My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
7. Kau milikku


__ADS_3

Keesokan paginya Miya berdiri di depan cermin memandang penampilannya berkali-kali sebelum ia merasa yakin dengan penampilannya hari ini. Ia merasa gugup, karena ini adalah hari pertamanya masuk kuliah dan akan berjumpa dengan orang-orang yang belum pernah ia temui berharap teman-teman barunya akan menyukainya. Miya mengenakan pakaian  terusan berwarna krem berlengan panjang . Seuntai mutiara mengelilingi lehernya yang jenjang dan rambutnya di biarkan tergerai yang di hiasi oleh sebuah jepit rambut berbentuk bunga yang dihiasi permata.


 ‘’Apa pamanku sudah bangun?’’tanyanya pada Mary Jane.


‘’Sudah sejak dari tadi. Sekarang tuan Fabian ada di ruang kerjanya."Miya mengangguk mengerti.


‘’Sarapan pagi sudah siap, jika nona Miya ingin sarapan pagi sekarang."


‘’Sepertinya aku akan sarapan pagi sekarang,’’ujar Miya sambil tersenyum. Ketika Miya akan membuka pintu Edgar si kepala pelayan sudah berdiri tegak dan angkuh di depan kamarnya.’’Selamat pagi nona Miya!’’


‘’Pagi Edgar!’’


‘’Sebelum Anda sarapan pagi, tuan Fabian ingin bertemu dengan Anda di ruang kerjanya."


‘’Paman ingin bertemu denganku?’’


‘’Benar."


Miya menarik napas dalam-dalam.’’Baiklah aku akan menemuinya."


‘’Mari! Silakan!’’


Edgar membiarkan Miya lewat duluan. Di sepanjang perjalanan  di koridor mansion perasaan gugup menyergapnya. Ia akan bertemu dengan pamannya setelah kejadian kemarin malam di kamarnya. Wajahnya tiba-tiba merona merah secara refleks menutup wajahnya dengan kedua tangannya, karena merasa malu. Kenapa juga aku harus merasa malu seharusnya aku memarahinya, karena sudah menciumnya tanpa seizinku rutuknya kesal dalam hati. Memangnya aku bisa diperlakukan seenak saja olehnya meskipun Fabian adalah pamanku , aku tidak bisa membuatnya berbuat sesukanya terhadapku erangnya dalam hati. Miya mendengus kesal. Ia harus menuntut penjelasan dari pamannya.


Ruang kerja pamannya sudah ada di depannya. Edgar mengetuk pintu dan memberitahukan kedatangan Miya. Di dalam terdengar suara berat pamannya. Jantungnya kembali berdebar kencang. Sebelum masuk ia mengambil napas dalam-dalam.


‘’Tuan ada di dalam. Silahkan!’’


 Miya berjalan pelan-pelan. Pamannya nampak sedang sibuk di depan layar komputer. Miya berusaha mengatur napasnya berusaha untuk menenangkan dirinya saat menatap pria di hadapannya.


Pamannya terlihat sangat tampan dari hari-hari sebelumnya. Miya kembali menelusuri seluruh tubuhnya. Pria itu memiliki dada bidang dan bahu lebar. Otot-ototnya sangat kuat. Pamannya memiliki tubuh yang atletis yang dibalut oleh kemeja biru dengan setelan jas mahal. Wajahnya telah dicukur sampai bersih. Rambutnya berwarna coklat gelap dengan sulur-sulur berwarna emas telah disisir dengan sangat rapi. Bibirnya nampak tegas dan maskulin dimana bibir itu telah menciumnya semalam. Wajah gadis itu kembali memanas setiap kali memikirkan ciuman pamannya yang terasa hangat dibibirnya yang belum bisa ia lupakan dan gara-gara hal itu ia tidak bisa tidur . Padahal itu bukan ciuman pertamanya.


Miya menelan ludahnya dan jantungnya kini berdetak semakin tidak karuan. Ada apa denganku? Kenapa aku bisa begini hanya melihat pamannya. Pasti otakku sudah tidak beres pikir Miya, lalu perasaan marah pada pamannya kembali muncul sehingga dadanya merasa sesak. Ia butuh penjelasan kenapa pamannya telah berbuat seenaknya dengan menciumnya.


Fabian mendongkakkan kepalanya membuat Miya tersentak lalu mundur. Pria itu tersenyum ramah kepadanya  dan menatap Miya dengan tatapan lembutnya, lalu menyuruhnya untuk duduk. Senyuman hangat menggoda pamannya telah melumpuhkan setiap syaraf di sekujur tubuhnya.


Miya terkejut dengan sikap pamannya pagi ini, karena pagi-pagi sudah tebar pesona kepadanya. Apa pamannya akan berusaha merayunya supaya aku dapat jatuh kepelukannya dan membuatku menjadi salah satu koleksi wanita yang dimilikinya. Jangan harap itu akan terjadi. Aku tidak sudi menjadi salah satu ‘’teman wanitanya’’pikirnya.

__ADS_1


 Miya mengira akan menemukan pamannya dengan wajah dingin dan marah gara-gara ia sudah memarahinya kemarin soal Caroline , tapi ternyata tidak. ‘’Selamat pagi, paman Fabian!’’sapa Miya seramah mungkin walaupun hatinya sekarang sedang kesal dan ia hanya bisa menahannya.


‘’Pagi! Kamu terlihat cantik hari ini.’’Senyum riang muncul disudut bibir Fabian.


‘’Terima kasih!’’


Wajah Miya memanas dan ia tidak mengerti mengapa bisa begitu ketika mendapat pujian dari pamannya. Dia adalah pria pertama yang mengatakan dirinya cantik. Ryusuke tidak pernah sekali pun mengatakan dirinya cantik rutuknya dalam hati.  Fabian bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati Miya, duduk disampingnya di sebuah sofa yang cukup panjang. Pamannya nampak begitu berkuasa, kuat dan mendominasi. ‘’Paman ingin bicara apa denganku?’’


Seulas senyuman tipis menggoda tersungging di wajah Fabian membuat perasaan Miya kembali tidak karuan. Ia berusaha tenang tidak ingin terlihat gugup, tapi napasnya terasa sesak ketika tidak disadari pamannya sudah berada sangat dekat dengan dirinya.


Mata mereka bertemu dan Fabian langsung mengunci tatapannya membuat gadis itu tidak bisa memalingkan wajahnya walaupun hanya sebentar . Aroma tubuh mint segar pamannya tercium kembali olehnya.


‘’Aku sudah menyiapkan sopir pribadi untukmu yang bertugas mengantarmu kemana pun kamu pergi,"ucap Fabian.


‘’Terima kasih paman. Paman baik sekali padaku,’’ujar Miya .


‘’Itu sudah seharus kulakukan, karena sudah menjadi tugasku membuatmu merasa nyaman tinggal disini." Fabian kembali tersenyum.


Miya mendesah mana mungkin ia akan merasa nyaman tinggal disini, jika sikap pamannya selalu memperlihatkan sikap seorang pria akan melahap wanita hidup-hidup. Gadis itu sempat berpikir apa keputusannya salah untuk tinggal bersama dengan pamannya yang jelas-jelas belum benar ia kenal , tapi ibunya selalu menyakinkannya kalau paman Fabian itu adalah pria yang sangat baik.


‘’Apa ini?’’


‘’Hadiah selamat datang dariku. Jangan dibuka sekarang sebaiknya nanti saja. Sebaiknya  kita sarapan pagi sekarang. Aku tidak ingin terlambat datang ke kantor dan juga pada saat wawancara dengan sebuah majalah."Miya mengangguk dan ia pun mengikuti pamannya dari belakang.


Miya berhenti berjalan menyadari kalau ia lupa menanyakan tentang sikap pamannya kemarin malam. ‘’Kenapa paman menciumku?’’


Fabian langsung berhenti berjalan , membalikkan badannya menatap Miya yang terlihat kesal. Senyuman seringai muncul di wajah tampannya, lalu ia mendekati gadis itu. Miya langsung terkesiap mendapati wajah pamannya begitu dekat dengannya sampai-sampai ia bisa merasakan napas hangat pamannya menyentuh kulit wajahnya membuat jantungnya kembali bertalu-talu dengan kencang. Napasnya tercekat.


‘’Karena aku menginginkannya." Fabian menjauhkan wajahnya dari Miya, lalu pergi begitu saja tanpa ada penjelasan lain.


‘’Hanya itu saja alasannya,’’teriak Miya ketika pria itu mulai berjalan menjauhinya.


‘’Iya hanya itu."


Paman yang benar-benar menyebalkan dengusnya kesal dalam hati. Apa hanya itu alasannya itu pasti ada alasan lainnya kan? Miya menarik napas dalam-dalam mungkin pamannya memang sudah terbiasa mencium wanita. Rasanya Miya ingin sekali memukulnya yang seenaknya saja mempermainkan perasaan wanita. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sambil memandang kesal pamannya yang sudah menghilang dari hadapannya.


Miya sarapan pagi dengan wajah yang masih cemberut dan tidak ingin memandang wajah pamannya.

__ADS_1


 ‘’Nanti malam aku ingin mengajakmu makan malam,’’kata Fabian tiba-tiba memecahkan keheningan di ruang makan pagi itu.


‘’Aku tidak bisa, sebaiknya paman mencari orang lain saja untuk menemani paman makan malam."


‘’Kau akan makan malam denganku dan aku tidak mau ada penolakan lagi darimu. Titik."


 Miya semakin bertambah  kesal .‘’Aku tidak mau."


‘’Pokoknya kamu harus mau,’’tukas Fabian tidak mau kalah.


‘’Tidak."


‘’Iya."


‘’Kenapa paman  memaksaku untuk makan malam bersama? Bukankah kita disini juga nantinya akan selalu makan pagi dan makan malam berdua. Apa bedanya?’’seru Miya  kesal.


‘’Tentu saja beda. Aku ingin merayakan kedatanganmu kesini dan juga merayakan hari pertamamu kuliah. Aku ingin merayakannya berdua denganmu disebuah restoran yang cukup bagus. Kamu layak mendapatkannya."


 ‘’Kalau aku tidak mau, bagaimana?’’


Wajah Fabian langsung berubah dingin. ‘’Pokoknya kau akan makan malam denganku malam ini. Mary Jane akan membantumu menyiapkan keperluanmu untuk makan malam denganku nanti. Tidak ada gunanya kau membantahku."


Miya kembali menatap pamannya dengan tidak percaya memaksa orang seenaknya memangnya siapa dia. Miya mendengus kesal dalam hati.  Ia pun menyerah, lalu menghela napas. ’’Baiklah!’’katanya pasrah. Ia memang tidak bisa melawan keinginan pamannya ini. Fabian melemparkan tatapan ragu sesaat, lalu ia tersenyum riang. ‘’Itu baru gadisku. Nanti sopir akan membawamu ke restoran dimana kita akan bertemu. Kita akan berjumpa lagi disana,"ujar Fabian dengan suara riang.


 ‘’Baiklah."


Fabian melirik ke arah Miya dan bibirnya membentuk sebuah senyuman kemenangan. 


Setelah sarapan pagi selesai dan ketika Fabian akan menaiki mobilnya di depan halaman rumahnya, pria itu kembali memandang lembut ke arahnya dengan sorot mata yang tidak terbaca. Miya hanya menahan napas, ketika jari pamannya kembali menyentuh dan menelusuri bibirnya. Desiran menyenangkan memenuhi dirinya.


 Pandangan mata Fabian tidak sedetik pun meninggalkannya .Miya diam tidak mampu bergerak, meskipun ia berusaha untuk menolaknya tapi tubuh dan pikirannya tidak sejalan. Akhirnya ia membiarkan dirinya hanyut dalam sensasi menyenangkan dalam tubuhnya, ketika jari-jari pamannya menelusuri garis bibirnya.


‘’Aku tidak akan meminta maaf sudah menciummu, karena aku sangat menyukainya. Jadi siap-siaplah kalau aku akan menciummu lagi tanpa ada pemberitahuan dariku." Fabian tersenyum. Setelah mengatakan itu ia memasuki mobilnya. Miya hanya berdiri mematung dan baru tersadar, ketika mobil yang dikendarai Fabian sudah berjalan jauh. Rasa kesal bercampur marah mengelagak dalam dirinya. ‘’Benar-benar paman yang sangat menyebalkan."


Fabian melihat Miya dari kaca spion mobilnya dengan rasa senang melihat gadis itu terpesona kepadanya walaupun hanya sesaat . Fabian tertawa dalam hati. Ia tidak menyangka akan jatuh cinta pada gadis remaja setelah begitu banyak mengenal wanita dewasa dan ia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadapnya, karena selama ini ia belum berpengalaman bersama seorang gadis remaja yang  ia tahu hatinya hanya menginginkan Miya disisinya . Ia ingin melindungi gadis itu dan mencintainya.


Kau milikku Miya. Hanya milikku erang Fabian dalam hati [ ].

__ADS_1


__ADS_2