan memasang senyuman nakal.''Jika kamu sampai tidak membuat hidupnya bahagia. Aku tidak akan segan-segan mengambilnya darimu,''canda Cedric yang penuh dengan ancaman. Setelah mengatakan itu Cedric pergi dan Fabian terlihat sangat kesal kepadanya. Miya hanya tersenyum melihatnya.
Miya pun mendapat pelukan dari kakek dan neneknya.''Selamat Miya!Semoga kamu bahagia.''
"Terima kasih.''
Mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati minuman dan beberapa kue kering. Fabian terlihat sibuk berbicara dengan ayahnya dan juga ibunya. Entah apa yang mereka bicarakan, Miya hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan. Suara yang berat dan parau mengejutkannya.''Aku tidak menyangka Fabian akan memilihmu sebagai istrinya,''ujar Joshua. Senyuman sinis dan mengejek tersungging di wajahnya. Tatapan matanya terkesan dingin dan kaku.''Aku sangat mengenal Fabian kamu bukan tipenya. Kamu kurus, agak pendek dan wajahmu biasa saja. Aku tidak mengerti apa yang Fabian lihat darimu.''Miya membuka mulutnya hendak protes tapi niatnya itu di urungkan, karena setelah mengatakan itu Joshua langsung pergi dan menghampiri Fabian yang sedang berbicara dengan orang tuanya. Miya terlihat begitu kesal dengan perkataannya , tapi apa yang dikatakannya memang ada benarnya. Huuuhh...Seharusnya dia tidak perlu mengatakannya tepat di depanku umpat Miya kesal dalam hati.
Keesokan sorenya Miya dan Fabian mengadakan pesta pertunangan yang di hadiri anggota keluarga saja. Keduanya nampak bahagia meskipun Miya merasa sedih ayah dan ibunya tidak dapat hadir, tapi mereka berjanji akan segera menemuinya secepat mungkin . Pandangan mata Fabian selama pesta itu tidak pernah lepas dari Miya. Fabian begitu bahagia. Diam-diam ia menghampiri Miya dan mengajaknya pergi kesuatu tempat meninggalkan anggota keluarganya yang sedang menikmati pesta dan kepergian mereka tidak ada yang memperhatikannya. Fabian membawa Miya ke perpustakaan dan langsung memeluknya, lalu mengecup bibir gadis itu berkali-kali.''Aku mencintaimu...mencintaimu,''ulang Fabian.''Aku mencintaimu segalanya tentang dirimu.''
Mary Jane mengerutkan dahinya. Tidak mengerti.''Kemeja?''
"Iya kemeja yang aku berikan tadi pagi. Aku menyuruhmu untuk menjahit kancingnya yang terlepas.''
"Oh...Itu..itu...maafkan saya. Saya lupa menjahitnya, tapi saya akan segera menjahitnya sekarang.''
Fabian menghembuskan napas panjang.''Baiklah. Aku ingin kemeja itu selesai di jahit besok pagi, karena aku akan memakainya.''
__ADS_1
"Baik, tuan Fabian. Permisi!''
Fabian membukakan pintu kamar dan menyuruh Miya untuk beristirahat , sebelum pergi Fabian mendaratkan kecupan ringan di bibir gadis itu yang membuat wajah Miya kembali merona merah. Saat tatapan mereka bertemu , gadis itu kembali merasa sulit untuk bernapas. Setelah mengucapkan selamat malam kepada Miya, Fabian berlalu pergi ke kamarnya. Fabian duduk di sofa kamarnya sambil membuka kancing kemejanya dan matanya menangkap sesuatu di meja. Sebuah buket bunga Lily putih dan amplop berwarna putih Ia mengambil amplop itu dan membukanya. Tulisan di surat itu sangat indah seperti biasanya.
Selamat atas pertunanganmu
Fabian langsung membuang surat itu dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Fabian mengusapkan tangannya ke wajahnya. Rasa lelah tampak diwajahnya.''Siapa sebenarnya kamu?''
Miya berbaring ditempat tidurnya dengan rasa lelah, ketika Mary Jane datang ke kamarnya membawa susu coklat hangat untuk Miya. Sekujur tubuhnya terasa pegal dan Mary Jane memijit tubuh Miya yang terasa tegang.''Aku tidak tahu kalau kamu pintar memijit.''
"Aku sering melakukannya pada ibuku.''
"Apa kamu tidak merindukan ibumu? Kamu bisa mengambil liburan kalau menginginkannya.''
"Tentu saja aku merindukannya, tapi saat ini aku tidak bisa meninggalkan nona Miya. Ibuku akan baik-baik saja.''
"Setidaknya kamu dapat menengok ibumu sebentar.''
"Tentu, kalau ada waktu saya akan menemuinya dan selamat untuk pertunangan Anda, nona Miya. Tadi saya belum sempat memberikan ucapan selamat pada Anda dan semoga nanti kalian akan hidup bahagia.''
"Terima kasih, Mary Jane.''Mary Jane tersenyum lebar.
__ADS_1
"Sudah cukup. Kamu tidak perlu memijitku lagi. Kamu boleh keluar sekarang. Aku ingin istirahat. ''
"Baik, nona Miya. Permisi.'' Setelah Mary Jane pergi, Miya berusaha untuk tidur. [ ]