My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XLVI


__ADS_3

"Pelacur! Perempuan sundal! Keluar kau!" Tari terkejut mendengar laungan dari luar rumah. Kepala ikan yang hendak dimasukannya ke dalam rantang makanan terlepas dari tangannya, masuk kembali ke dalam kuali.


Tari mengurut dada. Diletakkannya sendok penggorengan dengan kasar. Dia mengambil penutup untuk menutup ikan yang masih ada dalam kuali.


"Marianaaa! Pelacur! Jahanam kau! Jangan sembunyi!"


Tari semakin geram. Dia kenal betul suara itu. Liar anak matanya mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan senjata. Dia mengambil sendok penggorengan yang dipakai tadi.


Digenggamnya penggorengan itu dengan kuat, sekuat azam yang menggebu dalam diri. "Aku tak boleh kalah hari ni!" tekatnya, sebelum melangkah keluar dari dapur.


Andreas yang sedang membaca koran di dalam kamar turut terkejut mendengar jeritan makian yang ditujukan pada Mariana. Dia tidak senang mendengarnya.


"Siapa yang maki Mariana?" Ia berinsut turun dari ranjang, lalu melangkah keluar.


Dia berpapasan dengan Tari di ruang tamu. Adik Mariana yang senantiasa tersenyum itu kini terlihat murka. Wajahnya masam mencuka.


Andreas menjengukan kepalanya mengintai dari balik jendela. Terlihat seorang wanita cantik sedang menyingsingkan lengan bajunya, siap sedia untuk berperang. Wajahnya pun tak kalah masam dengan wajah Tari, terlihat sangat ganas.


Novi bercekak pinggang saat melihat Tari muncul dari dalam rumah. Dia memang sengaja datang ke rumah Mariana membuat keributan. Dia tahu Mariana tidak ada di rumah.


Api kemarahan yang membakar jiwa dan perasaannya ingin dia lepaskan pada Tari. Kenapa dia memilih Tari? Karena Tari seperti dirinya. Pendek dan kecil. Cute-cute, seperti itulah yang dikatakan orang.


Kalau beradu tinju sekalipun, dia masih bisa berdiri di atas angin. Akan tetapi, jika dia memilih untuk melawan Mariana, sebaiknya dia menyerah dari sekarang. Dia pernah pingsan karena ditampar Mariana saat perseteruan mereka sewaktu di bangku SMP dulu.


"Guru seperti apa kau, ni? Mengibarkan bendera perang di rumah orang. Kau tidak malu?" Tari berdiri bercekak pinggang sambil memegang sendok penggorengan.


"Ahh, aku lupa. Kau, 'kan ajar monyet di hutan. Itu sebabnya perangai kau serupa dengan monyet." Tari menepuk dahinya, lalu tersenyum mengejek.


Novi semakin meradang setelah mendengar ejekan Tari. Dia menerkam Tari dengan membabi buta bagaikan harimau betina yang melihat musuh bebuyutannya.


Tari yang sudah siap sedia untuk berperang, melawan balik untuk mempertahankan diri. Namun rambut panjangnya yang menjadi kelemahannya.


Andreas yang mulanya hanya menonton, mencoba untuk meleraikan mereka. Rasa gemetaran akibat fobianya hilang seketika, saat melihat Tari semakin terpojok.


Pertengkaran itu membuat Natan dan Noel ketakutan. Mereka menangis histeris melihat mama mereka dipukul, membuat Andreas terpaksa menenangkan mereka.


Petang itu Fendi–suami Tari tak ada di rumah. Fendi masih di sekolah memberikan pelajaran tambahan untuk murid-muridnya yang tak lama lagi akan menghadapi ujian semester genap.

__ADS_1


Hal itu membuat Novi berada di atas angin. Dia semakin bersemangat melampiaskan rasa benci dan dendamnya pada Tari.


Para tetangga mulai berdatangan. Namun, tak ada yang mencoba melerai pertikaian mereka.


Deringan telepon Tari yang terletak di atas meja ruang tamu, mengalihkan perhatian Andreas. Dia meminta Natan untuk menjawab panggilan tersebut. Natan menurut.


...***...


Dia duduk termenung, mengingat kembali kejadian yang berlaku beberapa jam lalu. Apa yang dikatakan Daniel tadi mengusik perasaannya.


'Ah, Dan. Jangan kau buat aku merasa bersalah. Bukan ini yang aku inginkan. Cinta tak selamanya memiliki, dan kita menjadi salah satu contohnya. Lupakan aku, Dan!' Ia menghela napas panjang.


Mariana mengelus perut. Sesekali dia melirik jam alarm yang terletak di atas meja kerjanya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.45 WITA.


"Ali a ... kamu mau buat Tata mati kelaparan, kah?" Dia menopang dagunya di atas meja.


"Tahu begini, aku pergi makan di warung saja." Ia memang suka masakan Tari. Memang sedap. Tari menurun keahlian memasak dari nenek sebelah mama.


Kalau Mariana sendiri, dia hanya tahu memasak alakadarnya saja, yang penting perut kenyang. Tentang rasanya ... itu belakang kira.


Tidak ada pelanggan saat itu, jadi dia hanya bermalas-malasan sambil menunggu jatah makan siangnya. Namun, waktu berlalu, Tari masih tak kelihatan batang hidungnya.


Perasaan Mariana menjadi tak tenang, hatinya dirundung gelisah, apabila panggilannya kembali tak dijawab.


Ia membuat panggilan sekali lagi.


Drt ... drt ... drt!


"Halo ... Mama Besar ...!" Suara Natan bersama isakannya meluluhlantakkan hati Mariana.


'Sesuatu pasti sudah terjadi di rumah,' batinnya. Apalagi dari corong teleponnya terdengar suara bentakan keras, makian yang ditujukan padanya.


"Natan, mana mama?" Deru napasnya memburu, dadanya berombak ganas.


"Ma ... ma ... mama ...." Mariana menutup panggilan sepihak. Kelam-kabut dia bersiap.


Komputer dimatikan. Lampu listrik dan air dipastikannya kalau semua sudah tertutup. Dia keluar dari tokonya dengan tergesa-gesa, membuat beberapa orang yang berada di toko sebelahnya tertanya-tanya sendiri.

__ADS_1


"Ana ...!"


"Kak Opi, Ana titip toko sebentar!" Tanpa menunggu jawaban Kak Opi, Mariana sudah menolak sepeda bututnya keluar dari kawasan pertokoan.


Sepeda bututnya membelah kepadatan jalan raya Kota Larantuka. Keringat mulai bercucuran, bertambah rasa cemasnya pada Tari. Adiknya itu tak suka berkasar apalagi berkelahi.


Tak butuh waktu lama dia sampai di rumah karena jarak antara rumah dan tokonya tidak terlalu jauh.


Mariana melompat turun dari sepeda, saat melihat adik kesayangannya sedang dijambak rambutnya. Mariana semakin geram apabila melihat tetangganya tidak ada yang membantu Tari.


Mereka bukan tidak mau menolong, tetapi mereka sudah lebih dulu diancam oleh Novi, bahwa dia akan membunuh Tari kalau ada yang berani mendekat.


Mariana menarik rambut Novi. Mata gadis itu merah menahan amarah. Dia mengetap gigi hingga terdengar bunyi gemeletak.


Novi mendongak saat rambutnya ditarik ke belakang. Nyalinya menciut saat melihat wajah merah Mariana. Dia meringis kesakitan.


Sebelah tangan Mariana mencengkeram erat pergelangan tangan Novi, membuat jambakannya dari rambut Tari terlepas.


"Ta ... ta!" Tari menangis sambil memegang ujung baju Mariana.


Hati Mariana menangis melihat wajah manis Tari yang babak-belur. Dia menghempas tubuh Novi ke belakang hingga terjatuh. Dia menarik kolar baju Novi, membuat wanita itu kembali berdiri.


"Phui!" Novi meludahi Mariana. Mariana tersenyum mengejek.


"Pelacur! Sundal! Pereb ...!"


Plak! Plak!


Telapak tangan Mariana terukir di pipi mulus kiri dan kanan Novi.


Plak! Plak!


Sudut bibirnya kini mulai berdarah.


Plak! Plak!


Matanya sudah berkunang-kunang. Wajah Mariana terlihat samar.

__ADS_1


Plak!


"Ana!" Tangan Mariana menggantung di udara.


__ADS_2