My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XLV


__ADS_3

Awan langsung tak berarak. Matahari begitu terik hari itu. Panas mentari menyengat kulit, tetapi tak mematahkan semangatnya menolak sepeda bututnya menuju bengkel.


Sepeda itu sakit lagi hari ini. Ban belakang bocor karena tertusuk paku. Berhati-hati dia menolak kendaraan kesayangannya itu karena masih ada penumpang berharga yang duduk manis di atas sepeda bututnya, sebuah kotak empat segi yang bertuliskan Mi Sedaap Korean Spicy Chicken.


Kenapa berharga? Karena di dalamnya bukan berisikan mi sedaap korean seperti yang tertulis di luar kotak, melainkan pesanan pelanggan.


Peluh bercucuran membasahi pipi, dia menyeka keringat menggunakan ujung lengan bajunya.


"Kaakk Jefri!" panggil Mariana. Ia tersengih saat seorang pria kurus berpakaian sedikit kotor kena minyak hitam, baju longgar tanpa lengan, celana jeans panjang robek di bagian lutut dan paha, keluar dari dalam bengkel pembedahan sepeda.


Kalau sekarang aktris-aktor, pemuda-pemudi suka pakai celana robek seperti itu, hanya untuk terlihat bergaya, tapi bagi orang kampung, pakaian robek karena sudah terlalu lama pakai alias lusuh.


"Iyaa," jawab Jefri, "apa lagi yang sakit kali ni?" Dia balas tersengih mempamerkan giginya yang sedikit kuning karena terlalu banyak merokok.


"Jantung belakang perlu dibedah, Kak. Kena tusuk paku."


"Aiiisshh, sepeda kau ni terlalu tua, sudah tak ada energi buat jalan jauh. Sebaiknya antar ke panti jompo. Kenapa kau tidak beli ganti saja?"


"Aku terlalu sayang dia, Kak Jeff. Tak sampai hati mau buang. Ini cinta pertama aku, Kak."


"Ada-ada saja kau ni." Mariana hanya tersengih. Tayang gigi.


"Aku titip ya, nanti aku datang ambil balik." Mariana mengangkat kotak mi sedaap-nya. Agak berat kotak tersebut, karena penuh dengan aksesoris dan patung pesanan pelanggan.


Dia berdiri di tepi jalan menunggu angkutan sambil menggendong kotak tersebut. Tak butuh waktu lama, sebuah angkutan kota berhenti di hadapannya.


Mariana menaiki angkutan tersebut, memilih duduk di dekat pintu. Dia tersenyum menyapa penumpang yang ada dalam angkutan tersebut.


Kurang lebih sepuluh menit, angkutan itu berhenti di tepi jalan. Dia turun bersama penumpang lain. Mariana menjujung kotak tersebut, tak mau menggendong. Berat. Lagi pula menjujung lebih mudah. Dia berjalan mencari rumah pelanggannya.


Setelah sampai di sebuah rumah berdinding batu, bercat putih, terlihat ada sebuah motor Honda terparkir di halaman rumah. Dia mengetuk pintu yang terbuka lebar sambil memberi salam.


"Salom!"


"Salom," jawab dua suara serentak.


Mariana terpaku di tempat, saat matanya terpandang seseorang.


'Daniel,' batinnya.

__ADS_1


Daniel tersenyum lebar saat mereka bertentang mata. Rindunya terobat kini. Bahagianya terlukis jelas pada raut wajah dan senyumannya, tetapi sebisa mungkin dia menjaga sikap agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Mariana, gadis itu masih terpaku di tempat. Dia turut mengembangkan senyum, tetapi terlihat hambar. Degup jantungnya berdetak lebih laju, bukan karena rasa cintanya pada Daniel, melainkan kebimbangannya akan perang dunia ke tiga yang akan terjadi tak lama lagi.


Ketidaksengajaannya bertemu Daniel selalu mendatangkan masalah. Kali terakhir mereka bertemu di bengkel kayu beberapa bulan lalu, berakhir Novi–istri Daniel bertengkar dengan Tari.


Mariana celingak-celinguk di depan pintu, melihat kiri dan kanan. Kebimbangan menguasai hatinya.


"Masuk, Nak!" panggil Om Martin, pemilik rumah, ayah mertua kepada Ibu Sinta, pelanggan Mariana.


"Iya, Om."


Dilihatnya Daniel sedang berkemas, menyimpan semula peralatan kedokterannya.


Rupanya pria itu dipanggil untuk memeriksa kesehatan Om Martin. Setelah berkemas, Daniel berpamit pergi.


"Om, saya pulang dulu. Pastikan untuk selalu rutin minum obat."


Om Martin mengangguk. "Terima kasih, Dokter." Dia mengantar Daniel ke halaman rumahnya.


Tak lama setelah itu, terdengar raungan mesin roda dua perlahan meninggalkan halaman rumah tersebut.


"Oo, iya. Letakan di atas meja!" Mariana menurut.


"Saya pamit ya, Om?"


"Iya, Nak. Terima kasih, ya?" Mariana mengangguk sambil melemparkan senyum mesra. Kemudian berlalu meninggalkan rumah tersebut.


Ia berjalan menuju jalan raya, menunggu angkutan untuk kembali ke bengkel mengambil sepedanya.


Daniel sudah menunggunya di bawah pohon mangga, dekat tepi jalan raya sambil bersandar pada kendaraan roda duanya.


"Ana!" panggil Daniel. Senyum. "Lama tak jumpa."


Langkah kaki Mariana terhenti. Dia berbalas senyum. "Apa kabar, Dan?"


"Baik."


"Istri dan anakmu, bagaimana kabar mereka?"

__ADS_1


Daniel tidak suka akan pertanyaan itu, tetapi dijawab juga. "Mereka baik."


Mariana mengangguk.


"Bagaimana kabar kamu?" tanya Daniel.


"Puji Tuhan, seperti yang kau lihat sekarang," jawabnya.


Mereka bertatap lama, membiarkan hati menyanyikan lagu rindu.


"Dan!" panggilnya lembut, memecahkan keheningan.


"Hmm."


"Kau terlihat sibuk."


Daniel tersenyum. "Setiap hari memang sibuk."


"Sibuk pun jangan kau abaikan anak istri." Daniel diam.


"Terutama istri kamu. Jangan kau lupakan tugasmu sebagai suami. Nafkah batin juga diutamakan, kecuali kamu sudah tak mampu atau kamu punya masalah. Kesehatan contohnya." Mariana seolah mengatakan sesuatu yang tersirat.


Daniel hanya membisu, tak mengatakan apa pun. Dia seolah tak mendengar apa yang dikatakan Mariana. Bunga hatinya sedang mekar, setelah sekian lama layu menahan rindu.


"Ana!" panggilnya lembut, "tak ada gunanya memiliki seorang yang tidak kita inginkan. Hidup terasa hampa, batin pun tersiksa."


Mariana tak menyahut. "Aku pulang dulu, banyak mata sedang pandang kita."


Ia kemudian mengatur langkah meninggalkan Daniel. Lelaki itu melihat sekeliling. Memang benar apa yang dikatakan Mariana. Sekelompok emak-emak sedang duduk arisan di salah satu rumah dekat tempat mereka berdiri.


Ada juga orang-orang yang sedang menunggu angkutan. Berbisik-bisik sesama sendiri.


Tiiiiiiittt tiiiiiiittt!


Bunyi klakson motor seketika mengejutkan Mariana yang hendak melintasi jalan raya. Sekejap mata tubuhnya melayang kemudian jatuh dalam pelukan seseorang.


'Dan?'


"Hati-hati! Kau selalu saja ceroboh."

__ADS_1


__ADS_2