My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXIII


__ADS_3

Sebuah bus berhenti di tepi jalan raya desa Mokantarak, bersebelahan dengan sebuah kios serbaguna. Dua batang tubuh turun dari kendaraan tersebut. Seorang lelaki berperawakan lembut tersenyum pada bayi yang menggeliat dalam gendongannya.


"Putri cantik bapa (bapak) sama Mama dulu, e. Bapa (bapak) mau angkat barang," katanya, sambil menyerahkan bayi tersebut pada seseorang yang baru turun dari bus menyusulnya.


Sukar untuk orang lain percaya, jika seseorang yang dipanggil mama itu merupakan wanita dan ibu kepada bayi tersebut karena dilihat dari sisi mana pun langsung tak ada ciri-cirinya sebagai seorang wanita. Potongan rambut, bentuk tubuh, gaya berjalan, dan penampilannya memang seperti lelaki.


Aneh pasangan tersebut, gadis tomboi menikah dengan lelaki banci. Itu yang seringkali orang kata. Namun, itulah hakikatnya yang sudah menjadi takdir Tuhan.


"Mama Vina!" Hendra melaungkan nama mama setelah sampai di halaman rumah mama.


Tari menjengukan kepala dari balik jendela ke arah anak tangga melihat siapa yang datang. Hendra, Ita dan putri mereka berdiri di sana.


Kak Hendra, Kak Ita," sapa Tari. Dia meluru keluar, terus memeluk Ita. "Ponakan tanta. Mari sama tanta, Sayang!" Bayi mungil itu sudah berpindah tangan.


"Ai, dia hanya peluk Ita. Aku ni halimunankah?" rungut Hendra. Namun, langkah kaki tak berhenti mendaki anak tangga.Tari langsung tak menghiraukannya.


Mama dan nenek gembira menyambut mereka di teras rumah. Suasana seketika riuh. Ninilah yang menjadi watak utama. Bayi yang baru berumur empat bulan itu dibawa ke hulu ke hilir, menjadi topik perbualan mereka, sambil menikmati minuman petang bersama pisang goreng dan kopi hitam manis di dalam dapur.


"Mana caten (calon pengantin) kita?" tanya Ita.

__ADS_1


"Dia masih di toko," jawab nenek.


"Tinggal beberapa hari lagi sudah mau naik pelamin, masih kerjakah dia?" Hendra bersuara.


"Tadi kami beli barang di pasar, lalu dia pergi ke toko siapkan pekerjaannya yang masih tertunda," jawab Tari. Hendra hanya menganggukkam kepala.


Pukul 19.00 WITA, Mariana sampai di rumah mama. Dia terkejut mendengar keributan dari dalam rumah. "Siapa yang datang? Riuh sekali," katanya, sambil berlari kecil menapaki anak tangga.


"Darling!" teriak Hendra saat terpandang Mariana di depan pintu. Gaya bicara dan lenggang-lenggoknya yang lemah lembut selalu menghibur hati Mariana. Gadis itu tersenyum menyambut pelukan hangat sahabat yang sudah setahun tak dijumpainya.


"I miss you so much."


"I miss you too."


"Comelnya ponakan tanta." Nini sekarang dalam gendongan Mariana, bermesraan dengan tantanya. Noel dan Natan tak mau ketinggalan. Mereka juga suka bermain dengan Nini.


"Kapan datang? Kenapa tidak telepon?" tanya Mariana.


"Sengaja mau kasih kejutan." Mariana tertawa kecil mendengar jawaban Hendra. Hatinya terusik. Terasa sayu. Andai ada Gina, kebahagiaannya terasa lebih lengkap dengan kehadiran gadis itu. Namun, apalah daya, dia tak tahu di dalam lubang semut mana gadis itu bersembunyi.

__ADS_1


"Darling, aku pikir kau jadi andartu terus. Ternyata masih laku juga, e," kata Hendra diiringi gelaknya yang memekakkan telinga.


"Gigi, e, orang masih muda juga kau bilang andartu." Mariana menampar lengan Hendra. "Mentang-mentang kecebong dia sudah menjadi, sombong, e," lanjutnya lagi.


Hendra tertawa terbahak-bahak. Ita turut tertawa mendengar mendengar gurauan mereka. Terpancar jelas kebahagiaan dari sorot mata pasangan bapak dan mama muda itu.


Hendra dan Ita juga pasangan yang dijodohkan. Hanya saja kisah mereka lebih unik. Mereka sudah dijodohkan sejak kecil, karena kedua orang tua mereka sahabat baik dan juga tetangga dekat rumah bersebelahan. Karekter Hendra yang lemah lembut seperti anak gadis, membuat dia selalu dirisak oleh teman-temannya. Ita pula berkarakter seperti lelaki selalu menjadi tembok menghadang dan melawan siapa saja yang merisak Hendra.


Hal itu membuat Hendra semakin dipersenda. Mereka mengatakan bahwa Hendra itu penakut dan selalu bersembunyi di balik tubuh perempuan. Namun, hal itu tidak mematahkan semangat Hendra dalam bergaul dan bermain bersama dengan siapa saja yang ingin berteman dengannya.


Setelah masuk SMP, Hendra mendapat tahu bahwa dia dan Ita sudah dijodohkan sejak kecil. Itu sebabnya Ita selalu ada dan berteman dengannya. Hendra menentang keras perjodohan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk pindah sekolah. Saat berada di sekolah baru, itulah dia bertemu dengan Mariana.


Ita tak tinggal diam. Dia tak mau ditolak. Sedaya upaya dia lakukan untuk menaklukkan hati sang pujaan. Dia turut berpindah sekolah mengikuti Hendra.


Masuk SMA, Hendra mengikuti Mariana sekolah di Larantuka. Dia menghalang Ita mengikutinya dengan alasan, ia tak ingin dianggap lemah karena selalu bersembunyi di belakang seorang perempuan yang bernama Ita. Gadis itu terpaksa mengalah. Itulah pertama kalinya mereka berpisah.


Oleh karena Hendra masih menutupi hatinya, maka setelah tamat SMA, Ita memutuskan untuk hidup selibat, ingin menjadi biarawati. Mendengar itu, Hendralah orang pertama yang menentang keputusan Ita. Keinginan gadis itu akhirnya batal.


Gayung bersambut. Walaupun sering diperkatakan orang 'tak tahu malu' karena perigi yang cari timba, Ita langsung tak peduli dengan tanggapan orang lain atas dirinya. Dia mengikuti Hendra ke menara gading di Jakarta. Walaupun berbeda jurusan, tetapi mereka masih satu universitas. Hendra memilih jurusan Desain, sedangkan Ita memilih jurusan Akuntansi.

__ADS_1


Kian hari kian bersemi dan berbunga cinta mereka. Hingga tahun lalu mereka memutuskan untuk melangkah ke jenjang pelamin. Kini mereka sudah dikaruniai seorang putri kecil yang sangat mirip dengan Ita. Hanya hidung dan matanya mirip Hendra.


Mariana tersenyum turut bahagia melihat kebahagiaan Hendra dan keluarga kecilnya. 'Semoga kekal bahagia,' doanya dalam hati.


__ADS_2