
"Sayur kangkung seikat seribu lima ratus. Masih segar!" teriak seorang penjual wanita. Terdengar dari dialeknya, dia dari Pulau Adonara, sekampung dengan Fendi. Maksudnya, mereka berasal dari pulau yang sama.
"Tiga barang dua puluh ribu, satu sepuluh ribu." Itu suara promosi dari corong radio yang direkam dan diputar berulang-ulang kali. Terlihat seorang pedagang mempromosikan barang-barang dapur yang terbuat dari bahan plastik dan sebagainya.
"Weri! Weri! Weri!" Suara konjak (konduktor) menggema mencari penumpang yang memiliki tujuan ke Kelurahan Weri dan yang searah dengannya.
Suasana Pasar Inpres Larantuka begitu riuh dipadati oleh para pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Dentuman musik, berbagai jenis bunyi dan gas beracun yang keluar dari cerobong asap kendaraan bermotor, menambah suasana semakin riuh-rendah.
Para pengunjung berdesak-desakan, berhimpit-himpitan di bawah terik matahari, tetapi tidak mengurangi semangat untuk mencari nafkah. Seperti peribahasa, di mana ada gula, di situ ada semut.
"Om Domi, apa kabar?" sapa Tari pada seorang pedagang yang sedang mengunyah sirih pinang. Terlihat bibirnya memerah.
"Eh, Oa Tari. Kabar om baik," jawab Om Domi, sambil meludah sirih yang sedang dikunyah ke dalam plastik hitam. Tersenyum memperlihatkan barisan gigi hitam akibat kebanyakan makan sirih.
"Om ... ikan asin lima ekor, ya." Tangannya lincah memilih ikan asin dan barang-barang lain yang ingin dibeli di gerai tersebut.
Garam satu kilogram, bawang merah tiga kilogram, bawang putih dan halia masing-masing dua kilogram. Om Domi dengan cepat menimbang barang-barang yang dipilih Tari.
"Om, bawang merah ini banyak yang rusak. Bisa tidak saya ambil semuanya, Om?" tanya Tari saat melihat sebakul bawang merah yang diletakkan berasingan.
"Kamu mau?" Tari mengangguk.
"Ambil saja. Om juga tidak bisa jual itu."
Akan tetapi, Tari merasa segan. Ia pun bertanya, "Sebakul ini ada berapa kilo, Om?"
"Itu dua kilo," jawab Om Domi.
"Kasih saya setengah harga ya, Om?"
"Ambil saja, Oa. Kamu itu, kan pelanggan tetap saya. Jadi, tidak apa-apa." Tari tersenyum. Riang hatinya mendengar jawaban Om Domi.
__ADS_1
Tari mengeluarkan uang dari dalam dompet. Diulurkannya beberapa lembar lima puluh ribuan. Uang tersebut berpindah tangan. Setelah menghitung harga yang perlu dibayar, Om Domi mengembalikan baki uang kepadanya.
Mariana yang berdiri di samping Tari, hanya memperhatikan interaksi antara keduanya. Kedua belah tangannya sudah pun penuh dengan bungkusan plastik belanjaan mereka. Dia hanya menjadi peneman Tari untuk berbelanja keperluan dapur mereka. Dia cukup kagum dengan kebijakan Tari dalam memilih dan menawar harga barang.
Sejak Tari tinggal bersamanya, dia tidak pernah lagi berbelanja kebutuhan dapur dan sebagainya. Harga pembalut wanita saja dia tak tahu karena Tari yang menyediakan semuanya. Satu perkara yang dia pelajari dari Tari hari ini yakni, perlu bijak menawar barang dan mengenali pedagangnya. Apakah pedagang tersebut jujur ataupun tidak.
"Ali!" panggil Mariana. Dia berjalan miring saat menerobos beberapa orang pengunjung yang sedang memilih barang di gerai yang menjual barang-barang dapur.
Langkah kakinya pantas berayun mengejar Tari yang sudah lebih dulu berada di depan. Tari menghentikan langkah setelah mendengar namanya dipanggil. Dia menoleh, melihat kakaknya kesusahan membawa barang belanjaan mereka. Dia sendiri tak dapat membantu sebab kedua belah tangannya pun, penuh dengan barang belanjaan.
"Aduh! Lebih baik kita sewa truk saja, sekalian angkut semua isi pasar bawa pulang ke rumah," kata Mariana sambil meletakkan belanjaannya di atas tanah, setelah berdiri di hadapan Tari.
"Kita bukannya buat pesta, kenapa beli barang begitu banyak?" tanyanya.
"Besok, 'kan kita kedatangan tamu. Jadi, sebagai tuan rumah, kita mestilah sediakan hidangan yang terbaik," jawab Tari.
"Iyalah, tapi, 'kan membuazir beli begini banyak. Bawang merah buruk ni buat apa ambil?" Mariana masih tak puas hati.
"Betul juga, ya?" Mariana garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lagipun tetamu itu bukan orang lain, calon mertua kau. Takkan Tata mau hidangkan mereka pisang bakar?" Tari menusuk pinggang Mariana, sekadar mengusik gadis itu.
Mariana terkekeh geli. "Apa salahnya? Itu, 'kan makanan kita orang kampung? Lagipun om Alo memang suka makan pisang bakar, pisang goreng, pisang rebus, pisang ...."
"Tidak boleh! Kesan pertama di hadapan calon mertua itu sangat penting. Jangan biarkan mereka pandang rendah kita! Untung kau tidak memiliki mak mertua. Kalau kau dapat mak mertua seperti ibu Dita itu ... siap kau. Mereka akan buli kau setiap hari."
Tari tunduk mengangkat barang belanjaannya, begitu pun dengan Mariana. Mereka kemudian mengatur langkah mencari angkutan yang akan membawa mereka pulang ke rumah mama.
Tari seketika mengusik kakaknya, katanya, "Tadi malam, aku dengar ada yang telepon. Bisik-bisik cinta semanis kecap ABC di tepi tangga."
Mariana tersenyum. Itu Andreas. Sejak dua minggu lalu setelah kepulangan Mariana dari Maumere, untuk pertama kalinya lelaki itu telepon walaupun atas suruhan ayahnya. Mengatakan bahwa, besok keluarga pihak lelaki akan bertemu dengan keluarga Mariana. Tidak ada kata-kata manis dalam perbualan mereka, tidak seperti yang dikatakan oleh Tari.
__ADS_1
"Tata!" Tari menghentikan langkah. Dia tersengih memandang Mariana. Diletakkannya barangannya di atas tanah.
"Aku pinjam satu buah hati, ya?"
"Ha?"
"Hap!" Tari seolah-olah menangkap sesuatu dari mata Mariana. Dia kemudian membuka telapak tangannya, lalu menunjukkannya pada Mariana. Sedangkan gadis itu hanya berdiri bingung melihat tingkah adiknya.
"Tata punya mata banyak keluar hati. Jadi, aku pinjam satu." Mariana menyepak kaki Tari. Mereka sama-sama tertawa.
Tari gembira mengusik kakaknya. 'Sesekali, kan?'
...***...
Dentuman musik dari audio angkutan yang mereka tumpangi, cukup memekakkan telinga dan mendebarkan dada bagi mereka yang tidak kuat menahan getaran bunyi bass dari audio. Itulah ciri khas angkutan umum di kota Larantuka. Konon kalau sistem *c*ar audio-nya tidak bagus, penumpang enggan menaikinya, alias tidak akan laku. Terdengar aneh, tetapi itulah kenyataannya.
Sehingga para pemilik angkutan bisa mengeluarkan dana hingga belasan juta rupiah untuk sekadar membenahi audio-nya. Angka yang tidak kecil.
Angkutan yang mereka tumpangi mendendangkan lagu-lagu Lamaholot. Mariana dan Tari duduk dekat pintu masuk.
"Ana, apa kabar? Lama tidak lihat kamu," sapa seorang penumpang saat Mariana meletakan pantatnya di atas kursi angkutan tersebut.
Mariana tersenyum setelah mengenali siapa yang menegurnya. Ternyata Yanti anaknya si Peni yang dikatakan nenek selingkuh dengan suami orang. Benarkah? Entahlah. Dia tidak mau peduli akan hal orang. Satu yang dia tahu, di hadapan matanya sekarang, perempuan itu sedang berisi. Perutnya belum besar, tetapi sudah terlihat menonjol.
"Puji Tuhan, saya baik. Yanti apa kabar?"
Yanti tersenyum. Namun tatapannya terlihat sendu. "Saya juga baik," katanya.
Mereka tidak bercerita lagi, karena angkutan mulai disesaki penumpang. Tidak lama kemudian, angkutan tersebut bertolak meninggalkan Pasar Inpres Larantuka. Pada siang itu, Mariana dan Tari pulang ke rumah mama.
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh mama dan nenek dengan hidangan yang sudah disajikan di atas meja. Ada sambil udang, sayur kangkung ditumis terasi dan ikan bawal hitam goreng masak tomat. Rumah mama semakin meriah setelah Fendi pulang dari sekolah, kemudian bergabung dengan mereka di meja makan.
__ADS_1