My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab VIII


__ADS_3

Andreas mengintip lewat celah rumah, tetapi perasaannya agak cemas, merasa seperti pencuri. Berbeda dengan Mikel yang sejak kecil sudah terkenal nakal dan berani. Rumah papan itu tidak terawat, rumput liar juga tumbuh dengan subur dan tinggi, atap zink juga sudah berkarat dan berlubang sana-sini.


Andreas masih mengintip apabila telinganya mendengar seruan dari Mikel. Segera ia mengatur langkah mendekati jendela tempat Mikel berdiri.


"Ya, Tuhan, apakah dia sudah mati?" Mikel mengedikan bahu.


"Kau tunggu di sini, lihat kalau ada orang lewat, tanya siapa tahu mereka kenal perempuan itu."


Andreas mengangguk. Matanya melilau mencari sesiapa saja yang lewat. Kawasan itu memang sepi, karena agak jauh dari pemukiman penduduk. Hanya beberapa rumah yang terlihat. Dia berniat untuk pergi mencari bantuan, namun urung saat mendengar Mikel kembali memanggilnya.


"Dia masih hidup, hanya pingsan," lanjutnya sambil meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung perempuan tersebut untuk memastikan perempuan itu masih bernapas atau tidak.


"Kau buka pintu depan, aku akan pergi cari bantuan," ucap Andreas. Mikel mengangguk setuju.


Sang raja siang hampir kembali ke peraduan, tenggelam di ufuk barat menyisakan semburat jingga sambil menanti datangnya dewi malam, menggantikan tugas sang raja siang menerangi bumi Tuhan ini.


Andreas berjalan ke belakang menyusuri jalan setapak. Dilihatnya sebuah rumah yang berjarak 50 meter dari tempat ia berdiri. Ia mempercepat langkahnya menghampiri seorang wanita yang sedang membelah kayu api di luar rumah.


"Selamat sore, Tanta," sapanya.


"Iya, sore juga, Mo'an (panggilan untuk laki-laki dalam bahasa Maumere)," jawab ibu itu. Wajah hitam manis khas NTT, tersenyum lembut menyambut kedatangannya.


"Maaf mengganggu waktu Tanta."

__ADS_1


"Oh, tidak apa. Ada perlu apa, Mo'an?"


"Saya mau tanya Tanta. Tanta tahu rumah itu?" tunjuk Andreas ke arah rumah papan yang sudah usang.


"Oh, itu rumah punya Tobi, dia sudah lama pergi rantau."


Andreas mengangguk. "Ada orang di dalam, pingsan," ucapnya.


"Siapa pingsan, di situ tidak ada orang tinggal."


"Tolong Tanta ikut saya, siapa tahu Tanta kenal!" ajak Andreas.


"Oh, iya. Ayo! Ayo!" Ibu itu segera meletakkan parang yang dia gunakan untuk membelah kayu api tadi. Tak sempat berpamitan dengan orang rumah, tanta itu sudah berjalan tergesa-gesa setengah berlari, diekori Andreas dari belakang.


"Tanta, Dia harus segera dibawa ke rumah sakit," ucap Mikel.


"Rumah sakit jauh, di dekat sini ada puskesmas. Mo'an, kau antar dia pakai motor kamu," usul ibu itu sambil melihat wanita muda yang sedang pingsan, apakah wanita itu orang yang dia kenal atau tidak. Ternyata bukan orang yang dia kenal, bukan juga warga dari kampung tersebut.


"Motor kami kehabisan bensin." Andreas yang menjawab.


Ibu itu berpikir sejenak, kemudian dia berkata, "Sudah jam berapa, Mo'an?"


Andreas melirik jam tangannya. "Jam 7.00 (19.00 WITA), Tanta."

__ADS_1


"Sebentar lagi ...." Kalimat ibu itu belum selesai, sudah terdengar deruman mesin dari kejauhan. Ibu itu tersenyum. "IIu dia," katanya.


Ibu yang dikenal dengan nama Tanta Win melambaikan tangan saat sebuah angkutan pedesaan mulai terlihat mendekat. Terlihatlah wajah seorang pemuda yang sebaya dengan Andreas dan Mikel, menghentikan kendaraannya tepat di rumah usang tersebut, karena rumah itu memang terletak di tepi jalan raya.


Mikel meminta Andreas bersama Tanta Win, mengantarkan wanita itu ke puskesmas. Sedangkan ia sendiri harus segera pulang ke rumah, karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikan.


Sejak itu, Andreas mengenal Rena wanita yang mereka selamatkan. Ia juga berniat untuk melapor ke polisi setempat tentang penculikan Rena. Namun, Rena mencegahnya dengan alasan tidak ingin banyak pihak terlibat, sehingga kejadian itu berakhir begitu saja.


Kelembutan dan banyaknya kesamaan diantara mereka, menjadikan Rena wanita pertama yang rapat dengannya selain Nenek Esi dan Tanta Vero adik ayahnya. Sekaligus bertumbuhnya benih-benih cinta dalam hati Andreas.


Sore itu Andreas berkumpul bersama empat sahabatnya, Ben dan istrinya Susi, Tomas si pelontos, Us yang dipanggil USTAT (Us - Tantri (nama kekasih Us)), bersama Tantri, Paul dan Rena. Bercengkrama di halaman rumah Ben dan Susi.


Entah dengan sengaja atau tidak, seorang demi seorang meninggalkan kursi menyisakan dua makhluk Tuhan di halaman rumah. Sesekali tatapan mata dan senyuman yang berbicara dalam kebisuan.


"Tantri bilang, kau fobia terhadap perempuan." Rena berbicara memecah keheningan.


"Maaf!" Andreas menunduk.


"Sejak ibu kau pergi?" Andreas mengangguk. Ada kesedihan yang terpancar dari matanya.


"Tapi aku ingin rapat dengan kamu," ucap Andreas.


Rena tersenyum. "Mari kita coba."

__ADS_1


__ADS_2