
"Ada sesuatu yang kamu mau katakan?" Andreas bersuara memecah keheningan di antara mereka. Tanpa berpaling mukanya dari laptop, ia bertanya.
Mariana menggeleng. Berat mulut hendak mengatakan apa yang tersimpan di dalam benaknya.
"Aku lihat mulut kau komat-kamit dari tadi. Kau baca mantra?" Tangannya masih lincah mengetik di atas papan tombol jari pada laptop.
Mariana tertawa. "Apalah kau, ni! Mantra untuk jampi siapa?" Ia sendiri pun sibuk membuat pahatan patung. Walaupun sekarang toko di Larantuka Tari yang menjaga, tetapi Mariana tetap menyediakan produk untuk pelanggan mereka. Apalagi perniagaan online-nya pun mendapat sambutan baik dari pelanggan.
Andreas mengedikkan bahu. "Mana kutahu?"
"Kalau tak tahu, jangan sembarang bicara, nanti kau pula yang aku jampi!"
"Habis tu, mulut kau buka tutup, buka tutup tu, kenapa?"
Mariana meletakan pisau ukir di atas meja, lalu memutar kursi menghadap Andreas yang duduk di atas sofa. Andreas juga menghentikan kegiatannya, kemudian berpaling menatap Mariana, menunggu gadis itu berbicara.
Mata bertentang mata, tanpa bicara, membuat suasana mendadak sepi. Hanya terdengar dentingan jarum jam di dinding dekat lemari buku milik Andreas. Mikel sudah pulang ke rumahnya, jadi, tinggal mereka berdua di rumah itu.
"Tuan Perjaka!" Mariana membuka mulut setelah lama terdiam. Andreas tak menyahut, masih menunggu sang istri berbicara.
"Agus mau wisuda. Dua minggu lagi."
Mengangguk. "Lalu?"
"Bisakah aku ikut mama dan nenek pergi ke Makassar?" Andreas tidak menjawab, hanya mengangguk.
"Kau juga ikut, ya?" pinta Mariana.
Ia menggeleng. "Aku masih banyak tugas yang belum selesai. Banyak kerja yang terkendala waktu urus pernikahan dan bulan madu."
"Tapi, bagaimana kau di sini sendiri?"
__ADS_1
Andreas kembali menghadap laptop. "Tidak usah khawatir. Aku bisa urus diri sendiri."
Mariana menunduk, merenung ujung kakinya. Suasana hening lagi.
"Kemarin ade Agus ada telepon." Ia langsung mendongakkan kepala menatap sang suami. Andreas tak melanjutkan ceritanya, membuat Mariana tertunggu-tunggu. Tadi ia telepon dengan si adik itu, tetapi, Agus tak mengatakan apa pun.
"Agus bilang apa?" Akhirnya Mariana tak dapat lagi menunggu. Ia berdiri lalu menghampiri Andreas.
"Tuan Perjaka!" Mariana tayang gigi. Ia melabuhkan tubuhnya di sisi Andreas.
"Tak ada apa pun yang dia cerita, cuma minta izin. Dia juga ajak aku sekalian ikut."
"Lalu?" tanya Mariana.
"Sama seperti yang aku bilang tadi. Aku tidak bisa ikut. Nanti kamu pergi dengan mama dan nenek."
Ada rasa kecewa yang menjenguk hati Mariana. Gadis itu sungguh mengharapakan kalau Andreas akan ikut bersama mereka. Namun, ia juga mengerti akan kesibukan suaminya. Mariana mengangkat tubuh lalu kembali ke tempat duduk, meneruskan pekerjaannya yang tertunda.
Andreas menoleh memandang sang istri. Masih terngiang di telinganya pesan Agus kemarin. Satu perkara yang Agus minta darinya, yaitu memintanya menjaga Mariana.
Setelah Andreas berangkat kerja, Mariana pun keluar dari rumah menuju ke pusat kota. Kali ini ia mengayuh sepeda yang dibelinya kemarin. Suasana desa yang tenang, mendamaikan hatinya ketika sepeda yang dikayuh menyusuri jalan kampung. Sesekali berpapasan dengan anak-anak sekolah, para petani yang hendak ke sawah, serta beberapa orang yang sedang menunggu angkutan untuk ke kota.
Ada beberapa orang yang mengenalinya, memanggil namanya, sambil melambaikan tangan. Mariana juga melambaikan tangan membalas sapaan mereka. Sepeda terus dikayuh, menyusuri jalan raya, melewati pematang sawah, menikmati embusan bayu yang menyapa wajahnya. Nyiur hijau melambai-lambai dari pematang sawah bersama beberapa orang petani yang sedang menanam padi. Sesekali terdengar siulan kecil dari bibirnya, seirama lagu yang ia putar dari ponsel Redmi.
Ketika sampai di kota, suasana meriah, hiruk pikuk kota menyambut kedatangannya. Bangunan-bangunan bertingkat menjadi santapan mata. Bunyi mesin dari kendaraan bermotor menjadi alunan musik yang memekakkan telinga. Teriakan para penjual menawarkan barang-barang jualannya menjadi melodi tersendiri, bak penyanyi dangdut yang bersuara parau akibat sakit tekak.
Mariana terus mengayuh sepedanya menuju satu tempat yang agak jauh, terhindar dari kerumunan manusia. Ia kemudian memarkirkan sepedanya di dekat sebuah gerai makan yang menjual berbagai jenis hidangan. Terlihat antrian panjang membentuk garisan lurus.
"Wuih, gila! Panjang sekali antriannya." Mariana bergumam. Langkah kaki berayun memasuki gerai miliki Tanta Mei. Ia langsung disambut dengan senyuman Tanta Mei yang sedang sibuk menyiapkan pesanan pelanggannya.
"Kamu sudah datang?" Mariana mengangguk. Tanpa disuruh ia langsung membantu menyediakan pesanan pelanggan lainnya.
__ADS_1
Tanta Mei tersenyum. Tak dapat dinafikan, ia memang menyukai gadis itu, walaupun mereka baru berkenalan. Masih terngiang di telinga pembicaraan mereka ketika Mariana meneleponnya tadi, sebelum gadis itu datang ke sini.
["Tanta!"]
["Iya."]
["Apa yang paling disukai seorang suami dari istrinya?"] Pertanyaan Mariana menyentak perasaannya. Tiba-tiba, rasa rindu yang telah bersemayam lama di dalam relung hatinya kepada dua insan yang ditinggalkannya dahulu, kembali hadir di permukaan hati. Namun, sedaya upaya ia coba memendam kembali perasaan itu.
Ia coba mengingat kembali apa yang disukai suaminya dahulu. ["Lelaki kalau pulang dari kerja, pertama yang mereka lihat adalah kebersihan rumah. Kalau rumah rapi, kemas, mereka akan rasa nyaman. Kemudian, yang kedua, yang paling utama itu perut. Kalau perut kenyang, mereka tak akan bising."]
Serentak mereka berdua tertawa.
["Tanta, bisa tidak, ajar saya yang kedua itu?"] tanya Mariana, ["karena Tuan Per ... maksud saya, suami saya suka masakan Tanta. Dia makan tambah sampai tiga kali."]
["Bisa, Sayang. Datang saja ke gerai Tanta."]
["Tanta ada warung?"]
["Iya, baru buka beberapa bulan ini."]
["Oke, Tanta, saya datang sekarang!"] Panggilan telepon pun terputus.
Sepanjang hari itu, Mariana sibuk membantu Tanta Mei. Banyak yang dia belajar dari wanita sebaya mama itu.
"Terima kasih, Shifu karena sudi terima saya jadi anak murid."
Tanta Mei tertawa. "Shifu?"
"Iya. Kan, Tanta orang Tionghoa."
"Dari mana kamu tahu?"
__ADS_1
"Karena mata Tanta sepet." Mereka berdua langsung terbahak-bahak. Mariana jadi teringat Andreas karena lelaki itu juga bermata sepet.
Sejak itu panggilan 'Shifu' disematkan untuk Tanta Mei.