My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
14. Wanita yang dicintai Fabian (2)


__ADS_3

Fabian terkejut ketika mendapati Sabrina berada di depan pintu kamar Miya dengan ekspersi wajah tidak terbaca. "Fabian bisa ikut aku sebentar." Fabian menurutinya dan mengikuti Sabrina memasuki ruang keluarga di lantai dua. Mereka berdua duduk disebuah sofa yang cukup panjang. Sabrina memperhatikan Fabian selama beberapa detik sebelum ia memulai pembicaraan."Apa kau jatuh cinta kepada putriku?’’tanya Sabrina tanpa basa basi lagi. Spontan saja  Fabian terkejut dan pria itu gelagapan saat kakak sepupunya menatapnya dengan rasa penasaran yang tidak dapat disembunyikan. Tatapan tajam matanya seperti mampu menembus jauh ke dalam hatinya. "Akui saja. Aku tidak akan marah. Selama ini aku selalu memperhatikan interaksi antara kalian berdua. Terutama kamu, Fabian. Kau sangat perhatian kepada Miya dan apa lagi cara kau menatapnya."


Fabian menghela napas panjang kemudian mencondongkan tubuhnya kedepan dan mengaitkan jari-jarinya di kedua lututnya. Tatapannya menerawang jauh ke depan. "Iya aku mencintainya." Fabian mengakuinya. "Tanpa aku sadari aku telah jatuh cinta kepada Miya. Selama ini aku menutup pintu hatiku kepada wanita lain, tapi sejak kehadiran Miya disini sedikit mengusik diriku dan perlahan-lahan Miya sudah memenuhi pikiranku."


"Apa Miya sudah tahu tentang perasaanmu ini?’’


"Tidak. Dia sama sekali tidak tahu."


"Kenapa tidak kamu katakan saja kepadanya?’’


"Aku ingin sekali mengatakannya, tapi tidak sekarang. Karena aku tahu saat ini Miya tidak mencintaiku . Dia masih memandang aku sebagai pamannya. Aku ingin perlahan-lahan merebut hatinya dan jatuh cinta kepadaku. Apa kamu marah aku telah jatuh cinta kepada putrimu?’’


"Tentu saja tidak.’’


"Sungguh?’’


Sabrina mengangguk cepat. "Tidak mudah merebut hati Miya, karena dia pernah disakiti oleh seorang pria, mantan pacarnya yang bernama Ryusuke . Miya mencintainya, tapi pria itu mengkhianatinya. Kasihan Miya."


Sabrina masih ingat betul, ketika Miya bercerita soal hubungannya dengan Ryusuke sebelum keberangkatannya ke New York. Ia tahu kalau putrinya sedang menjalani suatu hubungan dengan pria itu dan selama ini ia mengira hubungan mereka baik-baik saja dan berharap mereka nanti akan menikah, karena yang ia tahu Ryusuke mencintai Miya begitu juga sebaliknya, tapi kenyataan berkata lain Ryusuke berselingkuh dan membuat Miya sedih.


"Apa Miya masih mencintai mantan kekasihnya?’’tanya Fabian hati-hati.


"Entalah. Aku tidak tahu. Lalu Bagaimana dengan Isabella calon istrimu?’’


"Dia bukan calon istriku. Aku sudah menolak perjodohan ini, tapi sepertinya Bella masih belum menerimanya. Dia yakin suatu hari nanti aku akan mencintainya."


Sabrina tersenyum lembut penuh keibuan.’’ Sayang sekali Bella adalah gadis yang sangat baik. Aku jadi merasa kasihan kepadanya. Bagaimana pun perasaan memang tidak bisa dipaksakan."Sabrina berdiri merapikan pakaiannya.’’Aku akan melihat Miya sebentar."Fabian hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


♫♫♫♫


Miya duduk di depan cermin setelah selesai makan malam. Mary Jane sedang menyisirkan rambutnya. Ia meminta maaf, karena telah memberikannya coklat beracun. Bagaimana pun Mary Jane tidak sepenuhnya bersalah.Akhirnya Miya pun memaafkannya. Awalnya Fabian tidak mengizinkannya lagi sebagai pelayan pribadinya lagi, tapi Miya membujuknya dengan alasan Mary Jane sudah mengetahui segala kebutuhannya dan akhirnya Fabian menyerah dan mengizinkan Mary Jane sebagai pelayan pribadi Miya lagi.


Sesekali Miya mencuri pandang ke pelayannya dan Mary Jane menyunggingkan sebuah senyuman untuknya, ketika tatapan mereka bertemu. Mary Jane berbeda dengan pelayan lainnya. Dia pelayan termuda dan dia seorang wanita yang masih bersemangat. Selama ini Miya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang pelayannya ini. ’’Bagaimana kamu bisa bekerja disini?Kamu terlihat muda dan juga cantik seharusnya kamu tidak bekerja sebagai pelayan,’’tanyanya tiba-tiba.


"Ceritanya panjang nona,’’jawabnya dengan pipi merona merah.’’Kehidupanku sangat susah waktu itu. Orang tuaku bekerja sebagai buruh di pabrik makanan dan mereka tidak memiliki banyak uang untuk melanjutkan sekolahku ke pendidikan lebih tinggi. Jadi aku harus bekerja, memang sulit untuk mencari pekerjaan di zaman sekarang. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, saya masih belum mendapat pekerjaan. Suatu hari saya hampir ditabrak mobil saat sedang mencari pekerjaan. Seseorang telah menyelamatkanku dan orang itu adalah tuan Fabian. Bagiku tuan Fabian seperti malaikat penolongku. Ia membelikan makanan yang enak untukku dan saat itu juga saya memutuskan ingin bekerja untuknya menjadi apa saja. Pada awalnya tuan Fabian menolak, tapi saya berusaha membujukknya supaya dapat bekerja untukknya , lalu saya mendengar kalau dia membutuhkan seorang pelayan lagi, karena salah satu pelayannya telah mengundurkan diri. Tanpa pikir panjang lagi , saya bersedia bekerja kepadanya sebagai pelayan untuk membalas kebaikannya kepadaku. Tidak terasa aku sudah bekerja kepadanya selama empat tahun."


"Kamu pelayan yang setia. Apa tidak pernah terlintas dipikiranmu meskipun hanya sedikit untuk pindah pekerjaan? Mungkin kau sudah merasa bosan sebagai pelayan."


"Tidak. Aku senang bekerja di sini dan tuan Fabian menyukai pekerjaanku. Itu sudah cukup bagiku. Saya sudah selesai menyisir rambut Anda."


"Terima kasih." Wajah Mary Jane merona merah.


"Sebaiknya Anda segera tidur." Miya mengangguk lalu beranjak ke tempat tidurnya. Setelah menyelimuti Miya, Mary Jane mematikan lampu.’’Selamat malam!’’

__ADS_1


♫♫♫♫


Keesokan paginya Miya mendapati ibunya membawakan sarapan pagi untuknya. Sabrina tersenyum cerah, ketika Miya sudah terbangun sedangkan Mary Jane membuka semua tirai jendela dan menyiapkan air mandi untuk Miya.’’Selamat pagi anak ibu yang cantik,’’sapa ibunya dengan lembut.


‘’Pagi bu!’’


Sabrina mengecup kening Miya , setelah menaruh sarapan pagi di meja.


"Bagaiamana keadaanmu hari ini?’’


"Sangat baik, tapi pasti aku akan merasa bosan terus terkurung dalam kamar. Kenapa juga paman Fabian tidak memperbolehkan aku berjalan-jalan disekitar sini?’’kata Miya dengan wajah cemberutnya dan Sabrina hanya tersenyum melihat putrinya merajuk seperti itu.


"Itu karena Fabian sangat memperhatikan kesehatanmu. Dia sangat menyayangimu."


"Kalau dia menyayangiku seharusnya aku diperbolehkan untuk sedikit melakukan aktivitas. Kalau terkurung di kamar terus aku bisa mati kebosanan. Tolong ibu bicara kepadanya supaya aku diperbolehkan untuk keluar kamar,’’ucapnya dengan penuh permohonan kepada ibunya.


Sabrina mengelus lembut kepala Miya.’’Baiklah. Nanti ibu akan mencoba bicara kepadanya."


"Terima kasih bu. Aku sayang ibu,’’ucapnya sambil memeluk ibunya.


"Ayo sekarang sarapan pagi dulu!’’


Miya mengangguk.


"Jadi izinkan Miya untuk keluar dari kamar dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Putriku sudah terkurung di kamarnya selama 5 hari sejak ia pulang dari rumah sakit meskipun pintu kamarnya tidak terkunci kalau mau Miya bisa diam-diam keluar kamar, tapi dia tidak melakukannya karena dia menuruti perintahmu."Fabian berpikir sejenak.


‘’Baiklah."


"Pasti Miya akan senang mendengarnya. Terima kasih." Fabian menghela napas panjang. Sejak dari dulu ia memang selalu mengalah kepadanya tidak bisa menolak keinginannya.


Miya yang sedang menikamati sinar matahari pagi dibalkon kamarnya sambil membaca sebuah majalah dikejutkan oleh deringan ponselnya dan ia melihat nama Isabella di layar ponselnya. Suara Isabella begitu bersemangat.’’Kau sudah menananyakan kepada Fabian siapa wanita yang disukainya?’’


"Maaf Bella. Aku belum sempat menanyakannya, tapi akan segera kutanyakan bukan kamu saja yang penasaran tapi aku juga."


"Menurutmu siapa wanita itu? Apa kamu tidak ada bayangan sama sekali?’’


Miya kemudian berusaha mengingat-ingat kekasih paman Fabian yang lainnya selain Caroline dan Helena. Tracy, Veronica, Diana, Amanda, Elsa,Malinda,Amelia dan Maisea. Nama-nama itu ia dapatkan dari Mary Jane. Hanya nama-nama itu yang mampu ia ingat sisanya tidak ia ingat dan tidak satu pun di antara nama itu pernah di sebut-sebut oleh pamannya. Kalau bukan mereka siapa?


"Miya, kamu masih disana?’’


"Eh i..iya. Maaf aku tidak tahu."


"Itu tidak apa-apa. Oh ya apa kamu tahu besok aku akan kencan dengan Fabian. Aku mengajaknya nonton dan makan malam bersama dan dia menyetujuinya. Itu hebat bukan? Fabian kan orangnya sibuk dan dia masih menyempatkan mau berkencan denganku. Aku sangat senang sekali. Nanti aku akan meneleponmu lagi sekarang aku harus segera pergi." Miya memandangi ponselnya yang sudah di putus oleh Isabella dan Miya hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, lalu melanjutkan membaca majalahnya.

__ADS_1


Miya menghabiskan sisa hari itu dengan membaca buku-buku di perpustakaan, membantu pelayan memasak dan berjalan-jalan di halaman mansion. Gadis itu tidak merasa segembira ini, ketika ia diberitahu ibunya kalau ia diizinkan keluar kamar. Sekarang tubuhnya sudah merasa lebih baik dan hari sudah menjelang sore. Langit sudah berubah menjadi lembayung senja, ia melihat paman Fabian telah pulang.


Sebelum makan malam biasanya pamannya selalu berada di ruang keluarga duduk santai sambil membaca koran . Miya akan menanyakan perihal tentang wanita yang disukai pamannya. Di sana ia melihat Fabian sedang asik bermain dengan Hiroshi adik laki-lakinya. Keduanya sedang tertawa cekikikan. Tawa mereka berhenti ketika melihat Miya. "Paman , aku ingin bicara denganmu?’’


"Apa yang ingin kamu bicarakan?’’


"Aku ingin bicara berdua saja. Hiro bisa tinggalkan kami berdua."Hiro mengangguk lalu pergi.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku,’’ulang Fabian.


"Pertama terima kasih sudah mengizinkanku keluar dari kamar dan aku juga ingin bertanya sesuatu." Miya menelan ludahnya dengan susah payah. Tidak berani menatap pamannya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?’’


"Siapa wanita yang paman cintai?’’


Fabian berdiri  dan mengangkat wajah Miya yang sedang sedikit tertunduk. "Apakah itu sangat penting bagimu?’’


"Tidak. Tentu saja tidak. Aku…aku hanya ingin tahu saja."


Fabian kembali tersenyum. "Oh begitu. Aku tidak akan memberitahumu."


Miya nampak kecewa sekaligus kesal, lalu ia melihat ada seringaian nakal dan jahil tersungging di wajah pria itu. "Aku akan memberitahumu, jika kamu mau menciumku."


"Apaaa? Aku tidak mau."


"Kalau tidak mau aku tidak akan memberitahumu, karena ini tidak gratis dan bayarannya kamu harus menciumku di sini,’’kata Fabian sambil menunjukkan bibirnya.


"Jangan harap aku akan menciummu,’’kata Miya dengan marah, lalu ia menginjak kaki Fabian yang membuatnya meringis kesakitan. Miya tersenyum puas kemudian gadis itu membalikkan badannya dan langsung pergi dari ruang keluarga.


"Miyaaa, awas kau!"


  Miya tidak mempedulikan teriakan pamannya. Itu salahnya sendiri membuatnya merasa marah. Dia pantas mendapatkannya.


Miya melemparkan dirinya ke atas tempat tidur kedua tangannya di silangkan di belakang kepala memandang langit-langit kamarnya yang cukup tinggi. Ia duduk kembali dengan perasaan kesal yang masih bercokol dihatinya, lalu ia mendesah frustasi dengan mengacak-acak rambutnya.Aaaarrrggghhh....dasar paman gila.Maunya apa sih? Apakah dia selalu bersikap seperti itu kepada wanita lainnya, mencium wanita sesuka hatinya. Tidak...tidak ...ia tidak akan menjadi salah satu teman kencan pamannya.


Miya mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Isabella. Ia mengetik pesan dengan kesal.


Paman Fabian tidak ingin mengatakan siapa wanita itu. Sebaiknya kamu tinggalkan saja pria seperti pamanku itu. Kerjaannya hanya membuat orang marah saja dan menjadi gila


Miya langsung melempar ponselnya dengan kesal kesamping tempat tidur, lalu ia berbaring sampai akhirnya terlelap tidur. Tidak lama kemudian pintu kamarnya terbuka secara perlahan. Sseseorang masuk dengan berjalan mengendap-endap tidak ingin membangunkan sang Pemilik Kamar. Di sanalah Fabian berdiri sedang memperhatikan Miya yang tertidur lelap.


Pria itu membungkuk dan membiarkan bibirnya menyapu lembut bibir mungil Miya yang sejak dari tadi tergoda untuk diciumnya.  Miya bergumam’’Ryusuke’’ membuat Fabian cemburu dan marah. Ia cemburu hanya nama pria itu yang keluar dari mulutnya di saat ia tertidur. Fabian membelai wajahnya dengan perlahan tidak ingin membangunkannya. "Apa kau merindukan dia? Apa kamu masih mencintainya?Aku tidak akan membiarkanmu kembali kepadanya.Sekarang kau sudah menjadi milikku.Mulai sekarang hanya aku yang boleh menyentuhmu,"bisiknya lembut.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Fabian pergi dan melihat Hiroshi berada di depan pintu. Fabian tersenyum dan meletakan jari telunjuk di bibirnya. "Ini rahasia kita berdua. Jangan katakan kepada siapa pun yang kamu lihat tadi! Apa kau mengerti?’’ Hiroshi mengangguk cepat. Fabian mengacak-acak rambutnya. "Anak baik." [ ]


__ADS_2