My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab CIII


__ADS_3

Mariana bersiap mengunci pintu hendak ke pasar karena Andreas sudah berpesan jika teman-temannya akan datang menonton bola di rumah mereka. Kala itu Kak Siti datang menghampiri gadis tersebut. Jirannya yang baik hati itu mengajak Mariana turut serta dalam kegiatan lomba memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia bulan depan nanti. Petang ini pukul 15.00 WITA para ibu PKK dan muda-mudi akan berkumpul di rumah Ibu Ketua RT.


Mariana tidak berjanji ikut serta sebab hari ini teman-teman Andreas datang ke rumah. Dia perlu berbelanja di pasar, mengemas rumah, dan sebagainya. Ada banyak hal yang perlu dia lakukan hari ini, jadi tidak dapat berjanji pada Kak Siti.


Kak Siti menjawab, "Tidak apa, Ana. Selesaikan urusan kamu dulu. Jika ada kesempatan, kamu bisa datang ke rumah Ibu Rini."


"Terima kasih, Kak."


Kak Siti tersenyum. Dia kemudian berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Setelah kepergian Kak Siti, Mariana mengambil sepedanya di belakang dapur, lalu meninggalkan rumahnya setelah memastikan semua pintu sudah terkunci.


Panorama sepanjang jalan—sawah padi yang mulai menguning, ujung-ujung daun padi yang runcing bergoyang tertipu angin musim kemarau. Para petani berjalan kaki hendak ke kebun, ada yang bersepeda kayuh, ada yang bersepeda motor, ada juga yang sedang berbual di tepi jalan bersama petani lain. Bukan saja padi yang menjadi santapan mata, tanaman hijau lainnya berupa sayuran dan tanaman herba juga sungguh menyejukkan mata. Kicauan burung dan kesuk-kesik dedaunan yang tertiup angin mengantarkan irama melodi tersendiri.


Sesekali Mariana menyapa para warga yang dia temui di jalan walaupun diantara mereka ada yang tak dikenalnya. Sebelum menuju ke destinasi, gadis itu singgah sebentar di kedai Tanta Mei. Namun, hanya suasana yang sepi menyambut kedatangannya. Ternyata hari ini sang sifu tidak berniaga.


Mariana memutar balik sepedanya menuju ke Pasar Alok. Hampir sejam dia berbelanja segala kebutuhan di rumah, tetapi sepedanya tidak mampu memuat semua barang belanjaannya.


Gadis itu terpaksa meminta sopir angkutan yang menuju ke Desa Nele Urang untuk membawa barang-barang belanjaannya. Dia hanya membayar ongkos pengangkutan, meminta sang sopir dan kondektur angkutan menurunkan barangnya di rumah Nenek Esi. Sebut saja nama "Aloysius Krowe", pemilik perusahaan Krowe Brother's satu kota Maumere mesti kenal.


Mariana juga menyerahkan sekeping nota daftar barang-barang yang dibeli untuk mempermudahkan mereka ketika menurunkan barangnya nanti. Sekeping lagi nota dia selipkan di dalam kantong plastik. Sang gadis itu juga telah mengirim pesan lewat WhatsApp kepada Tanta Vero. Bukan karena dia tidak memercayai sang sopir dan kondektur, tetapi sekadar berjaga-jaga. Tidak salah, bukan?


Setelah memastikan semuanya sudah selesai, Mariana bergegas ke rumah Tanta Mei yang letaknya tidak jauh dari Pasar Alok. Sesampainya di sana, dia melihat Tanta Mei sedang menyapu halaman rumah. Namun, setelah melihat kedatangan Mariana, wanita itu bergegas memasuki rumah.


Dahi Mariana berkerut melihat perubahan sikap Tanta Mei. Tak biasanya sang situ mengabaikannya. Setelah mengunci sepeda, dia bergegas mengikuti langkah Tanta Mei, tetapi tak melihat wanita itu di ruang tamu.


"Sifu!" laung Mariana dari ruang tamu, tetapi tak terdengar jawaban. Langkah sang gadis terus ke dapur. Dilihatnya Tanta Mei sedang membancuh kopi.


"Salom, Sifu," sapa Mariana sambil melangkah mendekati wanita baya itu.

__ADS_1


"Salom." Suara sang sifu terdengar ketus.


Dahi Mariana kembali berkerut. "Ehem!"


Dia berdehem coba menarik perhatian sang sifu, tetapi wanita baya tersebut masih mengabaikannya.


"Sifu! Sifu! Sifu!" Sambil meletakkan tangan di belakang tubuhnya, dia coba bersikap lucu, tetapi tetap diabaikan. Mariana tidak tahu sang sifu hanya berpura-pura merajuk.


Karena terus diabaikan, Mariana menusuk pinggang Tanta Mei. Wanita baya itu berteriak kegelian. Bancuhan kopinya hampir tumpah. Namun, Mariana semakin gencar menggelitik pinggangnya. Akhirnya Tanta Mei tertawa, sambil berusaha menghindar tusukan Mariana.


"Sudah! Sudah! Tanta tidak tahan lagi, Ana. Ha-ha-ha."


Mariana juga tertawa suka. Dia akhirnya berhenti melakukan aksinya menusuk pinggang sang sifu. "Siapa suruh Sifu abaikan Ana."


"Itu," Tanta Mei menyerahkan segelas kopi pada Mariana, "karena sudah beberapa hari kamu tidak datang bantu tanta."


Kini mereka berdua duduk di atas para-para yang terletak di sudut dapur. Gadis itu bercerita tentang kesibukannya beberapa hari terakhir, tentang Andreas dan Mikel, tentang keluarga di kampung, tentang pelanggannya yang semakin ramai, dan sebagainya. Tanta Mei diam menyimak. Kadang-kadang dia bertanya ini dan itu. Dia juga banyak bercerita.


Mariana perasaan setiap kali dia bercerita tentang Andreas, sang sifu sangat bersemangat mendengar ceritanya. Wanita itu juga terlihat lebih ceria. Senyuman manis juga senantiasa mekar di bibirnya hingga membuat Mariana ingin mengusiknya.


Setelah meneguk kopi, Mariana berkata, "Ana lihat Sifu dari tadi asyik senyum. Gembira semacam. Ada duda yang buat Sifu jatuh cintakah?"


Kopi di dalam mulut Tanta Mei langsung menyembur keluar. Dia langsung memukul lengan Mariana tanpa sempat menyeka mulutnya terlebih dahulu karena geram hingga gadis itu meringis dan minumannya pun hampir tumpah. Namun, sang gadis pula hanya tertawa melihat raut wajah sang sifu yang berubah merona.


"Ha-ha-ha! Lihat itu! Muka Tanta merah macam orang lagi kasmaran."


Tanta Mei menyeka mulut setelah puas melepaskan geram. Dia lalu bertanya sambil menepuk-nepuk wajahnya, "Iyakah?"

__ADS_1


Mariana mengangguk sambil tertawa.


"Ini semua karena kamu."


Mariana mengerutkan kening pura-pura tak paham akan maksud perkataan sang sifu.


Tanta Mei langsung menyenggol bahunya. "Jangan pura-pura tidak paham!"


Mariana tertawa. Melihat wajah Tanta Mei memerah, dia semakin gencar mengusiknya. Dia balas menyenggol bahu sang sifu. "Siapa duda tu, Sifu? Ana penasaran ni."


"Duda apanya?" Tanta Mei mendelik.


"Duda yang buat Sifu kembali muda itu, loh."


Sang Sifu langsung mencubit pinggang gadis itu. Mariana menjerit kesakitan diiringi tawa.


"Tapi, Sifu, ayah mertua Ana juga duda. Bagaimana kalau Sifu kencan dengan ayah mertua Ana saja?"


Mariana langsung bangkit berdiri ketika merasa tangan Tanta Mei ingin kembali mencubit pinggangnya. Tawa gadis itu membahana apabila melihat sang sifu ikut berdiri lalu mengejarnya. Kedua wanita itu seketika bermain kejar-kejaran dalam ruangan dapur yang sempit itu.


Sambil berlari menghindar kejaran Tanta Mei, Mariana kembali berkata, "Ayah mertua Ana itu orangnya setia, Sifu. Sama macam Sifu juga. Jadi, cocok kalau Sifu dan ayah berkencan. Ha-ha-ha!"


Wajah putih Tanta Mei semakin memerah membuat tawa Mariana semakin membahana. Wanita yang dipanggil sifu itu berdiri sambil bercekak pinggang karena sudah kelelahan mengejar Mariana. "Kamu itu seharusnya panggil tanta 'ibu' bukan 'sifu'."


"Ana akan panggil Sifu dengan sebutan 'ibu' kalau Sifu kencan dengan ayah. Ha-ha-ha!"


"Dasar menantu kurang asam!" Tanta Mei akhirnya tertawa juga.

__ADS_1



__ADS_2