My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXXVIII


__ADS_3

Saat mereka keluar dari kamar, Mikel juga muncul dari balik pintu kamarnya yang terletak bersebelahan dengan kamar mereka. Mata bertentang mata, bibir terukir seutas senyum.


"Adik ipar, selamat pagi!" sapa Mariana. Senyuman masih mekar di bibir.


"Selamat pagi juga, Kakak iparku yang cantik!" balas Mikel.


Mariana tertawa. "Ha-ha-ha!" Senang dipuji cantik.


"Pandai kau ambil hati aku. Yuk, turun sarapan dulu!"


"Kakak Ipar masak apa?" tanya Mikel. Menyusul mereka menuruni anak tangga.


"Kau tahu aku tak pandai masak. Nanti makan saja apa yang ada, e?"


"Masakan Kakak Ipar tetap enak karena penuh dengan bumbu cinta."


Mariana memukul lengan Mikel. Senang mendengar gurauan sang adik ipar. Mikel tertawa lepas sedangkan Andreas hanya membisu. Tak ada hati hendak berkomentar lebih.


Masing-masing menarik kursi untuk duduk setelah sampai di dapur. Mariana menuangkan susu ke dalam gelas mereka bertiga, lalu duduk di sebelah Andreas. Lelaki itu menjelingnya sesaat sebelum memimpin doa.


Tak ada yang berbicara. Masing-masing khusyuk mencicipi hidangan yang disajikan oleh Mariana. Sesekali gadis itu melirik mereka berdua, menduga-duga bagaimana rasa masakannya.


"Kenapa tidak makan?" tanya Andreas saat menyadari roti telur dalam piring Mariana belum tersentuh.


"Bagaimana rasanya?" Mariana balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Andreas.


"Oke, lumayan," jawab Mikel, "tidak terlalu buruk. Tekak aku masih bisa terima." Andreas mengangguk, menyetujui jawaban Mikel. Adik beradik itu memang selalu kompak kalau pasal makanan. Mereka juga memiliki selera yang sama.


"Tidak seperti lauk tadi malam, terlalu asin." Kali ini Andreas yang berkomentar. "Makanlah! Nanti kau tahu sendiri bagaimana rasanya," lanjutnya.


Mariana menurut. 'Hmm, sedap juga masakan aku,' , sedap juga masakan aku,' pujinya dalam hati. Mereka meneruskan makan dalam diam.


***

__ADS_1


Terdengar seseorang melaungkan namanya dari luar rumah, ketika gadis itu sedang menuruni anak tangga. Ia sudah siap sedia hendak keluar. Tadi sebelum Andreas berangkat kerja, Mariana sudah meminta izin, ingin mengunjungi satu tempat yang sudah lama tidak ia datangi.


Kak Siti tersenyum memandangnya saat ia menemui tetangganya itu di depan pintu rumahnya. Ia pun membalas senyuman Kak Siti.


"Kak!" sapa Mariana.


"Ana mau keluar?" tanya Kak Siti, sambil menyodorkan semangkuk lauk ikan tongkol masak gulai pedas.


Mariana telan liur ketika menghirup aroma masakan Kak Siti. Ia tersengih, sambil mengangguk. "Iya, Kak. Mau ketemu teman."


"Sekarang kita jiran, nanti main ke rumah kakak, ya?"


"Iya, Kak." Kak Siti langsung berpamit pulang.


"Kak!" panggil Mariana, "mau saya ganti mangkoknya?"


"Tidak apa. Lain kali saja. Kapan-kapan bisa kembalikan." Mariana mengangguk.


Kak Siti mengangguk. "Sama-sama!"


***


"Kak Ana!" panggil seseorang pemuda. Mariana menoleh saat melewati rumah Nenek Esi. Ternyata Samuel yang memanggilnya. Pemuda itu sedang mengeluarkan sepeda motornya dari garasi rumah.


"Mau ke mana, Kak?"


"Ke kota."


"Saya juga mau ke kota. Mau ikut?"


"Tentu. Kau tidak ajak pun, aku pasti paksa ikut kamu." Samuel tertawa.


"Waduh, keren motor kamu!" puji Mariana.

__ADS_1


"Keren, to?" Mariana mengangguk. Si hitam manis mulai tunjuk gaya. Menghidupkan mesin motor, lalu terdengar deruman mesin seperti bunyi kereta api. Tak lama kemudian, motor mati sendiri.


"Waduh, masih bisa pakaikah?" Mariana mulai khawatir.


"Tentu, jangan pandang remeh! Walaupun lebih tua dari usia Kakak, tapi si legenda ini masih kuat bolak-balik Larantuka-Ende."


"Iyakah?"


"Sang legenda Yamaha sport 2-tak, Yamaha RX King adalah motor jadul Yamaha yang sudah melegenda dan tetap memiliki banyak penggemar. Motor ini sejak bapak aku masih muda, tahu?"


"Masih bisa pakai, tidak? Ini bunyinya seperti kereta api yang sudah sekarat."


"Tentu, Kakak. Baru beberapa hari lalu aku pakai." Mariana mengangguk-angguk seperti burung beo.


"Kakak tunggu sebentar."


Samuel mulai mengotak-atik motornya. Entah bagian mana yang perlu diperbaiki. Tak perlu waktu lama, motor sekarat itu sudah diperbaiki.


"Ayo, Kakak!" ajak Samuel.


Motor legenda Yamaha RX King membelah jalan raya desa Nelle Urang menuju pusat kota Maumere yang hanya ditempuh selama kurang-lebih sepuluh menit. Setelah sampai di pusat kota, Mariana diturunkan di Pasar Alok. Ia berkeliling sebentar untuk membeli beberapa barang yang diperlukan. Lilin lampu cap Paus dua kotak kecil, bunga aster dan bunga krisan masing-masing sejambak.


Setelah itu, ia menumpangi angkutan menuju ke Desa Hepang, Kecamatan Lela. Sang sopir menurunkannya di jalan menuju pekuburan di desa tersebut.


Tampak dihadapannya sebuah batu nisan yang bertuliskan 'RIP' dan nama seseorang yang sangat ia rindukan, Maria Deviana Sikka, pada sebatang kayu berbentuk salib.


Mariana duduk bercakung di sebelah batu nisan tersebut, membakar lilin lalu berdoa untuk almarhum sahabatnya. Tak jauh dari situ, ada pekuburan lain yang Mariana ingin singgahi juga. Pada nisan yang kedua itu, milik Tanta Serli, ibunya Gina.


Mariana mulai membakar beberapa batang lilin, lalu mulai berdoa. 'Apa kabar, Tanta?' Mariana monolog dalam hati.


'Tanta baik-baik saja, ya, di sana? Tidak usah khawatirkan Gina. Dia pun baik-baik saja. Dua tahun saya tak tahu kabarnya, tapi, dia baru telepon, ternyata selama ini dia di Singapura. Tolong jaga Gina, jaga dia dari tempat di mana Tanta berada. Maafkan Ana juga, Tanta karena Ana sudah lama tidak datang kunjung tanta.'


Mariana duduk di situ. Banyak yang ia ceritakan. Walaupun Tanta Serli tak mendengar, tetapi ia percaya Tanta Serli tahu dari tempat dia berada.

__ADS_1


__ADS_2