
Tampak seorang gadis duduk di atas para-para di belakang rumah, termenung menatap ke arah barat, menikmati senja yang hampir berlabuh. Dipandanginya lama-lama sebentuk cincin yang tersarung pada jari manisnya.
Cincin putih polos pemberian Andreas. Walaupun mirip dengan cincin yang selama dua tahun terakhir dia pakai, tetapi ketebalan cincin tersebut tidak sama. Pemberian Om Alo lebih tebal dan mengkilat, sedangkan yang tersemat pada jari manisnya sekarang tipis dan ringan, dan juga tidak terlihat tulisan yang berinansial A❤️M. Lalu di manakah cincin pemberian Om Alo?
Pada malam saat dia dan Andreas duduk di luar rumah setelah kepulangan mereka dari kelab malam, dia sempat bertanya perihal cincin yang menjadi jembatan perjodohan mereka.
Kata Andreas, itu cincin pernikahan ayah dan ibunya. Ibu berketurunan Cina. Namanya Xin Mei Lin. Setelah menikah dengan ayah, ibu berpindah kepercayaan memeluk agama Katholik. Nama depannya ditambah Maria, jadi, selalu dipanggil Meri. A❤️M merupakan inisial nama ayah dan ibu.
Oleh karena itu, pagi sebelum keberangkatannya ke terminal Madawat, dia mengembalikan cincin tersebut pada Om Alo. Sebagai gantinya, Andreas menyematkan cincin lain pada jari Mariana. Itu pun setelah Mariana masuk lalu duduk di dalam bus, sedangkan Andreas berdiri di tepi bus. Melalui jendela bus, dia menggamit Mariana meminta nomor telepon, sekaligus menyematkan cincin tersebut pada jari si gadis.
Kata Andreas, walaupun pernikahan mereka kelak hanyalah olok-olok dan tidak ada perasaan cinta antara mereka berdua, tetapi ahli keluarga merestui pernikahan tersebut. Maka cincin itu menjadi simbol untuk mengikat mereka. Jalani apa yang ada dulu. Bagaimana ke depannya nanti, biarlah Tuhan yang mengatur segalanya.
Dia tersenyum, kemudian kembali menatap langit. 'Sepertimana senja mengajar tuk menunggu, karena keindahannya hanya tiba bila sudah waktunya.'
...***...
Mama datang mengempaskan tubuhnya di samping Mariana, membuat gadis yang sedang melamun itu terperanjat seperti kera yang mendengar bunyi senapan. Dia tersenyum lembut memandang anak sulungnya, tatkala pandangan mata mereka bertemu. Tangannya diulur mengusap kepala gadis itu.
"Tadi mama pergi cari om kamu," katanya memulai obrolan.
Mariana diam menanti butir bicara mama selanjutnya.
"Mama bincang dengan om Mias tentang kedatangan keluarga Andreas besok."
Mariana mengangguk. "Om bilang apa?" tanyanya.
Mama tersenyum. Tak mau menjawab pertanyaan Mariana, dia bertanya perkara lain. "Kamu serius terima perjodohan ini?" Mariana mengangguk lagi. Yakin.
"Bagaimana dengan Andreas dan keluarganya?"
"Mereka yang mau Ana," jawabnya.
__ADS_1
"Maksud Mama, keluarga mereka itu bagaimana. Tari bilang, Andreas itu anak pengusaha sukses di Maumere."
Mariana mengangguk. "Mereka orang berada, Ma. Rumah pun besar, dua tingkat, halaman juga luas. Andreas saja sudah punya rumah sendiri."
"Anak Mama ini juga, sebenarnya primadona kaya. Seandainya tidak menanggung beban keluarga," kata mama sambil menggenggam tangan Mariana. Tatapannya sendu dan rasa bersalah merasuki jiwa.
"Maafkan mama, karena menyusahkan kamu," lanjutnya.
Mariana menggeleng. "Ana anak Mama. Anak sulung. Jadi, sudah menjadi kewajiban Ana untuk membantu meringankan beban keluarga."
"Calon ayah mertua kamu itu, siapa namanya?" tanya mama mengubah topik.
"Om Alo," jawab Mariana.
"Apakah dia baik pada kamu? Istrinya bagaimana?"
"Om Alo sangat baik ... dia sangat baik. Sedangkan istrinya, tak tahu di mana dia sekarang."
Mariana diam. Dia bingung untuk menjawab. Ingin mengatakan yang sejujurnya, takut mama akan salah paham. Masih terngiang di telinganya percakapan mereka tempo hari tentang perjanjian nikah kontrak. Walaupun itu hanya salah satu triknya untuk mengikat Andreas, tetapi lelaki itu menganggap perjanjian mereka serius. Jadi, sebaiknya rahasiakan saja dari semua orang.
Melihat Mariana terdiam, mama menggamit lengannya. "Andreas pasti setuju." Senyuman terlukis di bibir mama. Dia menaik-turunkan alis matanya mengusik Mariana, membuat anak gadisnya turut tersenyum.
"Kalau dia tidak setuju, tidak mungkin, kan dia tampil jadi hero di hadapan ibu Dita dan si Novi itu?"
Mengingat kejadian itu, senyuman Mariana semakin mekar. Wajahnya merah merona. Hatinya pun berbunga-bunga.
"Ah ... hero selamatkan si jelita. Ha-ha-ha!" Mama tertawa.
Mama senang mengusik Mariana. Mungkin karena anaknya itu hampir tak pernah meluahkan isi hati padanya. Berbeda dengan Tari yang lebih terbuka. Apa saja yang dia tahu tentang Mariana selalu melalui Tari. Anak sulungnya lebih gemar menyimpan perasaannya. Kalaupun dia ingin bercerita, hanya pada Tari ataupun pada sahabatnya Hendra dan Gina. Jadi, bila ada kesempatan, dia akan mengusik anaknya itu.
"Jadi teringat bapa (bapak) kamu," lanjutnya. Mariana turut tertawa.
__ADS_1
"Alangkah baiknya, kalau bapamu (bapakmu)masih ada. Pasti dia orang yang paling bahagia melihat anak kesayangannya akan menamatkan masa bujangnya." Hening. Tak ada yang berbicara. Rasa kehilangan kembali menggamit perasaan mereka.
"Waktu kamu di Maumere, mama ketemu Daniel." Mama memecahkan keheningan di antara mereka.
"Dia traktir mama makan bakso. Ah ... anak itu langsung tidak berubah." Mariana menoleh menatap mama. Bayangan wajah tampan Daniel kembali menjelma di depan mata.
Mama mengelus rambut keriting Mariana. "Ana!" panggil mama, "memang tak mudah melupakan cinta pertama, tetapi kamu harus belajar untuk melepaskan dia." Mama berhenti sebentar, menarik napas sebelum melanjutkan lagi ucapannya.
"Dulu, Mama sangat ingin dia menjadi menantu. Namun, Mama tak rela kamu mendapat mak mertua seperti ibu Dita." Tatapannya sendu menatap Mariana.
"Mama hanya ingin kamu bahagia, dan mungkin juga Daniel bukan jodoh kamu. Percayalah, saat kamu kehilangan seseorang, itu bukan berarti duniamu turut hilang karena masih ada orang yang lebih baik yang akan menantimu di depan sana. Tetaplah melangkah, kejarlah kebahagiaanmu. Ingat! Doa mama senantiasa mengiringi langkahmu." Mariana memeluk mama. Mama membalas pelukannya.
Tiba-tiba hati Mariana tersayat pilu. Andai masih ada ayah, apa yang akan dikatakannya? Apakah ayah menerima keputusannya? Ya, karena dia yakin, ayah senantiasa menyokong dan menerima keputusannya.
Mariana melepaskan pelukan mereka. Mama mencium puncak kepalanya penuh kasih sayang.
"Mama!" panggilnya.
"Hmm?"
Ditatapnya lama-lama wajah mama. Wajah keriput ditambah dengan bekas luka bakar, kadang menimbulkan rasa bersalah dalam hatinya. "Bilang pada om, jangan minta berlebihan, ya?"
"Kenapa?"
"Ana tidak mau mereka menganggap kita tamak." Dia kembali pada topik awal.
Mama menggelengkan kepalanya. "Itu memang harus karena untuk memiliki anak gadis orang mereka perlu berkorban. Itu juga bentuk ketulusan hati mereka untuk mendapati kamu. Kamu tahu, 'kan bagaimana tradisi adat perkawinan kita?" Mariana mengangguk.
"Kamu nanti akan menjadi bagian dari suku Krowe. Kamu juga akan meninggalkan kami dan melepaskan suku keanggotaan Konten untuk masuk menjadi bagian dari suku suamimu nanti."
Mariana paham akan apa yang dikatakan oleh mama, di mana-mana pun sama. Perempuan yang akan menikah, dia harus keluar dari keluarganya, mengikuti dan hidup bersatu ahli keluarga dan suku suami. Melepaskan keanggotaan, bukan berarti tidak lagi dianggap anak oleh orang tuanya, tetapi milik suami dan suku suami tersebut.
__ADS_1
Mariana diam, tunduk merenung tanah, menatap semut hitam yang keluar mencari makanan.