
Empat bulan kemudian
Miya menghembuskan napas panjang .Angin segar musim semi berhembus membelai tubuhnya masuk melalui jendela kamar. Selama empat bulan ini Miya berusaha untuk tidak bersedih dan selama empat bulan ini juga Miya tidak henti-hentinya mencari keberadaan Fabian. Ia sempat merasa putus asa dan hampir menyerah, tapi orang-orang di sekelilingnya menyuruhnya untuk tidak menyerah dan akhirnya ia berhasil melewati masa-masa kesedihan dan kemuraman dalam kehidupannya.
Sekali lagi Miya melihat cincin yang melingkari jari manisnya, diusapnya lembut. Cincin itu sudah berada di sana selama empat bulan dan tidak pernah dilepaskannya. Ia percaya Fabian akan kembali kepadanya. Di tengah-tengah kesedihannya masih ada rasa bahagia, karena Isabella akan menikah dengan Sebastian. Miya sangat senang mendengar kabar itu. Pada awalnya ia tidak percaya mereka akan menjadi sepasang kekasih dan memutuskan akan menikah.
Miya mengambil beberapa koran dan majalah yang sudah disimpan oleh pelayan di kamarnya. Selama empat bulan ini berita hilangnya Fabian selalu menjadi topik hangat pembicaraan. Mereka bahkan menduga-duga kalau Fabian diculik atau sudah terbunuh. Masyarakat pun sempat menuduh James Kenndrick yang merupakan saingan Fabian selama ini dan tentu saja James menolak tuduhan itu. James sekarang tidak lagi membenci Fabian setelah ia diberitahu kebenarannya tentang kematian Clarissa oleh Miya.
Tidak ada seorang pun yang tahu kalau Fabian telah bertunangan dengan Miya, karena ini sudah merupakan kesepakatan orang tua Fabian dan orang tua Miya untuk tidak mengumumkan kepada publik tentang pertunangan mereka saat ini. Detektif yang sudah disewa orang tua Fabian masih belum menemukan tentang keberadaanya dan beberapa kali pula selama empat bulan Miya menemukan Rosalie tengah menangis sendirian di ruang keluarga sambil memeluk foto-foto Fabian.
Adelina, Cedric dan Blinda selalu mengunjungi Miya di Castalia mansion setiap kali ada waktu luang selama empat bulan ini. Setelah keduanya lulus, Blinda memilih kuliah lagi di Scotlandia, sedangkan Cedric memilih untuk bekerja di perusahaan keluarganya yang berada di New York. Miya dibuat pusing oleh paman satunya lagi, paman Joshua. Paman yang selama ini selalu bersikap dingin dan tidak peduli dengan keberadaannya di dalam keluarga Baskerville.
Jantung Miya hampir melompat keluar dan mau pingsan saat itu juga, ketika pria itu tiba-tiba melamarnya saat acara pertemuan keluarga di kastil Baskerville empat bulan yang lalu sebelum acara kelulusannya. Miya tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran pria itu. Bukankah dia membenciku gerutu Miya dalam hati.
Miya yang sedang duduk santai di halaman belakang kastil sambil menikmati sejuknya udara pedesaan satu bulan yang lalu, ia dikagetkan oleh kedatangan Joshua. Pria itu duduk di sampingnya dan pandangannya menerawang jauh. Ada kesedihan dalam sorot matanya. Ini pertama kalinya Miya melihatnya dalam jarak sedekat ini. Tampan dan bulu mata lentiknya membingkai mata turqoisenya yang menyimpan banyak misteri tentang dirinya yang tidak Miya ketahui. Di lihat dari samping, Joshua mirip dengan Fabian.
"Kamu masih memikirkan Fabian?''tanyanya dengan tiba-tiba membuat Miya terkejut.
Miya mengangguk pelan.''Tidak pernah sedikit pun aku melupakannya. Dia selalu ada di dalam pikiranku setiap saat.''
"Sepertinya kamu memang sangat mencintainya. Bagaimana kalau ternyata Fabian sudah meninggal?''
Miya memandang marah pada Joshua bagaimana ia bisa mengatakan hal itu.''Jangan sekali-sekali berpikiran seperti itu. Aku yakin Fabian masih hidup di suatu tempat,''jawabnya dengan kesal.
"Tapi Fabian mungkin saja sudah meninggal. Kalau dia masih hidup, kenapa dia tidak menghubungi kita?''
"Aku tidak tahu. Mungkin ada sesuatu yang terjadi dengannya dan aku tidak tahu apa itu.''
"Ini sudah empat bulan. Tidak ada kabar apa pun darinya. Apa kamu tidak ingin mencoba membuka hatimu untuk pria lain?''
__ADS_1
''Tidak,''jawab Miya tegas.
Joshua langsung memandang ke arah Miya tepat ke dalam matanya membuat gadis itu tidak mampu bergerak sedikit pun. ''Kenapa tidak?''
"Karena aku masih mencintainya.''
Joshua tersenyum sinis.''Begitukah.''Lalu ia kembali memandang lurus jauh ke depan. Tatapannya kembali menerawang jauh."Kamu mau menikah denganku?''
Pertanyaan Joshua membuat Miya terkejut dan tubuhnya menjadi kaku untuk beberapa saat. Miya pikir saat ini Joshua benar-benar sudah gila. Apa dia tuli kalau aku baru saja mengatakan masih mencintai Fabian rutuknya kesal dalam hati. Miya ingin sekali membuka kepalanya dan ingin mengintip apa yang ada dalam isi kepalanya itu. "Kenapa kamu tidak menjawabnya?''
Miya menarik napas panjang dalam-dalam."Aku tidak bisa.''
"Tapi setidaknya beri aku kesempatan agar aku bisa dicintai olehmu.''
"Pokoknya aku tidak bisa dan tidak akan memberikan kesempatan kepadamu.''
"Aku masih berharap, kamu mau merubah pikiranmu.''Joshua menoleh membuat Miya langsung memalingkan wajahnya."Apa salahnya menikah denganku? Aku juga kan tampan seperti Fabian.''
"Entalah. Aku juga tidak tahu mungkin aku menyukaimu dan kamu cocok menjadi istriku.''
"Hah? Itu bukan alasan yang bagus. Aku tahu kamu tidak mencintaiku.''
Joshua mendekatkan wajahnya kepada Miya.''Suatu saat kita akan bisa saling mencintai.''
"Aku tidak mau dan tidak bisa.''
"Aku akan tetap menunggumu. Apa kamu mau menjadi perawan tua selamanya? ''Joshua kembali tersenyum sinis.
"Bukannya kamu tidak suka kepadaku?''
__ADS_1
"Awalnya aku memang tidak suka kepadamu, tapi setelah mengenalmu perlahan, aku menyadari kalau kamu adalah gadis yang baik dan sekarang aku mengerti kenapa Fabian begitu mencintaimu dan memilihmu sebagai calon istrinya.''
Miya menatap Joshua dengan pandangan tidak percaya. Selama ini ia mengira Joshua selalu membencinya.
"Pikirkanlah baik-baik!''Belum sempat Miya menjawabnya, pria itu sudah pergi begitu saja.
Miya duduk dengan gelisah di tempat tidurnya. Ia masih teringat dengan perkataan Joshua . Pria itu mengajaknya menikah . Miya hampir tidak mempercayainya. Joshua mungkin adalah pria baik dan penuh perhatian. Dia berhak mendapatkan wanita yang benar-benar mencintainya dan wanita itu bukan dirinya, karena ia tidak mencintainya. Miya menghela napas, melipat koran dan menyimpan majalahnya , lalu berbaring di tempat tidur sampai terlelap tidur. Ia harus menghubungi Joshua kalau ia tidak bisa menikah dengannya.
Scotlandia
Suara tawa Fabian terdengar sangat keras dari halaman sebuah rumah yang terletak di dekat danau. Ia sedang bermain dengan Raina seorang gadis kecil berumur hampir tujuh tahun. Keduanya nampak sangat senang. Fabian mengelitik perut Raina dan gadis kecil itu tertawa sangat keras."Daddy, hentikan!''Fabian tidak menghentikan kelitikan itu pada Raina. Gadis kecil tidak berhenti tertawa.
"Fabian, Raina!''Panggil Jeanette .
"Iya mommy,''seru Raina. Gadis kecil itu berlari-lari kecil ke arah ibunya, sedangkan Fabian mengikutinya dari belakang. Jeanette tersenyum senang ketika Fabian mendekat.
" Aku ingin kau pergi ke mini market . Kita kehabisan telur.''
"Raina ikut. ''
"Tidak. Kamu tunggu Daddy di sini saja.''
"Tidak mau,''rajuk Raina.''Aku ingin ikut, ''protes Raina.
Fabian melirik ke arah Jeanette."Biarkan Raina ikut denganku!''
Gadis kecil itu menatap ayahnya dengan wajah memohon, lalu Fabian tersenyum "Ayo kemarilah !''
Fabian mengulurkan tangannya dan Raina langsung menyambut uluran tangan ayahnya. "Kami pergi dulu,''ujar Fabian sambil berlalu pergi.
__ADS_1
"Cepat kembali! Aku memerlukan telur itu secepatnya. Tidak ada telur tidak ada makan malam."
"Baik. Kami akan segera kembali'' Jeanette menatap kepergian mereka sampai menghilang di tikungan jalan dengan senyuman merekah diwajahnya. [ ]