
Pejam celik pejam celik, tak terasa sudah minggu kedua bulan November. Mariana ke hulu ke hilir mengurus persiapan pernikahan yang tinggal seminggu lagi. Tadi malam terjadi perdebatan kecil tentang fitting gaun pengantin.
'Tinggal seminggu saja, baru pikir tentang gaun pengantin.'
Mama memberikan usul untuk pinjam gaun milik saudara sepupu Mariana yang menikah beberapa tahun yang lalu. Tari pula kata, "Buat apa pinjam orang punya? Lebih bagus beli sendiri."
Mariana telan liur. Terasa berduri apabila mendengar usulan Tari. Sudah berapa juta rupiah yang ia keluarkan untuk pesta pernikahannya. Beras, kopi, gula, tepung, minyak, binatang, ikan dan keperluan lainnya. Itu pun ada kumpu kao (sumbangan dari kelurga) sebelah mama dan alm. bapa (bapak).
Mama dan nenek ingin membuat pesta besar-besaran. Undang satu kampung.
"Kita Kristen ni menikah hanya sekali, lagipun kamu tu, kan anak sulung. Kamu juga sudah banyak menderita, sudah banyak berjuang untuk keluarga. Jadi, hari bahagia kamu itu, Mama ingin yang terbaik untuk kamu," kata mama setelah mereka lama berdebat.
Akhirnya Mariana menelpon Andreas. Setelah mereka berbual hampir setengah jam, keputusan diambil. Tak perlu susah-susah pinjam orang punya. Tak perlu fitting baju. Jadi, tak perlu pusing.
Lalu, apa yang mereka pakai nanti?
Ia hanya mengedikan bahu. He-he-he.
...***...
__ADS_1
Mariana menjengukan kepala mengintip tetes-tetes air hujan. Wajahnya masam saja. Berkerut-kerut dahinya memikirkan cara hendak ke gereja. Rasa menyesal pula menolak ajakan Andreas tadi untuk berangkat bersama. Ia terpaksa menolak karena masih ada kerja di tokonya. Pelanggan pun ramai. Tari pula tak dapat datang karena Noel demam. Sepeda bututnya pun sekarat. Sudah diantara ke rumah sakit pembedahan sepeda milik Kak Jefri.
Hendak menelpon Andreas, rasanya tak mungkin. Menyusahkannya saja. Ia melirik sekilas jam pada layar ponsel barunya. Redmi keluaran terbaru. Huawei sudah masuk museum. Lima belas menit lagi kursus akan dimulai. Hari ini, hari terakhir kursus, besok pula Romo Wens akan melakukan penyelidikan Kanonik.
Mariana merapatkan jaket yang dipakai, meraih anak kunci yang terletak di atas meja kerjanya. Pantas tangannya menutup pintu toko, sambil melaungkan nama Kak Opi. Setelah meminjam payung dari Kak Opi, ia bergegas menuju jalan raya untuk menunggu angkutan.
Lima menit ... sepuluh menit berlalu, tetapi belum ada satu pun angkutan yang muncul. Tiba-tiba, sebuah sepeda motor Kawasaki ninja H2R berhenti di depan Mariana.
"Naik!" perintah seorang lelaki dalam balutan mantel hujan berwarna biru laut.
"Kenapa lambat?" Mariana meraih helmet dan mantel hujan yang disodorkan padanya.
"Siapa yang terlambat, kau atau aku?" tanya Andreas, "cepat pakai!"
Setelah siap, Mariana naik, duduk di belakang Andreas. Belum sempat ia membetulkan posisi duduknya, Andreas sudah melajukan sepeda motor membuat gadis itu hampir terjatuh ke belakang. Refleks Mariana memeluk pinggang Andreas.
"Kau sengaja?" Andreas tak menjawab.
...***...
__ADS_1
Beberapa pasang mata menoleh ke arah pintu saat Mariana dan Andreas melangkah masuk. Mereka adalah sesama pasangan yang mengikuti kursus pernikahan, tetapi berasal dari stasi lain. Kursus sudah dimulai beberapa menit lalu. Pak Tobias, guru agama sedang memberikan kursus petang itu.
"Sakramen Pekawinan tidak hanya sebatas upacara di gereja saja tetapi berlangsung terus-menerus selama hidup mereka berdua. Maka Tuhan sendiri berkenan hadir di dalam keluarga mereka. Rahmat yang mereka terima adalah rahmat yang menguduskan mereka berdua, rahmat yang menyempurnakan cinta dan mempersatukan mereka, dan rahmat yang membantu dan membimbing mereka dalam hidup berkeluarga hingga semakin dekat dengan Tuhan."
Pak Tobias berapi-api memberikan kursus petang itu. Sesekali diiringi gurauan mengundang gelak-tawa para pasangan yang mengikuti kursus sehingga materi yang diberikan tidak terlalu bosan. Pak Tobias memang pandai berjenaka. Ia juga sesekali melemparkan pertanyaan dan melakukan diskusi bersama.
"Unsur pokok dalam cinta perkawinan adalah kesetian kepada pasangannya dalam untung dan malang, bertanggung jawab dalam segala hal," lanjutnya lagi.
Mariana menusuk pinggang Andreas, saat Pak Tobias menjelaskan materi tentang seksualitas.
"Tuan Perjaka, siap kau," katanya sambil mengedipkan mata nakal.
Bulu roma Andreas berdiri melihat wajah mesum Mariana. 'Apa yang akan terjadi setelah mereka menikah nanti?' Batinnya bertanya.
'Cinta adalah pribadi untuk keputusan bersatu dan rela menyerahkan diri demi kebahagian pasangannya, bukan semata-mata dorongan nafsu, rasa tertarik, rasa simpati atau asmara. Suami-istri bukan sekadar pasangan melainkan belahan jiwa serta teman seperjalanan.' Kalimat itu yang asyik terngiang di telinga Mariana sebelum Pak Tobias mengakhiri materinya.
NB:
Penyelidikan Kanonik
__ADS_1
merupakan cara berpastoral (pastor mendampingi) calon pengantin untuk mempersiapkan hidup berkeluarga secara lebih intensif dan pribadi, karena pastor bertanggung jawab atas pasangan tersebut sampai yakin bahwa, mereka siap secara moral dan tidak ada halangan menurut hukum.
Intinya, penyelidikan Kanonik itu artinya wawancara antara Pastor dan pasangan pengantin. Mereka akan ditanya secara pribadi, tentang kesiapan mental calon pengantin ini untuk melangkah ke jenjang pernikahan.