My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXIV


__ADS_3

"Om kamu mau minta gading," kata mama memecah keheningan di antara mereka.


"Tapi susah mau dapat gading sekarang."


"Mereka pasti mampu." Mariana kembali membisu.


Semalam saat dia mengobrol dengan Om Alo melalui telepon, lelaki paruh baya itu sempat bertanya tentang adat perkawinan suku Lamaholot. Mariana menjelaskan serba sedikit.


...***...


Masyarakat Flores Timur lebih dikenal dengan sebutan masyarakat Lamaholot. Masyarakat Lamaholot ini dalam kehidupannya memiliki kebiasaan-kebiasaan unik, terutama berkaitan dengan adat perkawinan, di mana kehidupan seorang wanita dalam adat-istiadat memiliki nilai yang sangat tinggi.


Nilai seorang wanita dapat diketahui dari besarnya mas kawin atau belis yang dikonkretkan dalam jumlah dan ukuran gading gajah yang saat ini sulit didapati atau diperoleh. Pada umumnya, jumlah dan ukuran gading gajah tergantung dari status sosial gadis tersebut dalam masyarakat.


Suku Lamaholot dikenal sebagai suku yang sangat kental akan adat dan budaya. Suku ini mendiami Pulau Flores Timur daratan dan sekitarnya, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata, Pulau Alor; propinsi NTT. Suku ini sangat menjunjung tinggi kearifan lokal. Jadi, jangan heran masih banyak profesi atau ritual adat yang masih dilakukan hingga kini, termasuk pernikahan.


Mahar atau orang Lamaholot biasa sebut belis, menjadi simbol status sosial. Keluarga calon mempelai wanita, berhak menuntut gading berkualitas kepada sang mempelai pria. Semakin tinggi derajat keluarga pihak wanita, maka semakin mahal pula belis yang diminta.


Panjang, kondisi, dan jumlah belis ditentukan melalui rapat atau musyawarah antara kedua keluarga. Belis yang dibawa juga tidak boleh kurang dari tuntutan keluarga mempelai wanita.


Utang-piutang belis juga diperbolehkan dalam suku ini. Maksudnya, jika saat pernikahan belis belum tersedia, pernikahan masih bisa dilangsungkan, tetapi, dengan catatan belis itu menjadi utang antara pihak lelaki kepada pihak perempuan. Pihak lelaki tetap berkewajiban membayar belis.


Bila tak mampu membayar, utang-piutang gading berlangsung turun-temurun. Jika sang ayah belum melunaskan belis, utang akan dibebankan kepada anak, cucu, cicit dan seterusnya.


Untuk urusan kawin-mawin dalam tradisi Lamaholot ini memang terdengar aneh, rumit, tetapi unik. Menikah saja, mas kawin harus menggunakan gading, sedangkan di daerah Flores merupakan daerah yang panas dan kering-kerontang, sehingga tak seekor pun gajah yang mampu hidup di sana.


Gading tersebut, kononnya didapati dari orang-orang yang pergi merantau ke Pulau Jawa dan Malaysia. Itu sebabnya mengapa gading sangat mahal di Flores, berkisar antara tiga belas juta rupiah sampai seratus juta rupiah per batang.


Begitu berat perjuangan untuk mendapatkan sebatang gading. Hal ini melambangkan, betapa tinggi derajat kaum wanita dalam pandangan suku Lamaholot. Jadi, tidak semudah itu memperistri seorang gadis Lamaholot. Kesepakatan yang dicapai dalam urusan belis menjadi tanda penghargaan dan penghormatan terhadap wanita dan keluarganya.

__ADS_1


Hal itu kini mendatangkan masalah bagi kaum muda Lamaholot. Berbagai suara dan pendapat diutarakan untuk menyederhanakan urusan belis. Oleh karena populasi gajah semakin langka, sehingga sekarang belis gading bisa diganti dengan uang tunai.


Namun demikian, apa pun bentuk tradisinya, kita tetap harus menghargai segala kearifan lokal suku Lamaholot. Warisan budaya yang patut kita jaga dan pelihara sebagai salah satu wujud kekayaan bangsa.


...***...


"Mama, Tata!" Suara Tari mengejutkan mereka berdua.


"Mari makan! Nenek sudah tunggu," kata Tari sebelum menghilang di balik pintu dapur.


Tanpa terasa perbincangan ibu dan anak itu berlarut sampai malam. Mariana melirik jam pada layar ponselnya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WITA.


"Mama mandi dulu." Mariana mengangguk. Dia hanya mengiringi langkah mama melalui ekor matanya.


Dia kemudian membaringkan tubuhnya di atas para-para tersebut. Ditatapnya langit malam yang terlihat indah, dihiasi bulan yang sedang mengambang penuh. Sekilas terlintas kenangan silam bersama Daniel.


"Aku suka bau tanah setelah hujan." Suara Daniel menggema dalam keheningan malam. Mereka berbaring di atas lantai aspal, setelah Daniel menjemputnya di Kelab Mawar Merah.


Bulan yang bersembunyi di balik awan hitam, malu-malu mengintai keromantisan dua sejoli tersebut. Mariana tersenyum. Hatinya riang gembira bila menghabiskan waktu bersama Daniel. Kedinginan udara pun tak dapat mendinginkan kehangatan hati dua insan yang sedang kasmaran.


"Aroma tanah memang segar," kata Mariana.


Sebenarnya dia heran dengan kesukaan lelaki itu yang selalu bertentangan dengan kesukaannya. Jika Daniel suka hujan, dia suka matahari. Alasan, karena dia tak tahan cuaca dingin. Daniel suka laut, dia suka langit. Daniel suka putih, dia suka hitam. Kata Daniel, putih itu suci. Sesuci cintanya pada Mariana. Dia suka langit malam karena bintang hanya memperlihatkan pesonanya saat kegelapan menguasai bumi.


Dia pernah bertanya pada Daniel, tentang kesukaan mereka yang selalu berlawanan. Kata Daniel, "Perbedaan akan melengkapkan kita. Kalau kita memiliki banyak persamaan, itu akan membuat kita cepat merasa bosan karena tidak ada perkara baru yang bisa kita terokai. Tidak ada tantangannya.


Bumi ini bulat. Walaupun, kita bergerak pada arah berlawanan, kita tetap kembali pada titik semula. Jika aku menyukai putih, kamu menyukai hitam, anak kita nanti akan menyukai warna abu-abu."


Mariana tertawa bila mendengar kalimat itu. Daniel selalu merancang masa depan mereka. Namun, hakikatnya manusia hanya mampu merancang, karena Tuhanlah penentu segalanya.

__ADS_1


"Ana!"


"Hmm!"


Daniel bangun dari pembaringannya. "Apa kata kita pergi dari sini?"


"Pergi ke mana?" tanyanya.


Daniel memalingkan wajahnya menatap Mariana. Mata bulat Mariana terlihat bercahaya saat cahaya lampu jalan menyoroti matanya. Daniel terpaku sesaat menatap keindahan di hadapannya.


"Ke mana saja, asalkan jauh dari Larantuka. Aku sudah tak sanggup lagi menunggu restu dari mereka."


Mariana bingkas bangun, membetulkan letak duduknya. Kepalanya disandarkan pada bahu Daniel.


"Bagaimana kalau kita ke Kalimantan Barat? Aku ada teman di sana. Nomor teleponnya masih aku simpan. Walaupun kami tidak begitu dekat waktu di sekolah dulu, tapi dia baik orangnya. Kita bisa minta bantuannya. Mungkin sehari dua kita menginap di rumahnya dulu." Nada suara Mariana terdengar begitu bersemangat.


Daniel terus bangun menarik tangannya. "Ayo, kita pergi sekarang!"


Malam itu juga, dua sejoli itu nekat meninggalkan keluarga dan kampung halaman. Daniel mengantar Mariana ke rumahnya, kemudian berjanji bertemu lagi di simpang jalan menuju rumah Mariana.


Setelah berkemas, gadis itu meninggalkan sekeping nota untuk Tari yang masih terlelap dibuai mimpi. Walaupun rasa bersalah merasuki jiwanya, tetapi hatinya tetap yakin pada keputusannya. Biarlah ia egois untuk sekali ini saja. Begitu pun dengan Daniel. Lelaki penurut itu, untuk pertama kalinya memberontak terhadap keluarganya.


Kata Daniel, "Jangan kamu khawatirkan apa yang kita makan esok hari karena aku masih memiliki simpanan untuk memenuhi kebutuhan kita! Lagipun aku ini lelaki, pantang menyerah untuk menerokai kehidupan kita. Uang boleh dicari, selagi hayat masih dikandung badan. Namun, kebahagiaan takkan lagi kudapat, jika aku kehilangan dirimu."


"Ana! Ana!"


"Hmm!"


"Bangun tidur di dalam!" panggil sang mama mengejutkannya, "di luar dingin," lanjutnya.

__ADS_1


Perlahan-lahan Mariana bangkit dari pembaringannya. Tangan kanan diulur mengesat cairan bening yang membasahi pipinya. Untuk sekian lama, Mariana kembali menangis.


__ADS_2