My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab X


__ADS_3

Hari sudah senja. Matahari hampir kembali ke peraduannya. Setelah bertemu dengan pak Yos, suster Marta, ibu Ita, dan pak Piter di sebuah restoran, lalu berkunjung ke panti asuhan dan bermain bersama anak-anak, bahkan dia sempat lagi pergi membeli laptop mengganti miliknya yang rusak. Kini dia duduk di atas batu, dibawah pohon mangga, ditepi simpang jalan saat ketiga kali dia bertemu dengan Mariana, pada hari pertama dia sampai di kota ini, sambil membekap ponsel di tepi telinganya.


Terdengar suara cekikikan Ben di seberang, setelah mendengar ceritanya tentang pertemuannya dengan Mariana beberapa hari lalu.


["Ha-ha-ha!"]


"Berhenti ketawa!" marah Andreas.


["Tidak! Tidak! Aku tidak bisa berhenti. Aku sedang membayangkan bagaimana wajah kau waktu itu."] Andreas merengus.


["Kau yang takut dengan perempuan, tapi kau biar perempuan gantung seperti monyet di belakang kau. Siapa namanya tadi?"]


"Mariana."


["Ah, Mariana. Aku harus acungkan jempol untuk dia."]


"Cis!" Andreas berdecis. "Aku ketemu dia empat kali hari itu. Kau tahu tidak? Aku kost di rumah dia." Andreas kembali bercerita.


["Yang benar saja, Kawan! Kau sampai ketemu empat kali? Tiga kali saja orang bilang 'itu jodoh' kalau empat kali itu, 'terlebih jodoh' ... Ha-ha-ha!"]


"Terlebih jodoh, apa maksudnya?" tanya Andreas.


["Jodoh sampaaiii ke akhiraaat!"] teriak Ben di seberang diakhiri hilaian tawa yang bisa memekakkan telinga Andreas.


"Cis! Minta dijauhkan. Aku tutup," ucap Andreas


["Hei, Kawan! Jangan tutup! Kawan! Heeii!"] Namun Andreas sudah memutuskan panggilan mereka. Ben masih duduk di sofa, menatap ponsel di tangan.


"Hahahaha!" Dia masih tertawa, mengundang Susi yang baru keluar dari dapur menatapnya heran.


"Aku penasaran dengan perempuan itu," ucapnya sambil memandang sang istri. Susi hanya menaikkan kening seolah bertanya 'siapa?'


"Nanti aku cerita," jawabnya.


Kembali pada Andreas. Lelaki itu sudah meninggalkan tempat tersebut, jauh di depan, mengatur langkahnya dengan teratur menuju rumah Mariana.


...***...


"Bang!" panggilnya kepada seorang lelaki berperawakan tinggi, berkulit putih yang duduk di depannya, sambil menembuskan asap rokok dari mulut dan hidungnya.


Lelaki itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bukan jam bermerek. Namun istimewa, karena hadiah dari orang yang memanggilnya. Tinggal sepuluh menit lagi, jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari.


"Pulanglah! Hari ini tidak ramai pengunjung," jawab pria itu seolah memahami arti panggilan tersebut.


Dia tersenyum. "Ketemu besok," ucapnya. Pria itu tersenyum, mengangguk.


Dia membereskan pekerjaannya, melap dan menyimpan sisa gelas ke atas rak. Ia bergegas meninggalkan meja tersebut, sambil melambaikan tangannya. Dalam perjalanan menuju ruang ganti, ia berpapasan dengan beberapa orang temannya, bertegur sapa sekadar berbasa-basi, lalu meninggalkan mereka bersama kisah hari itu, atau hari kemarin? Karena sekarang hari sudah berganti.


Setelah berganti pakaian, ia berjalan keluar menuju sepedanya yang terletak di sudut dekat tiang listrik. Ia menatap sejenak pada papan nama dengan hiasan lampu kelap-kelip berwarna-warni.


'KELAB MAWAR MERAH.' Tempat yang penuh kenangan tentang suka dan duka, tentang cinta dan air mata, tentang perjuangan mereka mendapatkan nilai rupiah.


Ia melangkah gontai mengambil sepedanya lalu mengayuh perlahan.

__ADS_1


Mariana mengayuh sepedanya dengan kelajuan biasa, memecah keheningan malam, membelah kesunyian Kota Reinha. Langit malam hanya ditaburi bintang tanpa ditemani cahaya bulan. Ada perasaan rindu di separuh malam yang sepi, saat semua orang terlelap dibuai mimpi.


"Ana! Kau tidak takut pulang malam?" tanya Daniel suatu malam, saat dia datang menjemput Mariana, sambil mengayuh sepeda butut milik Mariana. Mariana duduk di belakang sebagai penumpang.


"Tidak," jawab Mariana. Dia memeluk erat pinggang Daniel.


"Tapi aku khawatir." Sepi. Hanya terdengar suara gesekan roda dengan lantai aspal.


"Kita nikah, ya?" Daniel melamar lagi. Tak terhitung sudah berapa kali Daniel mengajak menikah.


"Keluarga kamu belum setuju," jawab Mariana.


"Kamu menikah dengan aku, bukan keluarga aku."


"Siapa bilang? Kata orang tua-tua, menikah itu bukan dengan pasangannya saja, tapi dengan keluarganya juga. Karena pernikahan menjadi jembatan untuk mengerat hubungan dua buah keluarga."


"Ana! Keluarga aku tidak setuju, itu karena kamu masih kerja di kelab."


"Lalu, apa masalahnya kalau aku kerja di kelab?" Nada suaranya tidak lagi bersahabat. Sudah empat tahun dia bekerja di kelap malam milik Abang Budi. Berarti sudah empat tahun juga usia percintaan mereka.


"Demi aku, kamu berhenti, ya?" pinta Daniel.


"Lagipula kamu sudah punya perniagaan sendiri." Perniagaan yang baru berusia setahun jagung dibuka, walaupun Mariana memulai usaha itu sejak masuk SMA.


"Aku yakin, keluarga aku pasti akan kasih restu, kalau kamu sudah berhenti." Mariana terus lompat turun dari sepeda. Daniel terkejut.Tidak dapat menyeimbangkan sepedanya, akhirnya terjatuh.


Mariana berjalan, lalu duduk di bahu jalan, memperhatikan Daniel berjalan ke arahnya lalu duduk di sampingnya.


Ingatannya kembali pada beberapa hari lalu saat bertemu dengan Ibu Dita, mama Daniel, di restoran dekat tokonya.


"Putusin Dan. Akhiri hubungan kamu dengan Dan!" Ibu Dita bersuara, setelah meletakkan pantatnya di atas kursi. Bahkan pelayan juga belum datang mengambil pesanan mereka.


Mariana tidak terkejut. Dia sudah biasa mendengar permintaan tersebut. Wajah cantik ibu Dita memerah, saat melihat tiada respons dari Mariana. Gadis itu hanya diam menatapnya. Tak menegur atau sekadar memberi salam.


'Cantik. Kulit kuning langsat, mungkin karena kurang kena matahari. Mata besar dan bulat. Rambut hitam panjang berombak sedikit keriting. Walaupun tanpa sembarang makeup, tapi kulit wajahnya bersih terawat,' desis hati ibu Dita.


"Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian," ucap ibu Dita.


"Saya akan berhenti bekerja di kelab, Tanta. Saya akan fokus pada toko saya," ucap Mariana.


"Lalu, apa bedanya?" Ibu Dita berhenti sejenak, karena pelayan datang menanyakan pesanan. Mereka hanya memesan minuman.


"Toh, dari sananya kamu sudah begitu." Mariana mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia masih diam tak menyampuk.


"Keluarga saya, orang baik-baik." Ibu Dita duduk bersandar, sambil memeluk tubuh. Sepasang matanya menatap tajam Mariana, mencoba mendominasi suasana.


"Kamu tidak layak masuk ke dalam keluarga saya. Secuil kuman pun kamu tidak layak." Mariana telan liur. Dia tahu itu. Mereka keluarga terpandang. Ibu Dita sendiri seorang dosen di universitas IKTL ( Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka ), suaminya Pak Lukas, ayah Daniel seorang Kapolres di kota mereka.


Daniel tamatan universitas Gadjah Mada jurusan kedokteran, sekarang sedang magang di Rumah Sakit Umum di kota mereka. Namanya cukup tersohor sebagai dokter muda berbakat. Belum lagi kakak perempuan Daniel bersama suaminya.


Sedangkan dia? Hanya anak petani. Pekerja di kelab malam. Bergaul bersama pelacur dan pendosa lainnya.


"Sebelum kamu jatuh cinta pada anak saya, seharusnya kamu cermin dulu diri kau itu." Ibu Dita berhenti lagi, saat pelayan membawakan pesanan mereka. "Jangan kau andalkan rupa dan tubuh untuk memikat hati laki-laki," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Ah, aku lupa." Dia menepuk dahi.


"Aku lupa, kalau kamu lahir dari rahim perempuan penggoda suami orang." Mariana mengetap gigi. Rahangnya mengeras. Matanya merah menyala. Ingin sekali dia menampar orang di hadapannya.


"Oh, kau marah?" Ibu Dita tersenyum mengejek.


"Iya, saya marah," jawab Mariana. Matanya melotot marah.


"Tanta boleh menghina saya, marah saya, maki saya sekalipun, tapi tanta tidak berhak menghina keluarga saya. Tanta tidak berhak karena tanta tidak tahu apa pun tentang keluarga saya!" Tangan kanannya menggenggam gelas minumannya, meremas hingga pecah berkeping-keping dalam genggamannya.


Beberapa beling kaca menusuk pada telapak tangannya. Darah menetes, tetapi, tidak dipeduli. Untung restoran itu sepi, karena masih pukul 11.00 pagi. Pelayan dalam restoran itu menatap mereka, tetapi tidak ada yang berani mendekat.


"Kau sepertinya teringin sekali mau bunuh saya, atau kau sedang berpikir untuk membakar saya, seperti yang kau lakukan pada temanmu dulu?" Suara Ibu Dita sedikit bergetar. Nyalinya sedikit terciut.


"Benar," jawab Mariana, "kalau ada undang-undang yang tidak melarang untuk bunuh orang,Tanta pasti sudah kubunuh. Atau Tanta ingin mencoba bagaimana rasanya dibakar?" Dia menyeringai. Kemudian tersenyum.


"Keluarga terpandang? Ha-ha-ha!" Dia tertawa mengejek.


"Cara bicara Tanta, langsung tidak mencerminkan orang berpendidikan. Daripada Tanta mengajar manusia, saya sarankan sebaiknya Tanta mengajar monyet di kebun saya. Banyak tu di hutan."


Tangan kanan ibu Dita melayang di udara, hampir mendarat di pipi kiri Mariana. Namun, tangannya terhenti di udara karena Mariana mencengkram tangannya. Begitu juga tangan kiri yang hampir mendarat di pipi kanan.


Mariana mencengkram kedua tangan Ibu Dita, meremas kuat, hingga ibu Dita merasa kesakitan.


"Lepaskan!" perintah ibu Dita. Mariana menurut, dia menghempaskan tangan ibu Dita dengan kasar menghantam meja.


Bughk!


Mata ibu Dita melotot marah*.


"Kau!"


"Oh, Tanta marah?" Dia memulangkan kembali ayat Ibu Dita.


"Dengar ya, Tanta?" Mariana mengatur napas, mencoba meredakan api kemarahannya.


"Bukan anak Tanta saja lelaki yang ada dalam dunia ini. Kalau Tanta ingin anak Tanta kembali, ambillah!" Dia tersenyum mengejek.


"Tapi Tanta tahu, betapa dalam cinta anak tanta pada saya. Kalau kami berpisah nanti, bukan saya yang menderita, tapi anak Tanta yang paling menderita. Seperti kata Tanta, saya lahir dari rahim perempuan penggoda suami orang."


"Itu tidak akan terjadi," sanggah ibu Dita cepat.


"Oh,Tanta yakin sekali!"


"Tentu, karena saya sudah menyediakan wanita terbaik untuk Dan. Saya yakin dia mampu membahagiakan anak saya."


"Oke! Kita lihat saja nanti!" Mariana tersenyum mengejek. Ibu Dita berdiri mengambil tasnya, berlalu meninggalkan Mariana dengan perasaan dongkol.


Senyum Mariana pudar bersama jatuhnya mutiara berharga dari pelupuk matanya, yang sedari tadi ia tahan, meninggalkan sembilu yang mengiris kalbu.


##


NB : Kota Reinha ( nama lain Kota Larantuka )

__ADS_1


__ADS_2