My Mr. Virgin

My Mr. Virgin
Bab LXXXVII


__ADS_3

Dedaunan pokok mangga dan bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah masih basah oleh titisan embun. Udara sejuk menyapa tubuh tatkala ia membuka pintu rumahnya. Segera sweater rajut yang membalut tubuh dirapatkan agar ia tak kemasukan angin. Ia ingat lagi Nenek Esi pernah mengatakan, kalau pintu rumah harus dibuka sebelum fajar menyingsing supaya tak ketinggalan rezeki.


Setelah pintu dan semua jendela rumah dibuka, langkah kaki berayun menuju dapur. Kakinya yang terseleo beberapa hari yang lalu, kini sudah sembuh berkat penjagaan yang baik oleh suaminya, Andreas.


"Sarapan apa hari, ni?" Ia bergumam. Dalam kulkas ada banyak persiapan makanan, tetapi, Mariana bingung mau masak apa. Lagipun dirinya juga bukan pandai memasak, tidak seperti Tari. Kalau hanya sekadar alas perut, bolehlah sedikit-sedikit.


Akhirnya, pilihannya jatuh pada roti, sosis dan telur. Pagi ini ia membuat roti telur dan sosis. Ponsel Redmi 9T dikeluarkan lalu diletakkannya di atas rak dekat kompor. Sebelum memulai memasak, ia lebih dahulu membuka aplikasi YouTube, lalu mengetik 'Bagaimana cara membuat roti telur dan sosis'.


Setelah beberapa waktu ia berperang dengan pisau, kompor, dan teman-temannya, akhirnya roti telur buatan versi Mariana tersaji di atas meja. Ia kemudian bergegas ke kamar memanggil penghuni rumah yang lain di tingkat dua.


Tanpa mengetuk pintu, Mariana menerobos, mendapati Andreas sedang menyalin pakaian. Andreas hampir berteriak karena terkejut.


"Kribo, kalau mau masuk tu, ketuk pintu dulu. Kau ini langsung tidak punya sopan santun!" protes Andreas, sambil mengancing kemejanya. Ia langsung memutar tubuh membelakangi Mariana.


Gadis itu tertawa melihat tingkah sang suami. "Ih, kau macam tidak biasa saja sama aku," katanya, sambil melangkah mendekati Andreas.


Berdiri di hadapan Andreas, tangan diulur hendak membantu mengancing kemeja kerja lelaki itu.


"Apa kau buat?" tanya Andreas. Dahinya berkerut seribu, terkejut dengan perbuatan Mariana. Ia langsung menepis tangan sang istri.


"Bantu kau, to? Ini, kan tugas istri."


Andreas melompong mendengar jawaban Mariana. "Terima kasih saja. Aku bisa sendiri." Ia kembali memutar tubuh, berdiri membelakangi Mariana. Sang istri pun tak mau kalah. Tangannya langsung menarik Andreas kembali menghadap ke arahnya. Maka terjadilah aksi tarik-menarik antara keduanya.


"Diam sedikit bisa tidak?" Mariana sudah bermasam muka. Bercekak pinggang memarahi sang suami.


"Eh, siapa juga yang suruh kau bantu?" Andreas tak mau kalah.

__ADS_1


Melihat wajah Andreas memerah karena menahan amarah, Mariana coba berlembut. "Tuan Perjaka, aku cuma mau berlatih jadi istri yang baik." Ia mulai tayang gigi. "Apa kau lupa kita sudah berjanji untuk latihan? Lagi pula kau berutang tunaikan dua permintaan aku."


"Permintaan yang mana?" tanya Andreas, sambil kembali mengancing kemejanya. Tangan yang sedang mengancing butang kemeja tersebut langsung ditepis Mariana.


"Jangan ambil peluang, Sayang!" Andreas terkejut.


Mariana langsung mengambil peluang membuka kembali kancing kemeja Andreas. "Permintaan sang Pemenang Kentut," katanya, sambil tertawa.


Andreas tersedak ludah sendiri. Rupanya Mariana masih ingat permainan itu. Melihat butang yang sudah ia kancing kembali dilepaskan, Andreas menepis tangan Mariana.


"Apa kau buat?" tanyanya.


"Diamlah!"


"Lepaslah! Kau sudah menyita waktu aku hampir satu jam. Aku bisa buat sendiri." Andreas kembali membelakangi Mariana.


"Maksud kau apa?"


"Suamiku, aku, kan mau latihan jadi istri yang baik. Supaya nanti saat jadi istri masa depan, aku sudah pandai, to, urus suami? Kau juga, Tuan Perjaka. Biar nanti kau tidak kaku jadi suami perempuan lain atau nanti jadi suaminya Rena." Andreas terdiam.


"Kalau kau tidak mau, aku latihan saja sama Mikel."


Andreas teringat, adiknya itu mulai kemarin menginap di rumah mereka selama beberapa hari ke depan. Mikel sudah memiliki rumah sendiri, tetapi, rumahnya sedang direnovasi, jadi terpaksa ia menginap di rumah mereka. Mikel bisa tinggal di rumah nenek, tetapi, lelaki itu tidak ingin mendengar omelan ayah dan nenek yang selalu bertanya kapan ia menikah.


"Boleh, ya? Kita latihan." Sambil mengalungkan tangannya pada leher Andreas. Ia mulai mengeluarkan jurus Putri Kodok Menggoda Pangeran Katak.


Andreas tak menjawab. Ia melepaskan kalungan tangan Mariana, lalu membiarkan gadis itu mengancing kemeja kerjanya. Lebih baik ia yang berkorban menahan gejolak perasaannya yang tak karuan, daripada membiarkan Mariana melakukan sesuatu yang tak baik. Haru biru nantinya.

__ADS_1


Setelah siap mengancing kemeja kerja Andreas, Mariana coba melepaskan butang pada celana pula. Sontak Andreas menepis tangan Mariana.


"Cukup!"


Mariana terbahak-bahak melihat tingkah sang suami. "Dasar!"


Ia kemudian berlalu, menuju ke kamar mandi mengambil pakaian kotor milik Andreas. Saat ia keluar membawa pakaian kotor, sambil menenteng c3lan4 dal4m Andreas, lelaki itu kembali histeris. Mariana terpeleset karena terkejut. Pantatnya menampar permukaan lantai.


Andreas secepat kilat merampas c3lan4 dal4m dari tangan sang istri. Mariana langsung berdiri, lalu melemparkan pakaian kotor Andreas ke dalam bakul pakaian.


"Hei, Tuan Perjaka! Hanya karena ini kau menjerit seperti lihat hantu saja," katanya, sambil merampas c3lan4 d4lam dari tangan Andreas lalu menunjuk-nunjuk di depan wajah lelaki itu.


Andreas tak menjawab. Ia kembali merampas c3lan4 dal4mnya.


"Kalau aku ini mengidap penyakit jantung, aku sudah ucap 'bye bye' dengan kau, tahu? Itu kalau aku langsung mati, jadi langsung ketemu Lucifer. Kalau aku pingsan, lalu kena stroke ... kau mau jaga orang lumpuh?" omel Mariana panjang lebar.


Andreas membisu. Ia lalu berpaling mengambil tas kerjanya yang terletak di atas meja.


"Tuan Perjaka, kau perlu biasakan diri." Mariana masih mengomel, sambil mengekor Andreas mendekati pintu kamar mereka. Ia lalu menarik lengan sang suami agar kembali menghadap ke arahnya sebelum lelaki itu membuka pintu.


"Ini CD aku," katanya, "masih bersih." C3lan4 dal4m miliknya diletakkan ke dalam genggaman Andreas.


"Untuk apa?"


"Latihan. Supaya nanti kalau kita e-em, kau sudah biasa. Ha-ha-ha!"


Andreas lalu melempar c3lan4 d4lam tersebut jatuh tepat di atas kepala Mariana. "Itu tak akan terjadi," katanya. Wajahnya memerah. Malu.

__ADS_1


__ADS_2