
Miya terbangun oleh sinar matahari pagi yang masuk ke dalam kamarnya. Rasa sakit di tubuhnya masih terasa meskipun tidak sesakit sebelumnya. Gadis itu membuka matanya dan ia melihat Adelina tersenyum kepadanya, lalu ia teringat kepada pamannya."Paman Fabian,''serunya. Miya berusaha untuk bangun, tapi Adelina melarangnya.
"Fabian baik-baik saja. Kemarin malam Fabian sudah sadar. Dokter mengatakan Fabian akan segera pulh, karena luka di kepalanya tidak terlalu parah. Dua hari lagi mungkin Fabian sudah diperolehkan pulang.''
"Syukurlah!"
Miya dapat bernapas lega lagi. Awalnya ia sempat mengkhawatirkan keadaannya, kalau Fabian tidak akan selamat, mengingat hal itu hatiya terasa sakit dan merasa dunia dihadapannya akan runtuh. Jauh di sudut hatinya perasaan yang selalu disangkalnya selama ini akhirnya harus menemukan kebenaran perasaannya terhadap pamannya. Miya harus mengakui ia telah jatuh cinta kepadanya. Gadis itu tersipu malu dan wajahnya merona merah mengingat ciuman pertama yang ia berikan untuk Fabian.
"Senang melihatmu baik-baik saja. Kemarin aku sempat khawatir dengan keadaanmu''. Adelina duduk di pinggir tempat tidur.''Aku bersyukur Fabian menyelamatkanmu tepat waktu sebelum Misty menjadi lebih liar lagi dan melemparkanmu.''
"Apa yang menyebabkan Misty seperti itu?''.
"Sampai sekarang belum diketahui penyebabnya, tapi Misty sudah di obati. Sepertinya ada benda tajam yang melukai perutnya.''
Adelina mengenggam tangan Miya, mengelusnya pelan."Miya, apa kamu benci pada Fabian? Aku mohon jangan benci padanya mungkin kakakku sudah banyak berbuat salah padamu, tapi jangan benci dia.''
"Aku tidak membencinya. Aku tidak mungkin membencinya setelah dia berusaha untk menyelamatkanku.''
"Sungguh?''
Miya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Terima kasih. Kamu tahu, Fabian sudah menceritakan semuanya padaku tentang perasaanya kepadamu, tepatnya aku yang memaksa dia mengatakan semuanya padaku, karena sejak kedatangan dia kesini, kakakku terlihat sangat menderita dan aku sempat mencemaskannya. Apa kamu tahu saat dia sadar orang yang pertama ia tanyakan adalah kamu. Dia tidak pernah mencintai seorang wanita sebesar cintanya kepadamu termasuk Clarissa.''Adelina memandang Miya dengan tatapan lembutnya.
Hati Miya menghangat dan melambung bahagia. Ia tidak pernah mengira Fabian begitu mencintainya. Lalu ia teringat dengan Clarissa dan tergelitik untuk mengetahui masa lalu mereka.
"Ada yang ingin aku tanyakan?"
"Apa?"
Miya merasa ragu-ragu."Ini tentang mantan istri paman Fabian."
"Kenapa?"
"Berani sekali orang itu menuduh kakakku. Itu tidak benar. Fabian tidak membunuh Clarissa,''seru ada Adelina marah.
Miya menghembuskan napas lega, karena apa yang dituduhkan kepada Fabian tidak benar.
"Jadi Fabian belum mengatakan apa pun kepadamu ya?"
Miya menggelengkan kepalanya.
"Ini dimulai sekitar 4 tahun yang lalu. Sebenarnya aku sempat tidak setuju kakakku menikah cepat dengan Clarissa, karena Fabian belum terlalu mengenalnya, tapi setelah mereka menikah, kehidupan kakakku terlihat bahagia. Clarissa gadis yang cantik juga pintar dan yang terpenting dia mencintai kakakku. Tapi Clarissa tidak seperti yang aku pikirkan. Sifat buruk Clarissa mulai muncul satu persatu. Wanita itu kerjanya hanya bersenang-senang di luar dan menghamburkan banyak uang.
__ADS_1
Dia hampir tidak pernah memperhatikan Fabian. Kewajibannya sebagai seorang istri, ia tinggalkan begitu saja. Itu terus berlangsung selama berbulan-bulan. Mereka memutuskan untuk pisah kamar. Fabian mengatakan kepadaku kalau dia meragukan kalau istrinya benar-benar mencintainya. Mereka setiap hari selalu bertengkar. Kecurigaannya terbukti, ketika ia menangkap basah Clarissa sedang berselingkuh dengan pria lain disebuah hotel. Sejak saat itu Fabian mengurungnya di kamar sebagai hukuman. Suatu hari tanpa sengaja kakakku menemukan buku harian Clarissa dan membacanya. Fabian benar-benar sangat marah. Clarissa telah membunuh salah satu kliennya, karena Clarissa telah berprasangka kalau Fabian dan kliennya itu ada hubungan khusus.
Kakakku bermaksud untuk meminta Clarissa untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia ingin Clarissa menyerahkan diri kepada polisi meskipun kakakku tidak ingin melakukannya, tapi ini semua demi kebaikannya, lalu Fabian memanggilnya untuk berbicara. Di sana sudah ada ibunya Clarissa. Mereka tidak tahu kalau waktu itu aku juga berada di sana. Aku bersembunyi mendengar percakapan mereka yang sengit dan berakhir dengan pertengkaran. Fabian dan ibunya Clarissa menyuruhnya untuk menyerahkan diri kepada polisi.
Wanita itu tidak mau melakukannya dan kejadian itu pun terjadi. Dalam pertengkaran sengit Fabian tanpa sengaja mendorong Clarissa sampai terjatuh membentur meja yang menyebabkan sebuah guci yang diletakkan di atas meja terjatuh mengenai kepalanya. Wanita itu banyak mengeluarkan darah dari kepalanya. Fabian dan ibunya Clarissa sangat panik. Kakakku pergi untuk menelepon ambulan, sedangkan ibunya Clarissa pergi untuk meminta bantuan. Aku pun keluar dari tempat persembunyian dan pergi ke kamarku untuk menenangkan diri. Waktu itu aku juga sangat ketakutan.
Saat ambulan tiba Clarissa sudah meninggal dan sejak saat itu kakakku selalu menyalahkan dirinya sendiri. Fabian berkali-kali berkata seandainya ia dapat mengendalikan marahnya dan bersikap lebih lembut, Clarissa tidak akan meninggal. Setelah kematian istrinya, ia menutup rapat-rapat hatinya untuk wanita, karena tidak ingin dikecewakan lagi. Sejak saat itu ia hanya bermain-main dengan wanita tidak pernah serius.
Keadaan menjadi lain dengan kehadiranmu. Di sadari atau tidak, dirimu perlahan-lahan sudah membuka hatinya kembali. Kamu sudah membuatnya tertawa lagi dan juga sudah menghangatkan hatinya yang sudah beku. Karena dirimu juga Fabian kembali mengenal cinta. Kakakku sangat mencintaimu. Dia tidak pernah berhenti mencintaimu sampai sekarang. Fabian terlihat menderita tanpa ada dirimu di sisinya. Asal melihatmu bahagia, ia rela kehilanganmu meskipun hatinya tidak. Ia bahkan mampu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu. Itu karena dia mencintaimu. Hanya kamu yang dapat membuat kakakku bahagia.Senyumannya ketika berada di dekatmu bukanlah senyuman palsu, tapi senyuman yang berasal dari hatinya. Dia hanya mencintaimu seorang. Kakakku pernah mengatakan kepadaku kalau ia tidak mencintai Clarissa sebesar ia mencintai dirimu.''
Miya menangis mengetahui betapa besarnya cinta Fabian kepadanya.
''Apa kamu mencintai kakakku ?''
Miya mengangguk pelan.''Aku mencintainya,''jawabnya disela isak tangisnya.
Adelina terlihat lega.''Katakan kepadanya tentang perasaanmu ini! Aku akan selalu mendukungmu. Aku lebih suka, jika kamu yang menjadi calon kakak iparku, meskipun kamu lebih muda dariku.'' Adelina dan Miya tersenyum.
"Apa paman Fabian akan memaafkanku, karena aku sudah meragukannnya? Selama ini aku merasa bersalah kepadanya. Mungkin dia marah, karena aku telah meragukannya dan tidak mempercayainya.''
"Kakakku pasti memaafkanmu dan aku yakin dia tidak marah padamu. Pergilah!'' Miya memeluk Adelina.''Terima kasih!''Adelina hanya mengangguk. Miya segera pergi ke rumah sakit untuk menemuinya. [ ]
__ADS_1