
Sesuai petunjuk dari Fatimah, ini dia telah pun berdiri di depan toko cendramata MARIANA BLING BLING. Ditolaknya pintu yang terbuat dari kaca.
Kring! Kring!
Bunyi lonceng menggema.
"Selamat datang!" sapa seorang gadis menyambut kedatangannya. Namun, tak terlihat batang hidung pemilik suara tersebut.
"Cari apa?" tanya gadis itu lagi.
Dia berdiri mematung setelah masuk ke dalam toko. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi masih belum menemukan sang pemilik toko tersebut.
"Aku di sini!" Sebelah tangan tiba-tiba keluar dari kolong meja di samping kirinya, sambil melambai-lambai. Disusul oleh batang tubuh dengan muka hitam dan rambut kusut. Kalah dengan penampilan Mak Kuntilanak.
Jantungnya hampir saja terlepas dari tangkainya karena terlalu terkejut. Untung saja dia tak ada masalah jantung. Kalau tidak, pasti sudah dijemput oleh ketua penghuni neraka.
"Maaf! Kau kaget ya?" Ia diam tak menjawab.
"Komputer aku tiba-tiba meledak. Yang parahnya aku kena setrum. Untung aku masih punya sembilan nyawa cadangan. Ha-ha-ha!" Mariana tertawa. Ia hanya tersenyum sumbing.
Mariana berlalu ke belakang, sedangkan ia sibuk menilik barang-barang yang dipajang di atas lemari dan rak.
Yang paling membuat ia kagum adalah pahatan patung dari berbagai bentuk dan ukuran. Ada juga patung para aktor dan aktris. Baik itu aktor-aktris tanah air maupun luar negara.
Lima menit kemudian, Mariana kembali dengan penampilan yang sudah rapi.
"Mau cari apa?" tanya Mariana.
"Saya mau buat patung. Hmm, maksud saya mau pesan patung pakai wajah saya." Ia menunjuk diri sendiri.
"Oke! Kapan ambil?"
"Sekarang. Maksud saya hari ini juga. Karena jam lima nanti (pukul 17.00 WITA) saya harus naik bas mau ke Maumere."
"Wah! Sekarang saja sudah 1.30 (13.30 WITA). Tidak mungkin saya buat dalam beberapa jam." Mereka berdua terdiam.
"Memangnya kau tinggal di mana?" tanya Mariana.
"Maumere."
"Kau datang dari Maumere hanya untuk buat patung?" Hati Mariana begitu tersanjung, seperti mendapat pujian dari sang kekasih.
"Tidak! Saya ada urusan di sini. Kebetulan saya lihat banyak orang memiliki patung, jadi saya ingin punya satu "
"Ooh, begitu rupanya!" Mariana mengangguk.
"Bagaimana, ya?" Mariana garuk kepala.
"Bisakah kau buat saya punya dulu? Berapa pun akan saya bayar."
__ADS_1
"Bukan itu masalahnya. Kau lihat, ni," tunjuk Mariana pada setumpuk foto yang ada di atas meja kerjanya.
"Masih ada dua puluh keping yang belum saya buat. Giliran kamu tiga hari lagi."
Dia diam. "Tidak mungkin juga, saya bolak-balik dari Maumere hanya untuk ambil patung. Maumere - Larantuka bukannya dekat," jawabnya kemudian.
"Okelah! Karena kau ganteng, saya kasih pengecualian. Tapi orang ganteng harganya lebih mahal, oo!" Hmm. Mulai dah siap sedia buka jurus tawar ikan asin.
Mikhael tersenyum. "Tidak masalah," ucapnya.
"Dua kali harga biasa."
"Oke!"
"Kau sudah makan?" tanya Mariana mengalihkan topik.
Kriuk! Kriuuk!
"Ha-ha-ha!" Mereka tertawa.
"Perut saya sudah jawab lebih dulu." ucapnya.
"Mari kita makan sama-sama. Saya juga belum makan." Mariana mengambil dua buah piring, sendok dan garpu. Lalu mengajaknya duduk di sebuah kursi.
"Tidak mengapa, saya pergi makan di warung sana saja." Ia coba menolak halus tawaran Mariana.
"Siapa nama kamu?" tanya Mariana, sambil mengulurkan tangan.
"Mikhael," jawabnya menyambut uluran tangan Mariana.
"Mari makan! Tugas kamu nanti melayani pelanggan yang datang. Karena saya sibuk nantinya." Mikhael tidak dapat menolak karena dia mendapat pekerjaan baru sebagai pramuniaga sementara.
...***...
Tari menyeluk saku tas setelah merasakan getaran ponsel dari dalam tasnya. Mereka baru saja tiba di rumah setelah pulang dari gereja. Setelah dibuka ada satu pesan dari WhatsApp.
Tata Ana
[Ali, tidak usah masak. Tata traktir. Ajak si Pengecut juga]
"Wah! Dia mimpi apa tadi malam?" Tari berbisik sendiri.
"Hmm! Rezeki jangan ditolak."
"Kenapa?" tanya Fendi.
"Ada orang traktir makan," jawab Tari.
"Siapa?"
__ADS_1
"Siapa lagi, kalau bukan bos kita." Tari tersengih.
"Tata!" panggilnya setelah masuk ke dalam rumah. Sepi. Dia mencari di dalam kamar. Kosong. Dapur dan kamar mandi juga kosong.
"Marianaaa! Tata Anaaa!" Tak langsung mendapat sahutan.
"Ke mana dia pergi ni, katanya mau traktir kami?"
"Sepedanya tidak ada. Dia sudah keluar." Fendi muncul di ruang tamu.
Tari kemudian masuk ke kamarnya, mengganti baju. Saat melewati ruang makan, haruman rendang kambing menyapu hidungnya karena kamar Tari bersebelahan dengan ruang makan. Langkah kakinya mendekati meja makan, lantas dengan segara ia membuka tudung saji.
"Wah, penghuni kampung tengah langsung mengamuk, ni!"
Dia mengambil secuil daging kambing. "Hmm, enaknya!"
Telah tersaji berbagai jenis hidangan makanan kesukaan mereka di atas meja. Setiap sajian tertulis nama masing-masing menggunakan stick note. Mi goreng untuk Fendi. Nasi putih berlauk rendang daging kambing untuk Tari. Nasi ayam untuk Natan. Bubur ayam untuk Noel dan dua piring gado-gado bersaus kacang tanah.
"Natan, panggil bapa dan om Ande!" Tari menyuruh anaknya.
Tak lama kemudian, Andreas dan Fendi muncul bersama di ruang makan.
"Wah!" Semua orang memperlihatkan kekaguman, tetapi berbeda dengan Andreas. Lelaki itu merinding melihat saus kacang. Kenapa? Entahlah.
Andreas kembali ke kamar, tak lama kemudian ia kembali lagi. Masing-masing mengambil tempat duduk, kemudian Tari membagi makanan sesuai pesanan yang ditulis Mariana.
Saat Tari menyerahkan gado-gado kepunyaan Andreas, ia juga menyerahkan sekeping nota yang berbunyi : Makan pelan-pelan, Sayang. Kalau terburu-buru nanti jadi si Buruk Rupa.
"Wah, romantisnya kakak aku, ni!" Tari coba mengusik. Andreas hanya tersenyum menanggapinya.
Satu lagi piring gado-gado, stick note - nya berbunyi :
Free. Siapa yang habis lebih dulu, dia dapat jatah tambahan.
Mereka pun mulai menyantap hidangan tersebut, setelah Andreas melafazkan doa. Satu suapan, dua suapan, saat suapan ketiga wajah Andreas berubah.
Benar-benar jadi si Buruk Rupa. Wajahnya merah padam menahan rasa yang menyengat lidah, bibir, dan perutnya.
"Pedas! Ahhhh! Pedaaas!" jerit Andreas tiba-tiba. Ia berdiri. Kursi terdorong ke belakang hampir saja terbalik.
"Gila. Mariana, kau...." Tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena lidahnya terasa kelu. Segera dia meneguk air putih sebanyak-banyaknya.
'Kribbbooo! Ku bunuh kau!' Dia mengumpat dalam hati.
Semua orang terkejut. Tari mengambil piring gado-gado yang satunya lagi, di bawah piring tersebut, Mariana melekatkan stick note dengan berbunyi :
Bagaimana rasanya? Enakkan? Ha-ha-ha! Itu balasan untuk dahi aku yang benjol tu. Makan yang ini. Ini aku tidak tambah wasabi.
Tari menepuk dahi. Ternyata Mariana membalas dendam.
__ADS_1