
"Ade, lepaskan! Sakit tahu." Namun, sang adik tak memedulikannya.
"Aguus!" Ia memukul lengan adiknya. Mariana terus berusaha melepaskan tangannya dari cekalan sang adik. Namun, usahanya hanya sia-sia. Cekalan Agus semakin kuat, hingga menimbulkan warna merah pada pergelangan tangannya.
Mereka menjadi pusat perhatian saat Agus menarik Mariana melewati para pengunjung kelab. Sepatu tumit tinggi runcing merahnya pun sebelah kanan sudah patah, sehingga membuatnya berjalan seperti orang pincang.
Ia menatap punggung kekar sang adik, turun ke lengannya yang berotot, Mariana tersenyum. 'Ade sudah dewasa rupanya. Sudah tak ada ingus lagi. Kalau dulu orang sampai ejek dia, SI ROKOK INGUS,' batin Mariana.
Tiba-tiba Agus menarik lalu mendorongnya dengan kasar. Mariana terus tersungkur ke lantai. Ia meringis menahan perih pada lututnya.
"Sakit, Tata?" Dia tersenyum mengejek. "Hati aku lebih sakit, Kak!" Duaranya meninggi. Ia menepuk dada. Wajahnya memerah. Terlihat bulir jernih bertakung di pelupuk mata. Namun, sekuat mungkin ia menahan, agar tidak jatuh membasahi pipinya.
"Apa maksud kamu, Agus? Tiba-tiba saja kau marah." Mariana berdiri. Ia bertanya pelan. Ia agak malu, karena di situ ada beberapa orang pemuda-pemudi berkumpul.
Ia meraih tangan Agus, tetapi, pemuda itu menepisnya dengan kasar.
"Begini kelakuan kakak di belakang kami?" Agus menatapnya dari atas ke bawah. "Di rumah kakak pura-pura alim, tapi di belakang kami, kakak jual badan."
Mariana diam tak menjawab, dia tidak ingin membela diri. Ia membiarkan adiknya meluahkan perasannya walaupun ia cukup terkejut dengan sikap kasar sang adik.
"Cis, Menjijikkan sekali!" Ia mencibir. "Beginikah anak kesayangan bapa?" Hati Mariana seperti diiris sembilu mendengarnya.
"Goda semua lelaki, pantasan saja keluarga kak Dan tidak terima kamu."
Mariana menarik tangan Agus menjauh dari tempat tersebut. Ia sangat malu dengan tindakan Agus. Pemuda-pemudi yang berkumpul mulai menoleh, setelah mendengar jeritan Agus.
"Kalau kau pikir tentang lelaki tadi, itu tidak seperti yang kau lihat." Mariana bersuara setelah mereka cukup jauh dari kerumunan orang.
"Kau pikir aku percaya. Aku sudah lihat dengan mata kepala sendiri. Aku lihat semuanya, Kak!" Suaranya meninggi. Matanya berkaca-kaca.
"Kakak itu pelacur! Perempuan murahan! Perem ...."
"Cukuuup!" bentak Mariana.
"Tidak! Aku tidak rasa cukup. Aku kecewa dengan kakak." Mariana tak menjawab.
"Selama ini, aku pikir kau perempuan baik-baik. Kakak kebanggaan aku." Agus mengesat air jernih di sudut matanya. Mariana turut mengalirkan air mata. Hatinya terasa pedih, rasa bersalah merasuk jiwa.
"Maaf, Ade!" Suaranya perlahan hampir tak terdengar. Mariana tunduk memandang tanah.
__ADS_1
"Tapi rupanya, tata hanya wanita malam. Ha-ha-ha!" Dia ketawa mengejek, tetapi, terdengar sedih. "Cis! Menjijikkan sekali," lanjutnya.
Mariana merasa seperti ditampar. Sakit hatinya tak terkata mendengar hinaan adiknya sendiri.
"Apa salahnya jadi wanita malam?" Tatapan matanya tajam menusuk memandang Agus.
"Aku tak curi duit orang, ataupun minta sedekah dari orang. Lalu apa salahnya aku kerja di kelab?"
"Salah, Kak! Tata sudah punya toko sendiri. Kenapa mesti kerja di kelab?" tanyanya.
"Pekerjaan Kakak ini, dipandang hina oleh masyarakat. Mulai sekarang, Tata tidak boleh lagi datang ke sini!"
"Tidak aku suka kerja di sini. Lagipun aku cuma jad ...."
"Ooo, jadi, kakak suka menjadi pelacur. Suka jual badan?" tanyanya menghina. Kemarahannya sudah sampai ke puncak.
"Iya, karena aku tidak kerja cuma-cuma. Aku berkerja keras. Apa yang aku dapat dan apa yang kau nikmati sekarang ini, semua dari hasil titik peluh aku *j*ual badan," jawab Mariana, sambil menuding dada Agus. Ia menekankan pada kata 'jual badan.' Api kemarahan sudah mula berkobar.
"Ha-ha-ha! Jadi, kakak sudah mulai menghitung? Mulai sekarang jangan pernah lagi kau kirim uang padaku. Aku tidak sudi terima uang haram dari kau. Mulai hari ini juga, kita bukan lagi kakak beradik. Aku tidak sudi punya kakak seorang pelacur. Aku malu mengakui kau sebagai kakak aku."
*Plaaak!
Mariana merasa tak percaya. Telapak tangannya masih terasa panas. Ia mendongakkan kepala menatap langit.
"Bapa!" lirihnya.
Tangisannya pecah. Mariana terduduk memeluk jaket Agus. Ini pertama kalinya ia menampar adiknya.
...***...
Tari asyik berjalan mondar-mandir, sambil menatap ponsel di tangan lalu mendekatkannya ke telinga. Wajahnya sudah berkerut seribu mengalahkan nenek-nenek berusia seratus tahun. Sesekali ia mengutuk kesal.
"Kenapa dia tidak angkat, ni?" Ini sudah hampir dua puluh kali dia menelepon saudaranya, Agus. Namun, panggilannya tak sekalipun dijawab.
Ia beralih membuat panggilan video melalui aplikasi WhatsApp. Berdering. Itu kata yang muncul di depan layar ponselnya. Tak lama kemudian muncul wajah Agus di depan layar ponselnya.
"Kenapa?" marah Agus di seberang sana.
"Woi! Bampres! Kenapa kau tidak jawab dari tadi?" Tari turut menyemburkan api kemarahannya. Tak ada salam untuk saling menyapa karena hati telah diselimuti dengan api kebencian.
__ADS_1
"Buat apa aku jawab. Sudah aku bilang jangan telpon lagi."
"Ooo! Jadi kau sungguh-sungguh ingin putus hubungan dengan kami?"
"Iya, karena kalian semua sama. Kalian tidak pernah menganggap aku saudara kamu."
"Siapa bilang? Kau sendiri yang tidak peduli pada kami, sejak kau pergi kuliah di Makassar."
"Kau dan mama sekongkol dengan perempuan murahan tu. Merahasiakannya dari aku, biar aku tahu dari orang lain. Menjengkelkan. Benci aku. Jangan telepon lagi."
'Tut-tut-tut!' Panggilan pun berakhir.
"Haa! Dia macam perempuan kena PMS saja," gerutu Tari.
Sejak kejadian yang berlaku beberapa hari lalu, dia melihat kakak sulungnya selalu bermuram durja dan tidak bersemangat. Ia paham benar, luka yang ditoreh oleh saudara sendiri sungguh menyakiti hati dan perasaannya.
Sokongan dari ahli keluarga yang diharapkan untuk dia menempuh perjalanan hidup yang penuh liku, tetapi, hinaan pula yang ia terima.
Kalau hinaan itu datang dari orang lain, masih boleh dipaham. Namun, ianya datang dari saudara sendiri, menyebabkan luka yang tak berdarah itu semakin bernanah, meninggalkan bekas yang tak terlihat.
Sedangkan Agus, malam itu juga setelah bertengkar dengan Mariana, ia kembali ke rumah mengemas pakaiannya lalu membeli tiket kapal laut, dan keesokan harinya ia bertolak meninggalkan kota Larantuka. Kebetulan pada hari itu kapal Sirimau sedang berlabuh di dermaga Larantuka, *p*adahal liburannya masih seminggu lagi.
Tari semakin kesal, panggilan video berikutnya tidak lagi bersambung karena Agus sudah mematikan ponselnya. Ia kemudian membuat perekam suara.
'Tuan Agus yang terhormat. Kau benar-benar mau putuskan hubungan dengan kami? Silahkan! Tapi, ingat! Nama kau tercoret dari kartu keluarga.' Napasnya terasa berat.
'Kau bilang tata Ana perempuan murahan, lalu kau pikir kau itu suci? Jangan kau pikir kami tidak tahu apa pun yang kau lakukan di Makassar. Kami tahu semua, No.
'Kalau tata Ana perempuan murahan, lalu siapa mereka yang suka kangkang atas paha kau? Kalau kau mau tahu, perempuan yang kau bilang murahan itu sampai sekarang masih kekalkan kesucian dia.' Tari mengesat air matanya. Hatinya terasa pilu.
'Kau bilang uang haram? Uang haram itulah yang besarkan kau. Kau lupa siapa jadi tulang punggung keluarga setelah bapa meninggal? Tata Ana! Tata Ana! Perempuan murahan tu!' Dia menjerit marah. Dadanya terasa sesak.
'Dia sudah banyak berkorban untuk kau, tapi inikah balasan kau? Kau hampir mati tenggelam, dia yang selamatkan kau walaupun dia tak tahu berenang. Kau di sana pakai motor Honda bermesin, dia di sini kayuh sepeda butut. Kau pakai Hp bermerek yang harganya berjuta, dia di sini pakai Nokia elut. Pernah tak kau pikir semua, tu?
'Kau bilang kami rahasiakan pekerjaan dia. Apa kau lupa, siapa yang bilang (Tata! Jangan pikir pendapat orang. Lakukan apa pun yang Tata suka. Mulut tempayan kita bisa tutup semua, tapi mulut manusia, ni bagaimana mau tutup satu-satu? Biarkan saja mereka bicara, dosa mereka tanggung sendiri. Bukan mereka yang kasih kita makan?)
'Itu yang kau bilang. Kita bahas tu semua waktu rencana kak Dan gagal bawa tata Ana kawin lari. Kau lupa semua, tu?
'Kalau orang lain hina Tata Ana, aku masih bisa sabar. Tapi bukan kau, Agus! Bukan kau!' jeritnya.
__ADS_1
'Sampai hati kau buat dia menangis, Agus! Sampai hati kau. Hisk-hisk-hisk!' Tari menangis tersedu-sedu. Pilu hatinya mengenang kisah sang kakak. Fendi yang melihat istrinya menangis, memeluknya penuh kasih. Membiarkan sang istri meluahkan segala keperitan hatinya.