My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XVIII


__ADS_3

Teke teke teke tut tut tut!


Bunyi bulldozer (traktor pengorek tanah) cukup bising. Pak Sena begitu ahli dalam mengendalikan traktor tersebut. Maju ke depan, korek, kemudian undur ke belakang, maju ke depan lagi, lalu memindahkan tanah itu ke tempat lain, dan begitulah seterusnya.


Matahari terik, debu juga beterbangan tidak menghambat para pekerja itu melakukan tugasnya. Demi mendapatkan nilai rupiah, manusia perlu bekerja keras, membanting tulang demi bisa memberi makan anak istri di rumah.


Andreas menyeka keringat yang bercucuran di dahinya. T-shirt cokelat bagian punggungnya pun sudah basah karena peluhnya sendiri. Kulit putihnya terlihat kemerah-merahan dipanah sinar matahari. Ia pun berteduh di bawah pohon asam, sesekali tangannya menulis sesuatu di atas kertas yang dipegangnya.


Pekerjaan pembinaan rumah yatim-piatu St. Theresia sudah dimulai. Ia harus segera menulis laporan untuk diantarkan kepada Ben yang menjadi ketua tim mereka di bagian perancangan.


Pak Ignas berjalan pelan mendekati Andreas sambil tersenyum. Kulit cokelatnya semakin gelap. Membuktikan bahwa ia seorang pekerja keras dan berdedikasi tinggi. Pak Ignas merupakan ketua kontraktor pembangunan rumah yatim-piatu St.Theresia.


"Terlalu panas hari ini. Sudah seminggu tidak hujan." Ia mengeluh. Andreas hanya mengangguk.


"Tapi bagus juga tidak hujan, karena sekarang mete sedang berbunga. Kalau hujan turun bunga semua gugur. Hancur habis." Ia bersuara lagi. Andreas diam menyimak, sambil mengangguk.


"Senaa!" teriak pak Ignas tiba-tiba, "gusur di sini dulu, korek bagian sini!" perintah pak Ignas. Pak Sena menoleh, lalu mengangguk.


Teke teke teke teke, tut tut tut tut tut!


Pak Sena memundurkan traktornya. Memandu menuju arah yang ditunjukkan oleh Pak Ignas. Debu berterbangan ke mana-mana. Andreas terbatuk-batuk. Ia mengibaskan tangannya menghalau debu yang memasuki rongga hidungnya. Pak Ignas pun mengajaknya berpindah tempat.


"Tanah liat memang banyak debu, kalau panas begini. Tapi itu lebih baik. Kalau hujan, tanahnya melekat saat kita pijak," kata pak Ignas, Andreas mengangguk setuju.


"Ini tanahnya pak Yos, kan?" tanya Pak Ignas. Andreas mengangguk.


"Iya! Pak Alex tidak mau menjual tanahnya. Kata dia tanah itu warisan keluarga. Lagipun sekarang, susah mau dapat tanah. Untung ada pak Yos yang mau menjual tanahnya," jawabnya.


"Benar. Pulau Flores ini daratannya terlalu kecil, semua dikelilingi laut. Memang bukan mudah bisa dapat tanah sekarang. Anak cucu pun makin banyak. Entah bagaimana mereka hidup kelak." Pak Ignas menimpali.


"Ahh, aku hampir lupa." Pak Ignas menepuk dahinya, kini mereka berteduh di bawah pohon mangga yang sedang lebat berbunga.


"Kenapa, Pak?" tanyanya.


"Saya cuma mau bilang, kalau hari Kamis nanti baru semen, pasir dan batu akan diantar ke sini. Pekerja juga sudah saya beritahu. Pembuatan pondasi mulai hari Kamis nanti." Andreas mengangguk.


Ia mengambil selembar kertas berwarna putih lalu menyerahkannya pada pak Ignas.


"Itu gambar struktur bangunan pembinaan rumah yatim nanti," ucapnya, "pelajari dulu. Itu digambar oleh arsitek di perusahaan kami," lanjutnya lagi, sambil menjelaskan secara singkat letak setiap bangunan dan ruang yang akan dibina nanti. Pak Ignas mengangguk. Setelah itu mereka hanya mengobrol santai.


...***...

__ADS_1


Siang, malam, tutup mata, buka mata tak terasa sudah sebulan Andreas mengontrak di rumah Mariana. Pekerjaannya di kota itu sebenarnya sudah selesai beberapa minggu yang lalu. Namun, ayah tak mengizinkannya pulang, karena dia masih memiliki misi tambahan, 'mencari menantu sang ayah.'


Namun, hingga kini, misi itu belum juga ia selesaikan. Terkadang ia ingin berputus asa dan mengatakan pada ayah kalau menantu pilihan ayah itu sudah menikah dengan lelaki lain, tetapi ia tak sanggup untuk berbohong.


Andreas memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sekeping amplop berwarna putih. Kemudian melipatnya, lalu berjalan ke luar kamar mencari seseorang.


Terdengar suara bising di dapur. Pasti Tari sedang masak, ataupun sedang berkemas membersihkan dapur. Jangan kau harapkan Mariana, si Kribo itu tak lagi ia lihat batang hidungnya sejak beberapa minggu yang lalu.


Rumah ini ibarat hotel hanya persinggahan sementara bagi Mariana. Walaupun mereka tinggal sebumbung, tetapi, boleh dihitung dengan jari beberapa kali mereka bersua.


"Permisi, Sis!" panggil Andreas sopan, tak seperti ia memanggil Mariana, 'Eh! Si kribo,' itu panggilan untuk Mariana kalau mereka bertemu. Kasar amat.


Tari yang sedang mencuci piring, menoleh setelah namanya dipanggil.


"Iya, Pak Ande!" Dia menghentikan sejenak kegiatannya.


"Saya mau bicara sedikit," ucapnya sedikit gugup. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan. Beginilah dia bila berhadapan dengan lawan jenis.


Namun, berbeda bila berhadapan dengan Mariana, tiada kegugupan yang ia rasakan. Aneh bin ajaib. Atau jangan-jangan Mariana itu lelaki yang menyamar jadi perempuan. 'Ihh, menjijikkan,' ia bergidik ngeri membayangkannya.


"Begini, Sis! Saya sudah sebulan tinggal di sini, jadi saya mau bayar sewa." Ia menyodorkan amplop yang dipegangnya. Tari meraihnya, lalu membuka melirik isinya, karena terlihat tebal.


"Tiga ratus ribu! Perjanjian kita kan cuma seratus, Pak!"


"Sebenarnya perjanjian itu saya hanya asal buat, tiada niat untuk melakukan pemerasan. Saya buat karena kesal dengan si Kribo it ...." Andreas diam, tak melanjutkan kalimatnya.


"Ha-ha-ha!" Tari tertawa. "Si kribo! Nama itu memang sesuai untuk dia," ucapnya. Andreas mengulum senyum.


"Maaf!" Andreas merasa bersalah.


"Tidak usah minta maaf, Pak. Sebenarnya kami tahu, kakak saya juga tahu, kalau Pak Ande hanya mempermainkan dia."


"Dia tahu?"


Tari mengangguk. "Dia tahu, hanya saja dia tidak terlalu berpikir dan peduli pada perkara yang dia anggap remeh."


"O, kalau begitu jangan bilang pada dia, saya bayar tiga ratus."


Tari mengangguk, tersenyum penuh makna. "Oke," jawabnya.


"Terima kasih,Pak!" Dia menunjuk amplop yang sudah beralih tangan. "Dan terima kasih sudah jujur pada saya!" Andreas mengangguk menanggapinya, kemudian berlalu ke ruang tamu.

__ADS_1


...***...


Ruang tamu hanya diisi dengan kebisingan bunyi dari kotak hitam empat segi yang diletakkan di atas lemari dan suara bising anak-anak Tari memperebutkan mainan.


Sedangkan Tari sibuk merajuk topi untuk Noel, itu yang dikatakannya tadi. Jam di dinding menunjukkan pukul 8.30 WITA. Fendi sedang bertandang ke rumah tetangga, sempat juga dia mengajak Andreas, tetapi, pria itu menolak.


Andreas sibuk mengotak-atik ponsel Huawei milik Mariana. Kadang-kadang ia jadi kesal sendiri.


"Ini hp keluaran tahu berapa ni, loading-nya seperti siput." Ia menggerutu pelan.


Tari yang mendengar gerutuan Andreas, tersenyum. "Hp itu sudah empat tahun, lagipun bukan kakak yang beli. Dia dapat hadiah dari permainan putar roda." Tari bersuara menjelaskan tanpa dipinta.


"Kakak, Sis itu kerja apa?" tanya Andreas. Bingung karena melihat Mariana merayap setiap malam. 'Memangnya Mariana itu semut? Merayap'


"Dia kerja di kelab." Dahi Andreas berkerut seribu.


"He-he-he!" Tari terkekeh. "Semua orang memperlihatkan reaksi begitu, bila tahu kakak saya kerja di kelab."


"Memangnya dia kerja apa?" Andreas ulang pertanyaannya.


"Penyanyi. Dia menyanyi di sana."


"Saudara Fendi bilang, kalau kakak, Sis itu ada usaha sendiri."


Tari mengangguk. "Iya! Dia kerja di sana karena suka. Kalau dia suka, dia gembira, dia tidak peduli apa orang lain kata." Andreas diam. Mengangguk.


Suasana kembali sepi. Andreas kembali mengotak-atik ponsel Mariana. Dalam galeri hanya ada satu foto Mariana, yang lain foto Noel dan Natan. Foto itu juga dijadikan wallpaper, foto profil di Facebook dan WhatsApp.


'Hmm, dia bukan jenis orang yang suka berfoto,' batin Andreas.


Ia membuka Facebook, melihat postingan Mariana. Sama, tak ada yang istimewa. Wajah Noel dan Natan memenuhi ruangan Facebook.


Tiba-tiba ada pesan masuk di Messenger. Nama akun RudiRudi mengantar tiga keping gambar dan video. Andreas membukanya. Ia terkejut. Ponsel Huawei itu terus dibuang ke sembarang arah. Wajah Andreas memerah. Tari yang sedang merajut, terkejut bukan kepalang. Suara tangisan Noel pun seketika menggema di ruangan itu.


"Blokir! Blok itu orang!" Andreas berdiri. Tari turut berdiri, lalu mengambil ponsel yang dibuang tadi.


"Orang seperti itu, tidak baik dijadikan teman." Suara Andreas bergetar. Tari buka ponsel, ingin melihat apa yang menjadi punca perubahan Andreas.


Ada tiga gambar dan video. Gambar itu ternyata..


'Senjata para tuan.'

__ADS_1


__ADS_2