
Senja belum berlabuh, tetapi, surya tak kelihatan sinarnya sejak pagi tadi. Sudah masuk bulan Mei, tetapi, mutiara perak dari langit masih juga turun membasahi bumi.
Pandangannya kosong menatap rintik hujan dari balik jendela. Suasana sunyi menambah kekosongan jiwa. Tak ada apa yang ia lakukan, hanya menatap dalam kehampaan.
Sesekali air hujan yang tempias membasahi jendela turut mengenai wajahnya, tetapi, dibiarkannya jua, seolah meminta hujan turut menyirami hatinya yang gersang.
Hari ini gadis itu sengaja meliburkan diri dari semua pekerjaan. Hanya ingin bersantai di rumah karena beberapa minggu sebelumnya, ia kelelahan demi menyiapkan pesanan pelanggan.
Ia membalikkan badan, menyapu pandangan pada ruangan yang sepi. Tak ada suara gelak-tawa. Tiada suara bising Tari memarahi anak-anaknya, ataupun suara celoteh Natan mengusik Noel.
Keluarga kecil itu pulang ke kampung Fendi kemarin sore, karena hari ini merupakan hari peringatan kematian ayah Fendi. Mereka akan kembali esok atau lusa nanti.
Sedangkan Andreas, lelaki itu tak kelihatan batang hidungnya sejak Mariana bangun saat jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WITA.
Aneh sebenarnya, karena sejak kemarin sore Mariana tak melihat lelaki itu. Mariana tak tahu, kalau Andreas sengaja menghindar darinya. Menghindar demi mengurangi dosa.
Bagi Andreas, sejak bertemu Mariana, dosanya semakin bertambah. Mungkin sudah bertebal-tebal buku yang dicatat para malaikat di surga akan dosanya.
Setiap kali bertemu, ada saja yang mereka pertengkarkan. Saling menjahili, balas dendam yang berujung pada kemarahan dan saling mengumpat. Maka dari itu, Andreas mencoba untuk mengalah, dan memilih untuk menghindar dari si Kribo.
Sampai kapan? Entah. Mungkin sampai dia bertemu Mariana yang dia cari.
Bagi Mariana pula, hari-harinya lebih berwarna sejak kehadiran Andreas di rumahnya. Awal pertemuan mereka, dia tidak terlalu menyukai lelaki itu. Namun misi 'Menangkap Hantu' malam ini mengubah pandangan Mariana.
Semakin hari dia semakin gemas dan suka menjahili Andreas. Ada-ada saja ide busuk yang terlintas di pikiran ketika mereka bertemu.
Akan tetapi, hari ini dia hanya ditemani sepi. Sunyi dan kosong.
Perut terasa lapar, tetapi enggan melangkah ke dapur. Dia tak suka makan sendiri. Kalau ada Andreas, bisa ajak makan bersama. Dia melangkah menuju ke sofa, duduk manis di sana.
Demi membunuh kebosanan, dia membuka aplikasi Facebook. Postingan Hendra hari itu belum dia lihat lagi. Sudah berapa lama, ya? Sudah berminggu-minggu mungkin.
Namun, dia merengus kesal. "Hp ni, sudah layak masuk museum. Loading seperti siput saja. Siput pun masih lebih cepat."
Facebook akhirnya terbuka, jarinya lincah menggulir postingan member Facebook. Sesekali dia memberi like pada postingan mereka. Kemudian dia mencari notifikasi masuk, mencari postingan Hendra.
Ketemu. Hendra memposting gambar mereka bertiga (dia, Hendra dan Gina), saat terakhir mereka bertemu beberapa tahun lalu. Ada rasa sedih yang berkecamuk dalam diri, mengusik perasaannya. Mengatakan bahwa dia merindukan Gina.
Di tengah lamunan yang ditemani sepi, lagu Seroja mengalun merdu memecah kesunyian. Panggilan video dari mama. Dia menjawab panggilan tersebut. Wajah nenek muncul di layar ponselnya.
["Hai, Nenek!"] sapanya riang.
["Ana, cucu kesayangan Nenek."] Suara nenek juga riang. Mariana tersenyum. Terobat kini rasa rindunya pada mereka karena lama mereka tak bersua dan bercengkrama bersama.
__ADS_1
["Apa kabar ayam, kambing, dan babi, Nenek?"]
["Kenapa tanya kabar binatang? Nenek kau lupakah?"] Nada suara nenek seolah berjauh hati. Merajuk.
["Ha-ha-ha!"] Dia tertawa. ["Kalau dapat lihat muka Nenek, berarti Nenek sehat. Benar tak?"]
["Tidak!"]
["Kenapa?"]
Nenek terisak. Dia menangis di seberang sana. Hati Mariana pilu jadinya, melihat air mata nenek.
["Kau baik? Tari bilang, Agus telepon."] Mariana mengangguk. Kini dia paham sebab nenek mengalirkan air mata.
Agus cucu kesayangannya. Satu-satunya penerus zuriat keluarga. Namun, dia tak berpilih kasih. Semua cucu dia sayang.
["Nenek! Mama di mana?"] Mariana coba mengubah topik.
["Sini, Ana?"] Wajah mama muncul di layar.
["Kamu berdua sehat, 'kan?"]
["Iya, kami sehat. Kapan kau pulang? Kau tu, Larantuka dengan Heras tidak jauh, tapi jarang lihat muka kamu."] Mama mulai mengomel.
["Ana, Yanti anaknya si Peni itu sudah bunting dengan laki orang."] Suara nenek terdengar keras, dari bahasanya yang kasar.
["Laki orang itu siapa?"]
["Orang Kupang. Istri dia datang buat heboh satu kampung. Kau tahu Ana, istri dia lebih cantik daripada Yanti. Nenek heran, istri cantik, tapi cari Yanti yang hidung seperti hidung babi."]
["He-he-he!"] Mariana hanya terkekeh.
["Nenek gembira, Ana. Dulu Peni tu asyik cerita buruk tentang kau. Sekarang anak dia kena karma. Bagus!"] Mariana diam tak menyahut.
["Bukan Yanti saja, Bota anaknya si Timu juga bunting. Tapi Bota, laki dia belum kawin jadi mereka dua kawin, oo."]
["Tapi Nenek, Bota, 'kan anaknya baik dan pendiam. Dia tidak seperti Yanti yang ...."]
["Diam-diam menghanyutkan. Bukan! Diam-diam ubi berisi. Kau tidak tahu?"] Nenek menyampuk kalimat Mariana.
["Dulu emak mereka itu cerewet sekali. Mulut ember, asyik bicara buruk tentang Mama kau, dan kamu juga,"] kata nenek.
Itulah yang membuat dia enggan untuk pulang ke kampung. Banyak orang bergosip tentang dia. Termasuk Peni dan Timu. Mereka bukan orang lain, tetangga dan saudara sendiri walaupun sudah beberapa keturunan, tetapi mereka berasal dari moyang yang sama.
__ADS_1
["Nenek gembira sekali, Ana. Nenek mau buat pesta, sembeli si Jago, Nenek mau ajak Lee Min Ho."]
Si Jago adalah nama ayam peliharaan nenek.
["Haa! Siapa Lee Min Ho?"]
["Aktor Korea."]
["Nenek sanggup sembeli si Jago? Lagipula, Lee Min Ho, aktor Korea. Apalah Nenek ni, ada-ada saja."]
["Ha-ha-ha! Makanya sering-seringlah buka internet."]
["Nenek kau peminat K-Pop. Kuota yang kau isi habis dia pakai buka YouTube nonton Drakor,"] ucap Mama.
["Ha-ha-ha!"]
["Coba kau tanya BTS, EXO, dia kenal semua. Ha-ha-ha!"]
["Benarkah, Nenek? Ai, Nenek paling hebat. Kalau Ana, K-Pop satu pun Ana tak kenal."]
["Ana, Nenek mau kenalkan kamu dengan Lee Min Ho. Mau tidak?"] tanya Nenek.
["Ai orang tu ada di Korea sana ...."]
["Di kampung kita juga ada Lee Min Ho."] Nenek menyampuk lagi kalimat Mariana.
["Tetangga kita, guru baru di SD. Nenek kau bilang muka dia seperti Lee Min Ho."] Mama yang menjawab.
["Kalau orang dia muka seperti Lee Min Ho, Ana tidak PD lah!"]
["Kau tu cantik, primadona kampung. Aishwarya Rai saja kalah."]
["Nenek sindir Ana, ya?"]
["Siapa yang sindir? Memang kenyataan. Cucu-cucu Nenek semua cantik-cantik dan ganteng. Sampai dokter pun tergila-gila."]
["Gila bayang. Ha-ha-ha!"]
["Ha-ha-ha!"]
Hari yang sepi terhibur dengan cerita nenek. Bergosip tentang orang kampung, K-Pop, hingga Bollywood.
Mariana tidak sendiri. Hidupnya dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Tatkala dia jatuh, mereka senantiasa ada memberi sokongan padanya.
__ADS_1
Ia menyanyangi mereka, melebihi dirinya sendiri.