My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XXXI


__ADS_3

"Tata! Mana wasabi?" tanya Tari dari dalam dapur.


Mariana tersenyum penuh makna. "Siap kau!"


"Apa?" Kepalanya terjegul di depan pintu.


Tari tersengih seperti kerang busuk. "Wasabi tu yang mana satu? Bagi-bagi dong, Kak, jangan makan sendiri." Tangannya masih sibuk mencari di mana kakaknya letak wasabi.


Mariana masuk ke dalam dapur, lalu mengambil satu barang berwarna hijau muda yang diletakan di dekat saus tomat, saus cili, dan kecap.


"Yang ini namanya wasabi," tunjuk Mariana. Bentuk benda tersebut seperti pasta gigi Pepsodent.


"Ooo, ini dia rupanya. Tadi aku lihat, tapi tak tahu kalau ini yang namanya wasabi."


"Aa ... buka mulut" perintah Mariana sambil membuka penutup pasta wasabi.


Tari menggeleng, "Tak berani! Pedas."


"Tak pedaslah. Kau belum coba mana kau tahu?"


"Tapi aku lihat pa Ande tadi sampai menangis."


"Ellaah! Dia itu, 'kan pengecut. Buka mulut!" perintahnya lagi.


Tari menurut. Dia membuka mulut, menjulurkan sedikit lidahnya. Mariana memijit ujung pasta, sebanyak satu ruas jari telunjuk, lalu meletakkannya di dalam mulut Tari. Tari coba mengecap rasa wasabi tersebut.

__ADS_1


1, 2, 3 .... "Ahhh! Pedas! Ahhh! Pedas, Tata ... Lidah aku!" Dia melompat-lompat, menjulurkan lidah seperti ular, sambil mengipasi lidahnya menggunakan tangan. Kepedasannya mengalahkan satu botol saus cili. Tari merasa hampir terkencing dalam celana.


"Hu-hu-hu!" Dia ngos-ngosan seperti orang yang baru habis berlari keliling kampung.


"Ha-ha-ha!" Mariana tertawa terbahak-bahak. Geli hatinya melihat riak wajah adiknya.


Tari meneguk air putih dengan rakus. Satu gelas tidak cukup, dia tambah lagi dua hingga tiga gelas.


Tari memukul lengan Mariana bertalu-talu. "Mariana, lidah aku hampir mati rasa. Jahat! Suka usil orang!" marah Tari. Wajahnya gelap mencuka. Kulitnya yang coklat, semakin gelap dengan rona merah di wajahnya.


'Inikah yang dirasakan pa Ande tadi?' batinnya bertanya.


Mariana hanya tertawa menanggapi.


Tari kembali meneguk air putih. "Untung saja rumah ni tidak terbakar," katanya.


"Tadi saat pa Ande makan, aku lihat lubang di kepalanya sampai keluar asap." Wajah Andreas terbayang di pelupuk mata.


"He-he-he!" Ia terkekeh setelahnya. Rasa pedas di lidahnya sudah berkurang.


"Mulut, hidung dan telinganya, semua keluar asap."


"Ha-ha-ha! Itu juga yang aku rasakan kemarin," ucap Mariana, "pedasnya buat kita mau terkencing saja," lanjutnya lagi.


Tari mengangguk. "Tapi pedasnya sudah hilang, sekejap saja, 'kan?" Mariana mengangguk setuju.

__ADS_1


"Tapi, Kak, makan wasabi bisa buat orang demam?" tanya Tari.


"Tak tahu, kenapa?


"Pa Ande demam, dia seperti kena alergi."


Pada saat itu Fendi muncul di dapur. "Apa yang heboh?" tanyanya. "Sampai hati tak ajak bergabung," rajuknya seolah berjauh hati.


"Tak perlu merajuk suamiku sayang. Ada ... buka mulut!" Giliran Tari mulai berakting.


"Apa, ni?" tanya Fendi.


"Permen karet. Enak tahu? Aa ...."


Fendi menurut. Melakukan perkara yang sama seperti yang dilakukan Tari tadi. Mariana sudah mulai tersenyum. Tawanya hampir meledak.


Tak perlu waktu lama. "Aaaahh, gila! Pedasnya."


Serentak itu suara tawa Tari dan Mariana, menggema dalam dapur yang kecil itu. Tari menuangkan air putih dalam gelas lalu mengulurkannya pada Fendi.


Sekali teguk, Fendi menghabiskan air putih tersebut. Seketika tekaknya terasa lebih lega.


"Ah, apa, ni? Pedasnya gila." Fendi merungut.


"Wasabi, itu yang pa Ande makan tadi." Tari menjawab.

__ADS_1


"Pantasan, untung rumah ni tidak terbakar. Ha-ha-ha!" Suara tawa mereka kembali terdengar.


Petang itu, dalam ruangan kecil tersebut terpancar kebahagiaan, walaupun datang dari suatu hal yang sederhana.


__ADS_2