
Mariana berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Novi. Wanita cantik itu melirik sebentar ke arah mertuanya. Ia menunduk lesu. Tak terasa air matanya mengalir menganak sungai membasahi pipinya.
Mariana kembali duduk bercangkung. Ibu jarinya mengusap lembut pipi temannya itu.
"Jangan menangis," katanya, lalu memeluk dan menepuk lembut belakang Novi mencoba untuk menenangkannya.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Novi. Hanya isakan halus yang terdengar, menampar gendang telinga Mariana.
Setelah merasa lebih tenang, Mariana mengajak Novi berdiri. Wanita itu menurut.
"Sukar untuk memaafkan kamu, tetapi aku akan coba melupakan kesalahanmu. Jadi, bersikaplah tenang seolah kita berbaik lagi," ucap Mariana, setelah mereka sama-sama berdiri.
Mariana kemudian membawanya kepada ibu Dita.
"Sudah?" tanya ibu Dita yang tersenyum ke arah mereka. Mariana mengangguk.
Senja semakin tenggelam di ufuk barat, membawa sejuta sesalan yang mendalam dari hati insan yang diciptakan oleh sang pencipta.
Om Lukas, ibu Dita dan Novi pun berpamitan kembali pulang. Mereka cepika-cepiki sekadar menunjukkan pada tetangga yang sedang mengintai dari rumahnya, kalau mereka sudah berbaik lagi.
Setelah kepulangan om Lukas dan keluarganya, tinggallah Mariana, Tari dan Andreas di halaman depan. Fendi sedang memandikan Noel dan Natan di kamar mandi.
"Jadi kau anaknya om Alo?" tanya Mariana. Ia berdiri memeluk tubuh, memandang tajam wajah Andreas
"Iya," jawab Andreas singkat.
"Kenapa sekarang baru kau datang? Kenapa tak bilang dari awal saat kau sampai di rumah ni? Kau tahu tak, menunggu itu sesuatu yang sangat membosankan?" Pertanyaannya yang bagaikan peluru bertubi-tubi menembus jantung Andreas.
"Eh, bisa tidak kau tanya satu-satu?"
Tari yang melihat perdebatan dua sejoli itu hanya mampu menyunggingkan senyum, kemudian berlalu meninggalkan mereka.
"Yang pertama. Aku baru diberitahu ayah, kalau aku dijodohkan dengan seseorang yang bernama Mariana. Kedua ...." Andreas menunjukkan jari telunjuknya.
"Aku tak punya nomor telepon atau foto yang bisa dijadikan petunjuk untuk mencari kau. Ketiga, bukan aku yang awalnya dijodohkan dengan kamu, tapi ...."
"Siapa?" tanya Mariana merasa tak sabar lagi mengetahui kebenarannya.
__ADS_1
"Adik aku. Mikel namanya," jawab Andreas.
"Maksud kamu?" Mariana masih belum mengerti maksud dari ucapan Andreas.
"Orang yang ayah aku jodohkan dengan kau tu sebenarnya Mikel. Tapi Mikel tolak. Katanya dia sudah punya kekasih. Lalu kau dijodohkan dengan aku."
"Ha-ha-ha!" Mariana terpingkal-pingkal. "Aku ni seperti barang yang tak laku dijual, ya? Buang sana, buang sini. Tetap saja aku rasa itu lebih baik, daripada asyik dituduh sebagai perebut suami orang." Andreas terdiam. Merasa bersalah karena telah berbohong.
Mariana mengatur langkah meninggalkan Andreas. Namun, terhenti setelah namanya dipanggil.
"Kribo!" Mariana menoleh.
"Wanita tadi itu ... maksud aku, ibu Novi. Benarkah dia istrinya dokter Daniel?"
"Kenapa? Kau jatuh cinta dengan dia?
"Tidak! Aku rasa, pernah lihat dia di suatu tempat."
"Tentulah, muka dia tu pasaran. Ada di mana-mana. Pasar gelap pun ada." Andreas mengulum senyum. Ingin tergelak, tetapi melihat wajah serius Mariana, ia hanya mampu mengukir senyum.
Sekilas terbayang kilatan sinar kemarahan dari mata Mariana. Ingatannya kembali pada malam saat mereka menjalankan misi menangkap hantu.
"Apa lagi?" tanyanya.
"Kau gadis yang baik," puji Andreas tulus. Mariana tak membalas. Namun senyumannya mengembang di bibir, taman hatinya pun berbunga riang.
Bersama langkah kaki yang mengayun perlahan, ia memasuki kamar tidurnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Menggulingkan tubuhnya ke sana kemari dengan senyum yang tak lekang dari bibir.
"Jatuh cinta lagi. Lagi lagi kujatuh cinta." Suara merdunya menggema dalam kamarnya, bersenandung kecil sambil memeluk bantal guling. Terusir sejenak kenangan tentang Daniel dan Novi.
Ah ... Novi.
Beberapa jam sebelum misi menangkap hantu
Setelah selesai menyanyikan lagu 'Undangan Mantan' Mariana turun dari panggung. Melintasi beberapa orang pemuda yang sedang bergosip ria, sambil meneguk minuman keras.
Wajah mereka terlihat memerah akibat pengaruh alkohol.
__ADS_1
"Aku tak butuh cinta, yang penting aku selalu dapat kehangatan. Ha-ha-ha!" Lelaki berkemeja putih bersuara diakhiri dengan gelakan tawa. Mariana mengenalinya. Si Toni pelanggan VVIP Kelap Mawar Merah.
"Enak ya, tidak usah cari apalagi sampai keluarkan isi dompet." Seorang lagi bersuara.
"Iyalah ... apalagi yang sudah berpengalaman. Goyangannya top abis." Mariana meneguk air Aqua yang disediakan oleh Hugo, anak buah abang Budi. Telinganya masih setia menguping pembicaraan mereka.
"Aku penasaran janda mana yang doyan ma kau ni? Orang kau bukannya berotot, hanya saja rupa kau ni jadi andalan. Poket juga asyik penuh."
"Ha-ha-ha, ada deh." Suara tawanya terdengar bangga. "Tapi dia bukan janda," lanjutnya lagi.
Mariana kembali ke panggung. Cerita mereka hanya sampai di situ yang ia dengar.
Setelah waktu berlalu, jarum jam hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Ia tidak lagi menyanyi, hanya membantu Hugo membersihkan gelas di bartender.
Setelah berpamitan dengan abang Budi, ia menuju ke kamar ganti. Dekat lorong menuju toilet, terdengar bisikan manja dari sepasang sejoli yang sedang bermesraan.
Sekitar tempat itu juga terdengar suara lelaki lain yang sedang berbual bersama seseorang.
"Siapa yang jadi mangsa kau? Aku penasaran ni, Bro."
"Kau tak perlu tahulah. Kenapa? Kau mau gambang juga?"
"Kau anggap aku seperti orang lain saja. Aku cuma penasaran."
"Oke ... aku kasih tahu, tapi ini rahasia, ya?"
"Oke, Bos!"
"Novi, istrinya dokter Daniel." Mariana hampir berteriak karena pundaknya ditepuk oleh seseorang.
"Kau buat apa?" tanya Fitri.
"Lihat orang pacaran. Tu ...." Dia menunjuk ke arah pasangan yang sedang berkasih menggunakan muncungnya.
Fitri hanya tersenyum melihat tingkahnya. "Ayo." Fitri mengajaknya masuk ke ruang ganti.
Mariana menurut. Namun telinganya masih sempat mendengar lokasi yang dikatakan si Toni tentang pertemuannya dengan Novi.
__ADS_1
Malam itu, kalau bukan Andreas tak menerima tantangannya, mungkin dia hanya menganggap Toni membual. Tidak akan mencari tahu dan membuktikan sendiri kebenarannya. Lagipula dia juga tak berani pergi seorang diri ke hutan, apalagi dekat dengan pekuburan.