
Hujan sudah reda, tetapi suhu udara masih terasa dingin.
Byuuurr! Byuuurr!
Dua gayung penuh, sekadar membasahkan badan. Sabun cair Lifebuoy cepat kilat disapukan pada tubuh.
Byuuurr! Byuuurr!"
Kali ini untuk bilasan. Dingin menusuk tulang. Bibirnya pun bergetar. Dia menggigil kedinginan. Tanpa mengeringkan badan, handuk langsung dibalutkan pada tubuhnya, sehingga masih terlihat tetes-tetes air pada bahu.
Tak sampai tiga menit, dia sudah selesai mandi. Wah! Ini baru mandi kerbau.
Setelah siap, dia keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit tubuh dia menuju ke kamar, mencari pakaian untuk dikenakannya.
Namun, tak ada baju yang menarik. Semuanya sudah seringkali ia pakai. Dengan masih berbalut handuk, ia keluar menuju ke kamar yang Andreas tempati karena masih banyak baju miliknya yang disimpan di sana. Saat pindah kamar, dia hanya mengambil sebagiannya saja.
Keadaan rumah yang sepi seperti tak berpenghuni, membuat Mariana leluasa bergerak walaupun hanya berbalutkan handuk. Dia rindu keadaan seperti ini, bebas bergerak tanpa khawatir diintai orang. Seperti lirikan nakal Andreas, mungkin? Ha-ha-ha!
Ah, lupa. Lelaki itu sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya walaupun jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WITA.
Mariana mengambil cuti hari ini, jadi dia hanya mencari pakaian untuk pakai di rumah.Tangannya lincah memilih pakaian harian yang tersusun rapi dalam lemari pakaian. Ia mengambil beberapa helai yang jarang dia pakai, lalu diletakkannya di atas ranjang.
"Si Tuan Pengecut ni, CD pun dia gantung pakai hanger? Apa gunanya laci kosong, ni?" Dia mengeluh. Tangan kanan Mariana menarik laci kosong yang sengaja dia tinggalkan dahulu.
Parah. Lemari kosong itu ternyata yang diisi Andreas adalah buku-buku, kertas kosong dan beberapa barang yang Mariana anggap sebagai sampah.
"Sampah kau ni pindahkan ke sini." Dia mengeluarkan barang-barang milik Andreas, lalu diletakkannya di dalam kotak kosong yang dia simpan di bawah kolong meja.
Sambil bersenandung riang, ia mengambil CD milik Andreas, melipatnya satu-satu lalu menyimpannya di dalam laci.
Dia mengangkat salah satu CD Andreas tinggi-tinggi memamerkannya pada dunia. Dalam mindanya terbayang Andreas menjadi model pakaian dalam.
__ADS_1
"Oh my ghost, seksi amat engkau, Tuan Pengecut. Ha-ha-ha!" Tawa jahilnya menggema dalam kamar tersebut.
Saat sedang keasyikan melakukan pekerjaan seperti seorang istri sambil berkhayal, tiba-tiba ....
"Kribooo! apa kau buat?" Suara keras Andreas mengejutkan Mariana.
Dia terdorong ke belakang menabrak lemari. Kakinya tertendang batu yang dijadikan penyanggah lemari karena salah satu kaki lemari tersebut sudah patah.
Menyebabkan lemari tersebut hampir tumbang menghempap tubuhnya. Sontak Mariana mengangkat kedua tangannya menahan lemari, membuat lilitan handuk pada tubuhnya melonggar lalu melorot jatuh ke lantai.
"Aahhhhhhh!" teriakan keduanya menggema dalam kamar tersebut.
Andreas terus berpaling, tak berani menatap tubuh polos Mariana. Lututnya bergetar, dia kaku di tempat.
Tiba-tiba lampu listrik terpadam, menyelamatkan keadaan. Andreas ingin berlalu dari situ, tetapi Mariana menahannya.
"Hei, jangan diam saja, cepat bantu aku!"
"Bantu aku tahan lemari ni! Lemari mau tumbang."
"Kau buat sendiri."
"Tak bisa terlalu berat." Sambil itu dia mengais handuk pakai ujung jari kakinya. Dalam gelap, matanya coba beradaptasi.
"Jangan berpaling, tetap menghadap ke depan!" perintah Mariana.
"Iya!" jawab Andreas kasar.
"Mundur tiga langkah!"
Andreas menurut. Melakukan seperti yang diinstruksi Mariana.
__ADS_1
"Mundur tiga langkah lagi!"
"1, 2, 3!" Andreas menghitung.
"Stop! Tutup mata!"
"Sudah," jawab Andreas.
"Aduh, tangan aku pegal ... balik kanan!" Mariana kembali memberi perintah, tetapi Andreas salah mengikuti instruksi.
"Aku suruh balik kanan, bukan menghadap kanan."
"Oke, balik kanan," jawab Andreas kesal.
"Jangan main-mainlah, tangan aku sudah pegal ni."
Andreas bukannya main-main, tetapi dia rasa gemetar apabila mengingat tubuh polos Mariana dan posisi mereka yang semakin dekat.
Akhirnya Andreas berdiri menghadap Mariana, dengan mata yang masih terpejam.
"Satu langkah ke samping kiri!" Andreas kembali menurut.
"Ulurkan dua tangan ke depan!" Pada saat itu lampu kembali terang-benderang.
"Hei, tangan kau jangan bergerak. Aku gigit nanti! Pejam mata kau! Jangan buka!" marah Mariana saat tangan Andreas hampir menyentuh dadanya.
"Satu langkah ke depan!" Tangan Andreas menyentuh permukaan lemari.
"Tahan!" Andreas mengangguk.
Mariana memungut handuk yang tergeletak di lantai, lalu kembali membalut tubuhnya, dan sehelai kain untuk menutupi bahunya terdedah. Dia berjongkok membetulkan batu ke posisi semula.
__ADS_1
"Siap," katanya lega.