
Kecelakaan
Seorang pelayan pria setengah baya mengenakan seragam pelayan berwarna hijau lumut dan rambutnya sebagian sudah beruban berjalan dengan terburu-buru melewati beberapa lorong rumah untuk menemui Tuannya yang berada di halaman belakang mansion yang sedang berjemur di tepi kolam renang.
Raut wajah pelayan itu terlihat sangat cemas. Mata tuanya nampak sedih dan sayu. Napasnya tersengal-sengal setelah berada di depan Tuannya yang sedang menikmati matahari pagi. Kulit kecoklatannya nampak berkilau di bawah sinar matahari.
" Tuan Leonard, adik Anda mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit. Keadaannya sangat kritis."
Leonard langsung melepaskan kacamata hitamnya dan sangat terkejut mendengar kabar yang disampaikan pelayannya itu.
" Apaa?" serunya terkejut.
" Tadi polisi yang memberitahunya."
Leonard nampak begitu shock. Ia tidak percaya adik laki-laki satu-satunya yang sangat ia sayangi mengalami kecelakaan mobil. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Leonard langsung meloncat turun dari kursi, berlari masuk ke dalam mansion. Pelayannya mengikutinya dari belakang.
Leonard bergegas membersihkan badan, lalu berpakaian dengan terburu-buru. Ia menuruni dua tangga sekaligus dengan cepat
" Apa mobilku sudah disiapkan, Owen?"tanya Leonard kepada kepala pelayannya
"Sudah Tuan."
Leonard langsung masuk ke dalam mobil sedan berwarna silver dan meluncur pergi dari halaman mansion. Owen memandangi kepergian Tuannya dengan perasaan cemas. Ia berharap Tuan Oliver selamat dari kecelakaan itu.
Di dalam mobil Leonard berdoa dalam hati agar adiknya bisa selamat. Ia sudah berjanji kepada almarhum orangtuanya untuk menjaga dan melindunginya. Angin bertiup kencang dari kaca jendela mobil yang terbuka membuat rambut pirang madunya yang sudah disisir rapih kembali berantakan.
Pandangannya jauh menerawang ke depan sambil berkonsentrasi mengemudi sambil mengingat ibunya sesaat setelah melahirkan Oliver.
"Leo, berjanjilah pada Ibu untuk selalu menjaga dan melindungi adikmu. Ibu sudah tidak bisa berada di sisi kalian lagi."
"Aku janji."
Ibunya tersenyum sambil membelai wajah Leonard."Terima kasih."
Ibunya kemudian menghembuskan napas terakhir.
"Ibuuuuu, jangan tinggalkan kami,"teriak Leonard sambil menangis. Ayahnya pun ikut menangis di samping putranya.
Ibunya meninggal saat Leonard berumur 8 tahun setelah melahirkan Oliver, karena komplikasi kehamilan. 8 tahun kemudian ayah meninggal, karena stroke saat ia berusia 16 tahun. Sejak saat itu Leonard berperan sebagai orangtua untuk Oliver. Tidak terasa air matanya telah membasahi wajahnya. Ia cepat-cepat menghapus air matanya dengan lengan kemejanya.
Sesampainya di rumah sakit Leonard langsung menuju ruang ICU dan ia diizinkan untuk bertemu dengan Oliver. Hati Leonard terenyuh melihat adiknnya yang terbaring lemah dan di tubuhnya banyak kabel yang menempel. Ia menghampiri Oliver dan kakinya terasa sangat lemah.
"Ollie," gumam Leonard.
Oliver membuka matanya perlahan.
"Akhirnya kakak datang juga. Aku sudah menunggumu. Kakak, maafkan aku sudah membuatmu cemas."
" Kamu tidak perlu minta maaf."
"Kamu memang kakak yang sangat baik dan aku sangat senang bisa memiliki kakak dalam kehidupanku. Terima kasih."
Leonard menggelengkan kepalanya." Sudahlah tidak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajibanku sebagai seorang kakak. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku kurang berkonsentrasi dalam mengemudi, karena saat itu pikiranku sedang kacau. Riana, kekasihku memutuskan hubunganku denganku. Padahal aku sangat mencintainya. Ia berselingkuh dengan pria lain."
"Kekasihmu itu benar-benar keterlaluan. Seharusnya dari dulu kamu memutuskan hubungan dengannya. Wanita itu bukan wanita baik-baik."
"Riana juga sudah mengugurkan kandungannya. Ia sudah membunuh calon bayi kami."
"Apaaa?"
" Aku baru mengetahuinya tadi saat ia memutuskan hubungannya denganku padahal aku berniat untuk melamarnya."
Leonard menghela napas panjang. Ia merasa sangat kesal mendengar cerita adiknya, meskipun ia belum pernah bertemu dengan kekasih adiknya.
"Lupakan saja wanita itu! Kamu bisa mencari wanita yang benar-benar tulus mencintaimu."
" Riana adalah wanita yang aku cintai satu-satunya."
"Tapi dia tidak tulus mencintaimu."
"Aku tahu. Meskipun begitu aku akan tetap mencintainya."
Leonard memandang sedih adiknya yang sudah terjebak cinta dari seorang wanita jahat. Ia berharap wanita itu tidak pernah kembali ke dalam kehidupan adiknya.
Tiba-tiba mesin pernapasan berbunyi keras dan Oliver terlihat kesulitan bernapas. Leonard segera memanggil dokter. Setelah dokter dan beberapa perawat datang, Leonard disuruh menunggu di luar. Tidak lama kemudian dokter keluar dan memberitahunya bahwa Oliver sudah meninggal.
Leonard langsung berlari masuk dan berusaha membangunkan adiknya dengan wajah yang dibasahi oleh air mata.
"Ollie, bangun! Jangan tinggalkan kakak!"
Leonard tahu adiknya sudah pergi untuk selamanya. Ia berharap ada keajaiban adiknya kembali hidup. Ia pun jatuh terduduk di lantai yang dingin.
" Ini semua gara-gara wanita itu. Aku akan membuat hidupnya menderita. Aku akan membalas dendamkan rasa sakit hati adikku. Aku bersumpah."
💔💔💔
" Cincin ini bagus sekali," kata Raina. Ia sedang mengagumi cincin berlian yang sekarang sudah terpasang di jari manisnya.
" Aku senang kamu menyukainya,"kata seorang pria di sampingnya."
"Tentu saja aku suka. Terima kasih sayang."
__ADS_1
Raina mengecup bibir pria itu dengan wajah senang. Selangkah lagi ia akan berhasil menikahi Frank Lowell dan menguasai harta keluarganya yang terkenal kaya bahkan lebih kaya dari keluarga mantan kekasihnya, Oliver Clemonte. Keluarga Clemonte tidak ada apa-apanya di banding harta kekayaan keluarga Lowell yang bergerak dibidak bisnis berlian terbesar di Amerika dan Frank satu-satunya ahli warisnya.
Kehamilannya yang di luar dugaan terpaksa ia gugurkan demi mencapai tujuannya. Lagi pula ia tidak memginginkannya.
" Aku sudah menentukan hari dan tanggal pernikahan kita," kata Frank.
" Oh ya. Kapan?"
" Dua bulan lagi. Bagaimana menurutmu?"
"Aku setuju."
Raina begitu senang dan bersemangat.
" Aku mencintaimu, Frank."
Frank tersenyum. "Aku tahu. Aku juga mencintaimu."
Sebenarnya di hati Frank ada wanita lain yang ia cintai, yaitu cinta pertamanya, tapi sayangnya wanita itu tidak mencintainya dan menolak cintanya. Wanita itu hanya menganggap Frank hanya sebagai temannya. Di saat ia sedang sedih datanglah Raina yang selalu menghiburnya dan memperhatikannya. Frank bertemu dengan Raina disalah satu pesta ulang tahun temannya.
Frank sangat tersentuh oleh kebaikan dan perhatian Raina kepadanya dan ketika Raina memberitahunya, bahwa ia mencintainya, Frank langsung menerimanya. Ia pikir Raina akan menjadi istri yang baik untuknya dan Frank senang ada seorang wanita yang benar-benar mencintainya.
Frank tersenyum melihat Raina yang nampak bahagia dengan cincin tunangan yang ia berikan kepadanya. Ia akan berusaha untuk mencintai Raina dan melupakan cinta pertamanya.
💔💔💔
Castalia mansion
Fabian begitu mencemaskan keadaan putri angkatnya, Raina sudah satu minggu Raina nampak sering melamun dan tidak nafsu makan. Fabian berpikir mungkin Raina sedang sakit. Ia berencana membawanya ke rumah sakit.
" Boleh Ayah masuk!"
Fabian menemukan Raina sedang kembali melamun di kamarnya. Raina terkejut melihat ayahnya sudah berada di dalam kamarnya. Raina mengangguk dan membiarkan Fabian duduk di sampingnya.
" Apa kamu baik-baik saja? Ayah perhatikan sudah seminggu ini kamu kurang bersemangat tidak seperti biasanya. Apa kamu sakit?"
" Aku tidak sakit dan baik-baik saja."
Fabian tidak langsung percaya begitu saja.
" Apa kamu ada masalah?"
Raina terdiam. Ia merasa bingung dan tidak tahu apa ia harus menceritakan masalahnya. Raina menatap ayahnya yang sedang memandang cemas kepadanya.
" Sebenarnya ..."
"Ayo katakan saja!"
" Aku sedang jatuh cinta."
Wajah Raina nampak cemberut. " Ini tidak lucu. Ayah."
" Maaf. Ayah tidak mengira kamu akan secepat ini jatuh cinta."
" Aku bukan anak kecil lagi."
"Ayah tahu. Sekarang kamu sudah tumbuh menjadi dewasa. Berapa umurmu sekarang?"
" Masa ayah tidak tahu. 20 tahun."
Fabian merangkul bahu Raina.
"Waktu begitu cepat berlalu. Putri kecil Ayah sekarang sudah dewasa dan sudah mengenal cinta. Apakah pria itu lebih tampan dari Ayah?"
"Iya lebih tampan dari Ayah bahkan jauh lebih tampan."
"Ayah kira tidak ada pria yang menyaingi ketampan Ayah."
Fabian tersenyum jahil.
"Ayah percaya diri sekali. Sekarang Ayah sudah tua ketampanan Ayah sudah banyak berkurang."
"Berkurangnya berapa persen?"
Raina terdiam sambil memandang wajah ayahnya." 60%."
"Hah. Sebanyak itu. Ayah kan baru berumur 43 tahun masih muda."
" Terserah Ayah saja."
" Jadi siapa pria yang sudah berhasil merebut hatimu itu?"
" Aku tidak tahu siapa namanya."
Fabian terkejut dengan jawaban Raina yang tidak ia duga sama sekali.
" Apa maksudmu kamu tidak tahu namanya?"
" Aku jatuh cinta pada pandangan pertama di sebuah pesta ulang tahun salah satu temanku."
" Jadi begitu. Kenapa kamu tidak mencoba berkenalan di pesta itu?"
" Aku tidak berani."
" Seharusnya kamu berani."
" Aku tahu."
__ADS_1
" Jadi karena itu selama satu minggu ini kamu memikirkan pria yang tidak diketahui namanya itu."
Raina mengangguk. Tv yang sejak dari tadi menyala menyiarkan kematian salah satu anggota keluarga Clemonte. Fabian langsung melihat berita itu.
" Ada apa Ayah?"
" Salah satu klien Ayah adiknya meninggal, karena kecelakaan."
" Benarkah?"
Fabiab mengangguk. Raina ikut menonton bersama ayahnya. Raina pun terkejut melihat wajah pria yang terlihat jelas di layar TV.
"Itu kan pria yang aku maksud, Ayah."
" Eh apa maksudmu?"
" Pria itu yang aku lihat di salah satu pesta ulang tahun temanku."
"Maksudmu pria itu adalah yang sudah membuatmu jaruh cinta?"
" Iya."
Fabian kembali terkejut. Ia tidak menyangka putrinya akan jatuh cinta kepada salah satu kliennya.
" Jadi pria itu klien Ayah?"
" Benar."
" Siapa namanya?"
" Leonard Clemonte."
Leonard...Leonard. Raina terus mengulang nama itu di dalam hatinya. Ia senang sudah mengetahui nama pujaan hatinya.
" Ayah maukah mengenalkanku kepadanya?"
" Baiklah. Kalau itu maumu. Kita akan pergi ke rumahnya untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya."
" Baiklah."
💔💔💔
Leonard pulang ke mansionnya dengan wajah penuh kesedihan. Ia tidak pernah menyangka akan kehilangan adiknya begitu cepat. Owen, kepala pelayan juga turut bersedih, karena sejak Oliver masih bayi, ia turut mengasuhnya.
Peti jenazah mulai diturunkan dan di simpan salah satu ruangan supaya para pelayat dapat melihatnya untuk terakhir kalinya. Oliver akan dimakamkan keesokan paginya.
Leonard bermaksud untuk pergi ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum menerima para tamu dan mengganti pakaiannya, tapi ia masuk ke dalam kamar Oliver yang berada di samping kamarnya.
Pandangan mata Leonard menjadi kabur, karena air mata yang menumpuk dikedua matanya. Ia kembali menangisi kepergian adiknya. Kamar ini sudah ditinggalkan oleh pemiliknya untuk selamanya, lalu ia melihat buku bersampul coklat tua dan membukanya.
Buku itu adalah buku harian Oliver. Leonard membacanya. Ia merasa geram ketika membacanya yang isinya rata-rata tentang kekasihnya yang bernama Raina, tentang semua kepedihan hatinya yang disebabkan oleh wanita itu. Leonard juga menemukan sebuah foto di sebuah pesta ulang tahun. Di dalam foto itu ia berfoto dengan seorang pria dan wanita. Leonard mengira wanita yang ada di samping adiknya adalah Raina, mantan kekasih adiknya. Ia menatap benci kepada wanita itu.
Para tamu mulai berdatangan. Leonard berada di depan untuk menyambut kedatangan para tamu dengan wajah sedih. Ia sangat terkejut melihat wanita yang berada di foto adiknya itu dan wanita itu datang bersama Fabian dan istrinya.
" Aku turut berduka cita atas kematian adikmu."
" Terima kasih Tuan Baskerville."
"Kenalkan ini putriku Raina."
Raina dengan wajah senang bisa bertemu dengan pujaan hatinya mengulurkan tangan.
"Halo!"
Leonard terdiam dan merasa geram dan penuh kebencian di hatinya saat melihat Raina yang datang tanpa merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan kepada adik tersayangnya. Ia juga tidak menyangka kalau Raina adalah putri dari Fabian Baskerville.
" Halo!"
Leonard menyambut uluran tangannya. Ia sudah bersumpah akan balas dendam kepada wanita yang sudah menyebabkan adiknya menderita. Ia juga tidak menyangka Raina adalah wanita yang sangat cantik. Selama sesaat ia sempat terpesona oleh kecantikannya. Leonard pun cepat-cepat menghilangkan pikiran itu. Ia tidak boleh terjerat oleh pesona kecantikan Raina seperti adiknya.
Setelah semua para tamu datang, Leonard duduk tidak jauh dari peti jenazah adiknya. Sesekali ia melirik ke arah Raina yang sedang berbicara dengan ibunya. Ia merasa penasaran bagaimana perasaan Raina setelah melihat Oliver yang sudah tidak bernyawa lagi. Apa dia sedih? Merasa bersalah? Pikir Leonard, tapi pria itu tidak melihat rasa bersalah di wajah wanita itu. Leonard pun kembali bersumpah untuk menghancurkan hidup Raina.
Raina memandang Leonard dari kejauhan. Ia merasa sedih melihat pria yang ia cintai sedang berduka. Ia ingin sekali duduk di sampingnya dan menghiburnya, lalu tatapan mereka bertemu. Raina tersenyum kepadanya, tapi Leonard langsung memalingkan wajahnya dan hal itu membuat Raina sedih. Ia juga melihat rasa tidak suka di wajahnya saat mereka bertemu pandang tadi. Raina pikir itu karena Leonard sedang berduka, meskipun hatinya tidak merasa yakin.
Saat malam telah tiba beberapa tamu mulai pulang dan mansion kembali sepi, tiba giliran Fabian dan keluarganya untuk berpamitan pulang. Sebelum mereka masuk ke dalam mobil sekali lagi Leonard memperhatikan Raina dan kebencian dihatinya semakin bertambah. Ia sekarang sudah menemukan cara untuk membalas dendam kepadanya. Ia akan membuat Raina jatuh cinta kepadanya dan akan mencampakannya begitu saja seperti yang sudah wanita itu lakukan kepada adiknya.
Di dalam mobil Raina duduk termenung dan tidak luput dari perhatian Miya.
" Ada apa?"tanya Miya, ibunya.
" Aku merasa Tuan Clemonte tidak suka padaku."
" Itu hanya perasaanmu saja," jawab Fabian.
" Ayahmu sudah menceritakan semuannya kepada Ibu."
" Menurut kalian apakah Tuan Clemonte itu pria yang baik?" tanya Raina.
" Ayah rasa dia orang yang baik. Ayah sudah mengenalnya meskipun belum lama."
" Ibu juga sependapat dengan ayahmu."
" Ayah akan berbicara lagi dengannya setelah melewati masa berkabungnya."
" Baiklah."
Raina kembali terdiam sambil memandang pemandangan dari kaca mobil. [ ]
__ADS_1