
Saat keluar dari toilet dia tidak lagi melihat Ben di sana. Langkah kaki melaju menuju ruangan yang disewa oleh sahabat Andreas itu. Terdengar suara gelak tawa dari dalam ruangan tersebut, saat pintu terkuak.
"Kalau dilihat dari samping, kau itu mirip dengan pembawa acara Perfect Match dari Cina. Siapa namanya?" Itu suara Us.
"Meng Fei." Paul yang menjawab. Mariana melangkah masuk, kemudian duduk kembali di samping Andreas.
"Dia kembaran aku, makanya kami mirip," jawab Tomas dengan bangga.
"Kembaran dari Hongkong. Siapa saja yang botak semua jadi saudara kau," kata Ben.
"Aku juga heran, kenapa rambut aku ni tak mau tumbuh. Padahal semua uang aku habiskan untuk beli tonik melebatkan rambut." Suara Tomas terdengar lesu.
"Jangan pernah kamu menyalahkan diri kamu sendiri jika kamu itu botak. Tapi protes dan salahkanlah ayah kamu, karena botak itu adalah ciri khas keturunanmu," kata Susi sambil mengusap kepala Tomas.
"Betul tu." Serta-merta kaleng Coca-Cola kosong mengenai kepala Ben. Gelak tawa kembali terdengar.
Mariana menoleh menatap Andreas. Lelaki itu tertawa lepas melihat tingkah-laku para sahabatnya. Merasa diperhatikan, Andreas menoleh. Mata bertentang mata, menimbulkan desiran lembut mengalir dalam dada, membisik rasa dalam diam 'aku cinta dia.'
Kontakan mata mereka terputus saat seorang pelayan wanita memasuki ruangan tersebut, membawakan pesanan Paul. Berpakaian seksi, mempertontonkan bentuk tubuhnya yang montok dan menggiurkan para pria dalam ruangan tersebut.
"Wow, gitar spanyol!" Tomas mengedipkan mata, tersenyum menawan menggoda si cantik.
Pelayan wanita itu hanya tersenyum. "Selamat menikmati," katanya sebelum berlalu.
"Kalau dia gitar spanyol, aku ni apa?" Susi berdiri, berjalan sambil beraksi bak model di depan semua orang.
"Kau gitar Eropa, Sayang," jawab Ben, sambil memuncungkan bibirnya memberikan ciuman jarak jauh.
"Aku ni kurus kering dulu, tapi setelah melahirkan dua orang anak, begini jadinya." Dia kembali duduk di sebelah Ben.
"Kalau aku?" Giliran Tantri yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Serentak semua menjawab, "Gambus." Hilaian tawa memenuhi ruangan tersebut. Tantri memuncungkan bibir, kemudian turut tertawa.
__ADS_1
"Tetap saja, kalian semua tak sebanding dengan Miyabi kesayanganku." Tomas membaringkan tubuhnya pada sofa yang dia duduki, sambil membayangkan wajah Miyabi yang cantik jelita.
"Kau juga penggemar Miyabi?" tanya Mariana.
"Tentu, dia idola kaum adam." Us yang menjawab.
"Dia bukan saja cantik, tapi juga menggiurkan. Terutama goyangan pinggulnya. Ah ...!" Paul meniru suara Miyabi.
Mariana tertawa. "Memang suara wanita dalam JAV, seksi abis. Aku juga penggemar Miyabi." Dia kembali tertawa.
"Benarkah, berarti kita semua ni penggemar Miyabi. Kapan-kapan kita tonton sama-sama, mau?" Susi memberi usul.
"Boleh. Sudah lama kita tidak tonton sama-sama." Tantri mengedipkan mata, saat Us melotot melihatnya.
"Kapan?" tanya Mariana.
"Berhenti bahas topik yang bukan-bukan," tegur Andreas, sambil mengambil sekeping biskuit di atas meja.
"Kau seperti tidak pernah tonton BF saja."
"Ande memang tidak pernah tonton," kata Paul.
"Ah, masa. Aku tidak percaya," sangkal Mariana.
"Sejak kami masih sekolah di SMP, dia memang tidak pernah tonton BF. Apalagi dia, kan exfrater." Mariana terkejut mendengar penjelasan Us. Gadis itu menoleh menatap Andreas.
"Bagaimana cara kau atasi masa puber kau?" tanyanya pada Andreas.
"Kalau kita punya keyakinan dan keteguhan iman, apa pun kita bisa lakukan." Lelaki itu kembali menyumbat mulutnya dengan sekeping biskuit, lalu meminum seteguk jus oren.
"Sungguh?" Mariana belum yakin dengan pernyataan tersebut.
Andreas duduk bersilang kaki, sambil memegang segelas jus oren. Membusungkan dada, terlihat angkuh. Senyuman pun tak lekang dari bibir, memperlihatkan pada Mariana dan dunia, bahwa dia masih suci polos lahir dan batin.
__ADS_1
"Tapi kau sudah tonton siaran langsung." Andreas sontak menoleh menatap Mariana. Begitu pun dengan yang lainnya.
"Kapan?" tanyanya. Dia kembali meneguk minumannya.
Mariana mencondongkan tubuhnya, berbisik di telinga Andreas. Yang lain mendekatkan kepala, turut memasang telinga.
"Saat kita tangkap hantu Putri Kuda Terbang. Kau lupa?"
Pruf
Minuman dalam mulut Andreas tersembur mengenai muka Paul.
"Hantu siapa?" Susi bertanya.
"Kapan?" Itu suara Us.
"Ande tonton siapa? Siaran langsung, apa maksudnya?" Ben tak kalah ketinggalan untuk tahu. Sedangkan Tantri tertawa terbahak-bahak, sambil memegang perut.
Andreas berdiri, meletakkan gelas yang masih berisi setengah jus oren di atas meja, kemudian berlalu meninggalkan ruangan tersebut, tanpa menjawab pertanyaan para sahabatnya. Mariana duduk melongo menatap punggung pemuda itu.
"Mau ke mana?" tanya Paul.
"Pulang," jawab Andreas singkat.
"Pengecut, tunggu aku." Mariana berdiri mengambil tasnya, berpamitan sebentar pada mereka, kemudian berlari anak mengejar Andreas.
"Pengecut?" ulang Paul.
"Ha-ha-ha!" Ruangan itu kembali gegap-gempita oleh hilaian tawa para sahabat Andreas. Sedangkan Andreas–lelaki itu berjalan cepat, sambil mengutuk dirinya dan Mariana.
Bayangan ketika Mariana menantangnya menangkap hantu malam itu kembali bermain di minda. Menyesal pula rasanya menerima tantangan itu. Namun, tak dapat dinafikan dia turut merasa seronok bermain sembunyi-sembunyi, seolah kembali ke masa kecil dahulu.
Sedikit rasa terkilan, masa kecilnya kurang bahagia, apalagi ketika ibu meninggalkan mereka. Hari-hari dia melihat ayah dan ibu bertengkar. Ada-ada saja yang tidak betul. Masalah kecil pun senantiasa diperbesarkan. Kehadiran Mikel semakin memperburuk keadaan rumah tangga ayah dan ibu. Sampai ibu meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Pengecut, tunggu aku." Panggilan si Kribo mengembalikannya ke alam nyata. Langkah kakinya semakin dipercepat.