My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab XXVIII


__ADS_3

Mariana terlihat sangat kelelahan. Sekejap ia berdiri, sekejap ia duduk. Saat hendak duduk ia kembali dipanggil. Rasanya dua tangan tak cukup untuk buat kerja. Kalau boleh ia ingin punya sepuluh tangan. Kalau sepuluh tangan, mau tempel di mana semuanya?


Diliriknya Mikhael yang asyik berpose di depan kamera bersama penggemarnya. Ia menghela napas panjang. Harap pagar, pagar makan tanaman. Kalau begini terus, sampai tahun depan pun kerjanya tak akan selesai. Sedangkan memahat patung, ia perlukan konsentrasi tinggi.


Bukan Mikhael tak berguna, tetapi, ia tidak tahu berapa harga barang yang dijual. Atau pun di mana letak barang yang diinginkan oleh pembeli, dan macam-macam lagi. Akan tetapi, karena dia jugalah, hari ini toko Mariana dikunjungi ramai pelanggan.


Kebanyakan dari mereka gadis remaja SMP/SMA. Awalnya toko Mariana didatangi oleh beberapa anak remaja SMA. Mereka membeli barang untuk kerja sekolah, tetapi, salah satu di antara mereka mengenali wajah Mikhael sebagai idolanya.


Gadis itu meminta foto bersama Mikhael, lalu mempublikasikannya di media sosial miliknya. Ramai teman-temannya yang tidak percaya.


Jadi, untuk membuktikan bahwa ia mengatakan kebenaran, ia pun mengajak teman-temannya datang ke toko Mariana. Maka sesaklah toko Mariana.


Tak disangkanya Mikhael ternyata, mantan musisi gitaris salah satu band dari Maumere yang sedang naik daun. Lagu-lagu mereka cukup populer di Larantuka.


Mariana tahu lagu-lagu mereka, cuma tak kenal anggota band-nya. Waktu Mikhael masih bergabung dengan band, dia cukup populer karena ketampanannya.


Dia tidaklah putih, juga tidak gelap. Warna kulitnya kuning langsat, seperti warna kulit Mariana. Namun garis wajahnya yang menjadikan dia idola para gadis.


Mikhael keluar dari band karena ingin melanjutkan pendidikan lalu mengambil alih kerja ayahnya. Namun, di tengah kesibukannya, ia masih tetap meluangkan waktu bercengkrama bersama anggota KAWULA BAND.


Mariana tidak melarang para gadis itu berfoto ria bersama Mikhael karena ia telah melalui itu semua. Zaman sekolah, masa pubertas. Walaupun ada yang datang hanya sekadar bersenang-senang, tetapi, mulut manis Mikhael kadang menggoyahkan hati mereka untuk membeli barang.


Pandai juga dia jual obat, menggunakan popularitasnya. Maka dari itu, tangan Mariana tak berhenti bergerak.


Ah! Kalau diingat kembali masa-masa itulah paling indah, paling menyenangkan. Waktu SMA walaupun bagi dia uang nomor satu, belajar nomor dua, tetapi hiburan adalah yang utama.


Ia ingat lagi, lagu-lagu yang populer di NTT pada masa itu, hafal luar kepala. Tanya saja, apa jenis musik, judul lagu, nama band, anggota band-nya, semua ia tahu. Lagu daerah, lagu cinta-cintaan, lagu Inggris, lagu Ambon, lagu dangdut dan masih banyak lagi. Sinetron, nama pelakon populer, semua dia tahu.


Lagu Janji Ujo Aro (Fajar Band), Summy Penjual Ikan, Celana Umpan (Wanted Gokil) waktu itu orang Flores terkenal dengan nama CU, sampai anak-anak remaja ramai-ramai beli celana pendek sebatas paha, mau pamer paha walaupun paha hitam. Ha-ha-ha. Rambut pula dicat warna merah (orang Flores sebut O2), baju ketat pamer bentuk tubuh.

__ADS_1


Anak SMA Suka Ba Pili Ojek (Wanted Gokil). Lagu Ambon Parlente, Satu Tetes Air Susu Mama, Angin Bawa Kabar. Saat SMA, tenar dengan lagu Cinta di SMA (Doddie & Parchi).


Dia membesar bersama lagu-lagu band, Kangen Band, ST12, Wali, Ungu, Peterpan, Letto, Hijau Daun, Radja, Kerispatih, dan masih banyak lagi. Penat kalau sebut satu-satu.


Waktu itu masih pakai handphone Nokia, Motorola, Soni Ericsson, kamera belakang, ketik tombol. Tak ada layar sentuh seperti sekarang. Nokia 7610, 6600, kalau dibuka isinya hanya video por❤️no.


Mariana juga punya, kegemaran dia, Gina dan Hendra. Jangan pikir Mariana polos orangnya. Tidak. Mungkin dia paling liar. Ha-ha-ha.


Kalau mau isi lagu di ponsel, pakai bluetooth, ataupun inframerah. Mau kirim lagu dekatkan Hp rapat-rapat, tunggu sampai tangan terasa kebas. Mp3 juga tidak dilupakan. Beli kaset VCD harga lima ribuan. Kalau tidak pun request lagu lewat radio.


Zaman di mana belum ada WhatsApp, Tiktok, Instagram, Facebook sudah ada saat dia SMA, cuma segelintir orang yang punya. Kalau main permainan, pilih Suduko, Snake, Rapid Roll, dan masih banyak lagi.


Kalau pulang sekolah naik angkot, ketemu abang-abang konjak dengan penampilan celana pensil diturunkan sedikit hingga kelihatan dalaman bokser ataupun Billabong. Waktu SMP masih celana panjang kaki lebar, masuk SMA sudah tukar kaki pensil.


Ikat pinggang tengkorak. Baju dimasukkan bagian depannya saja, agar tengkorak itu kelihatan. Model rambut punk lancip diminyaki minyak Gastby. Keras seperti duri landak.


Suka suit-suit pelajar yang mereka suka, sambil nyanyi lagu Anak Sekolah (Fajar Band) sekadar mau cari perhatian. Lalu kirim salam lewat teman si gadis. Apabila salam berbalas, maka mulailah minta nomor hp. Isi pulsa sepuluh ribu, kirim SMS ternyata sebagian teks hilang.


Gadis berusia dua puluh tujuh lebih tahun itu duduk merenung, berapa lama sudah waktu berlalu? Ia tersenyum. Ah, tak perlu dihitung. Indahnya masa remaja. Masa-masa itu takkan pernah kembali, hanya akan dikenang sepanjang hayat masih dikandung badan.


...***...


Ting tong!


Pintu kaca ditolak dari luar.


"Selamat datang!" Mikhael menyapa. Walaupun ia sibuk dengan penggemarnya, pelanggan tetap ia utamakan.


Tari terpegun di depan pintu melihat begitu ramai pelanggan.

__ADS_1


"Cari apa, Kak?" Tari tak menjawab. Ia menatap Mikhael dari atas ke bawah, dari bawah ke atas.


Mikhael tersenyum menggoda. "Jangan lihat begitu, Cantik. Malu aku," katanya dengan gaya seperti perempuan yang malu-malu kucing. Mengundang tawa para pengunjung.


"Ha-ha-ha!"


"Dia adik aku," kata Mariana dari mejanya.


"Ooh, hai, Kak!" sapa Mikhael masih dengan gaya bancinya.


Yang lain ketawa, Tari hanya tersenyum. Ia pun berlalu mendekati Mariana.


"Tata, ramai hari ni?" tanyanya sambil melabuhkan tubuhnya di atas kursi.


"Gara-gara dia," Mariana melirik Mikhael. Orang itu kembali mengusik para gadis.


"Lihat dia seperti tidak asing."


"Idola kau. Kau lupa?" Tari mengerut dahi. Idola dia banyak, yang mana satu?


"VIRGO," lanjut Mariana.


"Virgo?" ulang Tari. Mariana mengangguk. Melihat itu ia terus melonjak kegirangan.


Virgo. Itu nama yang dikenal oleh para penggemar Mikhael. Tari pernah cerita tentang Virgo, tapi Mariana tidak ingat semua itu. Saat Mikhael bergabung bersama Kawula Band, itu adalah masa Tari sedang puber.


Mariana hanya menggeleng kepala, dia kembali menekuni pekerjaannya.


Tari turut bergabung dengan penggemar Mikhael yang lain. Mereka bercerita, hingga toko itu riuh-rendah dengan gelak tawa mereka.

__ADS_1


Mikhael begitu pandai bergaul, tutur katanya selalu ada lelucon sehingga tidak terasa bosan bila bersama dengannya.


Mariana juga kadang turut tergelak, mendengar jenaka yang dibawakan oleh Mikhael. Tak terasa waktu sudah beranjak petang.


__ADS_2