My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XLII


__ADS_3

Dia mondar-mandir sambil membekapkan telepon genggam di samping telinga kiri. Telepon berdering di seberang sana, tetapi tak ada jawaban hanya suara operator seluler perempuan yang menggema dalam ponselnya.


Tak mau berputus asa, dia mencoba lagi.


Dert ... dert ... dert!


["Halo!"]


["Halo! Salom, Ayah,"] sapanya.


Hening.


["Ada apa? Kau ada masalah?"]


["Ti ... tidak,"] jawabnya. Ingin mengatakan apa yang ada dalam benaknya, tetapi suaranya seakan disekat oleh batu besar. Tersangkut di kerongkongan.


["Hmm! Ayah sudah bilang jangan telepon kalau kau belum ketemu dia."]


["Sudah,"] jawab Andreas cepat, ["sejak hari pertama saya pijak kaki di sini."]


["Oh, iya?"] Suara Ayah terdengar riang.


Di seberang sana ada seseorang yang duduk di sebelah ayah, menguping percakapan mereka. Dia adalah Mikel, adik Andreas.


Tak perlu menguping sebenarnya karena ayah sengaja membesarkan pengeras suara teleponnya. Sore itu mereka duduk bersembang sambil menikmati kopi hitam panas, bersama pisang dan ubi kayu goreng.


["Lalu kapan kau bawa dia ketemu Ayah?"]

__ADS_1


["Saya tidak akan bawa. Saya mau batalkan perjodohan ni."]


["Kenapa?"]


["Di ... Dia, ehem ... ka ... kami tak serasi."] Suara Andreas terbata-bata.


["He-he-he!"] Ayah terkekeh kecil. ["Ayah tidak mau tahu, Mariana harus jadi menantu Ayah."]


Di seberang, Mikel yang mendengar nama Mariana terus menoleh.


["Apa Ayah tahu, dia kerja di kelab?"]


["Tahu."]


["Lalu?"]


["Iya, sekarang jadi tugas kamu to, bawa dia kembali ke pangkal jalan."]


["Kenapa saya? Bukankah Mikel yang Ayah jodohkan dengan Mariana."]


["Tidak mau."] Mikel yang menjawab.


["Kau dengar, kan? Lagi pula sejak awal yang Ayah jodohkan itu, kamu. Tapi kau pulang bawa Rena, makanya Ayah tanya Mikel. Mikel dari awal sudah menolak, Rena juga sudah menghilangkan diri, jadi sekarang Ayah kembali pada tujuan awal yaitu kamu.


Bagaimanapun caranya Mariana harus jadi menantu Ayah. Kenali dia. Banyak yang kau tak tahu tentang Mariana. Jangan menilai seseorang hanya dari luarannya saja."]


["Bagaimana kalau Rena pulang?"] Terluah juga apa yang tersimpan dalam benaknya.

__ADS_1


Hening. Hati Mikel turut berdebar, menanti jawaban atas pertanyaan Andreas. Rena, gadis yatim-piatu yang mereka selamatkan dulu, akhirnya jatuh hati pada Andreas.


Merajut kasih hingga berencana naik pelamin. Rencana sudah disusun rapi, tinggal menunggu hari H-nya saja. Akan tetapi gadis itu menghilangkan diri sebulan sebelum pernikahan berlangsung.


["Tidak."] Andreas tertegun. Kunyahan pisang goreng dalam mulut Mikel terhenti.


["Kalau dia pulang pun, Ayah takkan lagi merestui hubungan kalian. Jadi Andreas ... jangan kau berharap untuk kembali pada Rena!"]


Lutut Andreas terasa lemas, setelah mendengar ucapan ayahnya, sedangkan Mikel, mulutnya menganga lebar hampir menjatuhkan rahangnya, merasa tak percaya dengan kalimat tersebut karena dulu ayah sangat menyukai Rena.


'Rena, di mana kau?' batin Mikel bertanya.


Tut-tut-tut!


Andreas mematikan panggilan sepihak, menatap dalam kehampaan, memandang sinar senja yang menyimpan sejuta kenangan, membawa pergi hari ini yang kelam 'tuk berjanji akan hari esok yang bahagia.


Andreas berjalan perlahan menuju rumah Mariana. Perasaannya jadi tak menentu, hendak menerima perjodohan ini, tetapi hatinya tak ada ruang untuk Mariana.


Banyak sebab dia tidak dapat menerima Mariana. CINTA? Mungkin.


Menikah tanpa cinta, ibarat membina rumah tanpa pondasi. Rumah akan mudah roboh, apabila badai datang menerpa.


Cinta hadir karena terbiasa. Kata bijak orang dulu-dulu. Mungkin benar. Akan tetapi bagi Andreas, itu sangat mustahil berlaku, mengingat dia seorang Gynophobia (Lelaki yang fobia terhadap perempuan).


Lagi pula dia bukanlah tipe orang yang mudah jatuh cinta, dan cintanya pun telah diberikan pada Rena.


Kaki Andreas berhenti tetap di samping bag tinju yang digantung di samping pintu depan rumah Mariana. Dia mengepalkan tangan, menumpuk bag tinju itu perlahan.

__ADS_1


Satu kali, dua kali, tiga kali ... makin lama, semakin cepat. Tumbukannya semakin keras, kuat dan cepat. Sudah seperti petinju profesional lagaknya.


Semua perasaan yang berkecamuk dalam diri, amarah, sedih, kecewa dia lepaskan melalui tumbukannya.


__ADS_2